
Pevita menoleh kebelakang pada Delan yang sedang mendorong kursi rodanya ketika tiba didepan ruang ICU. Sudah dua hari ini Pevita terus memaksa untuk melihat Milan, padahal tubuhnya belum sebaik itu untuk banyak bergerak. Kedua mata Pevita kembali menggenang airmata, bibirnya bergetar membuat Mammi Bulan langsung memeluknya
" Kak Milan, bagaimana keadaannya?" Tanyanya dengan suara hampir habis. Delan tak menjawab, ia mendorong pelan kursi roda sehingga Mammi Bulan melepaskan Pevita. Delan membuka pintu kamar ICU dimana Milan terbaring tak sadarkan diri
Airmata Pevita mulai merembes, melihat sang pujaan terbaring lemah dengan alat medis diseluruh tubuhnya. Wajah tampan itu bahkan tertutupi perban serta oksigen yang membantu pernapasan Milan. Isak tangis Pevita membuat Mammi Bulan tak kuasa, wanita itu ikut menangis dan merangkul sang putri yang tampak lemah
Tit
Tit
Tit
Hanya suara itu yang menyahuti tangisan Pevita." Dokter bilang-"
" Aku tidak mau mendengar apapun!" Potong Pevita menggelengkan kepalanya
" Aku ingin menyentuhnya." Ucap Pevita, Delan segera mendorong kursi roda itu mendekat sehingga Pevita disamping Milan. Pevita langsung menggenggam jemari Milan dengan kedua tangannya, ia ciumi dengan lembut. Hatinya teriris pilu melihat sekujur tubuh itu dipenuhi luka, bahkan kuku-kuku pria itu menghitam karena gumpalan darah didalamnya
" Dia seperti ini karena berusaha menyelamatkanku dan Elea." Ucap Pevita sesegukan, ia tak pernah merasa sesakit saat ini bahkan ketika dulu Milan melecehkannya
" Bangun kak hmm, aku ingin memberitahumu sesuatu, bangunlah, dengarkan aku." Ucap Pevita, Mammi Bulan mengecup puncak kepala itu tanpa melepaskan rangkulannya pada Pevita, ia ikut merasakan kesedihan putrinya
Pevita menengadah." Mam." Ucapnya dengan bibir bergetar
" Kak Milan bahkan belum tahu kalau Elea adalah putrinya." Ucapnya kemudian menangis kencang, Mammi Bulan hanya bisa menangis, ia sendiri tidak tahu kapan Milan bisa melewati masa kritisnya
" Dia akan bangun sayang. Dia akan mendengar semua ceritamu." Bisik Mammi Bulan mencoba menghibur. Daddy Dean dan Delan pun tampak merasa sedih melihat Pevita
" Pev." Pevita menggelengkan kepalanya lalu memeluk lengan Milan, menyembunyikan wajahnya disana, punggung gadis itu bergetar hebat karena menangis
__ADS_1
" Apa kalian sudah memberitahu kedua orangtuanya?" Tanya Mammi Bulan sembari tak henti mengusapi punggung putrinya
" Aku sudah memberitahu Tuan Ethnes, ibunya akan segera datang." Saut Delan
Semua orang hanya menatapi Pevita yang tak henti menangis. Daddy Dean bisa melihat rasa sayang putrinya yang begitu besar pada Milan. Bahkan saat tahu kandungannya tak bisa selamat, Pevita tak sesedih sekarang
Kini Pevita sudah mulai tenang, setelah beberapa jam menangis. Gadis itu sadar ketika Eleanor memanggil namanya dan terus menangis. Meskipun tak menitikan airmata lagi namun semua orang bisa melihat kesedihan yang mendalam dimatanya. Sambil memangku Eleanor Pevita terus menatapi Milan, memperhatikan setiap helaan nafas pria itu, Pevita takut nafas itu terhenti begitu saja dan Milan meninggalkan dirinya tanpa tahu keberadaan putri mereka
" Ya Tuhan." Gumamnya memeluk dan mencium puncak kepala Eleanor yang tertidur dipangkuannya. Pevita sendiri belum lepas dari kursi roda dan selang infus ditangannya, ia juga tak beranjak dari kamar Milan sedetikpun
" Sayang, kamu belum makan." Ucap Daddy Dean yang duduk disofa bersama yang lainnya termasuk Bella dan Delan
Pevita tak menjawab membuat Daddy Dean merasa sangat bersalah, pria itu merangkul pundak Pevita dan mencium pelipis gadis itu." Maafkan Daddy sayang." bisiknya dengan kedua mata berkaca-kaca namun Pevita tak menjawab, Pevita merasa hatinya sedang hancur saat ini
Ceklek
" Milan, ya Tuhan anakku." Suara histeris itu membuat semua orang terkejut kecuali Pevita, ia hanya bisa menitikan airmatanya lagi
Wanita paruh baya yang diyakini adalah Mammi Diana itu langsung masuk mendekati ranjang dan menangis histeris melihat putrnya kini terbujur kaku tak berdaya, sudah sering ia melihat sang putra bolak-balik rumah sakit, namun untuk kali ini Mammi Diana begitu merasa hancur dan begitu takut
" Milan, putraku, huuuuuuu."
