Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Ayo kita menikah


__ADS_3


Milan terkekeh lucu melihat sang putri sedang melamun diatas kasurnya. Sudah dua jam balita itu tidur siang ditemani dirinya tadi setelah seharian bermain. Milan mendorong pelan pintu kamarnya lalu pelan-pelan berjalan mendekat, lucunya Eleanor tak menyadari kehadiran Milan


Cup


Satu kecupan lembut pada pipi barulah membuatnya sadar


" Daddy." Panggilnya lucu


" Kenapa sweety melamun hmm?" Tanya Milan duduk sambil memeluk Eleanor


" Daddy, kenapa tidak pulang kerumah Ele?" Milan tertegun


" Daddy masih banyak urusan!"


" Momy bilang, setelah pesta Elea akan bisa tidur bersama Daddy setiap malam." Milan lagi-lagi tertegun, sebenarnya ia mencari waktu yang pas untuk menikahi Pevita, lebih tepatnya mencari waktu untuk meminta ijin pada kedua orangtyanya tapi sepertinya sang putri juga sudah tidak sabar. Seperti Milan yang tak ingin berjauhan dengan Eleanor ataupun Pevita


" Daddy."


" Iya Sweety, setelah pesta." Saut Milan menarik tubuh itu duduk dipangkuannya


" Berapa lama lagi?"


" Secepatnya Sweety." Eleanor menengadah dan tersenyum membuat Milan merasa terharu dan mencium keningnya


" I love you." Bisik Milan ditelinga Eleanor membuat balita itu cekikikan dan bergerak menghadapnya. Eleanor berdiri dikedua paha Milan dan memeluk lehernya dengan erat


" Elea Daddy." Ucapnya riang


" Uhhh sayang." Milan membalas pelukan itu tak kalah gemas


Membuat Pevita yang akan masuk kekamar Milan mematung. Kedua matanya berkaca-kaca melihat pemandangan indah itu. Pevita sendiri tak menyangka bahwa Milan akan sesayang itu pada putri mereka, ia pikir Milan bukanlah tipe pria yang suka anak kecil


Setelah seharian bersama Milan. Kini malam hari saatnya Eleanor dan Pevita pulang. Diantar Milan yang mengendarai mobil hitam, awalnya Pevita menolak karena pria itu baru saja sembuh. Tapi Milan begitu memaksa ditambah Eleanor yang hanya mau pulang dengan ayahnya


Lucunya balita itu kembali tidur. Kali ini dipangkuan Pevita. Milan menghentikan mobilnya tepat dihalaman rumah Pevita, ia dan Pevita tak sembunyi-sembunyi lagi mengenai hubungannya. Milan membuka sabuk pengaman dirinya lalu Pevita, Milan mengecupi seluruh wajah Eleanor membuat Pevita tersenyum dan membelai rambut belakangnya dengan penuh kelembutan


Milan mengangkat wajahnya dari Eleanor lalu berpaling pada Pevita, kali ini pipi Pevita yang mendapat kecupan lembutnya. Milan terus menatapi Pevita dari jarak dekat membuat Pevita tersipu malu." Ayo kita menikah Pev." Pevita tertegun sampai Milan harus mengulang lagi perkataannya

__ADS_1


" Sayang, ayo kita menikah hmm?"


" Aku ingin setiap hari melihatmu dan Elea. Elea bilang dia ingin tidur denganku setiap malam."


" Aku akan bicara pada Daddy."


" Aku yang akan bicara padanya."


" Kak." Pevita tampak khawatir


" Aku seorang pria Pev, aku harus berani apapun yang terjadi. Selain itu aku punya Elea, aku tidak mungkin membuat Elea tumbuh lebih lagi tanpaku." Kedua mata Pevita berkaca-kaca


" Aku akan memintamu pada Kedua orangtuamu."


" Kapan?" Tanya Pevita


" Sekarang."


" Memangnya tidak apa-apa?"


" Jangan pernah meragukanku Pevita!" Bisik Milan mengancam dan mencubit pipi Pevita lalu keluar dari mobil. Ia memutari mobil membukakan pintu untuk Pevita. Lalu mengambil alih Eleanor dari pangkuan Pevita


Pevita hanya mencoba mengimbangi, berjalan disamping Milan. Keduanya masuk kedalam rumah. Kebetulan malam ini ada Delan juga Bella, keduanya sedang berkumpul dan tampak sedang menunggu Pevita dengan mengobrol santai


" Selamat malam." Sapa Milan dengan wajah menunduk tanpa berani melihat siapapun


" Ayo tidurkan dulu Elea." Perintah Pevita ketika tak ada yang menjawab sapaan Milan sama sekali. Pevita menarik Milan


" Pev." Penggil Delan


" Sebentar, aku hanya akan mengantar Kak Milan ke kamar."


" Bukankah dia sudah tahu dimana kamarmu?"


