
Pevita menatapi Eleanor yang terlelap dipangkuan sang ibu. Sore ini keberangkatan Pevita untuk pergi liburan. Hatinya merasa tak tega meninggalkan Eleanor. Pevita berlutut didepan sang Mammi yang sedang duduk menonton acara televisi. Pevita menciumi pipi gembul itu berkali-kali
" Ayo pergi, nanti teman-temanmu menunggu." Tegur Mammi Bulan
" Sebentar." Pevita mencium lagi pipi itu lalu mengusapnya. Mammi Bulan menatapi Pevita, dulu gadis itu tak mau menerima Eleanor dan kerap ingin menggugurkan kandungannya. Tapi keadaan berbalik, kini sang putri malah sangat menyayangi Eleanor
Pevita tampak enggan meninggalkan Eleanor, tapi ini kesempatan Pevita untuk sedikit bernafas dalam kebebasan. Selama ini ia selalu menurut pada semua orang, kini saatnya Pevita mengepakan sayapnya diluar sana
Pevita memeluk sang ibu dan Eleanor, lalu sang ayah ia peluk, tanpa pria itu ia tak akan bisa pergi." Bilang pada kakak, aku pergi. Titip Eleanor." ucap Pevita pada Delan dan Bella yang tak ada ditempat. Keduanya sudah pindah ke rumah baru dua tahun yang lalu setelah merasa hidup adiknya mulai baik-baik saja
" Iya, hati-hati sayang." Saut sang Daddy. Pevita mengangguk lalu keluar dari rumah diikuti Daddy Dean. Gadis itu diantar supir menuju bandara, tujuan Pevita dan teman-temannya adalah Moshkow, karena kapal pesiar itu berlabuh disana. Kapal pesiar impian ketiga gadis sejak dulu, digadang-gadang itu adalah kapal pesiar termewah dengan fasilitas paling lengkap
Pevita menemui kelima teman kampusnya yang sudah berada di Bandara. Akhirnya tujuan mereka berlibur bersama bisa terpenuhi. Kelimanya tampak senang dan sumringah, terutama Lany dan Laura yang merasa tak percaya Pevita bisa diijinkan pergi juga, sejak dulu gadis itu tak pernah ikut-ikutan hal semacam ini
Meskipun Pevita sangat curiga, sang kakak pasti menyewa seorang pengawal untuk mematainya. Pevita mengedarkan pandangannya pada seorang pria yang tak jauh darinya, Pevita semakin yakin itu adalah suruhan Delan, tapi apa bisa orang suruhan itu terus- menerus mengikuti Pevita, setidaknya hanya membiarkan pria itu mengikutinya. Sisanya pria itu tidak akan bisa, mengingat, dua minggu lalu tiket kuota untuk kapal pesiar itu telah habis. Pevita dan yang lainnya cukup beruntung masih bisa mendapatkannya
Beberapa jam mengapung diudara, kelimanya akhirnya sampai juga dipelabuhan. Mereka menunggu kapal pesiar itu berlabuh dengan berfoto-foto dan membagikan melalui akun media sosialnya masing-masing
Saat kapal itu berlabuh disana untuk menjemput gadis-gadis itu, kelimanya bersorak senang. Membawa masing-masing koper, kelimanya menaiki kapal pesiar mewah tersebut. Dipandu salah seorang pegawai kapal itu, kelimanya masuk kedalam
" Demi Tuhan, ini benar-benar mewah Pev." Ucap Lany, tidak sia-sia mereka membeli tiket seharga satu buah mobil, sepadan dengan apa yang mereka dapat
Selain tiga restoran didalamnya, terdapat juga kamar-kamar mewah dengan berbagai kelas. Pevita dan yang lainnya mendapat kelas utama yaitu private room. Sebuah kamar yang semua fasilitasnya seperti lebih dari hotel bintang lima
__ADS_1
Mereka masuk kedalam dan disajikan dengan pemandangan yang membuat Lany bergumam." Wahh." Pevita tersenyum mendengar itu, pandangannya mengedar kesetiap penjuru kamar, ada dua kasur king size disana, cukup untuk mereka berlima. Mereka sengaja tak ingin pisah kamar agar bisa menikmati waktu bersama
Setelah pelayan itu keluar. Semuanya langsung menyerbu kasur, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah setelah perjalanan yang cukup jauh
Sementara dikamar lain, seorang wanita sedang berusaha membangkitkan kejantanan seorang. Pria itu hanya santai menatapi tubuh sang wanita yang memiliki kemolekan diatas rata-rata. Mencoba membangkitkan hasratnya yang telah lama mati dengan meraba-raba buah dadanya
" Hentikan." Perkataan itu cukup membuat sang wanita berhenti, dahinya berkerut. Sudah berbagai cara ia pakai, namun benda panjang dan besar itu tak kunjung bangun
" Apa kau impoten?" Mendengar pertanyaan itu rahang Milan mengetat, ia langsung bangkit mencekik leher wanita itu
" Sekali lagi kau bicara seperti itu, akan kupotong nadimu." Ancam Milan dengan kedua mata menyalang tajam, wanita cantik itu tampak ketakutan. Padahal ia sudah tak sabar untuk segera dimasuki, mengingat kejantanan itu sangat besar meski dalam keadaan tidur. Jika bangun ia pasti akan terpuaskan, namun sayangnya itu hanya angan-angan, kenyataannya adik Milan tak kunjung menegang
" Maaf, aku akan mencobanya sekali lagi."
