Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Pevita sipengganggu


__ADS_3

🌹🌹🌹


-


-


Setelah menanti selama dua minggu akhirnya Delan bisa kembali ke Jakarta. Delan tiba dimalam hari disebuah gedung pencakar langit yang entah berapa lantai itu. Lalu ia segera masuk kedalam menaiki lift menuju lantai yang ia tuju


" Delan .. " suara seorang pria memanggil Delan membuat tubuh pria itu menegang. Delan menoleh dan tampak disudut lift itu Moncelli bersama seorang wanita


" Hai Mon." saut Delan memaksakan senyumnya


" Kau tinggal disini juga."


" Ya untuk sementara waktu sampai kerjasama kita selesai." saut Delan


" Tidak kusangka kita berdekatan. Mampirlah kerumahku nomer 97 .. "


" Ya nanti aku akan mampir, aku baru turun dari pesawat butuh istirahat." saut Delan


Ting


Delan bernafas lega saat sampai dilantai yang akan ia tuju, ia berusaha menghindari Monceli dan tergesa keluar dari lift itu." Rumahmu dinomer berapa?" teriak Moncelli namun Delan hanya menunjuk sebuah pintu. Saat pintu lift tertutup, Delan segera berlari menuju kamar paling ujung


" Dunia benar-benar sempit." gerutu Delan lalu menekan Bell. Seketika itu ia menampilkan wajah manisnya, ia menunggu Bella membuka pintu untuknya


" Hay sweety .. " panggil Delan dengan begitu genitnya. Bella terkekeh bersedekap dada dan bersandar pada sisi pintu dengan tubuh terbalut lingerie hitam. Sepertinya wanita itu sudah siap menyambut Delan


Delan melangkah masuk dan cup, kecupan mendarat dibibir Bella. " I love you .. i miss you sweety .. " Bella tersenyum manis lalu berhambur memeluk tubuh besar itu dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Delan


" I miss you some much." bisik Bella berjinjirit mencium telinga Delan, menggoda pria itu. Delan segera memangku tubuh itu, spontan kedua kaki Bella melingkar dipinggangnya


Mereka masuk kedalam, Delan menutup pintu dengan kakinya lalu membawa Bella yang menempel manja ke sofa panjang diruang tv, mengurung tubuh Bella dibawahnya. Keduanya saling memandang dengan bibir saling mengecup cukup lama melepaskan rasa rindu mereka


Delan membelai pipi merona itu dengan ibu jarinya." Terima kasih cantik."


" Terima kasih?" tanya Bella memainkan kerah kemeja navi Delan


" Ya kamu sudah siap ternyata." saut Delan dengan tawa kecil. Saat itu juga jemari Bella nakal kebawa pada restleting celana Delan membuat jakun itu naik turun kemudian membawa Bella dalam posisi duduk sehingga wanita itu duduk dipangkuannya


" Puaskan malam ini." bisiknya


" Apa yang akan kudapat?" tanya Bella menyentuh kancing kemeja navi Delan


" Katakan apa yang kamu mau." sautnya dan Bella langsung membuka satu persatu kancing kemeja Delan dan melepaskan kemeja itu setelahnya ia lempar kelantai membuat Delan tersenyum. Bibir Bella mendarat dileher Delan, memberi kecupan-kecupan kecil


" Stay berapa lama?"


" Tiga hari."

__ADS_1


" Sebentar sekali." gerutu Bella


" Aku mempunyai banyak perkerjaan Bella." mendengar itu Bella memberi jarak tubuhnya dan Delan, bibirnya mengerucut membuat Delan merasa lucu


" Oh ayolah, aku tidak akan lama sweety. Bukankah kita harus meninjau pembangunan hotel di NTB."


" Itu tiga minggu lagi." gerutu Bella. Delan terkekeh dan itu pertama kalinya dilihat Bella, ia menangkup wajah itu dan mengecup bibir Delan dengan mesra


" Kalau begitu aku akan mencari pria lain agar aku tak kesepian." goda Bella


" Lakukan saja kalau kamu berani. Akan kupatahkan kedua kaki pria itu." saut Delan menarik pinggang itu posesiv dengan kedua tangannya. Bella tertawa kecil mencengkram kedua pipi Delan lalu menciumi bibirnya


" Ampun Tuan .. aku tidak berani." saut Bella melepaskan tangannya lalu kembali pada leher Delan. Menodai leher itu dengan setitik noda merah kecil


" Aaah nakal . " racau Delan dengan merema* pelan pinggang Bella membuat tubuh itu meliuk tak karuan. Bella mulai turun pada dada, mengecupi inci demi inci dada bidang itu lalu ke perut. Bella tersenyum nakal dengan jemari yang juga nakal menurunkan resleting celana sang suami yang sudah mengembung


Delan tersenyum." Kenapa berhenti?" tangtangnya mencubit dagu Bella


" Baiklah ada syaratnya!"


" Apa?"


" Dilarang berisik."


" Oke!"


