
🌹🌹🌹
Tit
Tit
Tit
Suara detak jantung dalam monitor menggema diruangan itu
Dan disinilah Delan, berdiri diambang pintu kamar memandang kedua orangtuanya. Sang Daddy yang menggenggam tangan ibunya sembari menatap wanita yang telah bertahun-tahun menemaninya itu
" Dean, dimana Delan?" Suara itu menyentuh relung hati Delan membuat kedua matanya mulai berkaca-kaca. Meskipun marah namun tak dapat dipungkiri, ketika melihat sang ibu seperti itu hatinya goyah, merasa tak tega. Bagaimanapun adanya Delan kedunia ini karena mereka berdua, Delan tumbuh besar, dewasa, hidup dalam kemewahan tentu itu semua hasil dari jerih payah keduanya. Delan tak bisa benar-benar membenci mereka hanya karena satu kesalahan bukan?
Dengan langkah pelan Delan mendekat hingga sang Daddy menoleh. Pria itu terkejut sekaligus senang melihat putra satu-satunya itu." Delan." Panggilnya dengan kedua mata yang juga berkaca membuat sang istri menoleh ke arah Delan
" Delan, putraku." Suara serak itu mencoba memanggil Delan. Delan menarik nafasnya pelan sebelum duduk dikursi disamping ranjang
Spontan jemari keriput yang tak diinfus itu langsung berhambur menggapai jemari Delan. Airmata mammi Bulan mulai berjatuhan." Maafkan Mammi." Ucapnya hampir tak terdengar kian membuat kedua mata Delan berair
" Maafkan Mammi, maafkan Daddy. Ayo kita cari Bella hmm? kita cari Bella bersama-sama. Mammi janji akan menerima Bella apapun yang terjadi." Delan menggelengkan kepalanya hingga airmatanya tumpah
" Sayang, Mammi akan mencari Bella untukmu, Mammi tidak akan menghalangimu lagi, lakukan apapun yang kamu inginkan." Tuturnya dengan suara pelan dan isak tangis, takut putranya itu tak bisa memaafkannya
" Kamu ingin bersama Bella oke, kamu ingin menceraikan Angela Mammi tidak masalah. Hiduplah seperti keinginanmu, tapi Mammi mohon tetaplah disamping Mammi." Tuturnya lagi dengan nafas terengah terhalangi selang oksigen dihidungnya
Spontan Delan menggenggam jemari itu, ia menunduk menciumi punggung jemari ibunya dan mulai menangis, punggungnya bergetar
" Kenapa tidak pernah bilang kalau kamu menyukai Bella, kalau kamu bicara Mammi tidak akan memintamu berkencan dengan Angela. Delan kesalahan Mammi sangat banyak, Mammi terlalu mengaturmu, kenapa tidak pernah menolak dan selalu menuruti Mammi?" Isak tangis Delan kian kencang dengan bibir yang menempel dijemari ibunya
Melihat Bulan yang terus menangis dan memelas pada putranya membuat Dean tak tega, dengan airmata yang berjatuhan pria itu meninggalkan keduanya
" Aku hanya tidak mau menjadi anak yang tidak tahu diri." Saut Delan
" Tidak, mau seperti apapun. Kamu putraku, kenapa berpikir seperti itu?"
Keduanya menangis, Delan juga menumpahkan kesedihannya selama ini menunduk menyembunyikan wajahnya pada sisi ranjang dan menangis kencang dihadapan sang ibu. Wanita itu terus mengusapi puncak kepala putranya
" Delan kamu harus tau alasan kami melakukan itu. Saat itu Mammi terlalu takut kamu berubah, Mammi sangat terkejut kamu yang sangat baik dimata Mammi bisa melukai orang lain bahkan sahabatmu sendiri, dulu Mammi pikir sikap kamu berubah karena Bella." Delan tak menjawab, pria itu sibuk menangis sampai punggungnya bergetar
" Delan, kamu satu-satunya putraku, kamu dan Pevita kebanggan Mami dan Daddy. Mammi sangat bangga kamu lulus dengan waktu yang sangat singkat, meraih gelar seorang dokter, kami sangat bangga. Kamu bahkan rela mengenyampingkan mimpimu dan menggantikan Daddymu, kamu anak yang penurut. Saat Mammi memintamu berkencan dengan Angela, kamu juga menuruti Mammi. Delan apa selama ini Mammi memaksamu?" Delan lagi-lagi tak menjawab, pria itu hanya menggelengkan kepalanya
__ADS_1
" Mammi bahkan memintamu menikah dengan Angela, apa saat itu kamu bahagia?" Tanyanya kali ini Delan mengangkat wajahnya, wajah sembab itu membuat Bulan tak tahan, airmatanya membanjir lagi
" Mam, aku hanyalah seorang pengecut yang sama sekali tak mau memperjuangkan cintaku pada Bella." Mammi Bulan tersenyum hangat mengusapi airmata Delan yang terus berjatuhan
" Meski terlambat, perjuangkanlah cintamu sekarang." Delan membalas senyuman itu lalu mengangguk
" Mami merestui kami?" Mammi Bulan mengangguk
" Ayo kita cari Bella." Delan tertawa kecil disela airmatanya yang membanjir
" Bella ada disini, dia datang bersamaku."
" Bagaimana bisa?"
