Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Tangisan Pevita


__ADS_3

Delan meminggirkan mobilnya dijalan mendadak. Ia benar-benar tak fokus mengemudi. Delan memukul-mukul stir kemudinya sekuat tenaga hingga kepalan tangannya membiru


" Ya Tuhan, kenapa harus Pevita." Gumam Delan menyembunyikan wajahnya dibalik stir kemudi, punggungnya bergetar tanda ia menangis. Dada Delan terasa sesak, kakak mana yang tidak sakit hati melihat sang adik yang sedang dilecehkan pria lain. Semenjak gadis itu lahir, Delan selalu menjaganya dengan baik, Pevita tidak pernah terluka, menangis pun bisa dihitung jari tangan


Tapi hari ini Delan melihat adiknya menangis karena pria lain, hatinya terasa hancur menjadi debu. Pantas saja Delan melihat adiknya sering murung belakangan ini, kesibukan mempersiapkan pesta membuat Delan lupa memperhatikan adik kesayanganya


" Brengsek!" gumam Delan mencengkram stir kemudi hingga buku-buku jemarinya terlihat


Delan mengusap kasar airmatanya yang tak henti menitik, menarik nafasnya yang mendadak terasa berat kemudian Delan melanjutkan lagi, ia menancap gas sekuat mungkin dan menuju rumah


Dengan tergesa-gesa ia memasuki rumah, dimana semuanya tampak sedang bersantai ria


" Dadadada." Suara lengkingan Jeslyn memanggil namanya ketika ia sampai diambang pintu. Bukan melihat Jeslyn, pandangan Delan mengedar mencari Pevita


" Dadddada." Delan memangku Jeslyn yang merangkak lincah mendekatinya


" Bella, dimana Pevita?" Bella tampak bingung ketika melihat gelagat Delan yang aneh


" Dia sepertinya masih dikamar." Saut Bella


Delan segera menyerahkan Jeslyn ke pangkuan Bella


" Daddddaaa." Jeslyn berteriak dan menangis, meronta dipangkuan Bella


" Sebentar." Ucap Delan tanpa melihat sang putri, berlari menaiki lantai dua dimana kamar Pevita berada


" Bersama Mammi oke?" Bella mencoba menenangkan Jeslyn yang mulai mengamuk, bayi itu sudah mengenali sang ayah. Bella sendiri merasa heran, sesibuk apapun Delan tak pernah mengabaikan Jeslyn


Tiba didepan pintu kamar Pevita, Delan menarik nafasnya yang terasa sesak sebelum membuka pintu dan masuk kedalam kamar. Delan mengunci pintu kamar itu membuat Pevita yang sedang duduk disofa memeluk kedua kakinya sambil menghadap jendela itu terkejut dan spontan menoleh kebelakang


" Kakak?" Delan memaksakan senyumnya, rasanya ingin menangis melihat wajah polos itu sangat pucat, menandakan Pevita memang sedang tak baik-baik saja. Delan menghembuskan nafas beratnya dengan pelan lalu mendekati Pevita dan duduk disampingnya


" Ada apa?" Tanyanya. Delan menggelengkan kepala dan menatapi wajah Pevita, ia mengusap puncak kepala itu dengan begitu lembut. Terus melakukannya berulang, hal itu membuat kedua mata Pevita menggenang airmata


Dada Delan terasa sesak lagi ketika melihat airmata Pevita perlahan jatuh membasahi pipinya. Dengan sigap Delan mengusapnya dengan begitu lembut, Delan menarik nafasnya yang benar-benar berat itu berkali-kali lalu membawa Pevita kedalam pelukannya


Seakan tak bisa menahan bebannya lagi, Pevita menangis kencang dipelukan sang kakak. Delan merasa pilu ikut merasa sakit, ia pun menitikan airmata, memeluk erat tubuh adiknya yang bergetar

__ADS_1


" Ya Tuhan Pev." Ucapnya kian membuat Pevita menangis kencang, untung saja kamar itu dilengkapi peredam suara


" Kakak lalai menjagamu Pev, maafkan kakak!" Pevita menggelengkan kepalanya


" Ini salah kakak, kakak tak becus dalam menjagamu!"


" Kenapa harus kamu Pev." Semakin banyak bicara, Delan semakin membuat Pevita menangis kencang


" Kenapa harus adikku." Ucap Delan lalu mengurai pelukannya. Ia mengusap pipi Pevita yang terus basah


" Kita laporkan bajing*n itu, kita hukum dia hmm?" Tapi Pevita malah menggelengkan kepalanya


" Kita buat dia mendekam dipenjara seumur hidupnya hmm? kakak hanya butuh kesaksianmu!" Namun Pevita malah menggelengkan kepala sehingga airmatanya terus berjatuhan, semakin menyakitkan untuk Delan. Ia kembali memeluk tubuh lemah itu, mengusap-usap punggungnya


" Dia harus dihukum, bersaksilah."


" Jangan, aku malu bila semua orang tahu."


" Tidak, tidak akan ada yang tahu Pev."


" Tidak, kumohon."


