
🌹🌹🌹
" Bella, apa yang merubahmu?" tanya Delan dengan jemari membelai rambut sebahu Bella yang tergerai. Wanita itu kini tidur dengan posisi telungkup diatas tubuhnya setelah dua menit yang lalu keduanya saling melepaskan puncak kenikmatan
" Sayang .." panggil Delan lagi memiringkan kepalanya untuk menjangkau wajah cantik istrinya. Delan tersenyum melihat bibir Bella juga tersenyum
" Erik, aku bertemu dengannya dua hari lalu. Dia memceritakan semuanya padaku." saut Bella sambil mengangkat wajahnya dan menatap Delan
Sentilan jemari besar Delan mendarat dikening Bella." Kamu tidak mempercayaiku tapi mempercayai Erik, istri macam apa kamu?" gerutu Delan membuat Bella tertawa, Delan merasa senang melihat tawa itu. Ia membelai pipi Bella dengan lembut
" Karena kamu selalu berbohong."
" Bella .."
" Iya kamu selalu berbohong Delan, dulu kamu bilang akan kembali setelah semuanya selesai nyatanya .." Wajah Delan mendadak sendu
" Maaf, itu memang kesalahanku dan aku sangat menyesal .."
" Kenapa kamu menyesal?"
" Jika dulu aku kembali, mungkin aku akan menikahimu, kamu bisa melahirkan anak-anakku. Dan kita akan menjadi orangtua yang banyak anak dengan usia kita yang masih muda." Bella tersenyum hangat hingga dua lesung pipitnya terlihat
" Kita tidak bisa mengubah masa lalu tapi kita bisa memperbaiki masa depan." saut Bella
" Aku sudah tidak punya apa-apa, memangnya kamu masih mau denganku?" tanya Delan seraya menyelipkan anak rambut Bella kebelakang telinganya, tatapan itu penuh pujaan pada Bella
" Bukan masalah, aku punya pekerjaan. Gajiku cukup untuk menghidupimu dan Jeslyn." Delan tertawa, tawa itu sangat lepas dan terbahak-bahak
" Maksudmu aku jadi bapak rumah tangga?" Bella mengangguk dengan senyum bibirnya yang tak pudar
" Kamu hanya perlu menjaga anak kita, mencuci pakaian kita dan Jeslyn, menyapu, membersihkan rumah apa lagi ya ..." Bella tampak berpikir dan itu terlihat lucu dikedua mata Delan
Cuup
Bibir itu mencium bibir Bella dengan begitu gemas
" Aku mau."
" Mau apa?"
" Menjadi apapun, selama aku disampingmu!" Bella rasanya ingin meloncat-loncat mendengar rayuan Delan, ia memeluk tubuh besar itu dengan kedua tangannya, men3mp3lkan lagi sebelah pipinya didada Delan hingga dadanya menempel diperut Delan
" Kamu bisa menjadikanku pelayanmu, aku akan melayanimu 24 jam." Bella terkikik lucu sembari mendengarkan detak jantung Delan yang bertalu kencang
" Kamu juga bisa menjadikanku sebagai petugas keamananmu, aku akan menjagamu dan Jeslyn 24 jam." Cekikikan Bella kian mengencang
" Asalkan aku bersamamu!" Dan ucapan terakhir ini membuat kikikan Bella terhenti, kedua matanya tiba-tiba berair. Kesedihan dan kesengsaraannya kini akan menghilang, Bella tidak perlu khawatir lagi karena kini Delan akan selalu bersamanya. Bella sangat berharap semua orang tak menemukannya dan Delan. Meskipun hidup sederhana, ia dan Delan akan tetap mampu menjaga dan membahagiakan bayi mereka. Selama ini yang Bella butuhkan dan Jeslyn adalah keluarga yang utuh
" Bella .." Delan memiringkan kepalanya lagi untuk melihat wajah Bella
" Ada apa? kamu menangis?" Tanyanya dengan jemari membelai wajah Bella
" Dulu sangat berat untukku Delan, aku senang. Sejujurnya bertemu denganmu lagi membuatku senang. Setiap malam, aku berharap keajaiban terjadi padaku dan Jeslyn."
