
🌹🌹🌹
" Bella." Delan menahan lengan dengan kulit putih itu untuk tak masuk kedalam rumahnya
" Aku hanya ingin melihat, memangnya kenapa?" tanya Bella, sekali lagi Delan merasa heran. Wajah Bella membuat Delan ingat masa dulu, saat itu saat yang paling indah untuk Delan. Sebelum semuanya terjadi sebelum Bella membencinya dan sebelum Bella .. mungkin mencintai Jun? pikir Delan dengan hati memanas
" Bukankah seharusnya kamu tidak berada disini?" Bella melipat kedua tangannya didada, menatap dengan wajah kesalnya
" Kenapa? kamu menyembunyikan sesuatu dariku huh? apa seorang wanita?" Bella menyipitkan kedua matanya
Delan hanya diam sehingga keduanya hanya saling bersitatap membuat Bella kembali melangkah, kali ini Delan tak menahan Bella membiarkan Bella semaunya masuk kedalam rumah diikuti dirinya
" Pulanglah!" Delan tampak menggerutu membuat Bella tersenyum lucu lalu berbalik
" Kenapa terus mengusirku?" Bella pura-pura menggerutu dengan bibir mengerucut
" Jeslyn pasti menunggumu!"
" Dia bersama Aeri." saut Bella lalu kembali memutar tubuhnya untuk melihat-lihat rumah sewa Delan yang benar-benar kecil, bahkan tak ada ruang tamu serta dapur yang tanpa sekat mengingatkan Bella dengan rumah kosnya dulu
Bella mendudukan dirinya diatas ranjang yang kecil namun sangat rapi. Lalu menatap Delan yang hanya mematung memperhatikannya. Keduanya kembali saling bersitatap cukup lama
Kemudian menjatuhkan tubuhnya berbaring diatas kasur tanpa malu padahal ia hanya memakai rok payung dibawah lutut sehingga kedua pahanya terlihat jelas dipandangan Delan yang detik itu juga menarik nafasnya dan memutuskan memutar tubuhnya mencoba mengindari sifat binatangnya
" Mau kemana?"
" Aku harus bekerja!" saut Delan
" Bukankah tadi-"
" Aku punya banyak pekerjaan!" Delan beranjak pergi meninggalkan Bella sendiri dirumahnya. Ia benar-benar tak mengerti dengan ibu putrinya itu, apa selama ini Bella selalu melakukan hal itu jika ada Jun? wanita itu selalu memamerkan tubuh seksinya pada sembarang pria?
Delan meninggalkan rumah dengan pikiran melayang kemana-mana dan langkah tak tentu arah. Sebenarnya ia tak punya pekerjaan lagi, itu alasan Delan menghindari Bella, ia tak mau memaksa wanita itu untuk melayaninya
" Apa yang harus kulakukan." gumam Delan memijat pelipisnya lalu mendekati sebuah kursi panjang disebuah taman kecil. Duduk disana sambil merenung memikirkan nasibnya yang kini memang benar-benar melarat
Delan mengambil dompetnya kemudian menarik beberapa kartu disana." Ini semua gara-gara kalian, aku kehilangan Bella gara-gara kalian, kesempatanku bahagia bersama anak dan istriku juga hilang gara-gara kalian." gumam Delan menatap tajam apa yang ada ditangannya lalu melemparkan semuanya hingga berceceran ke rumput taman itu
Hanya tersisa dompet kosong ditangannya, ia membuka lagi dompet itu dan mengambil sesuatu yang menyelip disana, sudah usang termakan waktu. Delan membuka dua lipatan itu, ia tersenyum hangat melihat sebuah foto yang telah lama ia simpan dan sembunyikan dalam dompetnya. Dulu Angela sering sekali melihat dompet Delan namun sepertinya wanita itu tak bisa menemukannya karena Delan menyembunyikannya dibalik kartu tanda penduduk miliknya yang tak pernah terjamah oleh Angela
