
🌹🌹🌹
1 tahun kemudian .....
Delan menghela nafas didepan cermin menatap lekat wajah tampannya disana. Ekpresi Delan tak pernah bisa ditebak, selang setahun setelah kejadian naas yang menimpanya Delan berubah, sifat dingin itu semakin dingin bahkan kini ia dijuluki sebagai manusia kulkas oleh Pevita, Delan tidak mendapat predikat pria baik lagi baik dikeluarga ataupun diluar sana, kini pria itu menjadi pria yang arogan dan mudah sekali marah karena hal sepele
Delan sangat frustasi, tentu saja pria itu frustasi. Tidak ada yang mempercayai ceritanya bahkan sang mami sekalipun. Kenyataan fakta Bella telah meninggal semakin membuat Delan terpukul, Delan merasa hidupnya kosong tak berarti lagi, ia sudah seperti tubuh tanpa jiwa lebih tepatnya mayat hidup yang tak punya perasaan. Delan juga bukan pria yang rajin dan gila lagi dalam bekerja, kini pria itu lebih sering mengabaikan dan menelantarkan pekerjaannya, alhasil semua klient banyak yang kabur serta proyek hotelnya di NTB pun harus diambil alih oleh sang Paman. Bella membawa pengaruh yang luarbiasa dalam hidup Delan
Tatapan Delan menajam pada wanita yang kini sedang berselonjor kaki diatas ranjang dengan sebatang rokok yang menyala disatu tangannya serta cairan merah dalam gelas ditangannya yang lain. Selama setahun ini Angela mencoba bersabar menghadapi Delan tapi semakin hari pria itu semakin tak berperasaan pada Angela
Membuat Angela stres, kini ia dan Delan sudah seperti orang asing bahkan Delan kerap menyodorkan gugatan cerainya pada Angela dengan iming-iming harta gono-gini setengah saham perusahaan namun Angela tak pernah mau diceraikan Delan, wanita itu tetap bersikukuh pada pendiriannya menjadi istri Delan
" Mau kemana? tidurlah disini." perintah Angela menepuk kasur disebelahnya. Delan tak menjawab, pria melenggang berjalan menuju pintu
" Kemarilah sayang, kita bercinta. Memangnya kau tak rindu menyentuh wanita, ini sudah setahun." Angela tersenyum manis, ini kegiatan setiap malam Angela yaitu merayu Delan
Pria itu sudah seperti orang gagu yang tak pernah menjawab perkataan Angela. Delan tetap melanjutkan langkahnya keluar dari kamar
" Sialan." gerutu Angela
" Apa aku pakai obat perangsang ya." gumamnya
Sementara Delan kini menuju kamar sang Mammi. Pelan-pelan ia membuka pintu kamar itu, dilihatnya sang mammi sedang santai berselonjor kaki diatas kasur. Melihat Delan wanita itu tersenyum hangat." Hey sayang kemarilah." perintahnya menepuk kasur tapi Delan malah berjalan kesisinya dan saat itu juga duduk dilantai, meletakan kepalanya dipangkuan sang ibu dengan tatapan kesembarang arah
Bulan membelai rambut hitam legam itu dengan begitu lembut
" Mam .."
" Hmm?"
" Aku merasa akan benar-benar gila." Mammi Bulan memaksakan senyumnya, ia tak menjawab
" Aku selalu memikirkan Bella." Entah kesekian ratus kalinya setiap Delan bermanja seperti ini putranya selalu membicarakan Bella
" Mam tahu, apa yang paling aku sesali?" Delan seolah tak bosan terus menerus bicara seperti itu pada sang ibu
" Aku menyesal Mam, aku sangat menyesal meninggalkan Bella dan pergi ke Harvard." Suara Delan mulai serak tanda pria itu akan kembali menangis dipangkuan sang ibu, setahun ini Delan jarang bicara tapi jika mengenai Bella pria itu akan terus berceloteh tanpa henti
" Bella akan memaafkanmu!"
__ADS_1
" Aku tahu, dia adalah wanita yang baik." sautnya dengan senyum membuat sang ibu kian pilu, Mammi Bulan mulai menitikan airmatanya lagi
" Aku tidak pernah menemukan wanita sebaik Bella, saat itu aku melakukannya pada Bella, aku .. mengambil kesucian Bella tapi wanita itu tetap tersenyum padaku, dia tidak pernah marah." Untuk yang satu ini Bulan baru mendengarnya dari Delan, belaian tangan itu sampai berhenti dirambut Delan
" Delan .."
" Ya .. aku yang mengambil keperawanan Bella, aku yang pertama kali melakukannya. Bukankah aku pria brengsek, mam aku tidak sebaik yang kalian pikir!"
