
🌹🌹🌹
Sipelakor cantik " Isyabella . "
-
Bella jadi pendiam sejak sarapan tadi. Wanita itu bahkan tak mendengarkan perkataan Delan dan Pevita, pandangannya hanya lurus kedepan dengan beribu pikiran berlalu lalang dikepalanya. Apa yang harus Bella lakukan, tentu ia akan malu terhadap Pevita bila gadis itu melihatnya semalam bersama Delan. Tadinya Bella ingin dekat dan akrab bersama Pevita secara pelan-pelan
Kini mereka menuju kantor Milan. Saat itu Delan menatap Bella, ia ingin mencium bibir itu namun ada Pevita dibelakang mereka Delan tak mungkin melakukannya. Yang ia lakukan hanya menyentuh bahu Bella, wanita itu segera tersadar dari lamunannya
" Aku pergi." ucap Bella tanpa melihat lagi Delan
Delan mengangguk." Hati-hati." sautnya lalu membukakan pintu untuk Bella. Wanita itu segera turun dan tanpa menengok lagi kebelakang, Bella masuk gedung tempatnya bekerja. Delan masih memperhatikan punggung Bella dan bokong padat dan bulat itu jadi perhatian Delan, semalam ia menguasai tubuh itu dan rasanya bagian tubuh Delan selalu menegang jika bersama Bella
Delan sampai tak sadar, Pevita sudah pindah kedepan disampingnya dan saat tersadar Delan segera melajukan mobilnya menuju rumah sang grandma untuk mengantar Pevita." Aku tidak mau kerumah Grandma." ucap Pevita
" Kalau begitu kerumah Kya." saut Delan
" Aku tidak mau."
" Pev .. " Delan mulai kesal dengan Pevita yang susah diatur
" Lalu kamu mau dimana? tidak mungkin kan kamu terus bersama Bella."
" Kenapa? kalian takut terganggu dengan kehadiranku." seketika itu juga Delan menginjak remnya, ia menoleh pada Pevita
" Bukan seperti itu Pev, kakak hanya-"
" Kakak takut aku mengganggu acara mesra-mesraan kalian begitu?" nada bicara Pevita mulai tinggi. Kedua mata Delan membulat sempurna, satu tangannya mencoba menyentuh puncak kepala Pevita namun ditepis kasar gadis itu
" Menjijikan, kau seorang pria bejad. Aku tidak mengagumimu lagi, kamu tidak seperti Daddy.. " saut Pevita tanpa melihat, pandangannya dingin kedepan
" Kamu melihat semuanya? kamu melihat kakak dan Bella?" Delan masih saja lembut terhadap adik kesayangannya itu
" Bisa-bisanya kakak tergoda wanita murahan itu." bentak Pevita menggelegar dalam mobil. Jika bukan Pevita Delan mungkin sudah menampar gadis itu karena berani menyebut Bella murahan, bagaimanapun Delan tak pernah memandang Bella seperti itu. Delan mengalihkan pandangannya kedepan dan menghela nafas
__ADS_1
" Ini tidak seperti yang kamu bayangkan Pev, kamu terlalu kecil untuk mengerti semuanya." saut Delan lalu melajukan mobilnya lagi
" Tidak, meskipun begitu aku masih bisa berpikir jernih tidak seperti kakak. Dimana hati kakak? apa kakak tidak memikirkan perasaan kak Angela? perasaan Mammi? perasaan Daddy yang akan malu dengan kelakuan kakak? dengan hubungan terlarang kalian!!" Delan hanya membungkam
" Tinggalkan Bella, bukankah sudah cukup semalam bersenang-senang. Aku akan memaklumi itu jika tujuan kakak untuk bersenang-senang dan aku mohon segera tinggalkan Bella sebelum semua orang tahu. Aku akan merahasiakan semuanya."
" Aku tidak bisa."