" Aku sudah tidak berselera." Padahal sejak awal, Milan memang tampak sudah tak berselera sama sekali. Hanya saja ia hanya sendiri, Axel dan David juga sedang sibuk bersama wanita. Sialnya Milan dipaksa ikut Axel dan David menaiki kapal pesiar milik Axel. Pria itu menjanjikan kesenangan pada Milan
Milan memutuskan untuk turun dari kasur, memakai pakaiannya lagi satu persatu hingga lengkap. Ia keluar dari kamar disebelah kamar Axel dan berjalan keluar, melewati lorong-lorong kamar. Milan sampai diluar, ketika itu angin malam berhembus menerbangkan kemeja hitam yang tak ia kancingkan sehingga dada bisanh itu terlihat, pandangan Milan terpaut pada pemandangan laut dimalam hari, kini kapal pesiar itu sudah berlayar ditengah laut
Selama tujuh hari tujuh malam, Milan dan yang lainnya akan menghabiskan waktu disana. Tapi baru semalam saja, rasanya Milan sudah bosan. Lebih tepatnya ia tak bisa bersenang-senang seperti apa kata Axel
" Maaf." Tubuh Milan sedikit terlonjak kaget ketika kedua tangan itu membelai kedua pinggangnya dan berakhir melingkar diperut. Kedua mata Milan mendelik sebal pada kedua tangan itu. Wanita bernama Sabina itu bergerak menyusupkan dirinya diantara kedua tangan Milan yang sedang bertumpu pada pagar besi kapal
" Aku hanya tidak tahan." Ucap Sabina seraya mengelus dada Milan yang terekspos sempurna. Milan menatapi wajah cantik bule tersebut
__ADS_1
" Berapa Axel membayarmu?" Sabina tersenyum
" Axel tidak membayarku, kau pikir aku melakukannya untuk uang?" Milan hanya diam dengan wajah datarnya
" Aku menyukaimu sejak awal kita bertemu." Milan tak terkecoh sedikitpun, nafssunya terhadap wanita sepertinya mulai melemah, mungkin karena terlalu lama di dalam sel tahanan. Pikirnya
Kedua jemari lentik itu menjalar keatas pada leher Milan. Wanita itu menjingjitkan kedua kakinya demi meraih bibir Milan. Ia lummat, mencoba menggoda Milan
" Pev, Pev." Lany yang kebetulan melihat ke arah jendela itu melihat keduanya. Lany mengguncang tubuh itu agar Pevita bangun dan melihat pemandangan indah diluar sana, yang terlihat Lany keduanya begitu romantis
" Ada apa?" Tanya Pevita bergerak bangun dengan wajah bantalnya. Lany yang duduk disebelahnya menuntun kepala Pevita untuk melihat kearah jendela
" Bisa-bisanya kau mengintip orang yang sedang pacaran." Gerutu Pevita
" Mereka sangat romantis." Kikik Lany, tak henti menatapi punggung yang dililit kedua jemari lentik dan kepala sang pria yang mulai bergerak kekanan dan kiri
" Kau membangunkanku hanya untuk melihat hal yang tidak penting seperti itu." Gerutu Pevita
" Tidak penting bagaimana, itu karena kau tidak pernah berpacaran."
" Sok tahu sekali." Gerutu Pevita sembari menghempaskan tubuhnya tidur lagi. Pevita bergerak membelakangi Lany, ia memejamkan kedua mata. Sejujurnya jantung Pevita sedikit dag dig dug melihat hal sensitif seperti itu, darahnya berdesir, ia wanita normal yang batinnya juga butuh kasih sayang
-
__ADS_1
-