" Bella .." gumam Delan menatapi foto lama Bella saat masih remaja, saat itu Delan mencurinya sebelum meninggalkan Bella. Delan masih menyimpannya sampai detik ini menandakan pria itu memang tak pernah melupakan Bella sedikitpun
" Maafkan aku, dulu aku menduakanmu bersama Angela. Bella, aku sangat menyesal." gumam Delan menitikan airmata dan menunduk menciumi foto Bella
" Begitu banyak rasa sakit yang kamu terima Bella, maafkan aku." gumam Delan lagi menangis tersedu
Seharian ini sampai menjelang malam, yang Delan lakukan hanya melamun menyesali semuanya, keegoisannya karena lebih memilih pergi ke Harvard ketimbang memperjuangkan cintanya untuk Bella, seperti yang setiap hari ia lakukan
Karena merasa sudah malam dan sudah terlalu lama, Delan memutuskan untuk pulang." Bella pasti sudah pulang." gumam Delan didepan pintu rumahnya. Pelan-pelan, ia membuka pintu rumah itu dan ia sungguh terkejut karena ternyata Bella belum pulang, wanita itu sedang menunggunya duduk manis melipat satu kaki serta melipat kedua tangannya didada
" Kenapa belum pulang?." Suara itu tampak menggerutu
__ADS_1
" Makanlah, aku membuat makan malam untukmu!" ucapnya dengan senyuman. Delan menghela nafas, ia tak menanggapi Bella langsung melenggang menuju dapur diikuti pandangan Bella
Delan meneguk ludahnya, seharian ini ia belum makan dan saat ini ia disajikan bubur kesukaannya yaitu bubur seafood buatan Bella, rasanya tentu saja akan sangat nikmat, selain karena Bella pintar memasak tentu juga karena yang membuatnya adalah Bella. Untuk kali ini Delan tak banyak bicara lagi, ia mengambil mangkuk yang sudah disediakan dimeja makan kecil dan mengisinya dengan bubur seafood
Ia sendok full bubur itu dan langsung melahapnya, tampak seperti orang kelaparan dimata Bella membuat wanita itu tersenyum dan beranjak mendekati Delan
" Bagaimana? enakkan?" tanyanya sembari menyentuh pundak Delan. Pria itu menoleh memperhatikan jemari lentik Bella dipundaknya. Bukan menjauhkan tangannya, jemari itu kian berani, merambat mengelus punggung Delan
" Bagaimana rasanya?" suara manja itu membuat Delan meneguk ludahnya kasar, ia menengadah dan terkejut Bella yang mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya dan Bella hanya beberapa centi saja
" Eenak!" saut Delan gugup memalingkan wajahnya lagi. Mencoba menahan dirinya, Delan kembali memakan bubur dimangkuk, ia fokus dan mengabaikan Bella
" Bukankah ini sudah malam?"
" Ya, sudah malam!" saut Bella dengan kedua mata terus menatapi Delan, tubuh pria itu terlihat kurus dimata Bella bahkan kini kulit Delan tak terurus menghitam karena paparan sinar matahari
Delan menoleh lagi." Pulanglah, bukankah kamu harus menyusui Jeslyn. Bella .. jangan selalu meninggalkan Jeslyn, dia masih bayi masih membutuhkan ibunya." Suara itu tampak menggerutu ditelinga Bella yang hanya terdiam dengan senyumannya
Hening
Hening
" Kamu yakin mau aku pulang?"
" Pulanglah, dan maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku tidak punya kendaraan sekarang." saut Delan beranjak berdiri, sejenak ia memandang Bella yang demi apapun sangat cantik dan menggoda malam ini. Menyingkirkan pikiran kotornya, Delan menarik pelan lengan Bella
" Aku akan mengantarmu sampai halte bus!" ucapnya sambil terus menarik Bella
Namun saat didepan pintu wanita itu meronta membuat Delan heran dan mengerutkan dahinya
" Bella .."