" Tuhan sudah mengabulkan harapanmu!"
" Ya, aku sangat bersyukur!" Bibir keduanya tersenyum dengan tatapan Delan yang pada langit-langit kamar, sementara Bella kesembarang arah
" Kenapa kamu pergi Bella, kenapa kamu tidak menungguku?" Seketika itu Bella mengangkat wajahnya menatap Delan
" Kamu sungguh tidak tahu kenapa aku pergi?"
" Rasanya aku seperti akan gila, karena mencarimu!" Kini kedua mata Delan yang berkaca-kaca
" Hey .." Bella membelai pipi itu dengan lembut
" Aku benar-benar gila Bella, bisa kamu bayangkan? semua orang menganggapku berhalusinasi." Akhirnya airmata Delan terjatuh yang mana langsung dihapus Bella
" Kenapa tidak menungguku? kenapa pergi begitu saja. Kamu tidak tahu setahun ini aku kesulitan?"
Bella hanya membatu dan terus mengusap airmata Delan
" Katakan padaku, apa yang membuatmu pergi huh? bukankah kamu sangat mencintaiku?" Melihat airmata Delan yang terus berjatuhan, kedua mata Bella jadi ikut meneteskan airmata
" Semua orang sangat membenciku Delan, mereka menghinaku. Merendahkanku, aku sendirian saat itu .."
Flashback
Ting tong
Ting tong
Ting tong
" Delan awas saja kamu!" gerutu Bella beranjak bangun dari ranjang empungnya, tempat ia dan Delan memadu kasih dan bergumul mesra
" Dua hari hilang, awas saja kalau datang hanya mengajakku untuk bercinta." gerutu Bella lagi sambil berjalan menuju keluar. Bella membuka pintu utama, saat itu dahinya berkerut
" Paman, Tante!" panggil Bella merasa heran, lebih herannya ia tak bahkan tak pernah memberitahu alamat rumah pada keduanya
" Tante-"
" Kamu tidak mau menyuruh kami masuk Bella?"
" Ah ya maaf, silahkan masuk!" ucap Bella sembari menggeser tubuhnya memberi jalan pada keduanya
__ADS_1
Keduanya tampak melihat-lihat Apartement Bella yang dibelikan Delan untuknya. Bella hanya mengikuti dibelakang mereka
" Dimana suamimu?" tanya paman Aldi
" Emmmh dia-dia-" Bella kebingungan menjawab pertanyaan tante Merry
Ting tong
Ting tong
" Ah itu mungkin suamiku tante!" ucap Bella terlihat senang, wanita dengan perut yang kini terlihat buncit itu tampak girang hingga jalannya tergesa-gesa menuju pintu utama
Ceklek
Harapan Bella salah yang datang bukanlah sang suami melainkan ..
" Angela .." gumam Bella dan sedetiknya ia terkejut tatkala melihat kedua orangtua Delan lebih terkejut lagi karena ternyata keluarga besar Delan yang datang kesana termasuk mantan majikannya dulu yaitu Bryan dan Jiana
Detik itu juga Bella menundukan wajah, kedua jemarinya saling meremas dan keringat dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya
" Apa Apartement ini juga termasuk dari suamiku?" Angela membuka suaranya dengan menekankan kata suami tepat didepan wajah Bella. Bella kian ketakutan hingga seluruh tubuhnya nampak bergetar. Tenggorokannya terasa tercekat lalu ia memegangi perut buncitnya
Bruk
Bella hampir terpelanting kebelakang karena Angela sengaja menabrakan tubuhnya
" Angela!" tegur suara wanita yaitu Jiana
" Jangan membela wanita busuk ini Aunty" Kedua mata Angela menyalang tajam pada Jiana
" Dia sedang hamil, bersikaplah sewajarnya!" saut Jiana
" Hamil anak haram?" Bella mengangkat wajah, ia menggelengkan kepala dengan airmata berjatuhan. Rasanya sakit mendengar itu dari bibir Angela, bahkan janin diperut Bella tak memiliki dosa sedikitpun
" Jaga bicaramu!" kali ini Bella memberanikan diri membuka suaranya membuat Angela tertawa
Plakk
Bella benar-benar terkena tamparan telapak tangan mulus Angela
" Seharusnya kau sadar pelacuuur!" Bella berniat melawan Angela namun tangan yang akan mengenai pipi Angela itu ditahan mammi Bulan, rasa sakit kembali Bella rasakan apalagi saat wnaita itu menghempaskan tangannya dengan begitu kasar
" Pelacuuur sekarang, benar-benar tak tahu diri!"