" Belum, kapan-"


" Kalau belum tahu, bagaimana dia bisa masuk malam itu?" Pevita melirik Milan yang menganggukan kepala. Akhirnya Pevita mengalah, ia duduk disofa panjang dimana semua orang berada


Sedangkan Milan menuju lantai atas kekamar Pevita. Milan menidurkan sang buah hati di box bayi disamping ranjang Pevita. Sejenak Milan menciumi seluruh wajah itu sebelum benar-benar keluar lagi dari kamar Pevita. Sambil berjalan menuruni tangga, Milan memperhatikan raut wajah satu persatu orang yang ada disana. Meskipun belum seberani itu meminta restu pada keluarga Pevita namun Milan tak bisa mengabaikan keinginan sang putri

__ADS_1


" Nak Milan, silahkan duduk." Mammi Bulan mencoba mencairkan suasana yang tegang. Milan tersenyum, lalu duduk disamping Pevita yang juga tersenyum padanya


Milan menarik nafasnya dalam dan tiba-tiba berlutut dilantai membuat semua orang terkejut


" Tuan, emmh aku." Milan tidak pernah segugup saat ini, jemarinya sampai bergetar hebat


" Kak, kamu tidak perlu sampai seperti ini." Pevita mengusap pundak itu


" Saya ingin setiap hari melihat Pevita dan Eleanor. Tuan Dean, ijinkan saya menikahi putri anda." Ucap Milan memberanikan diri. Daddy Dean hanya diam menatapi Milan yang menunduk. Tak ada jawaban, Milan mengangkat wajahnya


" Sebagai seorang ayah, saya hanya ingin melihat tumbuh kembang putri saya dengan baik. Saya-"


" Kapan? Kapan tepatnya kau akan menikahi Pevita?" Potong Daddy Dean yang sudah lama menunggu kehadiran Milan. Ia tidak mungkin melarang lagi hubungan anaknya dan Milan. Selain itu juga Eleanor kini sudah tahu siapa ayahnya, mana mungkin ia tega memisahkan lagi sang cucu dengan ayah kandungnya


" Dad?" Delan masih saja kurang setuju pada Milan


Milan tampak senang, ia menoleh pada Pevita dan tersenyum


" Secepatnya, secepatnya saya akan mempersiapkan semuanya." Saut Milan, kedua matanya berkaca-kaca


" Baiklah, saya akan menunggu keseriusanmu pada anak saya." Daddy Dean menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa sambil tatapannya tak teralih dari Milan. Pria tampak serius makanya sampai berlutut dihadapan semua orang


" Terima kasih." Saut Milan sambil mengusap sudut matanya yang basah, itu membuat Mammi Bulan merasa terharu, ia ikut menitikan airmatanya. Sejak dulu ia sangat mengenal baik pemuda itu, pemuda baik hati dan sering sekali ikut campur ketika dirinya memasak didapur. Mammi Bulan tahu, Milan adalah tipe anak yang kesepian, punya keluarga brokenhome membuatnya menjadi pribadi yang pendiam. Mungkin jika dulu tidak berebutan Bella bersama Delan, pemuda itu masih dekat dengan dirinya


Setelah menyelesaikan urusannya dengan keluarga Pevita. Milan ditarik Pevita kehalaman belakang." Aku harus pulang Pev."


" Pevita." Milan mencoba menahan tubuh dengan pinggang ramping itu, sejujurnya bukan karena ingin cepat pulang, tapi Milan merasa tak enak hati pada keluarga Pevita terutama Delan bila ia berduaan bersama adiknya


" Sebentar kak, aku ingin menunjukan sesuatu padamu." Akhirnya Milan menurut ia membiarkan Pevita menarik lengannya


Mereka berhenti disebuah taman belakang dimana disitu terdapat dua kuburan kecil yang masih dipenuhi bunga-bunga segar. Milan menoleh pada Pevita." Ini bayi-bayi kita." Ucap Pevita dengan kedua mata berkaca-kaca. Milan tak kuasa melihat Pevita ia segera menarik tubuh itu kedalam pelukannya, mengecupi puncak kepalanya dengan begitu lembut


" Maafkan aku sayang." Bisik Milan kian membuat airmata Pevita jatuh berurai


Rupanya keduanya masih dipantau Daddy Dean maupun Delan dari kamar mereka masing-masing


" Milan, pria yang baik. Mammi yakin dia pria yang tepat untuk putri kita. Kita lupakan masalalu dan terima Milan hmm?" Daddy Dean menggandeng bahu istrinya


" Ya, kupikir juga seperti itu. Sebelum bertengkar bersama Delan, bukankah dia tidak pernah bertindak macam-macam?" Mammi Bulan tersenyum dan mengangguk. Keduanya tak henti menatapi putri mereka yang sedang berpelukan hangat bersama Milan, dari jauh mereka melihat keduanya tampak saling menyayangi sehingga keraguan di hati Daddy Dean sedikit demi sedikit menguap menjadi rasa yakin

__ADS_1


-


-


__ADS_2