
Pevita tersenyum menatapi putrinya yang sedang melamun, sungguh sangat lucu dimatanya. Hanya balita itu penyemangat Pevita saat ini. Pevita akhirnya memotret sang putri membuat balita itu sadar
" Daddy Delan." Gerutunya manja. Pevita memaksa memangku tubuh kecil itu duduk dipangkuannya
" Sayang, Daddy kan sedang bekerja. Memangnya Moomy tak cukup?" Tanya Pevita membuat Eleanor menyusupkan wajahnya keketiak Pevita dan memeluk tubuhnya
Kenzi yang saat itu ikut makan siang dengan keduanya tersenyum lucu melihat tingkah manja balita tersebut. Kenzi mencoba mengambil hati Pevita melalui Eleanor, ia mengajak balita itu untuk maka ice cream, sayangnya balita itu tampak masih takut padanya sehingga terus memanggil sang Daddy
Pevita melirik Kenzi yang tak henti menatapinya dan Eleanor." Maaf, Elea memang seperti ini."
Kenzi tersenyum begitu manis." Tidak apa-apa, justru dia sangat lucu." Saut Kenzi mencoba menggenggam jemari Pevita, seminggu ini pria itu terus mencoba mendekati Pevita. Selama seminggu pula Pevita tak mendapatkan kabar dari Milan. Pevita merasa Milan mempermainkan hubungan mereka, mempermainkan Pevita dan hanya sekedar bersenang-senang saat itu. Setiap malam Pevita selalu menangis, merindukan Milan tapi juga berusaha membenci pria itu lagi, sayangnya Pevita tak bisa untuk sekarang, hatinya sudah benar-benar jatuh karena Milan
" Pevita, aku sangat serius denganmu!" ucap Kenzi
" Aku mau menerima Elea menjadi putriku. Aku akan berusaha membahagiakan kalian."
" Aku butuh waktu, tidak bisa secepat itu."
" Aku akan menunggumu!" Sebenarnya tidak secepat itu Pevita bisa melupakan Milan. Mau bagaimana ia menjalani hubungan jika bayang-bayang Milan masih ada, mengingat Milan hati Pevita selalu merasa tersayat-sayat
" Kenzi, memangnya kau tidak sibuk?" Tanya Pevita, ia mencoba mencairkan suasana yang canggung
" Dua jam lagi aku ada pasien." Pevita mengangguk
" Kalau begitu aku akan pulang sendiri."
" Tidak, aku akan mengantarmu pulang. Aku yang mengajakmu keluar, tentu aku harus tanggung jawab." Saut Kenzi
" Andai saja Milan seperti Kenzi." Gumam Pevita dalam hati, ia pikir Milan tidak pernah mau bertanggung jawab atas apa yang diperbuat, berkali-kali menidurinya tentu harusnya Milan memiliki sedikit rasa iba dengan tidak menghilang begitu saja
Sampai dirumah, mereka disambut sang ayah yang tampak sangat senang melihat Kenzi dan putrinya. Daddy Dean sangat pro, mendukung Kenzi sepenuhnya untuk menjadi menantu. Daddy Dean menepuk pundak itu
" Kau tidak mau mampir?" tanyanya
" Aku masih memliki janji dengan Pasien, Paman." Daddy Dean mengangguk
" Baiklah kalau begitu, lain kali sering-seringlah ajak Pevita dan Eleanor jalan-jalan." Perintahnya
" Tentu, mungkin besok aku akan kembali." Kenzi melirik Pevita yang berdiri dibelakang sang Daddy masih dengan Eleanor dipangkuannya
" Aku pulang ya Pev." Pevita hanya menganggukan kepala. Lalu Kenzi mendekati Eleanor, ia mengelus pipi bulat balita itu
" Bye bye Elea." Ucapnya tapi sekali lagi Eleanor malah menyembunyikan wajahnya dipundak Pevita
" Dia masih malu-malu, tapi bila sudah kenal dekat dia akan lengket padamu!" Ucap Daddy Dean membuat Kenzi tersenyum, pria itu memutuskan untuk pergi meninggalkan kediaman rumah Pevita
__ADS_1
" Bagaimana?"
" Bagaimana apanya?"
" Kenzi? Kamu nyaman dengannya?"
" Dad, ini baru seminggu." Gerutu Pevita
" Lagipula aku masih muda!"
" Iya Dad tahu, Dad hanya tidak mau kamu salah pilih. Eleanor butuh sosok ayah yang dewasa seperti Kenzi." Pevita tak menjawab ia melengos begitu saja menuju lantai dua menuju kamarnya bersama Eleanor. Rasanya kesal bila Daddy Dean mulai mengatur-ngatur hidupnya
Malamnya Pevita kembali merenung sambil melihat Eleanor yang sudah terlelap. Kedua matanya berkaca-kaca menatapi balita mungil itu." Maafkan Mommy sayang." Bisiknya lalu mencium kening Eleanor dan ikut merebahkan dirinya disamping sang putri. Pevita mengingat Milan, setiap malam ia memikirkan pria itu, Milan kemana? Dimana? Dengan siapa? Apa yang sedang pria itu lakukan? tidakkah dia mengingat dirinya?
