Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Delan tahu


__ADS_3

" Euunnghhh." Bella tampak tak mau diganggu ketika Delan mengguncang bahunya dengan pelan


" Sayang, Jeslyn bangun, dia belum minum susu." Ucap Delan dengan suara pelan. Bella menggerutu, salah pria itu membuatnya kelelahan, semalam hampir satu jam Bella berdiri karena Delan. Delan tidak tahu tempat dimana-mana jika berdua bersama Bella, pria itu tak pernah berhenti mesum


Delan tersenyum lucu mendengar gerutuan itu." Ayolah, nanti kamu bisa tidur sepuasnya lagi." Bella terpaksa membuka kedua matanya yang masih lengket lalu beringus duduk dan mengambil alih Jeslyn yang merengek dipangkuan Delan


" Mamama." Suara bayi itu seolah mengadu oada sang ibu, Bella mengusap kepala dengan rambut kriting itu dengan begitu lembut lalu memberi Jeslyn asi


Bella mengangkat wajah dan baru sadar ternyata suaminya sudah rapi pagi ini." Mau kemana? bukankah ini weekend?" Tanya Bella


Delan tersenyum." Teman-teman kuliahku mengadakan reuni, aku akan menemui mereka." Bella terdiam, wajahnya berubah murung


" Tidak ada wanita, semua temanku pria."


" Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?" Delan mencubit hidung Bella dengan pelan


" Kenapa? kamu masih belum percaya?" Bella tersenyum


" Tidak, lagipula sekarang aku istri sahmu dimata hukum. Aku bisa menuntumu kalau selingkuh." Ancam Bella menaikan jari telunjuknya membuat Delan terbahak


" Satu wanita pun aku sudah merasa puas sayang. Aku tidak membutuhkan wanita lain." Bella mencubit dada Delan, bukan marah Delan malah tertawa lagi


" Memangnya harus sepagi ini?" tanya Bella


" Aku sengaja agar tidak pulang terlalu malam, malam hari kan aku harus bekerja denganmu."


" Delan, kamu tidak ingat pesan dokter." Gerutu Bella


" Memangnya aku bicara apa?" Tanya Delan mengulum senyumnya, Bella tampak malu


" Pekerjaan, maksudku menemainmu tidur, membuat susu hamil, memberi makan buah. Itu pekerjaanku dimalam hari, kalau perlu aku bacakan cerita." Bella tertawa, ia pikir Delan akan mesum terus, ternyata pria itu penuh perhatian padanya


" Mesum sih." Gerutu Delan mencubih hidung mungil Bella. Keduanya saling memandang untuk beberapa saat. Kemudian Delan mengecup kening Bella

__ADS_1


" Aku pergi hmm, jangan lupa sarapan." Bella mengangguk lalu melirik jam didingding yang ternyata sudah pukul 09:00 pagi, Bella terkejut


" Delan, kenapa tidak membangunkanku lebih pagi." Gerutunya membuat Delan terbahak kencang


Delan menggelengkan kepala dan keluar dari kamar. Bersama Bella ia akan awet muda karena selalu tertawa. Dibawah keluarga Delan masih ada dan memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi. Delan berpamitan pada semuanya dan langsung keluar rumah


Sambil bersiul, pria itu melajukan mobilnya menuju restaurant dimana ia akan bertemu teman-teman semasa kuliahnya dulu. Mereka bilang sedang berada di Paris dan memutuskan untuk bertemu Delan. Ketika sampai di tempat, Delan dipandu seorang reseptionis restaurant memandunya menuju sebuah private room


Delan tampak senang, menatapi satu persatu temannya yang sudah datang. Tapi ketika salah satu pria yang membelakanginya menoleh, Delan membeku, pria itu menatapi Milan yang ada didepan matanya. Seolah tak punya salah, Milan menyuruh Delan masuk dan duduk disampingnya


Mau tak mau Delan duduk disamping Milan. Delan sangat canggung berbeda dengan Milan yang tampak santai. Reuni yang harusnya menyenangkan itu malah tak mengenakan bagi Delan karena adanya Milan, bukan merasa dendam, lebih tepatnya mereka masih belum berbaikan hingga detik ini. Sehingga dalam acara ini Delan lebih banyak diam tak seperti teman-temannya yang lain


Apalagi Milan, pria itu tampak sumringah, seperti tak ada beban. Dari atas kebawah, Milan sangat berbeda, lebih menampilkan kesan santai dan badboy, tidak ada Milan yang formal, kini yang ia pakai hanya kaos hitam dan celana jeasn yang robek dilutut, Milan terlihat lebih muda dari usianya, bahkan sifat pendiam pria itu kini hilang, pria itu kini lebih banyak bicara


" Bro, kita sibuk sendiri. Kita belum dengar cerita teman kita yang satu ini." Ucap teman yang berhadapana dengan Delan membuat pria itu menoleh, Delan tersenyum


" Seperti yang kalian lihat, aku sudah menikah dan memiliki seorang putri." Saut Delan tampak bangga


" Menikahlah, kau akan tahu rasanya bila sudah menikah. Akan ada yang mengurus hidupmu."


