
" Ahh Kak." Suara itu kian kencang ketika Milan mulai menambah ritme gerakannya. Pevita tak pernah merasakan hal luar biasa seperti saat ini, tubuhnya kini digulung kenikmatan karena permainan Milan, pria yang katanya ia benci
" Pevita." Suara parau itu membuat Pevita membuka mata
Cup
Kecupan Pevita dapatkan dibibirnya.." Kau menikmatinya?" Tanya Milan membelai pipi Pevita dengan ibu jarinya. Pevita menarik kepala itu, melummat bibir Milan. Tanpa bicara Milan tahu jawabannya. Milan memegang kepala Pevita dengan kedua jemarinya, pria itu tampak merasa gemas pada Pevita, lalu meraup bibir Pevita yang tak henti mengeluarkan suara
" Uhmm, uhmmm, uhmmmm." Milan tersenyum dalam ciuman itu, ia merasa puas melihat wajah Pevita yang sangat menikmati permainannya. Lihatlah kedua jemari Pevita tak henti menjalar dibokong Milan, sesekali merremas bokong itu demi melampiaskan rasa nikmat yang menjalari setiap saraf ditubuhnya
Sudah setengah jam ini cucuran keringat mereka membaur menjadi satu, Milan tak merubah sedikitpun posisinya, pria itu terlalu asyik mencummbui bibir, leher dan buah dada Pevita, Milan melakukannya secara bergantian
Dan deritan ranjang yang kian mengencang, suara benturan kulit tubuh yang semakin keras menjadi tanda permainan semakin panas. Milan kian mempercepat gerakan pinggulnya, Pevita hanya bisa menjerit-jerit akan setiap hujaman yang semakin cepat dan dalam, sesekali menyentuh keujung kewanitaannya
" Aahhk Milan, uhhhhnmm." Milan mempercepat lagi, Pevita mencengkram pinggang Milan, pinggulnya naik keatas hingga tancapan junior Milan itu tertancap dalam. Tubuhnya bergetar hebat bersaman dengan meledaknya cairran Milan dalam pengaman, Pevita sampai tak bisa menahan diri, ia squirtt hingga mengenai perut Milan, itu orgasm* yang luar biasa untuk seorang wanita
Milan melepaskan puncak dada Pevita perlahan. Lalu mengangkat wajah menatapi Pevita yang memejamkan mata. Pelan-pelan Milan berguling kesamping, melepaskan pengaman dan membuangnya kesembarang arah. Milan tidur terlentang menatap langit-langit kamar, bibirnya tersenyum lucu ketika ingat perutnya disembur hangatnya caiiran Pevita, Milan tak pernah bercinta sampai sebegitu hebatnya hingga membuat wanita mengalami squirtt
Milan menoleh pada Pevita yang tampak sudah terlelap. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Pevita. Milan bergerak menghadap Pevita, ia terkejut ketika Pevita tiba-tiba bergerak memeluknya. Milan mencoba membelai rambut Pevita yang acak-acakan
" Ooh." Milan sedikit terlonjak ketika lidah itu nakal lagi dipuncak dadanya
__ADS_1
" Pevita." Milan mendorong tubuh itu, sayangnya Pevita malah bergerak naik keatas tubuhnya. Gadis itu duduk diatas perut Milan
" Apa yang kau lakukan?" Pevita tersenyum lalu mendekati Milan, ia membelai wajah tampan itu dengan jemarinya lalu menjilat bibir Milan, membasahi bibir yang mulai mengering itu
" Lakukan lagi." Bisiknya. Milan menggeleng lemah, ia merutuki lagi David. Sepertinya reaksi obat itu belum juga hilang, dalam keadaan sadar Pevita mana mungkin akan melakukan hal seliar sekarang
Milan hanya menbiarkan gadis itu berlaku semaunya. Mencummbui dadanya dengan bibir dan lidah. Mencecapi inci demi inci kulit Milan yang berkeringat sampai berlabuh dipangkal paha. Milan menutup mulut dengan telapak tangan ketika Pevita mengulum adiknya, mencoba membangunkan lagi hasratnya. Jakun Milan naik turun mendengar suara decapan mesum itu, ia tidak tahu gadis sepolos Pevita akan seliar ini
" David, kau kurang ajar." Racau Milan mencengkram rambut Pevita. Merasa sudah puas, Pevita menaiki tubuh itu lagi, kali ini ia menduduki pangkal paha Milan, hingga sang adik terhimpit kewanitaannya
Pevita mendekati wajah Milan. Menumpu kedua telapak tangannya di sisi kepala Milan." Masukan lagi." Bisiknya. Milan meneguk ludahnya kasar akan godaan itu, apalagi ketika Pevita mulai menggoyang tubuhnya maju mundur, menggesek-gesekkan kewanitaannya pada sang adik. Hasrat Milan kembali naik keubun-ubun, jemarinya kembali menggapai-gapai laci meja nakas. Sambil menatapi wajah Pevita yang luar biasa cantik ketika bergairah seperti itu
