Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Kenzi datang


__ADS_3

Milan membawa Pevita kesebuah kota pelosok yang cukup jauh dari keramaian kota. Milan menyewa sebuah vila tiga lantai untuk sementara waktu. Milan keluar dari mobil diikuti Pevita yang memangku Eleanor, melihat itu Milan mendekat


" Kemari, aku yang menggendongnya." Pevita tertegun beberapa saat lalu menyerahkan Eleanor pada ayahnya. Dibelakang Pevita cukup senang melihat Milan dan putrinya, balita itu memegang kuat kemeja hitam Milan


Pelan-pelan, Milan meletakan Eleanor dikasur empuk dengan sprei putih lalu menyelimuti tubuh kecil itu, lucunya Eleanor tak mau, sehingga menendang-nendang selimut itu. Milan tersenyum lucu melihat itu


Oek


Oek


Pevita tiba-tiba merasakan mual yang luar biasa, gadis itu berlari menuju kamar mandi diikuti Milan. Pevita memuntahkan semua makanan diperutnya


" Pev kamu sakit?"


" Ini karena bayimu!" Gerutu Pevita, Milan berjongkok didekat Pevita, ia mengusap-usap punggung itu


" Maaf hmm?" Bisiknya dengan tampang merasa bersalah. Pevita mengusap air disekitaran mulutnya


" I am oke." Sautnya. Milan membantu Pevita berdiri lalu menggandengnya kembali kekamar. Ia mendudukan Pevita disisi ranjang


" Tunggu sebentar." Ucap Milan


" Mau kemana?" Pevita menahan Milan yang akan melangkah


" Aku akan membeli air dan beberapa cemilan." Pevita menggelengkan kepalanya


" No, jangan kemana-mana. Tetaplah disini." Melihat Pevita yang memelaskan wajah, Milan mengurungkan niat. Ia ikut duduk disamping Pevita, keduanya hanya saling menatap dalam keheningan


" Ini sudah malam, lebih baik kita tidur." Ucap Milan. Pevita hanya menurut ia baringkan tubuhnya disisi Eleanor lalu menggenggam jemari Milan didadanya


" Kamu tidak akan meninggalkanku kan?" tanya Pevita membuat Milan bergerak menyempilkan dirinya tidur disamping Pevita, menarik tubuh itu kedalam pelukan


" Aku sedang hamil anakmu, kamu tidak akan meninggalkanku kan?" Pelukan Milan semakin erat, Milan mengecup puncak kepala itu sembari tatapannya tertuju pada Eleanor yang bergerak tidur menghadap ibunya

__ADS_1


" Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Bahkan jika Delan dan ayahmu mneghajarku sampai mati." Saut Milan, jemarinya bergetar di puncak kepala Eleanor, kedua matanya berkaca-kaca pada balita yang asyik terlelap dengan mulut sedikit menganga


" Aku mencintaimu Kak, berat rasanya!" Bisik Pevita, Milan mengurai pelukannya, ia membelai pipi Pevita dan mengecup bibirnya dengan begitu dalam


" Bawa aku pergi sejauh mungkin agar tak ada orang yang menemukan kita."


" Kamu yakin?" tanya Milan. Pevita mengangguk cepat, kedua matanya berkaca-kaca melihat kedua mata Milan yang menggenang airmata. Ingin sekali Pevita ditanyai Milan mengenai Eleanor, namun sejak tadi pria itu hanya diam. Pevita membelai pipi itu dengan lembut lalu berakhir dibibir, ia belai bibir Milan dengan sensual


" Aku punya sedikit tabungan, kita pergi bersama-sama."


Milan membuka sedikit mulutnya ketika jari telunjuk Pevita mencoba masuk. Milan menghisap pelan jadi telunjuk itu membuat Pevita tersenyum, Milan ikut tersenyum lalu menarik jari telunjuk itu, Milan mengganti dengan bibirnya yang mendarat dibibir Pevita


Keduanya saling merindukan sehingga lummatan itu begitu dalam. Milan sedikit mendorong tubuh itu agar terlentang dan ia tidih dengan tubuhnya lalu mengulurkan jemarinya, menautkan dengan jemari Pevita, menggenggamnya kuat disisi kepala Pevita dan ini pertama kalinya Milan melakukan itu. Kepalanya bergerak kekanan dan kiri mencummbui bibir Pevita


Braaakkkkkkkkkkkk


Suara itu membuat Milan dan Pevita terkejut dan saling melepaskan bibir satu sama lain. Juga membuat Eleanor terbangun, menangis kencang. Milan segera bangkit melepaskan dirinya dari Pevita dan berdiri, sedangkan Pevita mencoba menenangkan Eleanor


" Maaf, aku sangat salah, tapi Pevita sedang hamil, dan itu anakku. Kumohon, mengertilah." Ucap Milan seraya menatapi satu persatu pengawal Milan


Kenzi menoleh kebelakang." Kalian tahu kan apa yang harus kalian lakukan bila ada yang berani mempermainkanku." Ucapnya, orang-orang dengan tubuh besar itu berhamburan masuk kedalam bersama Kenzi juga


Milan memundurkan langkahnya kebelakang. Jemarinya digenggam kuat Pevita, Milan menoleh kebelakang sebentar, wajah Pevita memucat takut. Milan kembali melihat pada Kenzi


Bruukkk


Tendangan itu cukup membuat Milan tersungkur kelantai dan punggungnya yang baru sembuh itu kembali terbentur meja nakas. Pevita menjerit histeris." Bukan salah Kak Milan, aku yang memintanya membawaku."


