
Seluruh tubuh Pevita terasa remuk. Kepalanya terasa pening pagi ini. Pelan-pelan ia membuka kedua matanya. Ia cukup terkejut ketika melihat pakiannya bergeletakan dilantai. Lalu tatapannya tertuju pada tangan yang melingkar dipinggang rampingnya yang polos. Pevita menutup mulut, kedua matanya membulat ketika bayangan-bayangan erotis semalam muncul diingatannya
" Ya Tuhan." Gumam Pevita dalam hati mencengkram kuat bantal yang ia tiduri
" Bagaiman bisa aku seliar itu, aku bukan pelaccur." Pevita terus membatin, wajahnya memerah antara malu dan marah. Tapi pria dibelakangnya memang tidak salah, ia yang menggodanya lebih dulu.
Pevita memberanikan diri menoleh kebelakang. Ia terkejut dan malu karena ternyata Milan sudah bangun, pria itu sedang menatap Pevita dengan tatapan tak bisa diartikan. Pevita beringus bangun sambil memegangi selimut didadanya, ia tidak sadar bahwa punggung dan bokongnya terlihat oleh Milan
" Mau kabur setelah meniduriku?" Tanya Milan bergerak duduk lalu mengambil underware hitamnya dilantai, ia memakainya tanpa mengalihkan pandangannya dari Pevita
" Ja-jangan gila, kau yang meniduriku!" Milan terbahak kencang
" Kau yang menggodaku lebih dulu." Pevita mendengus kesal lalu menoleh kebelakang, wajahnya sangat garang
" Berapa hargamu? Berapa aku harus membayarmu? " Ledek Pevita dengan seringai jahat. Milan tersenyum manis
" Kau tidak akan bisa membayarnya dengan uang, tubuhku terlalu mahal." Pevita berdecih jijik, ia memalingkan wajahnya lagi
" Kau juga merasakannya sendiri kan? kau sangat menikmatinya sampai kau mengom-"
" Diam!!!!!" Pevita berteriak marah membuat Milan terkejut bukan main, hampir jantungnya copot saat ini. Kepala itu menoleh lagi kebelakang, tatapannya menyalang hendak menelan Milan bulat-bulat
Milan hanya santai, ia menyingkap selimut dengan kakinya. Lalu menunjuk genangan noda dispreii yang ternyata tidak hilang. Pevita ingin sekali menenggelamkan dirinya saat ini kedasar laut, saking malunya ia karena semalam. Pevita menarik nafasnya pelan-pelan lalu menoleh lagi kebelakang
" Berapa uang yang kau mau? Aku sanggup membayarmu!!"Tanyanya dengan sombong. Milan tampak santai sambil jemarinya mengusap dada atas, dada bawah lalu turun keperut. Menjadi perhatian Pevita karena yang disentuh Milan adalah noda merah peninggalan darinya. Sekali lagi, Pevita ingin menenggelamkan dirinya kedasar sungai, kalau perlu sampai ke palung Mariana
Pevita tak banyak bicara lagi, ia mencoba bangkit namun ditahan Milan. Pria itu menarik selimut hingga Pevita duduk lagi dikasur. Dengan wajah galak ia menoleh pada Milan yang saat itu juga bergerak mendekat. Hal itu membuat Pevita beringus turun namun sekali lagi Milan menahannya, kali ini pria itu menarik pinggang ramping Pevita. Dalam keadaan ini Pevita merasa sangat gugup, ia mencoba mendorong dada Milan, tapi demi apapun dada itu terasa sangat kokoh dikedua tangannya
" Aku tidak butuh uang." Ucap Milan menatapi bibir Pevita yang bengkak karena ulahnya lalu menatapi kedua mata Pevita, sejenak keduanya hanya saling bersitatap
" Satu kali makan malam, bagaimana?"
" Hanya satu kali?"tanya Pevita
" Memangnya kau mau berkali-kali?" Tanya Milan dengan senyumannya. Pevita cukup tertegun dengan senyuman itu
" Lepaskan aku."
" Deal?" Tanya Milan
" Hmm." Saut Pevita terpaksa, Milan melepaskan pegangan itu
__ADS_1
" Aaahhh."
Bruggg
Pevita terjatuh kelantai dari atas kasur diikuti selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Pevita semakin kesal dan merasa malu." Sibrengsek ini." Gerutu Pevita dalam hati. Milan mengulum senyumnya sendiri lalu turun dari kasur. Pria itu berjalan menuju lemari, mencari pakaiannya untuk Pevita
" Mandi dan pakailah ini." Perintah Milan meletakan kemeja hitam besarnya untuk Pevita. Pevita menyingkap sedikit selimut, mengintip Milan. Pria itu berjalan menjauhi Pevita dengan hanya memakai underware saja dan membuka lemari pendingin disudut ruangan, Pevita baru sadar kalau kamar Milan lebih besar dan lengkap darinya. Didalam kamar terdapat kithcen set beserta peralatan lengkap lainnya
Pevita melilitkan selimut ditubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Didalam ia merenung sambil menatapi dirinya yang sangat berantakan dikaca. Pevita menyentuh satu persatu titik merah kecil disekitar dada. Ada juga satu dilehernya. Pevita mencoba menggosok yang dibagian leher, namun bukannya hilang itu malah menambah kemerahan dikulitnya
" Siapa yang melakukan itu." Gumam Pevita mencoba mengingat lagi kejadian semalam sebelum dirinya menggoda Milan. Malam tadi Pevita lebih banyak bersama Axel ketimbang bersama yang lainnya. Pevita mencoba red wine diatas meja dan sejak meminumnya kepalanya jadi pusing, tubuhnya juga jadi memanas tak karuan
Pevita menarik nafasnya pelan." Selama tidak ada yang tahu, semuanya baik-baik saja kan." Gumam Pevita lalu memutuskan pergi mandi. Entah kenapa Pevita tak semarah itu pada Milan, berbeda ketika pria itu memperkosanya dulu. Sambil membalur sabun cair ditubuhnya Pevita melamun, bayangan-bayangan erotis itu muncul lagi dikepalanya. Pevita menyentuh dadanya sendiri, malam tadi dada itu habis dilahap Milan
Pevita menggelengkan kepala ketika pikirannya mulai jorok. Lalu mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, mencoba mendinginkan otaknya yang terasa memanas. Sampai ia merasa menggigil barulah ia bangkit, mengelap tubuhnya dengan handuk baru yang tersedia didingding rak mandi. Pevita memakai kemeja hitam yang sangat kebesaran ditubuhnya sehingga seperti dress diatas lutut, bibirnya tersenyum memperhatikan dirinya sendiri dicermin, ia samasekali tak memakai dalaman saat ini
Pevita keluar kamar mandi." Kapan?" Tanyanya ketus pada Milan yang asyik main ponsel sambil merokok disofa. Milan mengalihkan pandangannya pada Pevita
" Kapan?"