" Ya .. ya lakukan sweety aku tidak tahan." bisik Delan menggoda kembali mencubit dagu Bella dengan gemas. Bella memberanikan diri, ia mengeluarkan burung yang sudah bangun berdiri itu. Bella memegang benda besar dan mengeras itu lalu beri kecupan lembut disetiap incinya. Sungguh menggoda namun Delan yang tak mau kalah hanya bisa menggigit bibir bawahnya


Tapi saat Bella memasukan kedalam mulutnya, Delan sudah tak tahan. Ia kalah dan Delan mengerang" Shiiiiiiit ..." kepalanya mendongkak dan bertumpu pada kepala sofa


" Aaahh sweeettyyyy .. " Bella tersenyum mendengar racauan itu


Triiiiiiiiiinnnnnnnng


Triiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnng


Triiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnng


Saku celana Delan bergetar karena panggilan yang terus menerus itu membuat Bella berhenti dan mengambilnya dari saku celana Delan." Sayang adikmu." ucap Bella


" Pevita .. bocah itu kenapa mengganggu." gerutu Delan lalu mengambil dari tangan Bella


" Hmmm?" Delan terlihat malas namun sedetiknya pria itu berlonjak kaget


" Bagaimana bisa? kamu benar-benar nakal Pev .. " Gerutu Delan memijat pelipisnya


" Tunggu sebentar." ucap Delan lagi lalu mematikan ponselnya


" Ada apa?" tanya Bella penasaran

__ADS_1


" Pevita membuat masalah." saut Delan memasukan kembali adiknya yang menegang itu kedalam celananya. Delan benar-benar merasa sesak saat ini lalu mengambil kembali kemejanya yang dilantai


" Delan .. "


" Tunggu sebentar hmm, Pevita .. keterlaluan sekali bocah itu ." gerutu Delan


" Aku ikut."


" Bella .. " tegur Delan menatap Bella sembari mengancingkan kancing kemejanya dengan tergesa


" Aku ikut .. " pinta Bella lagi memelaskan wajahnya


" Kalau begitu pakai baju yang tertutup." perintah Delan lalu Bella berlari menuju kamar mereka


Wanita itu memakai mantel hitam menutupi lingerie seksinya. Lalu mendekat pada Delan yang terlihat sudah tak sabar dan berdiri diambang pintu. Bella segera menggelayuti lengan Delan, mereka segera pergi meninggalkan rumah


Diperjalanan Delan terus menghubungi Pevita, adiknya itu tak berhenti menangis membuat Delan semakin panik bahkan marah-marah didepan Bella sehingga Bella harus menenangkan Delan dengan mengusap bahunya


Sekitar 1 jam mereka mengitari Jakarta. Akhirnya mobil itu berhenti disebuah tempat dengan gedung tinggi. Delan segera keluar begitupun Bella. Dengan tergesa-gesa mereka masuk kedalam gedung yang diyakini gedung hotel itu. Delan mendekati keamanan disitu dan menceritakan semua masalahnya sehingga keamanan disitu mau membantu Delan dan membuka sebuah kamar hotel dimana sang adik berada


Dengan wajah khawatirnya Delan masuk ke dalam setelah pintu itu dibuka petugas keamanan. " Pev .. "


" Pevita .. " teriak Delan bak orang kesurupan berjalan kesana kemari


" Pev .. "


" Kakak .. " suara lirih itu membuat Delan berlari mendekati suara. Delan semakin panik melihat Pevita yang sedang menangis diatas ranjang hotel itu, memeluk kedua kakinya


" Pev kamu tidak apa-apa kan?" tanya Delan mengguncang bahu Pevita lalu mengedarkan pandangan pada sprei putih hotel sambil menarik adiknya itu turun dari ranjang. Delan memperhatikan Pevita dari ujung rambut ke kaki bahkan pria itu menyingkap rok jeans Pevita dihadapan semua orang membuat Pevita merasa dongkol dengan kakaknya itu. Delan sangat takut apa yang ia lakukan pada Bella dulu terjadi pada Pevita


" Pev, Evan tidak melakukannya kan?" tanya Delan mengguncang lagi bahu Pevita dengan kedua mata menyala


"Tidak." saut Pevita masih dengan isak tangisnya


" Sungguh? jujurlah pada kakak. Kakak akan membunuhnya bila melakukannya padamu." bentak Delan kembali ia menyingkap rok Pevita yang masih bersih tanpa noda darah dan lainnya hingga cd kuning gadis itu terlihat. Delan juga menyingap kaos hitam Pevita kebawah untuk melihat dada Pevita


" Kakak." teriak Pevita, ia benar-benar malu pada semua orang. Jika dirumah ia tak akan mempermasalahkan itu, ia terbiasa berbikini dihadapan Delan


" Apa yang Evan lakukan, kenapa kamu menangis?"


" Dia tidak melakukan apapun, dia hanya menciumku. Dia mengurungku disini itu yang membuatku takut." balas Peviita membentak lalu menangis histeris


" Dasar pria brengsek." gerutu Delan padahal dulu ia lebih brengsek terhadap Bella


" Ayo kita pulang." ajak Delan menggandeng Pevita, saking khawatirnya pada sang adik ia sampai melupakan Bella yang ikut dengannya. Wanita itu sangat setia mengikuti Delan kemanapun pria itu pergi


-


-

__ADS_1


__ADS_2