" Aku bukan pelacuuur!"
" Kalau kau bukan pelacccuur, lalu kau apa? wanita mulia, wanita baik .. " Angela tertawa sinis
" Mana ada wanita suci dan baik merebut suami orang?" Bella membungkam, menikah diam-diam dengan Delan memang murni adalah kesalahannya dan Delan, ia tak mengelak , ia mengaku salah
" Silahkan masuk!" Bella akhirnya mau memberi jalan untuk semua orang
Kini semuanya tampak berkumpul di ruang tamu. Bella hanya menunduk, ia tersudutkan tidak ada yang membela Bella bahkan orangtuanya sekalipun. Posisi wanita itupun hanya sendiri, Bella seperti seorang tersangka yang akan menjalani hukuman mati
" Siapa ayah bayimu?" suara tegas itu membuat kedua mata Bella berkaca lagi, bahkan sang Paman pun tampak tak mempercayai Bella
" Paman sangat tahu, paman yang menikahkanku dan Delan." Angela semakin menjadi, kebencian tampak diwajahnya. Wanita itu hendak berdiri namun ditahan mammi Bulan
" Apa buktinya bahwa bayi itu anak Delan. Bella bukankah selama ini kamu dan Milan juga menjalin hubungan!"
" Hentikan omong kosongmu Angela, aku tidak serendah itu!" Angela tertawa kencang memukuli meja didepan matanya
" Omong kosong? omong kosong katamu!"
" Ini bayi Delan, percayalah ini bayiku dan Delan." Bella mulai menangis sembari mengelus-elus perut buncitnya
" Memangnya siapa yang akan percaya?" ledek Angela dengan wajah angkuhnya. Bella mencoba mencari perlindungan pada paman dan tantenya namun kedua orang itu tampak tak mempercayai Bella. Lalu Bella menatap Jiana, wanita itu tampak merasa kasihan padanya, Bella semakin menangis tersedu, ia kian tersudutkan. Ia menutupi kedua matanya dengan telapak tangan
" Delan .. dimana Delan?" tanya Bella
" Dimana Delan?" Bella mulai berteriak
" Dasar pelacuuur gila, Delan takkan menemuimu lagi" Seketika Bella membuka kedua tangannya, wajah sembab itu membuat Jiana kian merasa kasihan. Wanita itu tak tahan, ia mendekati Bella dan duduk disamping wanita itu
" Bella ada apa denganmu, kami semua tak menyangka, kamu jadi wanita seperti ini. Jelaskan pada kakak apa yang terjadi, kakak akan membantumu .. " Tuturnya sembari menyentuh pundak Bella, wanita itu malah semakin tersedu sambil memanggil-manggil nama Delan
" Kami akan melakukan tes DNA pada bayimu!" ucap Daddy Dean
" Tidak, jangan. Kenapa kalian tidak percaya padaku. Jangan, aku tidak mau mengambil resiko, jika gagal itu bisa membahayakan bayiku!" tolak Bella memeluk perutnya dan terus menggelengkan kepala
" Itu karena kau takut, kau takut kalau bayi itu bukan bayi suamiku. Bella .. Bella kau sangat licik. Katakan? berapa yang kau inginkan dari suamiku?"
