
🌹🌹🌹
-
-
1 .. 2 ... 3
Suara riuh tepuk tangan kini menggema di lobi hotel setelah Delan, Dave, Milan dan Monceli yang merupakan pendiri hotel tersebut memotong pita bersama-sama atas dibukanya hotel yang diberi nama hotel Shoeshine. Semua tamu yang jumlahnya mencapai 500 orang itu tampak senang dan terkesima mengamati setiap desain hotel yang dibuat Dave, semua orang memuji pria itu termasuk Delan sang sekutu, baik dalam pekerjaan maupun hal pribadi kini Dave seakan kaki tangan pria itu
" Congratulation mr Delan .. " suara bass seorang pria terdengar dari arah belakang Delan yang kini tampak berbincang-bincang bersama rekan-rekannya. Delan segera memutar tubuhnya ia tersenyum lebar dan langsung memeluk orang tersebut
" Thank you uncle." ucapnya pada Bryan, pria yang punya perawakan seperti Delan meskipun kini usianya tak lagi semuda Delan
" Dimana yang lainnya? mereka tidak datang?"
" Mereka bersama Mammimu." sautnya mengurai pelukan menatap sang keponakan begitu bangga. Pria pendiam yang lebih mementingkan ponsel dari apapun itu kini benar-benar telah sukses seperti ayahnya dulu
" Ayolah .. kau sudah sukses dalam segala hal."
" Lalu?" Delan menyipitkan matanya
" Kapan kau sukses membuat anak." ucap Bryan dengan tawa membuat Delan terbahak dan Bryan merasa horor melihat Delan yang sekarang
" Hah apa ini sungguhan, bukan mimpi?"
" Jangan gila!" Delan menonjok dada itu sedikit keras lalu keduanya tertawa bersama-sama
" Dimana sicantik Angela?"
" Tadi dia disini, mungkin bersama yang lainnya." saut Delan dengan raut wajah yang berbeda dimata Bryan. Bryan tak ambil pusing, ia tak mau ikut campur urusan keduanya. Tapi setahu Bryan, beberapa bulan kebelakang Delan masih memuji-muji sang istri didepannya, wajahnya selalu berbinar bila menyangkut Angela
Lalu keduanya berjalan menuju perkumpulan keluarga mereka yang sedang duduk dibeberapa meja bundar." Paman sebentar lagi pasti paman akan punya seorang cucu." ujar Delan tersenyum memperhatikan Kya, anak Bryan yang kini tumbuh remaja
" Kau tahu Delan, Kya mulai tak bisa dinasehati." gerutu Bryan. Delan tertawa kecil
" Jangankan Kya, Pevita saja yang sudah dewasa terkadang masih membantah aku, Daddy dan Mammi."
" Lalu dimana Pevita sekarang?" tanya Bryan mengedarkan pandangan kesekitar dan berhenti saat melihat Pevita
" Kau sengaja ya?"
