Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
The Wedding


__ADS_3

Hari ini tepat sebulan berlalu semenjak Milan melamar Pevita. Ini adalah puncak yang dipersiapkan untuk Milan yaitu pernikahannya dan Pevita. Milan sibuk sendiri, tanpa campur tangan siapapun ia menyiapkan pernikahan yang digelar cukup mewah dikediaman Daddy Dean


Pagi ini suasana ramai dengan kedatangan Pevita yang memakai baju pengantin putih vanila, diapit empat bridesmide dengan kebaya hijau daun. Kecantikan putri dari pasangan Dean dan Bulan itu jangan ditanya lagi, membuat setiap orang memuji keanggunan parasnya


Milan yang sudah duduk didepan penghulu itupun tak henti menatapi calon istrinya tersebut. Semua orang memuji Milan sangat beruntung karena telah berhasil mendapatkan Pevita. Ketika disandingkan keduanya memang tampak sangat serasi. Milan meremmas jemarinya sendiri, ia merasa gugup berhadapan dengan Daddy Dean


" Saudara Milan, anda siap?" tanya penghulu. Milan menarik nafasnya dan mengangguk. Ia menjabat tangan Daddy Dean. Acara sakral itu berlangsung dengan penuh ketegangan karena Milan malah terdiam sebelum ia lantang menghalalkan Pevita menjadi istrinya


" Milan, ayo!" Bisik Mammi Diana mengusap pundak putranya mencoba menyadarkan Milan


Akhirnya dalam satu tarikan nafas, pria itu mengucapkan janji sucinya terhadap Tuhan. Dan perkataan sah dari para saksi yang hadir membuat keduanya kini telah sah menjadi sepasang suami istri


Paman Bryan yang paling bersorak senang saat ini. Ia terus memukul bahu Delan." Sudah Paman bilang, mereka sudah digariskan bersama." Ucap Paman Bryan pada Delan, pria itu hanya mendelik sebal padanya


Milan memasangkan cincin berlian putih dengan mata satu dijari manis Pevita. Bibir Milan tersenyum manis dibalas juga dengan senyuman oleh Pevita. Giliran Pevita memasangkan cincin dijari manis Milan kemudian mencium punggung tangan pria itu tanda hormat kepada suaminya. Semua orang cukup terharu menyaksikan acara sakral tersebut. Apalagi ketika bibir Milan mendarat dengan begitu lama di kening Pevita, semua orang tampak menitikan airmata karena hal itu


" Daddy." Milan dan Pevita tersenyum manis mendengar teriakan putri mereka. Eleanor yang sejak tadi ditahan Bella akhirnya dilepaskan wanita itu, balita itu berlari mengacungkan kedua tangannya pada Milan. Spontan Milan menyambut, ia memangku tubuh itu memeluknya diikuti Pevita. Ketiganya berpelukan hangat meluapkan rasa senang dihati


Selesai melakukan seraingkaian proses perkawinan yang cukup membuat terharu. Milan dan Pevita kini berfoto bersama sanak saudara mereka. Semua orang bisa melihat raut wajah kebahagiaan diwajah cantik Pevita, impian gadis itu menikah dengan sang pujaan akhirnya terwujud meskipun harus melalui jalan yang berliku lebih dulu


" Pevita benar-benar cantik, kau beruntung brother!" Puji Axel memeluk Milan bergantian dengan David yang diaping Lany


" Thank you." Saut Milan menepuk punggung Axel


" Sebentar, aku punya sesuatu." Axel merogok sesuatu dalam saku celananya lalu memberikan ketangan Milan


" Sialan." Gerutu Milan melempar lagi kotak pengaman ketangan Axel. Axel dan David tertawa


" Ayolah, Elea jangan dulu punya adik. Nanti kau dan Pevita belum puas bersenang-senang." Milan meninju lengan atas Axel dengan kencang


" Aku tidak terlalu suka memakai ko*dom." Bisik Milan lalu melirik Pevita yang juga berbincang bersama Lany


" Pevita selalu mngeluh sakit." Tambah Milan sukses membuat ketiganya cekikikan


Gurauan-gurauan itu terdengar oleh Delan. Pria itu tampak kesal dan mengepalkan kedua tangannya." Seperti aku akan membiarkanmu menyentuh adikku saja." Gerutu Delan


Milan, Axel dan David masih asyik berbincang mesum. Ketiganya sampai tertawa terbahak-bahak diatas pelaminan Milan dan Pevita. Sampai ada seorang wanita membuat tawa Milan berhenti


" Selamat ya Kak Milan dan Pevita." Ucap Laura, bukan wanita itu yang membuat Milan berhenti tapi seorang bocah laki-laki seusia Eleanor. Milan menatapi Laura dan bocah kecil itu bergantian


" Emmmh Laura, akhirnya kamu mau datang." Ucap Pevita membalas jabatan tangan Laura yang tak dibalas Milan, pria itu tiba-tiba mematung tak jelas


" Ini pernikahan temanku, tentu aku harus datang." Saut Laura sambil melirik Milan yang menatapi bocah lelaki yang dalam tuntunan Laura


" Aku tidak bisa lama-lama ya Pev."