Tit
Ponsel itu berbunyi, malas-malas Pevita mencoba menggapainya diatas meja nakas. Pevita melihat pesan dari nomer baru
👦 Pevita, aku ada didepan rumahmu. Milan
Pevita terkejut, ia beringus bangun melompat dari tempat tidur menuju balkon kamar. Memastikan apa yang ia baca memang benar adanya dan bukan sekedar orang jahil. Bibir Pevita tersenyum ketika melihat sebuah mobil hitam didepan gerbang rumahnya
Pevita merapihkan dirinya dicermin, mendekati Eleanor mengelilingi balita itu dengan bantal agar tak terjatuh kelantai lalu keluar dari kamar. Pevita mengendap-ngendap keluar dari rumahnya, membuka kunci gerbang dengan kunci cadangan
" Non mau kemana?" tanya satpam didepan rumahnya yang keheranan melihat Pevita ditengah malam. Pevita menempelkan jari telunjuknya dibibir agar pria setengah baya itu tak berisik membuatnya membungkam dan tak lagi banyak bertanya
" Hai." Sapa Milan membuat Pevita beringus masuk. Pevita langsung menghamburkan dirinya memeluk Milan
" Apa yang terjadi?" Tanya Pevita dengan isak tangisnya. Milan tertegun mendengar isak tangis itu, ia langsung membalas pelukan Pevita
" Maaf, aku benar-benar terlambat."
" Kamu sangat sibuk hmm?" Tanya Pevita namun Milan tak menjawab, pria itu hanya sibuk berpikir akan hubungannya dan Pevita
" Aku sangat merindukanmu!" Bisik Milan
" Aku juga!" Saut Pevita. Cukup lama keduanya saling memeluk menyalurkan rasa rindu mereka. Milan mengurai pelukan itu, ia mengusap airmata Pevita yang menderas
" Jangan lagi pergi." Bisik Pevita
" I can't Pev."
" Please, aku hampa tanpamu!" Airmata Pevita kembali membanjir membuat Milan tak henti menghapusnya
" Jangan pergi kemanapun, tetaplah disisiku." Bisik Pevita lalu memeluk tubuh itu lagi, menghirup aroma tubuh yang dua minggu ini ia rindukan. Milan hanya diam membalas lagi pelukan Pevita sampai gadis itu berhenti menangis
Milan dan Pevita berpindah kekursi ebelakang agar mereka tak berjarak. Keduanya berpelukan lagi dengan begitu lama. Pevita menggenggam jemari itu lalu menengadah menatapi Milan, Pevita menariknya keatas dan mencium jemari Milan. Milan tak menyangka bahwa Pevita akan sememuja itu padanya
__ADS_1
" Pevita."
" Aku hanya ingin memanggilmu." Bisiknya menyentuh pipi Pevita lalu menyelipkan rambut Pevita kebelakang telinganya
" Apa yang harus kulakukan agar kamu tak pergi."
" Aku akan tinggal beberapa hari disini."
" Jangan pergi."
" Aku akan menemuimu lagi, sebulan atau seminggu sekali." Pevita menggelengkan kepalanya
" Daddy menjodohkanku dengan seseorang." Saut Pevita membuat Milan menghela nafas
" Apa yang akan kamu lakukan?" Namun Milan hanya membungkam
" Kak, bagaimana dengan hubungan kita?"
" Pevita beri aku waktu!" Pevita bergerak melepaskan dirinya dari Milan, membuat Milan kembali menarik kedalam pelukannya
" Aku seorang pengecut Pevita, aku belum seberani itu menemui kedua orangtuamu!" Saut Milan, Pevita menoleh, ia mencoba mengerti Milan. Kejadian 3 tahun lalu memang membuat semua keluarganya membenci Milan
" Aku sudah memaafkanmu, merekapun sama!"
" Aku tahu tidak semudah itu." Saut Milan menghempaskan tubuhnya kebelakang kursi
" Aku akan menunggumu!" Saut Pevita bergerak duduk tegak. Milan menatapi punggung itu lalu bergerak mendekap Pevita dari belakang
" Aku selalu memikirkanmu, percayalah." Bisik Milan lalu mengecup leher Pevita, darah Pevita berdesir karena itu
Kali ini Milan menciumi leher itu membuat Pevita sedikit meronta dan melepaskan dekapan Milan." Kau tidak mau bermalam denganku malam ini?"
" Tidak untuk malam ini." Saut Pevita. Milan tampak kecewa
" Kenapa?" Tanyanya
" Kumohon, mengertilah!"
" Jauh-jauh aku kemari karena aku sangat merindukanmu." Pevita menoleh kebelakang
" Tidak untuk malam ini." Saut Pevita. Milan hanya mengangguk lalu menyandarkan kembali tubuhnya pada kepala kursi. Pevita memeluk lagi tubuh itu meletakan sebelah pipinya didada Milan, spontan Milan mengusap pipi Pevita yang satunya lagi
Hening melanda beberapa saat dalam mobil tersebut. Sampai Pevita menengadah keatas menatap Milan yang ternyata sedang menatapinya, akhirnya pria itu menunduk untuk meraih bibir Pevita, keduanya berciuman dengan begitu hebat, menyalurkan rasa rindu yang mereka tahan dua minggu ini
" Uuhhhmmm." Pevita melenguh dengan ciuman kasar namun memabukan itu, Milan mulai bangkit mendorong tubuh Pevita menyandar pada kursi. Satu tangannya mulai menjalari paha naik ke perut lalu ke dada yang tertutupi piyama biru tua
-
__ADS_1
-