" Apa?" tanya Delan mengikuti pandangan Bryan, pria itu tersenyum memperhatikan Bella yang tampak akrab bersama Pevita. Keduanya sedang menikmati dessert duduk dimeja yang sama dan saling berbincang
" Disini banyak sekali yang bersinar dan bening." Bisik Bryan ditelinga Delan dengan pandangan was-was pada sang istri. Delan terkekeh lucu melihat sang paman
" Aunty Jia .. " Delan berteriak membuat Bryan yang sedang memperhatikan Bella terkejut dan mengalihkan pandangannya pada sang istri
" Sialan kau." pukul Bryan pada kepala Delan lalu berlari menuju sang istri yang keheranan
" Kalo mau genit pastikan dulu istrimu aman paman." ucap Delan dengan kekehan kecilnya
Delan kembali memperhatikan Bella dan Pevita lalu berjalan mendekati keduanya namun saat tinggal dua langkah lagi Angela membuatnya berhenti, wanita itu menarik Delan mendekati keluarganya. Ditempat seperti ini, bersama keluarganya Delan tak mungkin menunjukan ketidaksukaannya pada Angela. Keduanya bersikap seperti biasa seolah pernikahannya dan Angela baik-baik saja
Menjelang malam semua tamu sedikit demi sedikit meninggalkan hotel. Hanya dari kalangan daur muda saja yang kini sedang menikmati lantunan musik jass yang menengkan pikiran disebuah kafe didalam hotel itu. Delan menyadarkan tubuhnya pada kepala kursi dengan pandangan terus pada Bella yang berada semeja bersama Dave, Milan, Moncelli dan Pevita. Sejak tadi ia melihat wajah itu tampak murung kurang gairah
Sebuah sentuhan lembut didada mengalihkan perhatian Delan. Delan menoleh dan terkejut ketika bibir hangat Angela mendarat dibibirnya dengan tiba-tiba. Delan mencoba mendorong tubuh itu namun kedua tangan Angela memaksa mengalung dileher dan menahan tengkuknya. Delan benar-benar kesal saat ini, ia ingin sekali mencekik Angela, ia tahu wanita itu sengaja melakukannnya didepan Bella
Dan kekesalan itu berubah menjadi amarah tatkala melihat Bella dituntun Milan menuju lantai dansa disana. Delan tak lagi memperdulikan Angela, pandangannya menajam pada Bella yang mau saja bersentuhan bersama Milan, lihatlah kedua tangan Milan memegang pinggang rampingya membuat Delan kebakaran jenggot. Tubuhnya memanas, darahnya mendidih dan kedua tangannya terkepal kuat apalagi melihat sang istri tersenyum pada Milan
Delan memalingkan wajah hingga bibir Angela terlepas darinya, ia tak kuasa melihat hal yang mengesalkan itu. Delan segera mengambil cairan merah dalam botol dan meneguknya sampai tandas. " Wow ternyata kau hebat juga." puji Monceli bertepuk tangan
" Kakak!" Pevita menegur beranjak dari duduknya dan berdiri disamping Delan dengan mengusap pundaknya tapi Delan tak bergeming, pria itu mengambil satu lagi namun ditahan Pevita, gadis itu tahu bahwa Delan tak tahan dengan Alkohol jika terlalu banyak
" Kak Angel .. bisakah kak Angel membawa kakak kekamar " perintah Pevita dengan wajah ketus membuat Angela merasa heran dengan Pevita yang tiba-tiba seperti ini
Tanpa menjawab, Angela berusaha menggandeng Delan namun pria itu malah mendorongnya menjauh." Pergi .. " usir Delan
Pevita menarik nafasnya dalam lalu menepis kedua tangan Angela ia sendiri yang akan menggandeng sang kakak. Namun lagi-lagi Delan mengusir Pevita sama seperti pada Angela." Kakak, berhenti minum atau kau akan mempermalukan dirimu sendiri." teriak Pevita ditengah genderang musik membuat Bella dan Milan berhenti
" Pergi aku bilang." bentak Delan menggelegar lalu bangkit berdiri
Prang
Delan melempar sebotol cairan merah yang masih full itu kelantai hingga berceceran. Dengan langkah sempoyongan ia meninggalkan semua orang membuat Pevita kesal dan berlari mengikutinya
"Ada apa?" Milan dan Bella mendekat
" Delan mabuk, pria itu .. " saut Dave dengan tawa, mentertawakan Delan yang cemburu buta melihat selingkuhannya berdansa bersama Milan, sambil menatap Bella dari wajah ke perut. Dave melihat perubahan pada wajah Bella yang mulai chuby terlebih perut Bella yang terlihat menonjol, meskipun tak terlalu jelas karena tertutupi gaun silver yang longgar. Dave tahu Bella sedang hamil dan itu semua ia dengar dari Delan
" Aku pergi sebentar."
