
🍃🍃🍃🍃
" Lama sekali, apa sih yang dilakukan Delan." Gerutu Bella sembari mengelus perutnya. Ia sudah kelaparan karena suaminya yang terlalu lama mengobrol dengan klient
" Delan." Gerutu Bella memukul kasur, sejak hamil lagi mood Bella jadi buruk, kesalahan kecil saja ia akan marah besar pada suaminya. Bella bangun berdiri dan berjalan menuju pintu, ia mengintip dari celah pintu namun tak menemukan suaminya
" Kemana dia?" Gumam Bella lalu membuka pintu lebar
Ceklek
Pintu ruangan terbuka dimana Delan masui dengan tiga bungkus makanan ditangannya. Pria itu tampak bangga karena berhasil membawa semua makanan keinginan Bella, berharap sang istri memberinya hadiah, kecupan dibibir misalnya
" Delan, kenapa lama sekali!" Delan terlalu berekspetasi, nyatanya bukan kecupan melainkan bentakan
" Memangnya tinggal ambil saja, semua harus dimasak dulu bukan? Lagipula kenapa mau aneh-aneh sih." Delan jadi menggerutu, bibirnya jadi ikut mengerucut. Bella mengepalkan kedua tangan akan ketidakmau kalahan suaminya tersebut
" Kamu pikir ini keinginan aku, ini keinginan bayimu, lagipula siapa suruh selalu mengeluarkannya didalam."
" Kenapa tidak bilang keluarkan diluar, kalau-" Bella berlari mencubit pinggang Delan
" Aaaawww Bella!!
" Bibirmu seperti nenek-nenek, banyak sekali bicara. Bukannya mengalah pada wanita. Awas saja ya." Ancam Bella membuat Delan menutup bibirnya rapat. Bella menyambar tiga bungkusan itu
" Galak sekali, kau yang nenek-nenek!" Gerutu Delan dalam hati dengan tatapan kesalnya. Memperhatikan Bella yang kini duduk disofa membuka satu persatu papperbag diatas meja
" Delan, satu lagi tidak ada!" Delan menarik nafasnya, ia beranjak mendekati Bella
" Aku sudah membeli semuanya!" Bantah Delan duduk dan ikut memeriksa satu persatu makanan tersebut
" Tidak ada yang kurang, ini semua yang kamu minta. Meskipun tidak mencatatnya aku ingat Bella!"
" Tidak, ada satu yang kurang sayang." Delan mencium hal aneh lagi pada istrinya. Lihatlah wanita itu tersenyum manis sembari menggelayuti lengan Delan
" Puding susunya tidak ada, mangga arumanisnya juga tidak ada." Delan terperangah
" Kapan kamu bilang mau puding susu?"
" Sekarang, aku ingin puding susu sama Mangga arumanis" Delan menepu-nepuk jidatnya menatap heran Bella
__ADS_1
" Bella, apa saat mengandung Jeslyn kamu juga seperti ini? lalu siapa yang melakukannya? kamu benar-benar konyol. Kenapa tidak bilang tadi!" Delan tampak geram, kedua tangannya ingin merremas bibir Bella
Raut wajah Bella mendadak sedih, kedua matanya berkaca-kaca." Kenapa kamu kasar sekali."
" Astaga, siapa yang kasar." Bella memalingkan wajah, bibirnya mengerucut luar biasa dan terdengar isak tangisnya. Delan mengacak-ngacak rambut dan melonggarkan dasinya, tapi Delan tidak bisa marah dan harus memaklumi keinginan ibu hamil rewel didepannya ini
" Sebentar, aku akan membelinya hmm." Bella masih memalingkan wajahnya
" Sayang." Panggil Delan manja menarik dagu runcing Bella. Ia akan mencium bibir itu untuk menghibur istrinya
" Kalau mau beli, beli sekarang. Tunggu apalagi, atau kamu tidak niat membelinya untukku, kamu tidak menyayangiku lagi?." Delan menarik nafas dan mengusap-usap dadanya, kesabarannya benar-benar diuji. Kemudian ia mencium rambut belakang Bella dan pergi meninggalkan Bella
Kali ini Delan melakukan semuanya sendiri, tanpa sekertaris pria itu keluar dari kantor dan berjalan menuju supermarket yang tak jauh dari kantornya. Para bawahannya menatap horor Delan, jarang sekali mereka melihat Delan keluar kandang jika bukan bertemu klient
Apalagi ke supermarket seperti sekarang, lihatlah pria gagah itu mendorong troli hanya untuk membeli beberapa puding susu dan mangga arumanis yang sudah siap makan untuk istrinya
Tak sampai satu jam Delan sudah kembali. Sejenak ia melihat tumpukan berkas diatas meja kerjanya. Kehadiran Bella rupanya sedikit mengganggu waktu Delan, pria yang gila kerja itu kini mau tak mau mengabaikan pekerjaannya dan lebih melayani istrinya
Bella tampak senang sampai bertepuk tangan membuat Delan geleng kepala. Pria itu mendekat dan lebih terkesima melihat meja yang berantakan, Bella seperti orang kerasukan, semua makanan itu habis tak bersisa
" Sayang, bagaimana bisa?" Delan melongo tak percaya
" Emmmmh enak sekali." Ucapnya dengan mata terpejam ketika puding masuk kedalam mulutnya. Delan hanya diam, jemarinya mengusap puncak kepala Bella, rasa kesal dan lelahnya menguap melihat Bella yang lahap menikmati semua makanan
" Berat badanmu pasti akan cepat naik sayang."
