
🌹🌹🌹
" Bella ada apa?" Tanya Delan mulai kesal dengan sikap Bella yang tiba-tiba mengacuhkannya seperti ini. Kini mereka telah masuk kedalam rumah, sejak tadi wanita itu mendiamkan Delan, tak menanggapi ucapan dan gombalannya
Untuk kesekian kalinya Bella tak menjawab, wanita itu hanya diam menatap dengan mata menyipit pada Delan
" Ada apa? apa salahku hmm?" Delan mengusap pelan pipi Bella yang terasa dingin ditelapak tanganya
" Jadi sekarang seleramu wanita-wanita korea begitu?"
" Astaga sayang pertanyaan macam apa itu?" Gerutu Delan
" Hey, kenapa bicara seperti itu?" Desak Delan
" Kamu memang menyebalkan, kamu tidak tahu kalau aku ini sedang cemburu." Gerutu Bella menepis pelan tangan Delan yang masih dipipinya, ia memalingkan wajah sembari mendelik sebal apda Delan
" Cemburu? pada siapa?"
" Astaga, lulusan Harvard kenapa bodoh sekali." Gerutu Bella lagi seraya berjingkat menjauhi Delan
Delan hanya menggeleng dengan ucapan kasar itu, ia tak mampu protes karena terlalu takut Bella semakin menjadi. Yang ia lakukan hanya mengekori Bella dibelakang bersama bayi mereka yang anteng dalam gendongannya memperhatikam ayah dan ibunya
" Maafkan aku-"
" Kenapa meminta maaf?" Potong Bella membuat Delan terperangah, jadi serba salah dan pusing sendiri
" Emmmmh, aku tidak tahu aku hanya minta maaf saja, aku salah oke. Jadi sekarang kita baikan." Bella memutar tubuhnya dan tersenyum miring lalu membuka kancing mantelnya satu persatu. Ia lempar kelantai sambil menggulung kaosnya keatas
" Hentikan, ada Jeslyn." Ucap Delan memundurkan langkah dan memutar tubuhnya, ia selalu tak tahan melihat tubuh Bella tapi jika Jelsyn belum tidur, ia tak bisa melakukan apapun pada Bella
Mamamama
" Dengar Bella, Jeslyn bilang jangan."
" Mama stop Mama." Ucap Delan lagi
" Percaya diri sekali, kamu pikir aku akan memberikannya malam ini?" Delan mengernyitkan dahi lalu memutar tubuh menghadap Bella
" Itu kewajibanmu, melayani suami adalah tugas seorang istri."
" Maksudmu suami yang suka tebar pesona pada wanita lain? begitu?"
" Bella, aku benar-benar tak mengerti." Gerutu Delan berjinkat kesal lalu mendekati Bella lagi
" Jelas-jelas kau tersenyum pada kasir itu, apa namanya jika bukan tebar pesona?"
" Astaga Bella!" Delan menggelengkan kepalanya dengan wajah jengah
" Sudah sejauh ini kamu masih meragukan cintaku padamu huh?" Bella terdiam membungkam, melipat kedua tangannya didada yang hanya tertutupi bra kuning
" Siapa yang senyum sih? Jangan seperti ini, jangan sayang." Delan mendekati Bella memegang kedua bahunya
" Kenapa meragukanku? sebenarnya apa lagi yang harus kubuktikan? bahkan aku meninggalkan rumahku, uangku, jabatanku dan memilih hidup sedehana seperti ini. Semua ini kamu pikir karena siapa? karenamu Bella." Tutur Delan dengan suara lembut
" Benar begitu?" Tanya Bella masih datar padahal dalam hatinya meloncat girang
" Iya, karena kamu." Bella tak menjawab, ia hendak menuju kamar mandi namun ditahan Delan
" Ini cobalah." Perintah Delan memberikan sebuah papperbab coklat ketangan Bella
" Ini apa?" tanyanya
" Lihat saja." Bella membuka sedikit papperbag itu, ia terkejut lalu menatap Delan
__ADS_1
" Pakailah, aku ingin melihatnya." Perintah Delan lagi lalu melenggang pergi keluar dari kamar. Ia duduk disofa menunggu Bella lalu menunduk menatap bayi mereka, lucunya bayi itu juga menengadah menatapnya membuat Delan terkekeh lucu lalu mencium kening Jeslyn
Jeslyn yang tiba-tiba menguap membuat Delan segera mengaming-ngaming bayi yang menempel dalam gendongannya itu sambil menyandarkan juga tubuhnya yang terasa lelah pada kepala sofa. Sementara dikamar Bella meloncat-loncat girang tak menyangka suaminya membeli baju yang ia inginkan tadi saat dipusat perbelanjaan