" Kau mau kemana Bella, pestanya belum selesai." Angela tiba-tiba menyahut dengan suara setengah membentak dan wajah sinisnya
" Aku mau kekamar mandi." saut Bella, wajah itu tampak sinis dimata siapapun
" Ah kekamar mandi ya .. " Angela melihat dengan tatapan merendahkan. Bella tak menghiraukan Angela, ia begitu saja meninggalkan semua orang dan meninggalkan kafe itu menuju kamarnya
Didalam kamar dibelakang pintu, Bella menghubungi Nomer Delan namun pria itu tak mengangkat panggilannya begitupun Pevita yang tak mengangkat panggilan Bella." Kemana mereka?" gumam Bella dengan wajah khawatir lalu berjalan masuk. Bella menghela nafasnya saat melihat Delan kini sedang berbaring disofa. Bella berjalan tergesa mendekati Delan dan duduk disisi sofa. Ia hendak menyentuh wajah tampan dengan mata terpejam itu namun ditepis Delan
__ADS_1
" Delan .. " panggil Bella membuat Delan segera membuka matanya. Tatapan itu marah pada Bella, berusaha menghindari pertengkaran Delan bergerak membelakangi Bella
" Kamu akan mengingkari janjimu lagi!" bentak Bella mengguncang bahu Delan, pria itu hanya diam tak bergeming
" Brengsek!" umpat Bella dan ini pertama kalinya didengar Delan. Bella beringus berdiri dan berjalan menuju kamarnya, ia membuka lalu melempar kencang sepasang sepatunya hingga menimbulkan suara. Terdengar oleh Pevita yang sedang santai dikursi dekat kolam renang, gadis itu beranjak pergi mendengar suara ribut dari dalam
Bruk
Bruk
Terdengar juga ditelinga Delan. Pria itu bangkit bangun dan berjalan menuju kamar. Ia menatap Bella yang sedang marah-marah dengan kesal, bayangkan wanita itu melempar kedua sepatunya, dan lihatlah sekarang mengacak-ngacak pakaiannya yang dikoper hingga berserakan
Delan mendiamkan Bella ia menghempaskan tubuhnya keranjang hingga tubuhnya mengampul." Kenapa kau tidak pulang, bukankah istri tercintamu itu menunggumu." teriak Bella dengan lantang dan wajah dipenuhi rasa cemburu. Delan masih terdiam, ia bergerak membelakangi Bella. Delan kesal, marah dan cemburu melihat Bella bersama Milan, namun wanita itu tak mengerti malah dirinya yang memarahi Delan
Bella sungguh kesal, ia berjingkat mendekati ranjang. Menarik selimut sekuat tenaganya hingga Delan yang sedang meringuk diatas selimut berguling dan terjatuh kelantai." Aawww ." pekiknya membuat Bella ingin sekali tertawa lalu melangkah kesisi ranjang yang lain dan melempar selimut itu pada tubuh Delan
Pevita yang sedang mengintip keduanya pun tertawa pelan melihat sang kakak yang terlihat takluk pada Bella
" Pulang pada istrimu untuk apa kau terus berada disini?" teriak Bella berkaca pinggang. Delan merasa heran kenapa wanita lembut itu berubah jadi garang?
" Diamlah Bella, berhenti cerewet!" gerutu Delan dengan wajah kesal bangkit berdiri dan kembali meringkuk kekasur. Bella mendengus kesal, berjingkat duduk disamping Delan. Bersidekap dada menatap Delan yang memejamkan mata
" Apa kau akan terus seperti ini?" Delan menghela nafas sembari membuka mata akan teriakan itu, dalam sekejap ia menarik Bella telungkup diatasnya
" Lepaskan aku." teriak Bella memukuli dada Delan. Delan bergerak mengukung tubuh mungil itu dibawahnya. Keduanya sama-sama marah dan dipenuhi rasa cemburu. Delan mencium bibir itu kasar
" Aku tidak mau." Bella mengusap bibirnya yang bekas Delan
" Kamu tidak berhak menolak, karena semua ini milikku bukan milik oranglain ataupun Milan." ucap Delan tajam
" Lalu bagaimana denganmu? bukankah kamu juga milikku bukan hanya milik Angela. Kenapa hanya Angela yang berhak melakukan itu ditempat umum, sementara aku!" Melihat kedua mata Bella yang berkaca akhirnya Delan melunak dan mengalah, ia berguling kesamping
" Bersiap-siaplah, kita pergi untuk melihatnya." ucap Delan sembari menyentuh perut Bella yang mulai membuncit
" Dengan keadaanmu mabuk seperti ini? kamu berniat membunuhku?"