" Memangnya kenapa kalau aku gemuk?" Saut Bella sinis
" Memangnya siapa yang bilang kamu gemuk?" tanya Delan, lagi ia mengusap puncak kepala itu
" Berat badanku naik, otomatis aku berubah gemuk."
" Terserah kamu saja, aku tidak bilang kamu gemuk." Bella menggerutu tak jelas membuat Delan tersenyum lucu
" Tidak apa-apa, mau kamu gemuk, kurus aku tetap menyukainya. Selama kamu masih seorang wanita, aku akan tetap menyukainya." Bella meletakan kepalanya dengan manja dipundak Delan disambut kecupan Delan pada keningnya
" Kamu belum makan siang." Ucap Bella lalu menyendok full puding dan mendekatkan kebibir Delan, pria itu membuka mulutnya lebar menerima suapan istrinya. Hal sederhana seperti ini saja cukup membuat keduanya bahagia
Bella tak lagi memakan puding itu, sisanya dihabiskan Delan termasuk mangga yang tadi dimintanya." Tunggu sebentar, setelah semuanya selesai kita pulang." Bella mengangguk membiarkan suaminya bekerja. Ia duduk disofa sembari memperhatikan Delan dengan bibir tersenyum, Bella sangat bahagia, kehadiran Jeslyn dan kembali pada Delan itu seperti sebuah mimpi untuknya
__ADS_1
" Terima kasih Tuhan." Gumam Bella
Satu jam ia menunggu suaminya selesai. Pria itu kini bangkit memakai jasnya lagi dan mendekati Bella yang sedang rebahan diatas sofa
" Ayo kita pulang." Ajak Delan mengulurkan tangannya yang langsung disambut Bella
Keduanya keluar dengan jemari saling bertaut. Delan tak memperdulikan celotehan semua orang yang melihatnya. Kebahagiaan tidak bisa diukur dari penilaian orang tentangnya dan Bella. Begitupun Bella, wanita itu kini tampak acuh meskipun diperhatikan banyak orang. Bagi Bella kebahagiaan dalam pernikahan mereka yang paling penting, sisanya ia tak perduli, ia menerima semua, kekurangan dan kelebihan Delan, ia menerima dengan ikhlas takdirnya yang harus dulu menjadi orang ketiga
Bella tersenyum pada suaminya dan semakin menggenggam kuat jemari Delan. Tidak berbeda dengan Delan." I love you." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan lobi kantor
Bella masuk kedalam mobil setelah pintunya dibuka Delan. Kemudian Delan menyusul duduk dikursi kemudi. Sambil mengemudi ia menggenggam jemari Bella dan sesekali menyentuh punggung jemari Bella dengan bibirnya
" Jeslyn tidak menangis?" Tanya Delan
" Dia aman jika bersama Mammi." Delan tersenyum
" Sejak dulu Mammi ingin seorang cucu."
" Memangnya kenapa dengan Angela." Delan melirik sekilas
" Aku tidak tahu, kami tidak pernah memeriksanya." Saut Delan kembali melirik Bella, ia mengecup jemari Bella
" Kita sudah sepakat tidak akan membicarakan Angela." Bella menoleh dan tersenyum
" Aku tidak cemburu." Delan menyipitkan kedua matanya
" Tidak cemburu?" Bella terkekeh lucu
" Hatimu sudah milikku, kenapa aku harus cemburu pada Angela. Jelas-jelas aku tahu cintamu padaku!"
" Kata siapa?" Tanya Delan melirik
" Delan." Bella memuku dada itu dengan tangannya dan Delan yang bertaut membuat Delan tertawa, ia melepaskan genggamannya lalu menggandeng bahu Bella sehingga tubuh itu condong dan menempel pada Delan
" Bercanda sayang, susah payah aku mendapatkanmu. Mana mungkin aku mau berpaling pada wanita lain." Delan selalu membuat Bella melambung tinggi dengan rayuannya, yang entah sejak kapan Delan pandai merayu. Bella membalas rayuan itu dengan kecupan manis itu dipipi Delan lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat
-
-
__ADS_1