" Kenapa semua orang menjahatimu nak." Ucapnya pilu, histeris mengguncang pelan bahu Milan lalu menggenggam tangan Milan dan menciuminya. Sembari di tenangkan Paman Ethnes
" Apa salahmu? Apa kesalahamu!" Ucapnya. Ibu mana yang tak sakit, setiap kali mendapat kabar dari sang putra, pria itu selalu dalam keadaan sekarat, tubuh dan wajahnya selalu babak belur Namun Milan selalu bungkam tak pernah mau banyak bicara, ketika sadar pria itu hanya memberi senyum padanya
Baru minggu lalu pria itu sembuh dari patah tulangnya dan kini Mammi Diana harus mendapat kabar yang tak mengenakan hatinya lagi. Wanita itu benar-benar histeris kali ini meratapi nasib buruk putranya, sudah cukup baginya melihat penderitaan putranya
Mammi Diana menoleh pada wajah-wajah yang juga tampak sedih. Tatapannya tiba-tiba menyalang tajam." Kalian, apa selama tiga tahun ini tak cukup membuat putraku selalu sekarat seperti ini?" Tanyanya pada Delan dengan airmata berurai
__ADS_1
" Dimana hati nurani kalian!!!"
" Putraku sudah berubah, dia berusaha menjadi baik tapi, kenapa kalian terus berusaha membunuh putraku!!!" Mendengar itu Pevita menoleh pada Delan dan Daddy Dean, meminta jawaban atas ucapan Mammi Diana. Airmatanya kembali berurai, bibirnya bergetar lagi
Sementara Delan dan Daddy Dean tak bisa menjawab apapun. Keduanya tampak merasa bersalah
" Hubungi pihak rumah sakit di Kanada, kita bawa putraku pergi dari sini." Perintah Mammi Diana pada Tuan Ethnes
" Jangan membawanya, kumohon!" Tiba-tiba Pevita bersuara membuat Mammi Diana menoleh padanya, tatapannya sama tajamnya pada Pevita, ia mendekat dan hendak membuka mulutnya namun melihat balita mungil dipangkuan Pevita, Mammi Diana meluluh, airmatanya meluncur deras. Tentu ia sangat hapal, dalam sekali lihat wajah itu sangat mirip dengan putranya. Bibir Mammi Diana bergetar, ia menatapi Pevita dan Eleanor bergantian
" Jangan membawa Kak Milan, jangan jauhkan dia dari putrinya." Mammi Diana menutup mulutnya lalu berlutut di depan Pevita, menatapi Eleanor yang terlelap
Perlahan ia meraih jemari kecil yang terkepal milik Eleanor. Tangisannya mengencang lagi." Berapa usianya?"
" Dia baru berusia dua tahun, putriku sangat merindukan ayahnya." Saut Pevita. Mammi Diana langsung membawa Eleanor kedalam pangkuannya dan duduk dilantai, ia menangis tersedu-sedu, menciumi setiap wajah Eleanor yang sangat mirip dengan putranya
" Kalian tega sekali."
" Bila tahu punya seorang putri, mungkin Milan akan sangat senang. Selama ini hidupnya seperti tak ada tujuan." Ucap Mammi Diana tak henti memeluk, menciumi Eleanor hingga balita itu merengek dalam tidurnya. Mammi Diana tersenyum sembari mengaming Eleanor dipangkuannya
" Jangan bawa Kak Milan, kumohon, demi Elea." Ucap Pevita. Mammi Diana menoleh pada Pevita yang berurai airmata
" Apa dia sudah tahu?" Pevita menggelengkan kepalanya lalu mendekat, ia menggenggam jemari keriput itu
" Namanya Eleanor." Bisik Pevita, wajah itu memelas berharap Mammi Diana tak membawa Milan kemana-mana, karena ia tak ingin berjauhan ia ingin bersama pria itu setiap detiknya, ia bahkan tidak tahu Milan akan kembali bangun atau tidak
-
-
__ADS_1