
-
-
Malam harinya Delan menidurkan Jeslyn yang telah tertidur setelah ia aming-aming dan beri susu formula. Delan membaringkan tubuh kecil itu disamping Bella sang ibu yang juga sudah terlelap, seharian ini wanita itu hanya berbaring lemah diatas kasur
Delan duduk dan menatap keduanya cukup lama lalu ia mengambil bantal untuk menghalangi Jeslyn agar tidak terjatuh kelantai. Delan berjalan memutari ranjang dan duduk disamping Bella. Ia sentuh pipi Bella dan tepuk pelan
" Bella. " panggil Delan dengan suara lembut
Seketika Bella membuka kedua matanya, wajah itu masih pucat
" Jeslyn tidur disini." ucap Delan
Bella mengangguk pelan
" Aku hanya bilang itu, tidurlah lagi."
Bella kembali mengangguk tak bersuara
Cup
Delan mencium kening itu dengan lembut, kali ini Bella hanya diam tak melawan membuat Delan tersenyum lalu bangkit." Kau mau kemana?" tanya Bella
" Aku akan pulang, besok aku kembali untuk menjaga Jeslyn."
" Tidak perlu, besok aku libur." saut Bella
" Bella apa kamu bahagia?" tanya Delan lagi untuk yang kedua kalinya
" Aku sangat bahagia." saut Bella
Delan tersenyum lalu mengangguk." Aku pergi." pamitnya dan berlalu meninggalkan Bella yang tampak terpaku
" Ada apa dengannya, tidak biasanya dia seperti itu? dia kan tipe pemaksa." gerutu Bella dan tak lama memejamkan matanya lagi sambil bergerak menghadap Jeslyn
Semalaman Delan tak dapat tidur, ia terus memikirkan Bella dan Jeslyn. Ia sangat ingin terus disisi keduanya namun pada kenyataannya Delan harus pergi, Delan harus melepaskan Bella. Bukankah Bella bilang dia sangat bahagia meski tanpa Delan dan mungkin saja kehadiran Delan sekarang hanya menjadi pengganggu untuk Bella
__ADS_1
Delan sangat ingin memperjuangkan semuanya, cintanya, memperjuangkan Bella meskipun harus menunggu lama, tapi sekali lagi tangisan Bella semalam menyadarkan Delan
Sambil melamun Delan kini telah tiba di rumah Bella. Dari Vila ia hanya cukup berjalan kaki. Delan berdiri, ia memaksakan senyumnya saat melihat Bella bersama Jeslyn dalam pangkuannya dan .. Jun. Pria itu kembali kerumah Bella, keduanya tampak sudah rapi dan akan pergi
Delan hanya mengikuti dibelakang secara diam-diam, rupanya keduanya memutuskan menuju pantai membawa Jeslyn berjalan-jalan. Dari jarak beberapa meter, Delan melihat Bella terus tersenyum, tertawa bersama Jun kian menyadarkan Delan bahwa kini bukan ia yang pantas disamping Bella. Dulu senyum dan tawa itu untuk Delan tapi sekarang Delan merasa kecil, ia merasa menjadi pria paling menyedihkan didunia ini
Gadis kecilnya juga tampak senang diajak bermain ke Pantai, lihatlah Jeslyn kini Bella dudukan diatas pasir. Ketiganya seperti keluarga kecil yang bahagia dimata Delan yang hanya tersenyum dengan kedua mata berkaca
Tapi Delan terpaku saat Bella tak sengaja melihatnya, wanita itu juga terpaku melihat Delan. Delan tersadar kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya." Berbahagialah." ucap Delan lalu memutar tubuhnya membelakangi Bella, Delan memutuskan pergi tanpa tahu Bella berniat mengejarnya, wanita itu tampak merasa terganggu dengan kehadiran Delan atau lebih tepatnya hatinya yang merasa sakit melihat tutur kata dari bibir Delan seolah itu ucapan perpisahan pria itu padanya
Siang itu Delan memutuskan untuk kembali ke Paris dengan tangan kosong dan hati yang hampa. Kenapa semua orang sangat jahat padanya dan memisahkannya dan Bella, sekarang Bella sangat membencinya dan Delan kehilangan harapan besar, ia sudah tak bersemangat lagi menjalani hidupnya
Delan tiba di Paris pada pagi hari, bibirnya menyeringai menakutkan melihat deretan mobil mewah keluarga besar mereka. Delan masuk kedalam dengan langkah tegap dan wajah yang dinginnya
Kebetulan saat itu semua orang tampak sedang berkumpul sarapan bersama dimeja makan
" Delan." panggil sang mammi tampak sangat senang melihat putranya. Delan mengedarkan pandangannya tapi tak melihat Angela disana
" Delan kemarilah kita sarapan." ajak sang Paman yaitu Bryan
Delan menurut, ia duduk diantara Pevita dan Jiana." Sayang ada makanan kesukaanmu." ucap sang Mami dengan senyum hangatnya
" Kenapa kalian semua tak berperasaan!" ucap Delan lagi sambil meraih piring dan mengambil makanan kesukaannya tanpa menoleh pada wajah-wajah yang semakin terkejut
" Apa selama ini kalian bahagia?"
