Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Perhatian kecil


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹


" Lega sekali rasanya." Gumam Delan ketika memasuki mobil dan duduk dikursi belakang disamping ibunya. Sementara Daddy Dean dan sibungsu Pevita didepan, gadis manis itu kini telah ahli dalam mengemudi dan mendapat surat ijin mengemudi seminggu yang lalu


Kemudian Delan mengambil alih Jeslyn dari tangan sang Mammi, ia mengangkat tinggi tubuh mungil itu keatas. Jeslyn terlihat mengantuk, karena jika tidak bayi mungil itu akan cekikikan bila dicandai Delan


" Uhhhhmmm kamu mengantuk sayang." Delan mencium pipi bakpau itu lalu meletakan Jeslyn dengan posisi telungkup didada sehigga sebelah pipi bakpaunya menumpu dipundak Delan. Dengan mata antara merem dan melek bayi mungil itu menatapi sang ayah yang juga menoleh padanya


Delan tersenyum melihat betapa menggemaskannya Jeslyn, wajah mengantuknya membuat Delan ingin menggigit pipinya. Dan hal yang menambah kelucuan itu adalah mulutnya yang mengemut ibu jarinya sendiri seolah sedang mengisap pu.ting sang ibu." Benar-benar anak yang pintar, tidak pernah rewel dan jarang sekali menangis." Delan tersenyum bangga kemudian mencium sudut bibir Jeslyn, tanpa jijik sedikitpun padahal pipi itu berlumuran air liur Jeslyn


" Biarkan dia tidur, jangan mengganggunya." Tegur Mammi Bulan


" Dia sangat lucu, aku benar-benar menyayanginya." Saut Delan tanpa melihat Mammi Bulan, bibirnya tak henti tersenyum pada Jeslyn


" Dulu juga kamu sangat lucu saat bayi." Mammi Bulan membelai puncak kepala putranya dari puncak kebawah lalu mencubit pipi Delan membuat pandangan itu teralih kepadanya. Delan memberikan seulas senyumannya


" Wajahnya sangat cantik, aku harus menjaganya dari pria-pria sepertiku."


" Memangnya kamu pria seperti apa hmm?"


" Aku bukan pria baik." Saut Delan kembali pada Jeslyn yang sudah mulai memejamkan mata, perlahan ia menarik tangan mungil Jeslyn dari mulutnya. Setelah berhasil ia mengusap bibir Jeslyn yang basah dengan gerakan lembut dan hati-hati


" You are still my good man." jawab Mammi Bulan membuat Delan tersenyum


" Terima kasih Mam, Dad." Daddy Dean menoleh kebelakang dan tersenyum. Bila mengingat kembali kebelakang, rasanya Dean sangat malu pada putranya itu


" Kami yang harusnya berterima kasih padamu, karena kamu mau memaafkan kami."


Delan hanya tersenyum pada Daddy Dean sembari menggenggam tangan sang ibu


" Aku akan lebih berterima kasih lagi jika kalian memperlakukan Bella dengan baik."


" Tentu saja, dia bagian dari keluarga kita sekarang." Saut Daddy Dean


" Terima kasih Dad." Saut Delan lalu tersenyum dan kembali memalingkan wajahnya pada Jeslyn


" Sayang, bawalah Bella kedokter kandungan." Perintah Mammi Bulan


" Nanti sore aku akan membawanya."


" Lagipula kenapa kalian tidak mencegahnya, bukankah Jeslyn masih sangat kecil." Mammi Bulan menggerutu sambil mengusap bokong Jeslyn


Delan tertawa pelan." Aku pikir Bella mencegahnya tapi ternyata dia tidak melakukannya." Mammi Bulan tersenyum melihat putranya yang tampak sangat bahagia


" Tapi Mammi sangat senang, bila benar rumah kita akan semakin ramai."


" Aku membangun sebuah rumah untuk Bella." saut Delan dengan suara pelan


" Delan." Panggil Mammi Bulan tampak tak setuju


" Sebaiknya kami hidup mandiri Mam."


" Delan, kami baru saja mengenal Jeslyn." Gerutu Mammi Bulan


" Kamu tega memisahkan Mammi dan Jeslyn."


" Mammi, aku tidak pindah kemanapun. Aku membangun rumah didekat kantor."


" Tetap saja, rumah akan terasa sepi lagi." Sautnya lalu menghela nafas, selama ini keluarga Delan memang sangat mengharapkan kehadiran bayi dirumah mereka

__ADS_1


Delan tersenyum lalu mengecup kening ibunya


" Mammi bisa mengunjungi Jeslyn setiap hari, jarak rumah kita tak terlalu jauh."


