
Pevita menarik nafasnya perlahan sambil meyakinkan diri, bahwa sekarang ia bukan wanita lemah yang mudah ditindas, ia kini kuat dan berani menghadapi Milan. Pevita bahkan punya kemampuan bela diri karena mengikuti kelas khusus yang disarankan Daddy Dean untuknya
" Tidak, aku bukan Pevita yang dulu lagi." Gumamnya dalam hati lalu membalikan badan menatap balik Milan yang saat itu juga memalingkan wajahnya. Pevita mendengus kesal lalu naik dari kolam
" Pevita, kau mau kemana?" Tanya Laura, gadis itu sedikit mengernyitkan dahi ketika melihat lagi pria tampan yang kini membuka kaca matanya
" Kak Milan." Gumamnya
" Kau mengenalnya?" Tanya Lany
" Dia mantan pacarku, kenapa tadi aku tak mengenalinya." saut Laura malah membuat Lany tertawa kencang
" Bagaimana mungkin?"
" Kau pasti tidak akan percaya." Saut Laura meneliti Milan yang asyik rebahan dan memejamkan kedua matanya. Pria itu menyangka Pevita telah pergi, ia sedikit tenang
" Dia sangat berbeda." Gumam Laura tersenyum sendiri, dimatanya Milan semakin tampan bahkan kini pria itu memiliki tato kecil dalam tulisan mandarin didada kirinya, dan memakai anting disatu telinganya. Terkesan lebih cool dan badboy
Ehem
Axel berdehem pelan ketika ia didatangi Pevita. Jakun pria itu naik turun menatapi body Pevita yang luar biasa sempurna dimatanya. Axel dan David jadi genit dan berebutan untuk menjabat tangan dengan kulit halus tersebut
" Hai, aku Axel." Ucapnya dengan senyuman manis. Mendengar suara Axel, Milan membuka kedua matanya, ia sedikit terkejut ketika melihat Pevita berdiri didepannya. Pevita melipat kedua tangannya didada sehingga dadanya tertekan dan hampir tumpah dari balik bra. Milan menghela nafas melihat itu, ia melirik Axel dan David yang pikirannya pasti sedang kotor saat ini
" Aku David." Pevita tak menjawab sapaan itu, ia malah menoleh pada Milan membuat Sabina cemburu, Milan memang paling menarik diantara kedua sepupunya, pikir Sabina
" Siapa namamu?" Tanya Axel. Pevita menoleh lagi pada pria itu lalu menjabat tangan Axel
" Pevita."
" Namamu sangat cantik."
" Secantik orangnya?" Potong Pevita, ia sudah tahu gombalan pria akan berakhir seperti itu
__ADS_1
Membuat Axel dan David tertawa
" Eeeyy pasti sudah banyak sekali pria yang mengejarmu ya? kau sudah sangat hapal." Goda Axel
" Aku sudah tahu beberapa macam tipe pria. Kebanyakan dari mereka hanya memikirkan wanita ketika ingin ****." Saut Pevita, Axel tersenyum, ia merasa gadis didepannya ini selain cantik memang sangat menarik
Milan mengabaikan semua orang, ia tahu arah tujuan Pevita kemana. Milan meraih kacamatanya lagi untuk menutupi kedua matanya dan melipat kedua tangannya didada, ia berpura-pura tenang dan tidur
" Pevita, apa yang kau lakukan malam ini?" Tanya Axel
" Aku tidak tahu, mungkin hanya tidur." Saut Pevita, Milan tidak tahu tujuan Pevita mendekati mereka, setahu Milan Pevita adalah tipe gadis yang baik dan sopan apalagi terhadap lawan jenis. Tapi Pevita yang sekarang terlalu berani
" Sayang sekali jika waktu disini dihabiskan hanya untuk tidur." Saut Axel lalu menepuk tempat disebelahnya
" Kemarilah, duduk disini." Pevita menatapi Axel sejenak lalu memberanikan diri duduk disana. Ia tidak tahu bahwa Milan masih memperhatikannya dari balik kacamata
Pevita malah keasyikan berbincang bersama Axel dan David. Mereka menghabiskan waktu cukup lama membuat teman-temannya merasa senang. Pevita kembali pada teman-temannya yang kini sedang rebahan di kursi santai menjemur kulitnya dibawah terik matahari
" Cheerrss untuk keberanian Pevita siang ini." Lany berteriak kencang sambil mengangkat gelasnya keatas. Pevita tersenyum lalu duduk disebelah Lany
" Ayolah, buang rasa malumu. Tidak ada yang mengenali kita saat ini. Pevita hanya tersenyum lalu mengambil gelas dan menyatukan gelasnya dengan Lany
" Tujuan kita kan bersenang-senang."