" Diam, kau jallang sialan." balas Kenzi lalu mendekati Pevita, dalam sekali tamparan Pevita limbung kebelakang bersama Eleanor, balita itu tak henti menangis kencang


" Jangan berani menyentuhnya!" Bentak Milan hendak bangun namun kedua pengawal Kenzi menarik Milan dan memegangnya kuat, kaki pria itu ditendang hingga berlutut dihadapan Kenzi


" Jangan lakukan apapun, Pevita sedang hamil. Aku yang salah karena membawanya pergi." Ucap Milan membuat Pevita menangis histeris, sialnya tidak ada yang menolong mereka, Pevita tak membawa ponselnya dari rumah

__ADS_1


Kenzi menendang dada Milan membuat Pevita kembali histeris. Milan hanya sendiri tentu ia akan kalah. Tapi hati nurani Kenzi seakan sudah habis, ia mulai memukuli Milan tanpa ampun, wajah perut semuanya ia pukul. Wajah Milan kembali berdarah-darah saat ini


Sambil memangku Eleanor Pevita berlari memeluk Milan yang sudah mulai tak sadar, pria itu menunduk dengan darah mengucur dari hidung dan mulutnya." Jangan, kumohon. Maafkan aku Kenzi." Ucap Pevita memelaskan wajahnya


" Dia samasekali tidak salah, aku yang salah."


" Diam, kau gadis murahan." Kenzi menarik rambut Pevita yang tergerai hingga gadis itu melepaskan Milan dan berdiri, melihat ibunya disiksa Eleanor memukul-mukul lengan Kenzi


" Mommy, Mommy." Jeritan itu membuat Milan menengadah melihat keduanya. Kedua matanya menggenang airmata


" K-Kenzi." Panggil Milan dengan suara lemah menggelengkan kepala agar pria itu tak melakukan apapun pada Pevita ataupun Eleanor. Melihat Milan Kenzi tersenyum sinis, ia melepaskan rambut Pevita sambil mendorong tubuh itu sehingga Pevita terjatuh kelantai bersama Eleanor, hal itu membuat Milan berontak sekuat tenaganya


" Brengsek!" Teriak Milan, Kenzi tertawa kencang lalu menarik lagi Pevita keluar dari kamar menuju balkon. Tangisan Pevita dan Eleanor cukup membuat Milan merasa gila dan menjadi kuat, ia berhasil melepaskan diri menghajar dua pengawal Kenzi dan mengejar Kenzi, ia menarik tubuh itu, dan meninju wajahnya serta perutnya


Milan menarik Pevita kembali masuk kedalam, namun belum juga sampai Kenzi menarik tubuh Milan lagi. Ia cekik dari belakang leher Milan. Tentu itu membuat Pevita kembali histeris, ia menurunkan Eleanor dan mencoba mecegah Kenzi agar berhenti menyakiti pujaan hatinya, diikuti Eleanor yang menangis sambil memeluk kaki Pevita. Pevita tak menyangka Kenzi yang baik itu bisa berubah jadi sekejam sekarang. Pevita hendak mencakar wajah Kenzi untuk membantu Milan namun tubuhnya langsung dipegangi dua orang pengawal


Milan terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya ketika Kenzi melepaskan lehernya. Pria itu tertawa kencang seperti seorang psikopat yang gila. Tubuh Milan sudah melemah, tapi melihat Pevita dan Eleanor, Milan harus kuat. Bagaimana nasib keduanya bila Milan selemah ini. Lalu ia mencoba melawan Kenzi, naasnya pria itu menendang perut Milan hingga Milan terdorong kebelakang pada pagar kayu


Braaaaaaakkkk


Tendangan Kenzi yang kuat membuat pagar kayu itu runtuh sehingga Milan jatuh dari lantai tiga kebawah pada tanaman dikebun


" Kak Milaaaaann." teriak Pevita histeris, tubuhnya terasa melemah saat ini tanpa tenaga, terjatuh kelantai yang mana langsung dihamburi sang buah hati, Airmatanya jangan ditangan lagi, menderai deraa


Bertepatan dengan itu Delan dan Daddy Dean datang bersama juga para pengawalnya. Pria itu cukup terkejut ketika melihat tubuh melayang dari lantai tiga. Delan dan Daddy Dean langsung mendekat, ia terkejut melihat Milan yang tampak sudah sekarat, wajahnya sudah hampir tak dikenal karena dipenuhi darah. Delan sepertinya masih punya hati nurani, detik itu juga menelpon ambulance


" Delan." Delan tertegun, ini pertama kalinya lagi Milan memanggil namanya, apalagi ketika melihat jemari Milan menggapai-gapai padanya dengan lemah


" Pevita dan Ele-" Tak sempat melanjutkan ucapannya, Milan sudah tak sadarkan diri. Delan mengusap wajahnya kasar lalu berlari kedalam rumah meninggalkan Milan yang tergeletak tak berdaya ditanah


-


-

__ADS_1


__ADS_2