" Tanpa kamu pindah, rumah kita masih cukup ditinggali bersama." Delan tak menjawab gerutuan Mammi Bulan karena ia tahu meskipun menggerutu, dalam hatinya Mammi Bulan tak akan bisa menolak keputusan Delan. Wanita itu tak akan lagi mencampuri kehidupan anaknya, yang bisa ia lakukan hanya menasehati Delan bila pria itu memang salah


Dengan kemahiran Pevita dalam mengemudi, kini mobik itu telah sampai dipelataran rumah. Tak menunggu lama, Delan dan yang lainnya keluar dari mobil. Pria itu beranjak lebih dulu untuk menidurkan Jeslyn


" Sayang, cegah Delan." Mammi Bulan masih saja menggerutu sambil memukul pelan dada suaminya


" Sudahlah, kita bisa mengunjunginya setiap saat." Saut sang suami dengan suara lembut sambil menggandengnya masuk kedalam rumah


Dikamar, Delan menidurkan Jeslyn disisi ranjang yang paling sudut. Delan mendesain ranjangnya menyudut merapat ke tembok agar bayinya tidak terjatuh saat tidur. Juga agar Delan bisa tidur didekat Bella


" Lucu sekali bayiku." Gumam Delan lalu menciumi seluruh wajah Jeslyn


Hal itu tak luput dari perhatian Bella, wanita itu keluar dari walk in closet dengan pakaian yang sudah rapi, wajah yang segar meskipun masih terlihat pucat. Bella tersenyum lalu perlahan mendekat tanpa mengeluarkan suara


Ia berdiri disisi ranjang dimana Delan sedang membungkuk tak henti menciumi putrinya yang sedang terlelap. Jika dibiarkan Bella yakin, pria itu akan kembali membangunkan Jeslyn. Seperti yang selalu dilakukannya, sering sekali Delan membangunkan Jeslyn yang sedang tertidur karena kelakuannya


Alhasil Bella menepuk pundak Delan membuatnya terkejut dan tubuhnya berjingkat


" Bella." Tegur Delan kesal menoleh kebelakang sambil menegakan tubuhnya


" Kamu akan membuatnya bangun, nanti dia rewel." gerutu Bella. Delan hanya terdiam, terpaku menatapi penampilan istrinya yang cantik siang ini, tentu adiknya meronta minta masuk sarang


" Mau kemana?" Tanya Delan beranjak berdiri tanpa mengedip dengan tampilan Bella, dress selutut yang membentuk body warna kuning cerah itu sangat kontras dengan kulit Bella yang putih bening. Membuat Delan tak tahan, dalam sekali rangkulan ia berhasil membawa Bella ke sofa dan duduk dipangkuannya


" Bagaimana hasilnya?" tanya Bella dengan kedua jemari lentik didada Delan


" Kamu belum menjawab pertanyaanku sayang." Bella menghela nafas


" Aku tidak akan kemana-mana."


" Berhenti merayuku, aku juga bertanya padamu .. Delan." Gerutu Bella hingga senyuman nakal terbit dibibir Delan


" Aku milikmu satu-satunya sekarang."


" Semudah itu?" tanya Bella


" Lalu kamu mau yang bagaimana?"


" Angela tak melakukan apapun?"


" Dia tidak akan berani, lagipula kartu as wanita itu ada padaku!"


Bella tersenyum lalu kedua jemarinya naik menelusuri dada Delan yang masih tertutupi kemeja, pandangan wanita itu kedada tanpa mengatakan apapun


" Kenapa reaksimu seperti ini?" tanya Delan menarik dagu Bella keatas untuk bertatap dengannya


" Aku senang, tapi apa yang akan orang-orang katakan mengenai aku?" Delan menyipitkan matanya


" Bella adalah ibu dari anak-anak Delan." Sautnya dengan senyum manis. Bella membalas senyuman itu lalu menangkup wajah Delan membuat Delan tak tahan, ia menjepit dagu runcing itu dengan ibu jari dan telunjuknya


Kemudian meraup bibir Bella, mellumatnya dengan lembut hingga Bella membalas setiap belaian bibir Delan padanya. Delan sangat rindu, bibir dan lidahnya sudah lama tak menjelajahi bibir dan rongga mulut Bella


Saat Delan mulai merakus Bella mendorong Delan." Uhhhm sayang."


Tapi Delan tak berhenti, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Bibirnya mendarat dileher Bella dangan kedua jemari menjelajah dipunggung Bella, yang satu mencoba menurunkan resleting dress Bella

__ADS_1


" Delan." Tegur Bella menepuk dadanya


" Apa?" Tanya Delan dengan wajah yang dipenuhi gairah


" Ini masih siang."