" Kumohon, atau aku tidak mau hidup lagi." Delan menggelengkan kepala, airmatanya berjatuhan lagi. Demi Tuhan kenapa rasanya sangat sakit ketika ia tak bisa berbuat apapun untuk adiknya


" Jangan beritahu siapapun, jangan beritahu Mammi dan Daddy. Aku mohon kakak, kakak harus berjanji padaku!" Delan terisak, ia menghembuskan nafas beratnya seakan tak bosan berkali-kali


" Kakak kumohon.." Pintanya pilu dengan isak tangisnya. Delan tak menjawab, ia hanya mengelus rambut Pevita yang panjang diatas pinggang dengan begitu lembut. Delan sangat terpukul dengan keadaan ini, sangat menyakitkan untuknya, hatinya terasa hancur apalagi Pevita yang mengalaminya


" Baji*ngan itu." Gumam Delan dengan tatapan tajamnya


Dua jam keduanya tak mengubah posisi, sampai isak tangis itu tak terdengar lagi. Barulah Delan melepaskan pelukannya, ia mengecup kening itu dengan begitu lembut, bodohnya ia tak bisa menjaga Pevita dengan baik. Dalam diam, Delan menatapi Pevita yang ketiduran nyaman dipelukannya


" Apa yang harus kakak lakukan Pev, pasti kamu sangat kesakitan." Gumamnya lalu membopong Pevita menuju kasur, membaringkannya dengan begitu pelan


Tak terasa hari sudah malam, Delan menuju kamarnya. Ia melihat sang istri sedang menidukan Jeslyn ke box bayi. Delan menyembunyikan wajahnya yang sembab dan berlalu begitu saja menuju kamar mandi


Didalam kamar mandi, Delan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Otaknya terasa mendidih karena amarahnya yang tak tersalurkan, jika tak mengingat Bella, Jeslyn dan keluarganya, mungkin Delan akan benar-benar membunuh Milan dengan tangannya sendiri

__ADS_1


Delan keluar kamar dan menuju walk in closet untuk memakai piyama tidurnya. Selesai, Delan mematikan lampu kamar lalu berjalan menuju ranjang dimana Bella sudah merebahkan dirinya disana


" Jelsyn benar-benar mengamuk tadi." Ujar Bella. Delan naik keatas kasur dan berbaring menghadap Bella


" Maaf." Ucapnya mengelus kening Bella dengan ibu jarinya


" Ada apa?" Delan memaksakan senyumnya dan menggelengkan kepala


" Tidurlah ini sudah malam." Perintah Delan lalu bergerak tidur membelakangi Bella. Tak seperti biasanya membuat Bella bergerak memeluknya dari belakang. Delan menggenggam jemari lentik diperutnya itu dengan kuat, airmatanya tak tertahan jatuh begitu saja


" Tidak mau memelukku?" tanyanya. Delan segera berbalik dan memeluk Bella, menyembunyikan wajah cantik itu didadanya. Mengusap- usap puncak kepala Bella dan sesekali menciuminya, satu jemarinya mengusap perut Bella yang masih rata


" Sayang, bolehkah aku tidur dikamar Pevita?" Bella mengurai pelukannya dan merasa heran, dalam keremangan cahaya lampu tidur ia tak bisa melihat wajah sembab suaminya


" Memangnya kenapa?"


" Pevita sedang sakit, aku hanya ingin menjaganya." Saut Delan


" Sakit apa? bukankah dia baik-baik saja." Delan tersenyum


" Kamu tidak mengijinkan?" Tanyanya


" Pergilah, lagipula kita setiap hari tidur bersama." Delan tersenyum lagi, Bella begitu pengertian padanya


" Aku akan kekamar Pevita setelah kamu tidur." Bella tersenyum senang, ia kembali memeluk tubuh suaminya sampai ia benar-benar tertidur, barulah Delan melepaskan Bella


Ia mencium kening itu dan menyelimuti Bella sampai batas dagu. Kemudian turun dari kasur, sesaat ia melihat Jeslyn yang terlelap dengan posisi menyamping." Nice dream sayang." Bisiknya sembari mencium jemari kecil putrinya lalu keluar dari kamar


Delan tak akan bisa tidur tenang, ia ingin melihat Pevita. Pikirannya tidak tenang. Selain hati pasti kondisi psikis gadis itu terguncang, dan Delan ingin menemani adiknya, merawat Pevita sampai adiknya benar-benar sembuh dan ceria seperti biasanya, meskipun semuanya tidak utuh lagi untuk gadis itu


Pelan-pelan Delan masuk kekamar adiknya yang tak terkunci dengan lampu padam dan tercahayai lampu tidur saja. Delan mendekati ranjang, ia duduk disisi ranjang didekat Pevita. Delan menatapi adiknya yang sedang terlelap dengan dada sesak, ia mengingat lagi tangisan menyayat hati itu. Perlahan Delan mengulurkan jemari menyentuh pipi Pevita membuat gadis itu terkejut, kedua matanya membulat dan menepis lengan Delan dengan kencang, nafas gadis itu terlihat sulit


" Ini kakak Pev." Mendengar suara Delan, Pevita bernafas lega, kian membuat Delan merasa hancur, apa yang dilakukan Milan pasti menjadi trauma untuk sang adik


" Tidurlah lagi, kakak akan menemanimu." Ucap Delan menggeser Pevita dan berbaring menyamping, mengusapi kepala Pevita agar wanita itu terlelap lagi dengan perasan tenang dan merasa terjaga


Delan benar-benar tak bisa tidur, ia hanya menatapi Pevita. Betapa malangnya nasib sang adik." Milan benar-benar tak punya perasaan." Gumamnya tak henti mengusap puncak kepala Pevita

__ADS_1


-


-


__ADS_2