Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Bunuh diri?


__ADS_3

" Bella, bisakah kamu menemani Pevita sebentar saja." Ucap Delan ketika dikamarnya. Bella yang sedang menyusui Jeslyn itu tampak merasa kasihan melihat suaminya, wajah itu sembab, dipenuhi kemarahan dan rasa kecewa


Bella hanya mengangguk, meski ia belum menemukan jawaban atas pikiran-pikiran buruknya, sambil menggendong Jeslyn, ia keluar kamar dan menuju kamar Pevita. Bella melihat Pevita sedang duduk diatas kasur, masih dengan piyama yang sama, gadis itu sedang melamun


Bella tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya duduk disisi ranjang membelakangi Pevita


" Mamamam." Tiba-tiba Jeslyn bersuara ketika melepaskan putting ibunya, bayi mungil itu berdiri dipangkuan Bella dan melihat ke arah Pevita. Gadis itu tersenyum pada Jeslyn membuat Jeslyn meronta dan merangkak mendekati Pevita


Bella tak banyak bicara, ia meninggalkan begitu saja Jeslyn bersama Pevita. Ia kembali kekamarnya dan melihat Delan sedan membuka pakaian kerjanya. Melihat istrinya dari balik cermin Delan berhenti, ia memutar tubuh dan mendekati Bella


" Aku merasa jadi orang bodoh yang tak tahu apapun." Ucap Bella membuat Delan menunduk, Bella bisa melihat suaminya sangat tersiksa, airmatanya menggenaang lagi. Delan menghembuskan nafas beratnya


" Hatiku sangat hancur Bella saat ini." Kedua mata Bella ikut berkaca-kaca


" Pevita, nasibnya sangat buruk." Tambah Delan


" Milan memperkosa Pevita." Bella sangat terkejut, kedua mata yang berkaca-kaca itu menggenang airmata


" Bisa kamu bayangkan betapa hancurnya aku?" Delan seakan tak bisa menahan rasa sakitnya lagi, pria itu menangis dihadapan Bella


" Kenapa Milan bisa sekejam itu?"


" Aku tidak tahu, kenapa bajinga* itu-" Bella segera menarik Delan, membawa kepelukannya. Menenangkan suaminya dengan menepuk-nepuk punggungnya


" Kenapa tidak pernah bilang padaku, mungkin saja aku bisa membantumu menemani Pevita." Delan semakin tersedu


" Dia tidak mau semua orang tahu."


" Hatiku hancur, aku tidak tahu harus berbuat apa? aku gagal melindungin adikku sendiri." Bella merasa sedih mendengar perkataan suaminya


" Aku yang salah, tapi kenapa Pevita yang harus menanggungnya." Bella ikut tersedu, merasakan kepahitan yang dialami Delan. Ia tahu seberapa besar Delan menyayangi Pevita


" Bukankah Milan harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan?" Delan menggelengkan kepalanya


" Aku dan Pevita membenci bajinga* itu."


" Tapi apa kamu akan terus membiarkan perut Pevita semakin membesar?" Tanya Bella membuat Delan bungkam

__ADS_1


" Aku tidak rela adikku bersama pria yang tidak waras seperti Milan." Jawab Delan mengurai pelukannya


Bella hanya diam, Delan dalam keadaan emosi dan tidak akan menyelesaikan masalah bila diajak bicara. Yang ada pria itu akan semakin emosi


" Mandilah, setelah itu kita makan." Perintah Bella melepaskan Delan. Bella memutar tubuhnya hendak pergi namun ditahan Delan, pria itu memeluk Bella dari belakang


" Maaf." Ucap Delan


Bella menggenggam lengan yang melingkar didadanya itu dengan kedua tangan. Ia hanya mengangguk pelan, keduanya seperti itu cukup lama. Lalu Delan melepaskan Bella dan pergi kembali kekamar Pevita


Kini ia sangat tahu kebenarannya dan merasa iba melihat wajah pucat Pevita. Bella duduk disisi ranjang memperhatikan Pevita yang sedang menemani Jeslyn main diatas kasur, bayi itu diberi banyak boneka oleh Pevita


" Berapa usianya?" Tanya Bella membuat pandangan Pevita dari Jeslyn teralih padanya


" Aku tidak tahu dan tidak mau tahu." Jawab Pevita. Bella mendekat meraih jemari Pevita dan menggenggamnya


" Jangan seperti itu, tidak baik."


" Aku sama sekali tidak menginginkannya."


" Tuhan sedang mengujimu!"


" Jangan putus asa!"


" Bagaimana dengan Mammi dan Daddy? aku harus bicara apa?"


" Kakak akan membantumu Pev." Saut Bella membuat Pevita berhambur memeluknya


" Cukup bantu aku melenyapkannya."