" Delan." panggil sang Aunthy yaitu Jiana menyentuh bahu Delan
"Hey ada apa ini?" Bryan membuka suaranya dengan wajah khawatir
Delan mengangkat wajah dengan kedua mata berair, bibirnya tampak bergetar, rasanya sakit apalagi jika mengingat tangisan Bella." Kenapa kalian sangat jahat padaku, apa kalian tahu bahwa kalian menyiksaku selama setahun ini." Delan bangkit berdiri hingga kursi yang didudukinya terpelanting kebelakang lalu ia banting sendok ditangannya sekuat tenaga ke piring didepan matanya. Tatapan itu menyalang tajam seperti hendak membunuh mangsanya
" Delan." Bibir sang mami tampak bergetar dan wajahnya ketakutan
Delan mengusap kedua sudut matanya yang basah." Aku tidak akan memaafkan kalian."
Semua orang terkejut, inilah yang paling mereka takuti selama ini." Delan kami akan menjelaskannya padamu!"ucap Dean sang ayah
__ADS_1
" Tidak perlu!" saut Delan lalu melenggang pergi yang mana langsung dikejar Bryan
" Delan .. Delan ." Bryan menahan lengan itu namun Delan menepisnya kasar. Sasaran kemarahan pria itu adalah meja kaca ruang tamu, ia tendang dengan sekuat tenaganya hingga hancur berkeping
" Delan mammi mohon." teriak sang mami, semua orang dibuat takut dan terkejut dengan sikap Delan yang tiba-tiba begini. Bukan kembali seperti dulu, Delan kian menjadi
" Kenapa kalian semua jahat!" teriak Delan menggelegar sambil mulai menangis histeris
" Apa salah Bella, dia tidak bersalah. Dia hanya sedang mengandung bayiku!" teriak Delan lagi, pria itu kembali menendang lemari kaca diruang tamu hingga pecah dan pecahan kaca itu mengenai tangannya, darah yang bercucuran tak membuat Delan kesakitan
" Dengarkan dulu!" kini Bryan menahan kedua bahu Delan sembari membentaknya
" Tidak perlu, dulu kalian pun tidak mau mendengarkanku. Kalian mau aku gila, lihatlah aku akan benar-benar gila sekarang." teriak Delan lalu kembali mengangkat lampu diatas meja nakas dan melemparkannya pada sisa lemari kaca. Delan sudah seperti orang gila yang mengamuk sekarang
Prang
Prang
Prang
Merasa belum puas, Delan mengangkat meja nakas kecil dan melemparkannya pada lemari etalase yang lain hingga semua barang-barang mewah dirumahnya itu hancur tak bersisa
Membuat Jiana dan para wanita disana ketakutan lalu menyuruh semua anak-anak disana untuk naik kelantai dua. Mami Bulan dan Pevita hanya bisa menangis melihat kegilaan Delan
Plak
Satu tamparan Dean pada pipinya membuat Delan berhenti." Ada apa denganmu?" bentak sang ayah dengan mata menyala tajam, ini pertama kalinya ia memukul Delan sejak pria itu dilahirkan oleh istrinya
" Kenapa kalian sangat jahat!" jawab Delan berteriak lalu ia berlari keluar dan meninggalkan rumah.
" Dia sudah mengetahuinya?" tanya Bryan mengusap wajahnya kasar
" Siapa memberitahunya?." gumam Pevita lalu ia mengejar Delan yang berlari sekencang-kencangnya
" Kakak!" teriak Pevita tapi Delan tak bisa dikejar, pria itu pergi begitu saja meninggalkan rumah dan itu hari terakhir semua orang melihat Delan
Entah kemana, tidak ada yang tahu yang jelas Delan pergi dengan rasa kecewanya. Rasa kecewanya terhadap semua orang yang menyembunyikan fakta tentang Bella. Bahkan dalam hatinya Delan menyalahkan semua orang dengan nasib pernikahannya kini bersama Bella, Bella sudah berubah, dia bukan wanita pemuja Delan lagi. Wanita itu kini mungkin berbahagia bersama pria lain .. andai Delan bisa mengulang waktu, lebih baik Delan tidak mengejar mimpinya dan bertanggung jawab atas perbuatannya dulu terhadap Bella
__ADS_1
-
-