" Aku tidak mabuk sayang, cepat bersiap-siaplah." perintah Delan beringus bangun duduk
" Tidak aku tidak mau, biar aku saja sendiri melihat anakku!"
" Bella dia juga darah dagingku." Bella tak menjawab, ia beringus meninggalkan Delan menuju kamar mandi
" Bella .. " Delan mengekori Bella
" Sayang .. "
" Berhenti marah seperti ini, kasihan bayi kita. Dia sangat membutuhkan ayahnya." Bella mengurai pelukan Delan
" Membutuhkan bagaimana, jelas-jelas dia masih diperutku!" saut Bella dengan bibir mengerucut dan delikan sebalnya
Delan tersenyum lebar." Kamu akan mengerti nanti!" Delan menarik Bella kebawah shower
" Delan .. " Delan menempelkan jari telunjuk itu dibibir Bella dengan senyum manisnya membuat Bella meluluh, tak kuasa dengan senyum yang jarang terjadi itu
Bella hanya terdiam, membiarkan Delan melucuti semua pakaiannya dan menyalakan shower sehingga tubuhnya dan Delan basah oleh air. Keduanya sama-sama tanpa busana, sang pria segera mendorong pelan sang wanita pada dinging kaca
Lalu memiringkan kepala, mencium bibir dengan bentuk love itu mesra sembari mengelus perut buncit Bella. Tak lama ia lepaskan bibir Bella, keduanya terengah dibawah guyuran air shower. Delan tersenyum menatap Bella." Mau dilanjutkan?" tanya Delan
Bella tersenyum mengalungkan kedua tangannya dileher Delan dengan dada membusung menempel didada Delan. Pria itu segera menangkup dengan kedua tangannya, memainkannya dengan lembut dan kembali meraup bibir Bella.
Dan pertengkaran kecil itu beralhir dengan dessah-dessahan dikamar mandi
Keduanya menghabiskan waktu memadu kasih disana cukup lama. Saling menyentuh, saling memuaskan hasrat masing-masing." Aaahh Bella .. " suara Delan begitu parau, tubuhnya menegang menghimpit Bella yang merengkuh leher dengan kedua tangannya
Setelah mengatur nafas dan sadar, Bella memukul dada bidang itu dengan keras. Bisa-bisanya Bella yang masih marah terbuai dengan bujuk rayu suaminya. Bella memukul lagi dada itu sementara Delan malah terkikik geli dan bergeges membopong tubuh Bella keluar kamar mandi
Keduanya sama-sama telah mengenakan pakaian rapi dan memutuskan pergi seperti janji Delan pada Bella yang akan mengantar sang istri kedokter kandungan. Mereka keluar dari kamar dengan kedua tangan yang saling bertaut. Saat itu Bella melihat Pevita sedang duduk disofa dan menonton tv
" Pev kakak dan Bella pergi sebentar." ucap Delan
" Iya .. " saut Pevita lalu menoleh kesamping, kini wajah itu tampak ramah terhadap Bella membuat Bella tiba-tiba tersenyum menampilkan lesung pipitnya yang langsung disambar bibir Delan. Pevita kini tahu bahwa hubungan keduanya bukan hubungan terlarang seperti yang ia pikir, ia tahu Delan sudah menikahi Bella sebelum adanya bayi mereka. Itu ia dengar dari Bella, ia mendesak sang kakak ipar untuk menceritakan semuanya
" Ck ck ck .. " suara decak Pevita meledek sang kakak. Delan tersenyum lucu lalu menarik Bella keluar dari sana
Keduanya keluar kamar tapi menjadi aneh bagi Bella adalah kali ini Delan yang tak melepaskan tautan tangan mereka lagi. Delan terus menggenggam tangannya, pria itu seolah tak perduli Angela dan keluarganya tahu hubungan mereka
" Delan .. " Delan menoleh dan tersenyum manis pada Bella, ia menarik genggamannya dan merubahnya jadi menggandeng bahu Bella
" Delan kamu .. "
" Bukankah ini yang kamu inginkan? hmm?"