" Tidak, itu bukan solusi."


" Aku mohon." Pinta Pevita kembali menangis


" Aku masih ingin sekolah, menikmati masa-masa muda seperti gadis seusiaku. Aku tidak mungkin melahirkan seorang bayi." Bella hanya diam mendengarkan Pevita, ia jadi sangat bingung dengan masalah yang menimpa adik iparnya tersebut


Malam ini bukan hanya Delan yang menemani Pevita, ada Bella dan juga Jeslyn yang menemaninya. Bayi mungil itu berada paling dekat dengan Pevita dan Delan disisi paling ujung dibelakang Bella

__ADS_1


Pevita sama sekali tak bisa tidur. Ia terus melamun menatap langit-langit kamar. Memikirkan masa depannya yang hancur karena seorang Milan. Lalu Pevita menoleh pada Jelsyn yang terlelap, ia mengelus pipi gembul itu


" Jeslyn, maafkan Aunty. Aunty sebenarnya masih ingin bermain bersamamu, melihatmu tumbuh besar." Airmata Pevita jatuh melihat bayi mungil itu, lalu ia melihat kedua kakanya yang juga sedang tidur. Bella tidur terlentang dan Delan memeluknya. Pevita tersenyum hangat melihat keduanya


" Maafkan aku kakak dan terima kasih." Bisiknya lalu bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil sekotak obat didalam laci meja nakas dan melangkah menuju kamar mandi


" Daddy, Mammi." Gumamnya sambil menangis


Mendengar suara isak tangis, Bella yang memang belum tidur dengan benar membuka kedua matanya lagi. Pandangannya mengedar mencari Pevita, Bella segera bangun, mengambil bantal untuk menghalangi Jeslyn agar tak jatuh dari lantai. Ia mencari Pevita kekamar mandi


" Ya Tuhan, Pevita." Mendengar suara teriakan Bella, Delan dan Jeslyn terbangun. Bayi itu langsung menangis sementara Delan langsung bangkit menyusul Bella kekamar mandi


Jantung Delan serasa copot ketika melihat Pevita sudah tergeletak dilantai, wanita itu kejang-kejang. Delan segera memboppongnya dan berlari keluar kamar diikuti Bella yang meraih Jeslyn lebih dulu


Keduanya berlarian bersamaan dengan Jeslyn yang menangis. Menuju garasi dan memasukan tubuh Pevita duduk disamping kemudi. Delan semakin kalut ketika mulut Pevita mulai mengeluarkan busa


" Ya Tuhan, kenapa kamu nekad sekali Pevita." Delan menancap gas, panik sehingga meninggalkan Bella dan Jeslyn. Pria itu seperti orang gila melajukan mobilnya nyalip sana-sini. Tengah malam kendaraan mulai kosong sehingga ia sampai lebih cepat


Delan membawa tubuh lemah dan mulut yang terus mengeluarkan busa itu berlari masuk kedalam rumah sakit. Semua perawat langsung mendatangi Delan dan membawa Pevita menuju UGD


Delan menghempaskan tubuhnya yang lelah pada kursi. Demi Tuhan ia akan benar-benar membunuh Milan jika Pevita sampai tak selamat. Delan menutup kedua matanya dan menitikan airmata lagi. Nafasnya memburu karena amarah dan kesedihan


Tak lama Bella datang bersama Jeslyn. wanita itu membangunkan sopir untuk mengantarnya dan Jeslyn. Melihat Bella, Delan mengambil alih Jeslyn. Memeluk bayi itu dengan erat, Delan mencium pipi gembulnya dengan airmata membanjir. Bella merasa pilu dengan keadaan suaminya, ia duduk disamping Delan dan terus berdoa semoga tidak terjadi apapun pada Pevita


" Kenapa dia tidak memakai jaket?" Tanya Delan


" Aku sangat khawatir jadi tidak sempat." Delan memeluk putrinya agar tidak kedinginan tapi Jelsyn malah meronta dan menjerit


" Syuuuuuttttt." Hanya itu yang keluar dari mulut Delan. Tapi Jeslyn tak menurut, jeritannya malah melengking kencang, jika biasanya Delan tertawa akan tingkah putrinya. Kali ini pria itu malah menangis


" Kita harus memberitahu Mammi dan Daddy." Ucap Bella mengelus pundak Delan, pria itu hanya diam


" Delan, kita beritahu mereka."


" Aku tidak sanggup memberitahu mereka, kamu saja." Saut Delan sesegukan, Bella melihat kesedihan yang mendalam diwajah pria itu. Bella merasa tidak tahan dan ingin ikut menangis. Tapi jika semua orang lemah, siapa yang akan menguatkan?


-

__ADS_1


-


__ADS_2