" Kita sudah lama tidak melakukannya, memangnya kamu tidak merindukanku?" Delan tak membiarkan Bella menolak, ia kembali pada leher Bella, menjilatinya perlahan


" Uhhmm." Bella mulai tak tahan hingga dessahannya lolos. Hal itu membuat Delan senang, jemarinya yang dipunggung merayap kebawah pada paha putih Bella


" Tubuhmu sangat wangi Bella." Racau Delan mencengkram sebelah paha Bella dengan gemas. Tak lama menjalar naik mencoba menerobos kain segitiga Bella yang berwarna merah


Ceklek


Keduanya berjingkat kaget saat mendengar suara pintu terbuka. Spontan Delan melepaskan dirinya dari Bella. Rasanya kesal, ada kesempatan yang jarang terjadi ia diganggu, dan pengganggunya malah menyengir diambang pintu


" Kenapa tidak mengetuk pintu?" gerutu Delan


" Aku sudah mengetuk pintu." Jawab Pevita mengulum senyum melihat keduanya yang tampak malu, lihatlah Bella beringus turun dari pangkuan suaminya dan duduk disebelahnya. Padahal Pevita biasa saja, dulu ia pernah melihat yang lebih panas ketimbang yang tadi


Delan mendengus kecil." Ada apa?" tanyanya ketus


" Mammi memotong buah-buahan untuk kak Bella, Mammi menyuruhku membawanya dan menanyakan bagaimana kondisi kak Bella." Jawab Pevita tenang


" Kenapa Mammi harus repot-repot." Bella menggerutu tapi wanita itu terlihat senang dengan perhatian kecil dari ibu mertuanya. Ia beranjak berdiri dan mendekat pada Pevita, mengambil satu piring berisi potongan buah-buah segar yang semuanya memiliki rasa asam tak lupa juga ada mangkuk kecil berisi sambel disana


" Katakan pada Mammi, terima kasih." Pevita mengangguk dan tersenyum lalu melirik Jeslyn yang masih tertidur dikasur


Ia berniat melangkah." Jangan diganggu, nanti dia rewel." Pevita mendengus kesal dengan teguran kakaknya lalu mengurungkan niatnya dan keluar dari kamar


Bella tertawa kecil melihat Pevita dan Delan lalu ia kembali pada sang suami yang duduk santai disofa, wajahnya tampak kesal karena diganggu. Bella mengusap wajah kesal itu dan mencoba potongan buah strawberry dalam piring


" Emmmh manis dan asam, benar-benar segar." Melihat wajah Bella yang menggemaskan, rasa kesal Delan menguap, perlahan ia menggandeng Bella dan menatapi Bella yang sedang menikmati apa yang ada dalam piring tersebut


" Mau?" Delan tersenyum dan menggeleng pelan


" Ini benar-benar segar Delan."


" Delan, Delan, kamu selalu memanggil namaku, aku lebih tua darimu dan aku juga suamimu" gerutu Delan mencubit pinggang ramping Bella hingga tubuh wanita itu menggeliyat geli sambil tertawa mendengar gerutuan Delan


" Kamu menyebalkan Bella." Delan terus menggerutu seperti nenek-nenek


" Mau aku memanggilmu kakak begitu!"


" Setidaknya ada panggilan yang lebih mesra, sayang, honey, atau apalah seperti yang kulakukan padamu!" Bella kembali tertawa


" Bukankah aku selalu melakukannya?" Delan tak menjawab ia hanya menatap intens Bella dengan wajah yang ditekuk, sangat lucu dimata Bella


Bella akhirnya meletakan piring ditangannya disofa disampingnya. Lalu ia menangkup wajah Delan dan mencium pipinya


" Baiklah sayang." Ucap Bella yang mana membuat Delan tersenyum meskipun sangat tipis


" I love you." ucap Bella hingga Delan luluh kembali, ia merengkuh tubuh Bella


" Habiskan buahnya." Perintah Delan


Bella menurut, ia kembali mengambil piring sambil menyandarkan tubuhnya pada Delan. Spontan satu tangan Delan melingkar didada atasnya. Keduanya saling tersenyum, Delan tampak menikmati pemandangan indah ini, ia menatapi dari samping Bella yang lahap memakan potongan buah segar yang dibuat sang Mammi dengan sesekali kecupan lembut mendarat dipipi Bella. Delan pikir Bella bisa melakukan semuanya, wanita itu bisa membangkitkan gairahnya hanya dengan sentuhan kecil dan Bella juga sangat pintar menjinakan gairahnya lagi, padahal tadi gairah Delan sudah mencapai ubun-ubun


" Tidak ada yang sepertimu Bella." Gumam Delan dalam hati

__ADS_1


-


-


__ADS_2