
Pevita akhirnya bangun setelah dua hari kritis. Perlahan kedua mata itu terbuka membuat keluarganya merasa senang. Delan bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan hidup pada adiknya itu
Kedua mata Pevita menggenang airmata ketika mendengar tangisan sang Mammi. Pevita menoleh dan langsung tubuhnya yang masih lemah dipeluk sang ibu. Pevita ikut menangis, tersedu-sedu, tak ada yang menangis saat ini
" Jangan lakukan itu lagi sayang." Ucap Mami Bulan lalu mencium seluruh wajah putrinya, Pevita hanya diam menatapi wajah sang ibu dengan airmata berderai
" Kamu tidak memikirkan kami semua hmm?"
" Aku merasa buntu Mam." Sautnya
" Tidak, selama kami ada, hidupmu akan baik-baik saja." Pevita menangis kencang
" Pasti Mam sudah tahu? kakak pasti tidak menepati janjinya kan?"
" Tidak masalah, mammi tidak akan marah. Itu bukan kesalahanmu."
" Daddy?" Merasa terpanggil, Daddy Dean mendekati sang putri. Duduk disebelah yang lain, wajah pria itu sembab dan dipenuhi rasa sedih. Ia menggenggam jemari Pevita dan mengecup punggung tangannya
" Kamu sedang menguji jantung Daddy hmm?" Pevita tersenyum akan lelucon itu, Daddy Dean menghapus airmatanya
" Apapun yang terjadi, kamu tetap putriku. Putri kesayanganku. Jangan pernah berpikir konyol lagi." Pevita mengangguk cepat membuat Daddy Dean langsung memeluknya, bersama Mammi Bulan ketiganya berpelukan
Bella mengusap airmata Delan yang terus menitik, lalu memeluk Delan. Jeslyn tak pernah menjauh dari pangkuan pria itu, bayi itu tumben mau diam dan mengerti keadaan, hanya kepalanya yang mengedar kesana-kemari memperhatikan setiap orang
Setelah keadaan tenang. Delan mendekati Pevita yang kini duduk. Ia meraih jemari Pevita. Keadaan gadis itu kini lebih baik, lebih banyak lagi tersenyum." Semua orang sudah tahu, kamu maukan bersaksi dan membuat Milan masuk penjara?" Pevita terdiam menyentuh perutnya sendiri
" Janin itu tidak butuh ayah brengsek seperti Milan."
" Aku malu bila orang-orang diluar sana tahu, teman-temanku. Teman dekatku, bagaimana bila mereka mencemoohku."
" Tidak, mereka akan mensuportmu seperti kakak." Pevita menggelengkan kepalanya, membuat Delan tak mau memaksanya lagi. Delan takut kondisi jiwa adiknya terguncang lagi
" Istirahatlah, kamu harus segera pulih." Ujar Delan
Pevita balas menggenggam jemari itu
__ADS_1
" Terima kasih." Ucapnya
" Berjanjilah kamu tidak akan berbuat konyol lagi." Pevita mengangguk tampak merasa bersalah melihat wajah sembab Delan
" Aku menyayangi kakak." Ucapnya memeluk Delan. Semua orang terharu melihat keduanya begitupun Bella, selama ini ia berprasangka buruk pada suaminya, Bella belum meminta maaf
Delan keluar dari ruang rawat Pevita dan duduk disebelah ayahnya dan Paman Bryan dikursi panjang luar ruangan. Delan merasakan apa yang ayahnya rasakan, ia juga punya seorang anak perempuan. Delan mengusap pundak yang mulai melemah itu
" Paman, apa Paman melakukan apa yang kuminta?"
" Itu sama sekali tak berpengaruh untuknya Delan, dua tahun ini perusahaannya maju pesat. Milan membuka cabang dimana-mana. Uang itu akan terasa kecil untuknya sekarang." Delan mengepalkan kedua tangannya
" Kita jebloskan dia ke penjara." Ucap Daddy Dean
" Pevita tidak mau bersaksi, aku sudah berulang kali menasehatinya." Wajah Daddy Dean masih saja panik seperti saat pertama kali datang ketika Bella memberi kabar yang tak mengenakan untuknya dan sang istri
" Apa alasan Pevita?"