" Bisakah kau diam Angela, emosi tak akan menyelesaikan masalah!" Bryan yang sudah tak tahan akhirnya membuka suara
" Aku mana bisa diam Paman, karena wanita ini Delan berubah. Bukankah kalian sangat tahu sendiri?" Bentak Angela
" Delan selingkuh dengannya, aku terima. Sebenarnya aku kurang apa dimata kalian? kalian tahu yang salah disini adalah siapa? Mam tahu kalau anak Mammi salah, dia menghianati pernikahan kami Mam." Teriak Angela menatap Mammi Bulan yang tampak kecewa dengan anaknya, wanita itu digandeng suaminya, tampak lemah dan terkejut
" Cukup, keluar dari sini!" usir Bryan
" Tidak, aku tidak akan keluar."
" Kalau begitu diamlah!" gerutu Bryan dengan wajah kesalnya, ternyata Angela yang anggun itu sangat kampungan dimata Bryan, berkoar-koar layaknya wanita tak berpendidikan
" Sudah cukup, ayo kita pulang!"
__ADS_1
" Kak!" panggil Bryan tampak tak setuju
" Dia tak mau melakukan tes DNA, itu artinya itu bukan anak putraku!" ucapnya dengan kedua mata berkaca-kaca, kekecewaan terlihat jelas disana
" Aku ingin bertemu Delan dulu, aku ingin membicarakan semuanya."
" Delan tak akan menemuimu lagi."
" Tante kumohon!" Bella tak pernah memelaskan wajahnya pada siapapun, tapi demi Delan dan bayi mereka wanita itu memohon, sampai duduk dilantai
" Kumohon, jangan seperti ini. Aku dan Delan sudah menikah, bayi ini tidak salah."
"Menjauh dari anakku, kamu tidak pantas. Kamu mau menjadi parasit untuk putraku! kalau bayimu membutuhkan seorang ayah pergilah pada ayahnya jangan memanfaatkan rasa cinta putraku*!" Bella benar-benar tak menyangka akan mendapat hinaan sekejam ini, bahkan bayi yang tak bersalah dalam perutnya pun menjadi hinaan semua orang
" Kumohon." Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Bella yang bergetar, ia menahan rasa sesak didadanya sejak tadi hingga nafasnya terasa tersendat
Tapi Mammi Bulan tak mau menoleh, wanita itu mengajak suaminya untuk segera pergi dari sana dengan airmata yang tumpah, kecewa yang ia dapatkan, kecewa karena ternyata sang putra tak seperti yang ia pikirkan selama ini
" Delan .."
" Komohon!" Bella terus menangis dan menggumam memanggil Delan dihadapan semua orang
" Bella biarkan kami membantumu!"
" Bella kami akan membiayai semuanya, semua kebutuhanmu sampai kamu melahirkan bayimu. " ucap Jiana
" Aku hanya ingin bertemu Delan." pintanya dengan wajah memelas dan cairan bening menderas, ditatapnya satu persatu wajah-wajah yang masih setia disana
" Setelah bayimu lahir." Bella merasa ada secercah harapan, ia mengangguk cepat dan tersenyum. Setelah bayi mereka lahir, tentu tidak akan ada yang meragukan ucapan Bella lagi. Ia mulai memghentikan tangisannya
" Dimana Delan?" tanya Bella pada Jiana
" Dia di Paris." Bella hanya tersenyum mengusap kedua sudut matanya yang masih basah. Ia menyakinkan diri, karena ia tahu, Delan tak akan sejahat semua orang. Ada bayi mereka diperut Bella dan Delan pun sangat mencintainya
Setelah keadaaan menenang, semuanya memutuskan untuk pulang. Jiana yang notabennya menyukai Bella dari dulu memeluk wanita itu sebelum memutuskan untuk pergi." Aku percaya padamu!" Bella tersenyum manis akan bisikan itu, ia merasa sangat senang ada yang mempercayainya meskipun satu orang
" Jaga dirimu, jangan stress dan pikirkan bayi dalam kandunganmu!" Bella kembali mengangguk diambang pintu, ia memperhatikan Jiana yang digandeng Bryan perlahan menjauh dari Apartementnya
Bella menutup pintu rapat dan berniat menghubungi Delan. Tapi baru saja selangkah, suara bell kembali berbunyi memaksa Bella untuk kembali membuka pintu. Disana ada Angela dengan wajah tak sukanya pada Bella
" Aku sedang hamil anak Delan."