Bella menggelengkan kepalanya." Ada Angel ada keluargamu!"
" Tidak, mereka sudah tidak ada, jangan khawatir." saut Delan
" Mereka pulang?"
" Tentu saja tidak, mereka masuk kekamar." saut Delan dengan suara selembut mungkin lalu mengecup puncak kepala Bella, wanita itu hanya diam tak bersuara lagi mengikuti kemanapun langkah suaminya
__ADS_1
Mereka tiba setelah berjalan kaki cukup lama mengitari sisi pantai karena Bella yang tak mau memakai mobil, ia ingin lama menghabiskan waktu berduaan bersama Delan, bukan hanya diranjang saja. Keduanya masuk kedalam sebuah rumah sakit besar dan Delan langsung mendaftarkan Bella dibagian administrasi. Tak sampai sepuluh menit nama Isyabella kini dipanggil seorang perawat dari ruang obegyn
Digandeng Delan, Bella masuk kedalam ruangan. Wanita itu tampak senang didampingi Delan tak seperti minggu-minggu sebelumnya yang selalu sendiri. Lalu perawat bersama seorang dokter wanita membantu Bella berbaring di ranjang sementara Delan berdiri disisi Bella, menggenggam jemari lentik Bella
Deg deg deg deg deg
Suara detak jantung calon buah hatinya dan Bella memecah ruangan itu. Delan terharu, kedua matanya sampai berkaca tak mengedip menatap layar monitor dimana sang calon buah hati terpampang jelas meski belum terbentuk sempurna
Melihat Delan, Bella tak kuasa hingga menitikan airmatanya. Rasa senang sedih bercampur jadi satu untuk Bella saat ini." Apa jenis kelaminnya dok?" tanya Delan tampak tak sabar
" Beberapa bulan lagi seorang gadis kecil akan lahir kedunia ini .. " saut sang dokter dengan senyumnya
Delan segera merengkuh Bella yang masih berbaring ia mencium kening Bella dengan begitu lembut." Terima kasih sayang." bisiknya ditelinga Bella dengan suara serak menahan tangis
" Diminum dua kali sehari." ucap sang dokter meletakan beberapa jenis obat untuk Bella diatas meja
" Terima kasih dok." saut Delan mengambil obat itu memasukannya kedalam tas Bella yang menggantung dipundaknya lalu keduanya memutuskan segera pergi meninggalkan ruangan obegyn tersebut
Mereka kembali berjalan mengitari sisi pantai sambil sesekali menikmati angin laut yang berhembus menerbangkan rambut coklat Bella. Saat tiba dipantai dekat hotel, Delan berhenti melangkah diikuti Bella, wanita itu bergerak menghadap Delan yang menjulang tinggi
Delan merapihkan rambut Bella mengikat dengan jemari tangannya dibelakang. Lalu ia mendekat mengikis jarak tubuhnya dan Bella. Kecupan ia berikan dikening wanita yang akan melahirkan anaknya tersebut." Thank you .. " ucap Delan
Bella tersenyum lembut memegang lengan Delan yang memegang rambutnya hingga kecupan kembali Bella dapatkan dikening dan turun kebibir." Kamu memberikan semuanya untukku Bella."
" Karena aku mencintaimu Delan."