" Aahhh sssshhhhhhhhh." Milan tersenyum dengan jeritan itu
" Uuuhhhmmm sakit." Racau Pevita menjambak rambut Milan yang sudah berantakan karena ulah dua jemarinua
" Vagin*mu sangat sempit oouuuhhh." Balas Milan sambil menggerakan tubuh dan membenamkan wajahnya dibuah dada, ia mulai menodai buah dada itu dengan tanda merah kecil. Sesekali menghisap puncak dada bak bayi yang sedang menyusu pada ibunya
Setelah lama dalam posisi itu, Milan mulai mengubah posisinya. Ia menuntun tubuh Pevita telungkup lalu menaiki tubuh itu. Sejenak ia memikirkan sesuatu, Milan meraih celana pendeknya yang berserakan dilantai dimana ponselnya berada. Ia menghubungi Axel dan David, melakukan panggilan video
" Kak Milan." Milan tersenyum lucu dengan panggilan manja minta dipuaskan itu, gadis itu sudah tidak sabar miliknya dimasuki Milan, Pria itu menuruti Pevita, ia menaiki tubuh Pevita dan memasuki kewanittaan itu dari belakang sambil menghimpit tubuh Pevita. Pevita menjerit merasakan sesuatu yang berbeda, dan ketika itu terjadi Axel mengangkat panggilan video dirinya, disusul David. Kedua pria itu tampak tercengang mendengar suara Pevita. Dalam posisi itu tubuh Pevita tak terekspos hanya lengan atas dan sebagian punggungnya saja yang teroihat
__ADS_1
Milan meraih bantal meletakan ponsel itu dalam posisi berdiri menyandar pada bantal. Kemudian mulai kembali mengguncang tubuh itu sambil mengecupi tengkuk Pevita yang tak menyadari apa yang dilakukan Milan. Kedua mata gadis itu terpejam menikmati apa yang dilakukan MilN, bibirnya menganga dengan wajah menunduk kebawah, jemari lentiknya mencengkram sprei begitu kuat dan bibirnya tak henti mengeluarkan dessahan demi dessahan yang membuat Axel dan David kesal
" Milan kau sialaannnnnn!!" Mendengar suara, Pevita membuka kedua matanya, membuat Milan langsung mengambil bantal sehingga ponsel itu jadi menghadap langit-langit kamar, ia sengaja memamerkan percintaannya dan Pevita agar membuat keduanya merasa kalah, tujuannya agar tak mengganggu Pevita lagi
Pevita menoleh kebelakang, bibirnya langsung diserbu Milan. Ia mencoba mengecoh gadis itu agar tak menyadari umpatan Axel dan David. Milan mempercepat permainannya, hingga suara penyatuan tubuh dan benturan kulitnya dan Pevita terdengar ditelinga Axel dan David
" Kak Milan, kau luar biasa, besar sekali." Racau Pevita tanpa sadar memuji kehebatan Milan diatas tubuhnya. Milan mengecup bibir menganga itu, menggigit pelan bibir bawah Pevita
" Buka sedikit kakimu sayang." Bisik Milan namun masih terdengar jelas oleh David dan Axel. Keduanya serempak mematikan panggilan itu membuat Milan ingin sekali tertawa. Milan tanpa sengaja mendapatkan semuanya malam ini, sepertinya ia akan menjadi pengangguran paling kaya didunia, bahkan Milan tak perlu bekerja seumur hidupnya
Milan semakin mengguncang tubuh itu tanpa ampun. Suara Pevita mulai habis karena terus menjerit." Ooh Pevita, kenapa senikmat ini. Uhhhmm sempit!!!!" Racau Milan menyusupkan kedua jemarinya, menangkup buah dada Pevita yang terhimpit dibawah. Sementara bibirnya mencummbui leher Pevita, tiga tahun Milan tak menyentuh wanita, malam ini ia merasa luar biasa. Apalagi tubuh wanitanya sesegar Pevita, rasanya Milan ingin mengulang lagi tanpa berhenti
Pevita mengulurkan satu tangannya kebelakang memegang tengkuk Milan sembari ia menoleh lagi kebelakang, bibirnya diserbu Milan lagi, suara decap bibir keduanya menambah suara erotis malam ini. Pevita melepaskannya secara sepihak, ia menunduk menyembunyikan wajahnya dikasur, bibirnya menjerit histeris, tubuhnya mengejang hebat, tangan ditengkuk itu mencengkram kuat kulit Milan. Akhirnya ia membasahi spreii putih kamar Milan dengan caiirannya yang kembali menyembur deras
" Oooh fuccckk!" Milan mencengkram kuat buah dada itu, sama seperti Pevita ia pun mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Milan kian meninndih tubuh itu, semakin menancapkan kejantannnya sembari merengkuh erat tubuh Pevita. Nafas keduanya tersengal hebat untuk beberapa saat
" Pevita" Panggil Milan berbisik ditelinga Pevita, sayangnya gadis itu langsung terlelap dalam dekapan Milan
-
-
__ADS_1