Bella segera mencoba pakaian itu dengan penuh semangat didepan cermin pada lemari pakaiannya. Senyumannya semakin merekah tatkala dress hitam berenda itu sangat pas ditubuhnya. Segera Bella berjalan keluar kamar untuk menunjukannya pada Delan
" Sayang." Panggil Bella sedetiknya ia tersenyum melihat kedua harta berharganya itu tertidur disofa dengan Jeslyn yang menemplok pada ayahnya, sebelah pipi gembulnya juga menempel didada sang ayah dan tubuh kecilnya dilingkari kedua tangan Delan. Ini benar-benar pemandangan indah untuk Bella
Pelan-pelan Bella duduk disamping Delan dan bibirnya langsung hinggap dipipi Delan, menyentuhnya dengan begitu lembut membuat sang pemilik membuka matanya. Kedua mata itu memerah dan sayu, Bella memberikan senyumannya
" Terima kasih, aku menyukainya." Delan memiringkan kepalanya yang bertumpu pada kepala sofa
" Coba berdiri, aku ingin melihatnya." Bella menurut, ia berdiri didepan Delan
" Sangat cantik." Puji Delan membuat Bella tersenyum senang
" Coba berputar." Perintah Delan lagi yang mana langsung dilakukan Bella, berputar hingga rok dress payung itu terangkat dan memperlihatkan cd kuning Bella
Delan terkekeh lucu melihatnya lalu menarik Bella duduk disampingnya." Benar-benar cantik." Pujinya lagi hingga dua kecupan Delan dapatkan dibibirnya
" Lagi." Pinta Delan
Bella melakukan lagi menghujani bibir itu dengan kecupan mesra membuat satu tangan Delan merambat melingkar dipinggang Bella, menarik pinggang itu sambil meraup bibir Bella
Sedang asyik berciuman mesra keduanya diganggu oleh suara Bell yang berbunyi
" Siapa malam-malam begini?" tanya Delan seketika menjauhkan bibirnya
" Aku akan membukanya."
" Siapa yang mengijinkanmu?"
" Lalu?" Bella mengerutkan dahinya
Ceklek
Delan membuka pintu rumah itu dan tertegun
" Delan." Panggil Bella
" Sayang siapa?" tanya Bella lagi saat tak mendapat jawaban sang suami. Cepat-cepat ia beranjak bangkit dan berlari menuju pintu utama
" Delan." Panggil Bella, kali ini Delan tersadar, pria itu bergerak seraya menoleh hingga terlihatlah orang dibalik pintu
Sama seperti Delan, Bella pun tertegun
Melihat Bella, Delan segera mendekati Bella dan menggandeng bahu Bella. Saat itu Bella menundukan pandangannya
" Ada apa?" Tanya Delan dingin pada pria dihadapannya
" Bisa kita bicara didalam?"
" Memangnya siapa yang mengijinkamu masuk?" tanya Delan dingin pada sang Paman yaitu Bryan. Dibantu Erik yang menunjukan jalan, Bryan akhirnya menemukan Delan. Awalnya Erik enggan memberitahu Bryan mengingat betapa jahatnya keluarga Delan dulu tapi satu hal yang membuat Erik melululuh yaitu ..
" Mamimu sakit Delan, dia kini. Apa kamu berniat menjadi anak durhaka seperti ini?" Tanya Bryan lalu menoleh pada Bella yang seketika itu juga Delan tarik kebelakang tubuhnya
" Aku durhaka atau tidak, itu bukan urusan kalian." Saut Delan dingin, tapi kedua mata pria itu berkaca-kaca, hatinya terasa sakit mendengar ucapan Bryan tentang sang Mami, tapi Delan juga tak bisa memaafkan semua orang
Delan hanya menatap Bryan yang juga menatapnya, cukup lama keduanya saling bertatapan." Setidaknya beri kesempatan semua orang untuk menjelaskan semuanya, jangan menutup dirimu! kami juga punya alasan kenapa kami melakukan itu!"
" Silahkan masuk Tuan." Tiba-tiba Bella membuka suaranya dan bergerak melihat Bryan
" Bella." Delan tampak tak setuju dengan ucapan Bella
__ADS_1
Bella hanya mengangguk lalu memberi jalan untuk Bryan dan Erik masuk kedalam
" Siapa yang mengijinkanmu, memangnya kamu tidak punya hati?"