" Selama ini Bella bersamaku, bisa Mam bayangkan betapa baiknya Bella? dia merawatku Mam, dia menerimaku meskipun aku tak punya uang sepeserpun."
" Kenapa bodoh sekali? kamu membuat Mammi malu, Daddy dan keluarga kita. Bukankah kartumu banyak, setidaknya berilah Bella kehidupan yang layak, belikan dia barang-barang mewah. Bukan kamu yang menumpang hidup padanya." Mammi Bulan menggerutu sembari menepuk-nepuk pipi Delan
Delan tertawa kecil." Aku menjadi bapak rumah tangga Mam dan Bella yang bekerja, bukankah itu sangat lucu? itu pengalaman pertamaku." Mammi Bulan tersenyum menatap wajah bahagia putranya lalu ia mengulurkan tangan ingin dipeluk Delan membuat pria itu bangkit dan memeluknya
" Maafkan Mammi, Mammi sangat jahat dan tak pantas disebut sebagai seorang ibu." Ucapnya dan Delan hanya tersenyum
" Mammi membohongimu, Mammi menyiksamu. Kamu pasti sangat membenci Mammi."
" Lakukan apapun yang kamu inginkan." Saut Mammi Bulan cepat dan semakin memeluk erat leher Delan
" Dimana Bella, biarkan Mammi menemuinya." Delan melepaskan dekapan erat itu, ia tersenyum
" Aku akan membawanya kemari."
" Tidak, Mammi yang akan kesana."
" Bella akan kemari."
" Delan jangan tinggalkan Mammi." Jemari itu mencengkram jaket hitam Delan
" Hanya sebentar Mam." Tapi Mammi Bulan menggelengkan kepala dan melepaskan selang oksigen dihidungnya
Delan mengangguk lalu mengambil kursi roda yang tak jauh dari ranjang. Pria itu membantu ibunya melepaskan semua alat medis ditubuhnya, sepertinya kehadiran Delan dan hubungan yang kembali baik membuat wanita itu kembali semangat menjalani hidupnya
Hingga senyumannya tak memudar saat keluar dari kamar. Mereka disambut beberapa orang termasuk Angela ada disana, wanita itu tersenyum sembari mencoba mengambil alih kursi roda yanh dipegang Delan
__ADS_1
" Delan, biar aku saja." Ucapnya namun Delan tak bergeming, ia mengabaikan Angela lagi. Wanita itu mematung memandang dengan tampang geram punggung semua orang yang perlahan menjauhinya
Tok
Tok
Tok
Tok
Delan mengetuk pintu kamar itu berulang namun tak ada jawaban ataupun pintu terbuka
" Bella." Panggil Delan. Rupanya Bella menuruti perkataan Delan yang melarangnya membuka pintu
Ceklek
Pintu itu terbuka dan Bella tampak terkejut didalam sana, wanita itu spontan menunduk sambil membuka lebar pintu kamarnya untuk semua orang
" Delan." Mammi Bulan menengadah menatap putranya
" Dia Jeslyn Mam, cucu Mammi." Ucap Delan sambil menatap Jeslyn yang ternyata sudah bangun, bayi itu sedang merangkak mencoba berdiri dan berpegangan pada kepala ranjang
Kedua mata Mammi Bulan kembali berkaca-kaca melihat bayi mungil itu, celotehan lucunya membuat hatinya mengharu
" Mammi ingin menggendongnya." Ucapnya dengan setetes airmata mengalir, dosanya ia dulu meragukan Bella. Melihat Jeslyn yang sangat mirip ayahnya tentu ia sangat yakin bayi itu adalah cucunya
Delan menuruti sang Mammi, ia mendekati Jeslyn. Lucunya bayi itu mengangkat kedua tangan ingin dipangku sang ayah. Itu membuat semua orang tersenyum terutama Dean, seperti sang istri pria itu juga menitikan airmatanya lagi
" Delan emmh." Bella tiba-tiba membuka suaranya, ia terlalu khawatir semua orang meragukan lagi Jeslyn
" Tidak apa-apa, Mammi hanya ingin berkenalan dengan Jeslyn." Saut Delan lalu menyerahkan Jeslyn ketangan Bulan, airmata wanita itu membanjir deras melihat wajah Jeslyn, janin yang dulu dalam kandungan Bella, yang semua orang fitnah bukan darah daging sang putra melainkan Milan
Sambil terisak, Mammi Bulan menghujani seluruh wajah Jeslyn dengan kecupan lembut. Membuat Jeslyn memberontak dan menampar wajah neneknya dengan telapak tangan
Delan tertawa melihat itu, ia berniat mengambil alih Jeslyn namun terlambat karena sang ayah yang menyerobot lebih dulu memangku cucunya, seperti Bulan, Dean juga menghujani kedua pipi bayi itu dengan kecupan lembut
Sedangkan diambang pintu, seseorang tampak cemburu sampai meremmas kedua jemarinya. Wajahnya memerah, ia merasa terhina karena diabaikan semua orang. Dan merasa perjuangannya selama ini sangat sia-sia, setahun lebih ia menunggu Delan dan balasan pria itu menyakitkan untuk Angela
" Bella, aku benar-benar membencimu!" gumam Angela dengan kedua mata mengalir airmata melihat Delan yang menggandeng bahu Bella begitu mesra
-
__ADS_1
-