Deg
Jantung Bella terasa copot saat ini apalagi saat selembar kertas didepan matanya ditunjukan oleh Angela. Kedua mata Bella kembali berair, nafasnya yang terasa sedikit lega itu sesak kembali
"Aku sedang hamil lagi bayi Delan, tidakkah kamu sebagai wanita masih punya hati nurani? ahh aku lupa kau hanyalah wanita rendahan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang suamiku. Katakan Bella berapa yang kau butuhkan agar kau bisa pergi dari suamiku.1 Triliun apakah cukup untukmu dan bayi harammu itu? bayi yang ayahnya saja tidak tahu siapa?"
Plak
Bella menampar pipi Angela sekuat tenaganya hingga sang Paman dan Tante yang masih didalam keluar, keduanya berlari mencegah Angela yang akan mendorong tubuh Bella, sang Paman menahan tubuh Bella dengan kedua tangannya
" Bella, Delan itu hanya main-main. Bagaimana bisa kamu menanggapinya dengan serius? kau pikir Delan mencintaimu? kau pikir selama ia berselingkuh denganmu hubunganku dan Delan hancur, aku dan Delan bertengkar? Tidak Bella, ketahuilah, aku dan Delan masih terus bercinta setiap malam bahkan sampai malam kemarin kami masih melakukannya." Bella kembali menjatuhkan airmatanya lagi, hatinya yang sudah sakit itu bertambah kesakitan, saking sakitnya, rasanya Bella ingin menenggelamkan dirinya saat ini. Bella terus menggelengkan kepala sembari memegangi perut buncitnya
" Tidak, kau bohong." ucap Bella dengan bibir bergetar
" Bisa-bisanya kau bicara seperti itu, lalu ini apa?" Angela melempar selembar kertas kewajah Bella, itu adalah hasil pemeriksaan kehamilan dirinya lalu berputar berniat meninggalkan Bella dengan seringai licik dibibirnya
" Aku sedang hamil dan kau malah merebut suamiku" umpat Angela dan itu terdengar oleh telinga orang-orang yang berlalu lalang didepan pintu Apartement Bella
Dari penglihatan Bella, semuanya tampak berbisik-bisik dengan pandangan merendahkan, cukup untuk menghancurkan mental Bella saat ini, wanita itu bertambah rapuh, bahkan tak mengeluarkan suaranya lagi, hanya airmatalah yang mengartikan semua rasa sakitnya
" Itu cukupkan." Angela tertawa jahat didalam lift
" Jika aku tidak bisa bahagia bersama Delan, tentu kau pikir aku akan membiarkan suamiku bahagia bersamamu?" gumam Angela
Sementara Bella tampak melemas, ia terhuyung kebelakang. Paman Aldi membiarkan Bella terduduk dilantai, membaca selembar kertas yang Angela lempar. Paman Aldi dan Tante Mery saling melirik, meskipun kecewa dengan kenyataan ini namun keduanya tetaplah keluarga Bella
" Bella .."
" Kenapa Paman dan Tante kemari?"
" Kami-"
" Kalian juga ingin merendahkanku?"
" Dua hari yang lalu, Delan menyuruh kami mengunjungi rumahnya." sautnya membuat Bella jadi menangis lagi, kali ini lebih kencang dari tadi. Bella juga tak memperdulikan lagi tatapan-tatapan itu
" Tidak jangan seperti ini." Tapi Bella tak menghentikan tangisannya
" Apa salahku! aku mencintai Delan, aku hanya ingin bahagia, apa itu salah?" gumam Bella dengan cairan bening menderai, membasahi pipi dan jatuh juga kelantai
" Bantu aku!"
" Tentu saja, kami keluargamu!"
" Biarkan aku pergi."
" Tidak, ini bukan solusi."
" Kumohon, aku ingin pergi. Ini terlalu sakit!" Raung Bella semakin kencang dan menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak
" Hatiku sangat sakit, Paman .."
FLASHBACK OFF
__ADS_1
-.