" Meskipun begitu, mammi yakin Bella akan tetap memaafkanmu." Ia kembali membelai rambut Delan dengan penuh kasih sayang dan senyum dibibirnya, meskipun ia sangat terkejut dengan pengakuan putranya namun ia tak mungkin memarahi Delan dalam kondisi yang terpuruk seperti ini
1
" Ya karena dia wanita yang sangat baik, dan aku sangat menyesal, aku tak mencari Bella aku menyesal. Aku tak kembali padanya aku sungguh menyesal. Jika saja-"
" Tidak-tidak cukup." potong sang Mammi lalu memeluk kepala Delan
" Mam, jika aku tidak meninggalkan Bella dan terus menjaganya, mungkin Bella tidak-"
" Cukup Sayang cukup, jangan diteruskan mammi mohon. Jangan hidup dalam penyesalan terus menerus mammi mohon." tuturnya dengan isakan tangis, dan Delan dapat merasakan airmata itu mengalir menghangati pipinya. Keduanya terisak dan menangis, Delan menjadi pria yang teramat cengeng selama setahun ini
" Hmmmm setiap malam kamu selalu mengganggu mammi dan Daddy." sang ayah yang tiba-tiba datang dari arah pintu tampak menggerutu ketika melihat keduanya, Dean mencoba menghibur Delan
" Delan bagaimana kalau kita berlibur?"
" Aku memang berniat untuk pergi ke Jeju."
" Baiklah kapan waktu yang baik?"
" Tidak aku akan pergi sendiri."
" Tidak, mammi tidak akan mengijinkan."
Delan mengangkat kepala menengadah pada ayah dan ibunya dengan cairan yang meluncur deras." Aku ingin menangkan diri .. "
" Delan .."
" Aku ingin melupakan semuanya Mam, aku ingin menjadi orang yang baru lagi." Bulan menoleh pada suaminya yang seketika itu juga menganggukan kepala
" Kamu berjanji akan kembali seperti dulu? menjadi good boy mammi lagi?"tanyanya sambil mengusap kedua pipi Delan yang basah
__ADS_1
" I promise." sautnya serius
" Baiklah, kamu boleh pergi."
Delan segera bangkit, pria itu menggeser sang mammi ketengah lalu dirinya membaringkan tubuh disamping sang ibu membuat wanita itu tersenyum mengabaikan Dean dengan membelakanginya, ia lebih memilih memeluk sang putra, disaat seperti ini kasih sayang ibu lebih dibutuhkan dibanding apapun
Paginya Delan tampak sudah siap dengan koper hitamnya. Kebetulan hari ini akhir pekan jadi Delan memiliki banyak waktu luang untuk berlibur. Delan menggeret kopernya menuju lantai satu, tampak disana semua keluarga sedang santai termasuk keluarga besarnya, mereka mengadakan acara reuni bulanan untuk kesekian kalinya dirumah Bulan karena Delan yang tampak tak mau menginjakan kakinya di Jakarta
" Delan kamu mau kemana?" tanya Angela beringus bangun dengan wajah terkejut
" Delan akan berlibur Angela."
" Kemana? kenapa kamu tidak bilang padaku?" Seperti biasanya Delan tak pernah menanggapi Angela, pria itu berpamitan pada kedua orangtua dan semua orang dengan cara memeluk mereka
" Delan .. siapa yang mengijinkanmu?" teriak Angela
" Mam, kenapa tidak membicarakan ini denganku, apa sekarang aku sudah tidak dianggap lagi dirumah ini." protes Angela dengan wajah marah
" Kalaupun Delan akan berlibur, tentu dia harus bersamaku aku istrinya mam, dad."
" Angel .. Delan ingin menenangkan diri."
" Tidak aku akan menemaninya." Angela bergegas bangkit lalu berlari menuju tangga
" Pergilah!" perintah sang ayah pada Delan saat Angela berlari menaiki tangga menuju kamarnya berniat mengikuti Delan. Tidak mungkin Angela membiarkan suaminya sendiri, Angela takut Delan berpaling pada wanita lain
Angela sangat terburu-buru, ia memasukan baju kedalam koper dengan seadanya lalu berlari keluar dengan koper disatu tangannya. " Mana Delan? dia sudah pergi?" tanya Angela dengan raut wajah kecewa
" Kalian sudah tidak menghargaiku lagi rupanya." Angela mulai menitikan airmatanya membuat sang mammi mertua tak tega, wanita itu menarik Angela duduk disampingnya
" Biarkan Delan, dia sudah berjanji pada mammi akan kembali seperti dulu setelah kembali dari Jeju."
" Delan bicara seperti itu?"
" Ya, dan mammi sangat percaya. Delan akan kembali seperti dulu. Delan hanya butuh waktu untuk menyembuhkan dirinya." Angela mengangguk lalu berhambur memeluk mammi Bulan
" Aku sangat mencintai putramu Mam, aku tidak mau kehilangan Delan." sautnya dengan senyum puas
-
__ADS_1
-