" Meskipun begitu, dia tetap keluargamu." Saut Bella menggenggam erat jemari Delan lalu menarik pria itu masuk kedalam diikuti Bryan dan Erik
Semuanya duduk diruang tamu dengan Bryan yang tampak memperhatikan seluk beluk rumah sederhana itu diikuti pandangan dingin Delan
" Apa yang Paman inginkan?" Bryan beralih menatap Delan, tatapam itu serius bukan Bryan yang biasanya konyol dan pecicilan
" Pulanglah!"
" Tidak!"
" Paman mohon, demi mammimu. Dia terus memanggil namamu!" Saat itu juga Bella mencengkram jemari Delan yang digenggamnya membuat Delan menoleh
" Pergilah kekamar!" perintah Delan
Bella menggelengkan kepala dengan wajah takut
" Aku tidak akan pergi tanpamu dan Jeslyn. Pergilah kekamar." Perintah Delan lagi lalu melepaskan baby warp dan menyerahkan bayi mungil yang terlelap itu ketangan Bella. Sejenak Bryan tertegun melihat bayi dengan wajah cantik itu tak terasa asing untuknya
Kemudian menatap Delan, saat itu juga Bryan menyadari sesuatu. Ia mengusap wajahnya kasar, apa selama ini Milan berbohong tentang Bella dan membuat semua orang salah paham?
" Delan."
" Kenapa? apa Paman kini menyesal?" tanya Delan dengan suara tengah berteriak setelah Bella dan Jeslyn masuk kekamar
" Bukan seperti i-"
" Tidakkah Paman merasa malu atas sikap Paman pada Bella dulu? lihatlah Bella, dia benar-benar baik bukan masih mau memasukan orang yang ikut andil dalam menyakitinya." Bryan menghela nafas dan memejamkan mata mencoba tak terpancing emosi dengan perkataan Delan
" Bos, jangan emosi dulu. Beri kesempatan untuk menjelaskan semuanya-"
" Diam, aku tidak bicara denganmu, sekarang kau melunjak ya mentang-mentang statusmu berubah jadi atasanku!" Potong Delan berapi-api membuat Erik menghela nafas
" Kalian hanya salah paham." Saut Erik menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa. Delan hanya membungkam menatap tajam keduanya bergantian
" Dengar Delan, ini benar-benar diluar jangkauanku."
" Sepertinya Milan berbohong!" Delan berdecih
" Kenapa sekarang membawa Milan, kalian berniat menyalahkan orang lain?"
" Bukan seperti itu-"
" Lalu kemana saja kalian, bukankah kalian punya banyak uang untuk menyelidiki semuanya. Kenapa hanya diam dan membiarkanku seperti orang gila!"
" Kenapa terus emosi seperti ini, dengarkan dulu!" Bryan mulai tak sabar dan membentak
" Dengar Delan, Milan sibrengsek itu. Apa dulu kamu menusuknya?" Delan menyipitkan kedua matanya dan bergerak duduk tegap
" Apa Paman pikir aku segila itu?" Ketiganya saling menoleh lalu Bryan menceritakan kejadian dulu saat ia dan Milan ditemukan tak sadarkan diri sampai dibawa kerumah sakit dan Milan yang sadar lebih dulu ketimbang dirinya
Delan tampak fokus mencermati setiap ucapan Bryan. Perlahan-lahan ia mulai memahami semuanya." Itu tak berpengaruh untukku, aku tetap pada pendirianku. Jadi Paman pulanglah jangan harap aku akan pergi dari sini."
" Delan, jangan egois atau kau akan menyesal jika Mammimu!" Delan beranjak berdiri dengan wajah dinginnya
" Kalian menyakiti Bella, mengabaikan Jeslyn. Jelas-jelas Jeslyn bagian dari keluarga kalian. Meskipun Milan berbohong, seharusnya kalian mempertimbangkan Bella, dia sedang hamil saat itu." Delan memutar tubuhnya berniat meninggalkan Bryan
" Kami tidak mengabaikan Bella, kami berniat merawat Bella. Seharusnya kamu tanyakan pada Bella, kenapa dia menghilang sejak kejadian itu." saut Bryan namun tak menghentikan Delan, pria itu berjalan menuju kamarnya dan Bella meninggalkan Bryan dan Erik
-
__ADS_1
-