" Ya kulihat kau sangat bahagia." Delan berbangga diri dan tersenyum


" Ayo kita bersulang." Ajak pria itu menaikan gelas yang berisi red wine, semuanya tampak mengikuti, begitupun Delan


Kali ini Delan ikut berbincang dan bersenang-senang. Minum sambil tertawa, terlihat berbeda, pria itu kini lebih banyak tertawa dibandingkan dulu yang punya sifat dingin


Milan tiba-tiba tersenyum misterius. Ia mengambil ponselnya yang berada disaku celana ketika yang lainnya sibuk berbincang sementara Delan tampak menyimak dan sesekali ikut tertawa. Milan menoleh pada Delan membuat pria itu ikut menoleh


" Kau tahu Delan, aku punya sesuatu untukmu." Delan mengacuhkan pria itu, bagaimanapun ia masih menyimpan rasa sakit, bahkan Milan tampak tak berniat meminta maaf padanya


" Kau yakin tidak ingin melihatnya?" Delan menoleh


Deg

__ADS_1


Jantungnya terasa copot melihat .. Pevita yang sedang menangis dalam ponsel Milan


" Kau." Delan merampas ponsel Milan, kedua matanya membulat sempurna ketika melihat Milan sedang berusaha melecehkan adiknya. Seluruh tubuh Delan terasa memanas, kedua matanya memerah tiba-tiba karena amarah


Milan kembali merebut ponselnya dan memasukan kedalam saku celananya." Kau tahukan apa yang selanjutnya terjadi? Maaf, tapi aku bukan pria yang sabar, apalagi tubuh adikmu sangat bagus. Pria mana yang akan menolak daging segar?"


" Anj*ng, bajingan!!!!" Delan langsung meninju wajah itu dengan sekuat tenaganya sehingga Milan terjatuh dari sofa kelantai. Delan langsung meninndih tubuh itu dan mencekik Milan


Semua orang terkejut bukan main, mereka sedang asyik sendiri tadi


" Bangsa*, beraninya kau menyentuh adikku." Teriak Delan histeris, kedua matanya memerah menggenang airmata membuat Milan merasa puas, bibirnya tersenyum bak iblis


" Aku akan membunuhmu, aku akan membunuhmu." Teriak Delan benar mengamuk, mencekik Milan sekuat tenaganya hingga wajah Milan memerah, pria itu tampak mulai kesulitan bernafas


Teman-teman Delan langsung memisahkan keduanya." Delan berhenti." Satu temannya mencoba menarik Delan dan dua lainnya ikut menarik Delan yang tenaganya sangat kuat


" Brengsek, kau baji*ngan." Teriak Delan meronta, tiga orang memegangi Delan dan mencoba menbawa Delan keluar dari private room


" Aku akan membunuhmu, aku akan membunuhmu. Milan, aku bersumpah akan menbunuhmu, beraninya kau melakukan itu pada Pevita!!!" Delan tak pernah semarah ini, bahkan tak pernah berkata sekasar sekarang. Wajah pria benar-benar memerah, urat-urat didahinya terlihat


" Lepaskan aku, aku akan membunuh bajingan itu." Teriak Delan mengamuk membuat beberapa tamu di restaurant itu ketakutan


Ketiga teman Delan membawa pria itu keluar dan mencoba menenangkan Delan." Apa yang terjadi?" Namun Delan malah menutupi wajahnya, mengusapnya kasar. Airmatanya jatuh menitik menbuat semua temannya merasa heran


" Demi Tuhan, baj*ngan itu." Gumam Delan lalu pergi meninggalkan semuanya


Di dalam private room, Milan masih terbatuk-batuk karena cekikan Delan. Jika tak segera dipisahkan mungkin Delan akan menjadi kriminal tadi karena telah berhasil membunuh Milan. Satu temannya memberi segelas air putih untuk Milan


" Milan, apa yang terjadi? bukankah diantara kami kau yang paling dekat dengan Delan?" Milan tak menjawab, pria itu malah tertawa seperti orang psikopat


-


-

__ADS_1


__ADS_2