" Jangan egois, kamu itu bukan Bella yang dulu, ada Jeslyn!"
" Sudah kubilang Jeslyn bersama Aeri!" bentak Bella
" Kalau kamu tidak mau pulang, lalu kamu mau apa?" Bella membungkam, ia menatap lekat Delan
" Hey .." Delan mencoba menyentuh bahu Bella namun ditepis kasar wanita itu. Delan menghembuskan nafasnya, lalu melenggang menjauhi Bella dan duduk disisi kasur. Memandang Bella yang hanya diam membatu
" Mana ponselmu!" Delan membuka suaranya
" Bella, kemarikan ponselmu, aku akan menelpon Jun agar dia menjemputmu."
" Kenapa membawa Jun?" tanya Bella membentak
" Bukankah dia pacarmu?"
" Kenapa ada pria sepertimu, sungguh pengecut! bodoh!" Delan terperangah, ia tidak mengerti dengan wanita yang beberapa meter didepannya ini
" Bukankah kamu bahagia? Bella .. aku hanya mencoba membiarkanmu bahagia, bahagia dengan siapapun piliha-"
__ADS_1
" Dan kau percaya ucapanku, aku tidak bahagia, aku tidak akan pernah bahagia bersama pria lain. Kau puas!" Delan beranjak berdiri, ia mencoba menarik Bella
" Kita bicarakan ini baik-baik." ajak Delan namun wanita itu meronta lagi dan malah memukuli dada Delan dengan kepalan kedua tangannya. Delan membiarkan itu, ia hanya menatap Bella
" Kau .. kenapa kau selalu jahat. Kau selalu pergi, kau selalu meninggalkanku. Apa kau tahu aku sangat tersiksa Delan, aku tersiksa karena mencintai pria sepertimu." teriak Bella
" Maaf. Aku memang pria bodoh Bella, aku brengsek dan sangat pengecut." saut Delan dan itu semakin membuat Bella memukulinya, lalu menangis kencang. Delan segera memeluk tubuh itu namun untuk kesekian kalinya lagi Bella meronta
" Setidaknya kau harus meminta maaf padaku, memohon agar aku memaafkanmu, memohon agar aku mencintaimu lagi. Bukan pergi lagi dan membuatku tersiksa lagi. Kau selalu datang dan pergi sesuka hatimu!" tutur Bella menangis tersedu. Delan menangkup wajah Bella, mengusap pipi yang basah itu dengan begitu lembut
" Jangan pergi lagi, aku dan Jeslyn sangat membutuhkanmu. Waktu itu aku berbohong, sebenarnya aku tidak bahagia, karena kebahagiaanku hanya bersamamu dan Jeslyn. Sejujurnya aku sangat senang kita beertemu lagi." Delan memberikan kecupan lembutnya dikening Bella, ia merasa senang mendengar pengakuan Bella
" Delanmmmmppp." Ucapan itu terhenti tatkala bibirnya dibungkam Delan, sambil menciumi bibir Bella, Delan mendorong tubuh Bella hingga berhenti diranjang dan melepaskan bibir Bella
" Berisik, jangan bicara lagi." Bella tersenyum lalu membelai pipi Delan dengan begitu lembut, kedua matanya berkaca dan Delan kembali membungkam bibir merekah itu, kali ini dengan ciuman penuh nafssu. Menekan tengkuk Bella dan tangan yang lain semakin menarik pinggang Bella sehingga tubuh mereka menyatu sempurna
Saat sadar, Delan segera melepaskan bibirnya." Maaf. " gumamnya dengan wajah takut
" Ayo kita lakukan. Aku sangat merindukanmu." bisik Bella membelai sensual bibir Delan
Dengan penuh semangat Delan karena mendapat lampu hijau, akhirnya Delan kembali menyatukan bibir mereka sambil mendorong Bella berbaring diatas ranjang kecilnya. Keduanya berciuman mesra dan panas, memecah ruangan dengan suara decap mesum bibir mereka