" Dia malu, dia tidak mau ada yang merendahkan. Aku mengerti perasaan Pevita." Bryan menghembuskan nafasnya
" Maksud Paman, Pevita menikah dengan Milan?" Delan tercengang sendiri, bagaimana bisa ia menjadikan pria itu menjadi adik iparnya
" Memangnya ada cara lain? kalian akan membuat anak itu menjadi anak haram begitu?" Delan dan Daddy Dean terdiam memikirkan perkataan Bryan yang memang benar adanya
" Kita bisa memutuskan sendiri, Pevita yang memutuskan." Saut Daddy Dean
" Dad." Delan tampak tak setuju
" Kita harus menghukumnya." Protes Delan
" Kalau kalian tidak mau, aku sendiri yang menghukumnya."
" Dengan cara apa?" Tanya Paman Bryan
" Dengan cara apa? dengan cara tinjumu lagi? kamu akan menambah masalah lagi? kamu pikir Milan anak jalanan yang tak punya orangtua? mereka juga bisa menuntutmu!!" Tutur Bryan tegas membuat Delan membungkam dan meninju dingding
__ADS_1
Bryan menggelengkan kepala melihat keponakannya yang selalu tak bisa menahan emosi dan selalu bertindak gegabah. Bryan merasa terkejut kenapa keponakannya bisa mengalami hal yang sama seperti Jiana. Ia tak menyangka Milan yang punya titel baik itu bisa menjadi jahat. Tapi mengingat dirinya dulu pun sama bejadnya seperti Milan
" Bukankah orang bisa berubah." Gumamnya mengingat dirinya sendiri
Kemudian ketiganya kembali keruang rawat Pevita. Saat ini semua orang sedang menggoda Jeslyn yang mulai bisa berdiri dan melangkah. Bayi mungil itu bertepuk tangan setiap disoraki, membuat Pevita sedikit terhibur, ia pikir ia tak akan bisa bertemu Jeslyn lagi
Delan tersenyum melihat Jeslyn lalu duduk disisi ranjang Pevita. Gadis itu menoleh pada Delan dan tersenyum, sepertinya suport dari semua orang membuat Pevita semakin membaik
Ditempat lain, Milan tertawa terbahak-bahak. Pria itu baru saja kembali dari Paris dan mendapat kabar tak sedap dari sekertarisnya. Wanita itu heran melihat Milan yang malah senang, padahal masalah yang mereka hadapi cukup besar
" Jadi hanya ini balasanmu Delan.." Ledeknya terkikik lucu
" Kau tidak tahu sekarang sekaya apa aku, aku bersyukur, penghianatan kalian membuatku bersemangat." Tuturnya dengan seringai licik lalu menyalakan rokok ditangannya
" Pak, ada polisi datang mencari bapak." Ucap sekertaris kedua Milan
Milan tampak santai lalu menyuruh kedua polisi itu masuk. Keduanya datang membawa surat penggeledahan dan membawa Milan kekantor polisi untuk diintrogasi
" Siapa yang menyuruh kalian?" Tanyanya masih santai
" Pak Delan menuntut anda atas tindakan pelecehan terhadap adiknya." Milan tertawa kencang, memukul-mukul meja
" Memangnya dia punya bukti apa?" Tanyanya santai
" Anda berhak memanggil pengacara!"
" Saya tidak mau, saya akan datang sendiri kesana." Tolak Milan pada dua polisi tersebut. Tapi sepertinya kedua polisi itu dibayar mahal Delan sehingga memaksa Milan untuk ikut dengan mereka
Milan tampak meronta, ia digeret keluar dari ruang kerjanya oleh kedua polisi tersebut. Milan tentu menjadi perhatian semua bawahannya, gosip-gosip mulai menyebar luas akan penangkapan itu ditambah seseorang menambah-nambahkan diantar mereka, tidak lain adalah Aulia, wanita itu disuruh Bella dan Delan
Diruang rawat Pevita yang mulai sunyi karena semua orang mulai beristirahat. Delan tampak tersenyum puas bersama Bella. Diam-diam pria itu membayar polisi kenalannya untuk menangkap Milan, sengaja hanya untuk mencoreng nama baik pria itu dimuka umum, lihatlah kini berita ditangkapnya Milan mulai ramai dibicarakan di media bisnis tanpa membawa-bawa nama Delan dan keluarganya. Pria itu menyakiti adiknya tentu Delan harus membalasnya, mungkin tidak akan setimpal dengan apa yang dilakukan Milan pada Pevita
" Kamu pintar Bella." Bisik Delan menggandeng Bella yang sedang menyusui Jeslyn
-
__ADS_1
-