" Sebentar Laura, makanlah dulu. Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama." Pevita mencoba memperbaiki hubungannya dan Laura

__ADS_1


" Aku banyak urusan." Ucapnya lalu berlalu pergi begitu saja. Sesekali ia menoleh pada Milan yang hanya diam mematung


Milan menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran-pikiran buruknya tentang bocah lelaki yang dituntun Laura." Tidak mungkin, putriku hanya Eleanor. Aku bahkan tak merasakan apapun." Gumam Milan


" Ada apa?" Tanya Pevita menyentuh jemari Milan membuatnya menoleh


" Siapa anak lelaki yang bersama Laura?" Tanya Milan. Pevita terdiam sejenak, ia dan Lany sudah tahu bahwa Laura juga memiliki seorang putra diluar pernikahan. Tapi keduanya mencoba menutupi rahasia Laura sejak dulu


" Aku tidak tahu. Memangnya kenapa menanyakan hal itu?" Milan menggelengkan kepala


" Hanya ingin tahu saja."


" Kamu masih perduli pada Laura?" Tanya Pevita melepaskan pegangannya pada jemari Milan


" Tidak, kenapa bicara seperti itu." Milan menarik lagi jemari Pevita menggenggamnya kuat. Wajah Pevita mendadak tak bersahabat


" Jangan merusak kebahagiaan hari ini dengan rasa cemburumu hmm."


" Siapa yang cemburu!" Gerutu Pevita menarik paksa jemarinya. Milan tersenyum lucu dan menggelengkan kepala lalu memaksa menggandeng Pevita dan mengecup pipinya. Hanya diperlakukan seperti itu saja Pevita kembali luluh


Malam harinya setelah acara selesai. Milan tampak menaiki tangga menuju kamar Pevita. Sambil berjalan, Milan hanya memperhatikan ponselnya dan tak melihat kesekeliling. Ia bahkan tak sadar sebuah kaki sengaja menghalangi jalannya hingga Milan tersandung dan oleng. Milan mendengus kesal ketika tahu siapa pemilik kaki tersebut


Rupanya Delan sedang berdiri tak jauh dari pintu kamar Pevita. Wajah itu menyeringai licik melihat Milan yang tampak kesal. Delan mendekat menarik kerah kemeja putih Milan." Dengar baik-baik, meskipun kau menikahi adikku, tapi awas saja jika kau berani menyentuhnya!!"


" Memangnya kau siapa?" tanya Milan menghempas kasar tangan Delan hingga terlepas dari kerah kemejanya. Keduanya benar-benar kekanak-kanakan dimata Bella yang melihatnya


" Aku sekarang suaminya menurutmu siapa yang lebih berhak!" Saut Milan lalu melengos begitu saja masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan kencang


" Sibrengsek ini." Gerutu Delan


Dikamar Milan juga menggerutu tak jelas. Pria itu berjalan menuju ranjang dimana Eleanor sudah terlelap hingga dengkuran halusnya terdengar memenuhi kamar. Milan duduk disisi tubuh kecil itu, membungukan badan untuk mencium seluruh wajah Eleanor


Lalu tatapan Milan tertuju pada Pevita yang sedang duduk didepan cermin. Wanita itu sudah seksi saja dengan gaun tidur warna hitamnya. Sejak tadi pagi adik Milan terus menegang didekat Pevita." Persetan dengan Delan." Gumam Milan lalu bangkit mendekati Pevita


Tiba-tiba ia mengurung tubuh itu dengan kedua tangannya membuat Pevita tersipu malu. Dengan jemari lentiknya Pevita menelusuri lengan kekar Milan yang kemejanya digulung sampai sikut. Pevita tersenyum menatapi Milan yang tak mengedip menatapi dirinya, Pevita menengadah bibirnya langsung diraup bibir Milan, keduanya berciuman mesra sampai mengeluarkan suara


Tangan Milan mulai nakal kebawah, menarik tali spageti gaun malam Pevita, ia tarik kebawah dan jemari itu langsung masuk kedalam, merremas satu buah dada yang kebetulan tak memakai bra


" Uhhhmmm." Pevita mulai merasakan gairah itu. Kedua jemarinya mencekal kuat lengan Milan. Milan melepasakan bibirnya dan turun keleher sambil kedua tangannya tak henti memainkan buah dada Pevita


" Kak Milan."