" Aku menginginkanmu!" bisik Delan ditelinga Bella lalu mengangkat wajahnya menatap Bella, memastikan lagi karena takut wanita itu akan menyesal dan menangis lagi. Bella malah tersenyum dengan kedua tangan merambat kebawah, menggulung kaos hitam Delan keatas
Delan anggap itu sebagai jawaban, pria itu membuka kaosnya dan melempar kelantai sebelum kembali mencummbui bibir Bella, melahapnya penuh naffsu dengan penuh kerinduan
" Aaah aku sangat merindukanmu Bella .." bisiknya lagi lalu turun keleher Bella, mencummbui leher itu dengan bibir dan lidahnya sambil kedua tangannya perlahan mulai melucuti satu persatu pakaian Bella dengan tergesa-gesa
Kini tubuh indah dan berlekuk itu tanpa busana membuat kedua mata Delan kian terbakar gairah. Diciuminya setiap inci demi incinya dengan penuh penghayatan hingga suara kecupan-kecupan itu terdengar jelas kian membakar gairah Bella, tubuhnya meliuk dan nafasnya kini mengeluarkan dessahan-dessahan
Entah sampai berapa kali Delan membuat Bella klim*ks karena permainannya, pria itu tampak tak lelah terus mencumbbui tubuh Bella dengan bibir dan kedua tangannya, menyalurkan rasa rindunya selama ini. Bella sampai terbuai dan tak sadar, jeritan kecil terus keluar dari bibirnya dengan begitu manja, Bella merasa dipuja dengan perlakuan pria itu pada tubuhnya
" Delan uhhhm aku-"
" Keluarkan sayang." jawab Delan tanpa menjauhkan bibirnya dari pangkal paha Bella yang benar-benar basah karena ulahnya
" Aaaahhhh, Delan, aaahhh .." Delan tersenyum lucu lalu beranjak berdiri dari acara berlututnya didepan Bella. Pria itu naik keatas ranjang sambil melucuti pakaiannya satu persatu, polos dihadapan Bella yang wajahnya memerah memperhatikan adik Delan yang menantang didepan matanya. Bella mencoba menyentuh dengan jemarinya namun ditepis Delan
" Aku sudah tidak tahan." ucapnya lalu menarik kedua paha Bella hingga ia terlentang. Delan segera mengurung dengan tubuhnya, ia mengecup kening Bella
" Aku akan masuk hmm?" bisiknya
Bella tersenyum dan menganggukan kepalanya, kedua tangannya yang melingkar dileher itu pindah menangkup wajah Delan." Lakukan sayang." perintahnya dengan suara lembut. Delan mengecup bibir itu lalu menundukan kepalanya kebawah sejenak
" Aaah benar-benar hangat." Racaunya saat tubuhnya menyatu dengan Bella yang menjerit panjang karena ulahnya
" Ssssuuuuttt jangan berisik!" ucap Delan menempelkan telujuknya dibibir Bella, ia menatap sejenak pujaan hatinya itu. Hatinya membuncah bahagia dengan Bella yang membuka hatinya lagi untuk Delan, entah apa yang merubah wanita itu tapi setelah ini Delan akan menannyakannya pada Bella. Jika sekarang tak mungkin, ia harus mengeluarkan ribuan kecebongnya dulu yang tampaknya sudah memaksa ingin keluar
Pelan-pelan Delan bergerak kembali membuat Bella berisik." Sayang .. tetangga akan mendengarmu!" tegur Delan dengan nafas memburu dileher Bella
" Biarkan saja, ini terlalu nikmat Delan." bisiknya nakal sembari merengkuh leher Delan dengan erat juga melingkarkan kedua kakinya dipinggang Delan. Pria itu mulai berpacu hingga deritan ranjang kayu itu semakin mengeluarkan suara
__ADS_1
-
-