" Kau benar." Saut Pevita
" Pev, bukannya itu Kak Milan?" Tanya Laura, wanita itu masih sibuk memperhatikan Milan yang berada disebrang kolam
" Aku tidak tahu."
" Bukannya kau sangat mengenalnya, aku mengenal Kak Milan juga darimu." Saut Laura namun Pevita malah membungkam, wanita itu merebahkan dirinya disamping Lany dan langsung memejamkan mata, ikut menjemur kulitnya dibawah terik matahari sembari menikmati musik hip hop yang menggema dalam kapal pesiar tersebut, semua orang tampak menikmati siang ini dengan berjemur
Ketika terik Matahari mulai meninggi, Pevita bangkit dan melangkah masuk kedalam ketempat yang lebih teduh. Ia tak melihat jalan sehingga tersandung tangga, Pevita limbung, ia hampir terjatuh ke dalam air laut jika saja satu tangan tak menangkapnya. Melihat orang yang menyentuhnya, wajah Pevita marah
__ADS_1
Plak
Ia menampar wajah tampan itu sekuat tenaganya. Bukannya berterima kasih Pevita malah menampar Milan." Brengsek, sembarangan menyentuh wanita." Serga Pevita berapi-api sembari menghempas kasar jemari kekar Milan yang berada dipinggang rampingnya. Milan mengangkat wajah menyentuh pipinya yang ditampar Pevita, bibirnya tersenyum kecut dan menggelengkan kepala, baru kali ini ada wanita yang sangat berani seperti Pevita
" Seharusny-"
" Kenapa? Kau butuh uang, atau kau butuh belaian. Berapa? Berapa hargamu?" Potong Pevita
" Dengar, jika aku tak memegangmu. Kau sudah berakhir dirumah sakit." Jawab Milan lalu memutar tubuh, ia tak ingin beradu debat dan membuat perhatian semua orang tertuju padanya
Tapi sepertinya Pevita belum puas, bukankah ini kesempatan Pevita untuk melampiaskan amarahnya selama ini. Pevita mengejar Milan dan memukul punggungnya dengan kencang
" Mau pergi kemana? Kita belum selesai." Milan memutar tubuh lagi yang mana pipinya langsung ditampar lagi Pevita. Milan pikir apa Pevita belum puas dengan dirinya yang mendekam dipenjara, disiksa hampir setiap hari, dihina setiap detiknya. Milan menarik tubuh itu ketempat yang lebih sepi membuat Pevita meronta dan terus memukuli dadanya. Kedua mata Pevita mulai berkaca-kaca
" Kenapa kau muncul lagi didepanku!" Ucap Pevita sembari memukul dada Milan dengan sekuat tenaganya
" Kenapa?" Teriak Pevita. Milan membungkam mulut itu dengan telapak tangannya
" Aku tidak tahu. Kalau kau tidak mau melihatku jangan lihat. Anggap saja kau tidak melihatku." Saut Milan, pelan-pelan ia menarik telapak tangannya
" Aku sangat membencimu, kau brengsek." Pevita memukul-mukul dada itu dengan kedua tangannya
" Enyah dari hadapanku!" Teriak Pevita. Milan segera menjauh menuruti Pevita, melangkah keluar dari tempat sepi tapi dikejar lagi Pevita, kali ini gadis itu menjambak rambut Milan dengan kuat sehingga Milan hampir terjerembab kebelakang. Serba salah memang bila berurusan dengan mahkluk yang bernama wanita.
" Pevita."
" Lepaskan Pevita. Kau bilang kau tak mau melihatku!" Bisik Milan mencoba melepaskan jemari Pevita yang sedang menjambak rambutnya. Pevita semakin menjambak rambut itu dengan kuat hingga kali ini Milan tampak kesakitan. Tapi yang menjadi anehnya untuk Pevita, Milan tak membalas, pria itu hanya membiarkan dirinya berlaku kasar, bisa saja Milan membalasnya, tenaga pria itu lebih kuat darinya
Pevita menjerit kesal lalu menarik kuat rambut Milan hingga beberapa helai rambut itu tercabut ditangan Pevita. Milan mengusap-ngusap kepalanya yang terasa sakit akibat jambakan itu, ia menatapi Pevita yang wajahnya memperlihatkan kemarahan, sebelum menganiayanya lagi, Milan segera kabur menjauhi Pevita
" Aku belum selesai Milan." Teriak Pevita menggelegar
-
__ADS_1
-