" Haruskah aku mengulangnya lagi?"
" Oh kau mau lagi, tentu aku sangat siap!" Jawabnya santai
" Makan malam ya tentu saja malam hari, kalau siang namanya makan siang." Pevita mendengus kesal lalu berjingkat begitu saja meninggalkan Milan
" Nanti malam." Teriak Milan. Pevita tiba-tiba tersenyum mendengar teriakan itu, lalu meraih handle pintu, ia terkejut karena diluar kini ada Axel dan David, kedua orang itu hendak memencet bel. Melihat Pevita terdiam, Milan segera bangkit mendekat
" Ada apa?" tanya Milan santai sambil menarik tubuh Pevita kebelakang tubuhnya, Milan mencoba melindungi gadis itu, kedua paha putihnya terlihat jelas. Ia sangat mengenal kedua sepupunya yang seperti singa lapar ketika melihat wanita dengan tampilan cukup terbuka
Axel berdecak kesal melihat tampilan Milan yang berantakan pagi ini. Cukup membuatnya dan David percaya bahwa semalam keduanya memang telah berhubungan. David melongokan kepalanya ingin melihat Pevita, pria itu sedikit kesal karena kejadian semalam. David mencoba melecehkannya diluar kapal namun beruntungnya Pevita bisa berontak hingga tanpa sengaja mendorong David sampai tercebur kedalam laut. Untung saja tidak ada ikan paus atau hiu saat itu, dan Milan cepat datang
" Pevita, bukankah kau harus bertanggung jawab." Ucap David, Pevita melongokan kepalanya
" Lihat!" David menunjukan satu tangannya yang dperban
" Pevita tak akan melakukan itu jika kau tak macam-macam dengannya." Milan menyaut membela Pevita, cukup membuat Pevita merasa terlindungi
" Milan, sebenarnya yang sepupumu aku atau dia." Gerutu David
" Ini bukan masalah sepupu atau tidak!" Balas Milan
__ADS_1
" Kalian yang salah." Ucap Milan menaikan jari telunjuknya didepan wajah Axel. Lalu menarik Pevita keluar dari kamarnya. Milan menarik Pevita agar berjalan didepan tubuhnya, menghindari tatapan Axel dan David. Ia mengantar wanita itu sendiri menuju kamarnya
" Masuklah." Perintah Milan. Pevita menurut, sebelum menutup pintu kedua pasang mata itu saling menatap beberapa detik
" Dimana?" Tanya Pevita
" Dimana?" Pevita mendengus kesal akan ketidak pekaan itu membuat Milan tertawa
" Terserah, kau yang menentukan tempatnya." Saut Milan lalu memutar tubuh. Ia meninggalkan Pevita yang terdiam menatapi punggung Milan yang terdapat luka cakarannya dibeberapai titik, ganas dirinya diranjang. Pikir Pevita
Ehem
Suara deheman itu mengagetkan Pevita
" Lany." Tegur Pevita
" Tidur dimana?" Goda Lany. Kedua pipi Pevita tiba-tiba merona membuat Lany tertawa
" Kakak dan Daddymu pasti akan memenggal kepalamu, bila tahu anak kesayangnya sudah berani tidur bersama pria." Goda Lany lagi
" Berhenti bicara!" Pevita membungkam bibir itu dengan telapak tanganya, memelototi Lany agar diam. Saat Lany terdiam, ia melepaskan Lany dan masuk kedalam kamar
" Ayolah ceritakan padaku." goda Lany menyenggol bahu Pevita
" Bisa diam tidak berhenti mengoceh." Gerutu Pevita
" Memangnya kenapa? Kita berteman, aku hanya ingin mendengar ceritamu? Siapa pria itu? Axel?" Tanya Lany
" Lany, please?" Pevita meletakan telunjuk dibibirnya. Baru disadari Lany kalau bibir itu sedikit bengkak. Lany tertawa melihat wajah panik Pevita
" Pevita, semalam kak Milan mencarimu, kau bertemu dengannya?" Pertanyaan Laura yang tiba-tiba sedikit membuat Pevita terkejut, pertanyaan yang lebih mengarah pada tuduhan untuk Pevita
" Tidak." Saut Pevita
" Pevita bersama Axel semalam." Saut Lany membela, Pevita melihat wajah Laura tampak tenang mendengar penuturan Lany
" Kenapa kau bertanya hal itu?"
" Karena aku masih menyukai Kak Milan." Saut Laura membuat Pevita membeku
-
__ADS_1
-