" Uhhhm." Hanya itu yang keluar dari mulut Milan, masih berposisi dibelakang tubuh Pevita, Milan mengeluarkan buah dada itu, dan spontan Milan membungkukan badan dari belakang tubuh Pevita. Ia meraup puncak dada itu membuat Pevita menjerit pelan. Milan seperti bayi yang kehausan, ia tak segan menghisap putting itu begitu kuat secara bergantian


" Aahh Kak, pelan-pelan."


" Ini terlalu nikmat sayang." Bisik Milan lalu menarik kursi yang ditempati Pevita sedikit menjauh dari meja rias. Kemudian Milan menyusupkan dirinya berjongkok diantara itu, ia menyingkap gaun malam itu keatas sampai perut

__ADS_1


" Kenapa memakai celana d*lam sih?" Goda Milan. Pevita hanya tersipu malu dan menggigit jari telunjuknya sendiri


" Aku rindu rasanya sayang." Bisik Milan sambil menarik celana hitam Pevita kebawah sampai lutut. Pevita mencoba merapatkan kedua kakinya namun ditahan Milan, pria itu malah menaikan kedua kaki Pevita kepundaknya. Secepat kilat meraup kewanitaan itu dengan bibirnya


" Aaahh Kak Milan, uhhhmmm." Milan semakin bersemangat memanjakan Pevita, ia tak segan menghisap, menjilat memberikan sensasi yang luar biasa untuk istrinya


" Aaahh." Jemari Pevita mencengkram tengkuk Milan ketika lidah dan bibir itu menghantarkan rasa yang luar biasa nikmat dibawah sana


" Ohh Pevita." Erang Milan tampak sangat menikmati cumbuaannya dibawah sana pada Pevita


" Aaahh nikmat sekali kak!" Milan tersenyum lucu mendengar racauan itu, ia semakin merakus saja dibawah sana hingga bibir dan lidahnya mengeluarkan suara decap erotis


" Aahhh KAK MILAN." Kedua mata Pevita merem melek tak karuan akibat permainan nakal itu


" Daddy!" Milan dan Pevita terkejut bukan main mendengar suara putri mereka. Milan langsung menghentikan aksinya, ia mengintip melalui tubuh Pevita


" Elea bangun Pev." Gerutu Milan beringus bangun dan berlari mendekati Eleanor yang sudah turun dari kasur


" Daddy." Panggilnya lucu mengacungkan kedua tangannya pada Milan. Milan langsung memangku tubuh itu dan membawanya lagi berbaring diatas kasur


" Sweety ini sudah malam."


" Daddy menginap dikamar Ele?" Milan tersenyum


" Daddy akan selamanya tidur disini bersama Elea."


" Sungguh Daddy?"


" Hmm." Saut Milan membelai puncak kepala Eleanor kebawah


" Sekarang tidur lagi ya." Lucunya balita itu langsung memejamkan mata menuruti sang ayah. Membuat Milan tersenyum, ia mengecup kening Eleanor dengan begitu lembut, mengusap-usap pantatnya agar segera tertidur


Tit


Sambil mengeloni Eleanor, Milan mengambil ponselnya yang berbunyi diatas meja nakas. Milan membuka sebuah pesan dari nomer baru


😈 Sekali saja kau berani menyentuh adikku, lihat apa yang akan kulakukan!!


Milan langsung melempar asal ponselnya dan berdecak kesal. Tanpa menanyakan pada Pevita tentu ia sangat tahu siapa pengirim pesan yang menurutnya kurang kerjaan tersebut


" Sibrengsek itu, kekanak-kanakan sekali." Gerutu Milan


Rupanya bukan cuma Eleanor yang tertidur, Milan pun ikut tertidur setelah mendapat ancaman yang mnegesalkan dari Delan. Malam pengantin itu terlewati begitu saja, meskipun sedang tanggung-tanggungnya tapi Pevita tak mempermasalahkan itu, baginya tidur bersama seperti sekarang cukup membuatnya bahagia. Pevita menarik selimut dan memeluk Milan dari belakang


-


-

__ADS_1


__ADS_2