" Aku tahu!" saut Delan memiringkan kepala mencium bibir Bella
Keduanya berciuman mesra dan cukup lama
" Aaahh lihatlah mereka sangat romantis." ujar seorang wanita dari lantai 3 hotel memperhatikan Delan dan Bella
" Sayang lihat mereka!" gerutunya
" Jia .. sejak kapan kamu jadi seorang penguntit hmm?" Bryan memeluk tubuh itu dengan kedua tangannya, keduanya sedang bermesraan dibalkon hotel. Akhirnya Bryan mengikuti arah pandang sang istri, pria itu menyipitkan sepasang mata merasa tak asing dengan sang pria yang terbalut kemeja biru muda
" Sayang bukankah itu Delan?" ternyata pandangan Jiana lebih jeli dari pada Bryan
" Boy itu benar Delan tapi .. " Jiana tak melanjutkan ucapannya, wanita itu menoleh pada sang suami yang sedang menatap keduanya dengan wajah serius
" Tidak itu bukan Delan, kamu salah lihat." Bryan mencoba menutupi apa yang Jiana lihat, nyatanya iapun mengakui bahwa pria yang kini sedang memadu kasih di sisi pantai itu adalah Delan
" Tidak itu Delan .. "
" Sayang berhenti, kalau kamu seperti ini kapan kita memulainya." Bryan mencoba mengecoh Jiana, kedua tangannya mulai merambat naik kedada
" Sebentar aaahh .. " pekik Jiana karena Bryan tiba-tiba membopong tubuhnya, membawanya kedalam kamar. Bryan tak mengelak bahwa itu adalah Delan, tapi yang menjadi heran adalah sang wanita yang ternyata bukan Angela, itu wanita cantik yang tadi ia lihat bersama Pevita. Ada apa dengan keponakannya?
Begitupun Delan, pria itu menggandeng Bella masuk kedalam hotel setelah puas saling memadu kasih disana." Delan kamu tidak kekamarmu?" tanya Bella saat mereka tiba dikamar hotel
" Kenapa selalu mengusirku hmm?" tanya Delan sembari mengusap puncak kepala Bella
" Angela mungkin mencarimu." saut Bella lalu tergesa-gesa masuk kedalam kamar. Wanita itu menuju lemari pakaian mereka sedangkan Delan duduk diatas ranjang memperhatikan
" Ya seperti itu!" ucap Delan pada Bella yang tanpa busana dengan senyum nakal pada Bella. Wanita itu malah sengaja mendekati Delan, melenggak-lenggokan tubuhnya dan naik kepangkuan Delan
Pria itu tersenyum lebar pada Bella dengan kedua tangan nakal dipunggung Bella." Kamu mau?"
" Aku menginginkanmu!" saut Bella mengecup bibir itu lembut. Delan merasakan jantungnya dag dig dug saat ini karena Bella lalu mengulurkan jemarinya membelai pipi Bella
" Kamu cantik." puji Delan dengan tatapan lekatnya
" Bagaimana dengan Angel, apa dia juga cantik."
" Bella .. "
" Aku tahu, tapi aku cemburu. Setiap malam aku selalu memikirkanmu. Apa yang kamu lakukan bersama Angela, kamu tidur bersama Angela diranjang yang sama. Apa kamu juga selalu memeluk Angela saat tidur, apa kamu juga selalu mencium keningnya. Membayangkan kamu bercinta dengan Angela, apa kamu juga mendesah, apa kamu juga selalu berisik seperti saat bersamaku?. Angela beruntung bisa setiap hari denganmu, memelukmu, menciummu bahkan kalian bisa melakukannya setiap kali mau."
" Berhenti jangan bicara lagi!" Delan menempelkan jari telunjuknya dibibir Bella
" Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Pikirkan bayi kita Bell. Dokter bilang apa, jangan stress .. "
" Aku tahu tapi aku benar-benar cemburu, aku tidak bisa lagi melihatmu dan Angela."
" Bukankah sudah kubilang bahwa aku akan memilihmu? aku hanya minta kamu untuk bersabar sedikit lagi."
" Kenapa kamu memilihku, karena aku wanita baru dan kamu sudah bosan dengan Angela."
" Seburuk itukah aku dimatamu?" Delan merasa tersinggung dengan ucapan Bella hingga suaranya membentak Bella
" Tidak, bukan seperti itu maksudku." Delan menarik nafasnya dalam, pandangan itu berubah dingin pada Bella. Ia segera menurunkan Bella dari pangkuannya dan keluar begitu saja dari kamar
Bella bergegas memakai kimono tidurnya lalu mengejar Delan menahan agar pria itu tak pergi malam ini." Jangan pergi .. " Delan hanya melirik seraya menepis kedua tangan Bella
" Aku salah, aku minta maaf. Aku hanya .. " Delan tak bisa dihentikan, pria itu melenggang begitu saja meninggalkan Bella
-
-
__ADS_1