" Kenapa? kakak berniat membuat mammi sakit lagi begitu?" Delan menggelengkan kepalanya cepat
" Kakak tidak akan bisa menyakiti Bella lagi. Wanita itu terlalu baik untuk disakiti." saut Delan dengan wajah serius kedepan
" Baik? dimana ada wanita baik berniat jadi perebut suami orang? menggoda suami orang, tidur dengan suami orang." Delan tak menjawab lagi, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah pamannya
Tanpa melihat Pevita Delan membuka pintu melalui kunci otomatis disampingnya. Setelah Pevita keluar, ia melajukan mobilnya lagi menyusul Bella ke perusahaan Milan. Bukan hanya Bella tapi Delan juga tampak memikirkan perkataan adiknya namun untuk kali ini sepertinya Delan tak akan bisa melepaskan Bella
Delan segera masuk begitu ia memberikan kunci mobilnya pada petugas Valet. Delan masuk kedalam dan berjalan menuju ruangan Milan dimana disitu ia dan yang lainya akan kembali membicarakan kerjasama mereka
" Bos sudah menunggu Tuan Delan." ucap Bella menyambut Delan bersama Ambar, wanita itu menyikut lengan Bella dan berbisik
" Kenapa mereka semua tampan?" Bella terkekeh lalu mengikuti Delan kedalam. Disana semuanya sudah berkumpul dan menunggu Delan. Bella maupun Delan tampak seperti orang asing sekarang, keduanya propesional dalam bekerja namun tak dapat dipungkiri bahwa hati Bella sedikit sakit dengan kenyataan ini, entah sampai kapan ia menyembunyikan hubungannya dan Delan dari semua orang
Delan melirik Bella sejenak, ia merasa kasihan dengan Bella yang sudah satu jam ini berdiri. Kemudian Delan bergeser duduk mendekati dan berdempetan dengan Monceli." Bella duduklah." perintah Delan menepuk tempat kosong disampingnya. Bella tersenyum menampilkan lesung pipinya lalu menuruti Delan dengan duduk disampingnya. Hal itu menjadi perhatian Dave, pria itu tampak mencurigai Bella yang terlihat memiliki perasaan khusus pada Delan
" Bella bagaimana menurut pandangan seorang wanita dengan hal ini?" tanya Dave memperlihatkan desain hotel diNTB pada Bella
" Waaah ini benar-benar luar biasa, setiap kamar memiliki kolam renang. Itu benar-benar bagus." puji Bella dengan senyum khasnya. Delan benar-benar tak suka melihat Bella tersenyum pada pria lain, entahlah Delan merasa posesive jika pada Bella
" Ya kita bisa bercinta dikolam renang jika bosan diatas ranjang." goda Dave membuat wajah Bella merona
" Bella kamu pernah melakukannya?"
" Jangan konyol, Bella belum menikah masih seorang gadis." saut Milan dengan tawanya
" Kau masih gadis, masih perawan. Sungguh? kenapa aku tidak percaya itu." ledek Dave sambil menatap Bella lalu melirik Delan yang hanya diam dengan wajah datarnya, tatapan Delan tertuju pada hasil desain Dave
" Ya ya .. berhentilah bicara. Kasihan Bella . hanya dia wanita disini. Dia pasti akan malu, aku yakin Bella masih perawan dan pandai menjaga diri." Bella hanya tersenyum mendengar perkataan Moncelli lalu menunduk menatap jemarinya yang mendadak mengeluarkan keringat dingin
__ADS_1
" Delan kau belum memberitahuku, dikamar berapa kau tinggal?" tanya Moncelli
" Bukankah Angel bilang kau tinggal dirumah kakekmu?" tanya Milan, kini semua orang menatap Delan
" Ah ya aku mengunjungi seorang teman disana."
" Teman .. teman yang mana. Teman wanita maksudmu?" canda Dave namun itu membuat Bella kian gugup hingga merema* jemarinya sendiri
" Biarkan saja, mungkin Delan butuh penyegaran ya kan?" tanya Moncelli namun pria itu merasa heran, ia tahu Delan berbohong tapi Moncelli tak ambil pusing kehidupan pribadi orang lain tidak seperti kedua temannya yang terus kepo dan mengerjai Delan
" Kalian ini jangan memprovokasi Delan, sejak dulu Delan tak pernah bermain wanita, istrinya saja sangat cantik mana mungkin Delan mau berpaling. Tapi Delan kalau kau bosan istrimu bisa kau lempar padaku." canda Dave membuat semuanya tertawa kecuali Bella, wanita itu merasa tak tahan mendengar ocehan keempat pria itu lalu beranjak berdiri dan berpamitan kekamar mandi. Bella seperti magnet untuk Delan hingga kepala pria itu berputar mengikuti kemana Bella pergi
Dave yang memang menaruh rasa curiga itu semakin yakin ada sesuatu diantara keduanya. Lihatlah tak berapa lama, Delan pun berpamitan kekamar mandi, pria itu berjalan tergesa diikuti Dave dan anehnya pria itu malah masuk kekamar mandi wanita. Bibir Dave menyeringai dibalik pintu melihat Delan menarik pinggang Bella yang sedang bercermin masuk kedalam toilet. Dave pun ikut masuk kedalam toilet disamping mereka yang kebetulan kosong
Dave membuka mulutnya lebar mendengar suara kecipak mesum bibir Delan dan Bella. " Delan kita sedang bekerja. "
" Hanya sebentar sayang." Delan mendudukan dirinya diatas closet ia menarik Bella kepangkuannya. Pria itu terburu-buru membuka tiga kancing atas kemeja Bella
" Delan .. " Bella menangkup wajah itu
" Jangan .. "
" Sssttt .. " Delan menepis kedua tangan itu, membenamkan wajahnya pada belahan buah dada Bella sambil memaksa menarik cd Bella kebawah sampai lutut dengan kedua tangannya. Semakin lama bersama Bella sepertinya kemesuman pria itu kian bertambah. Dengan cepat ia menurunkan resleting celananya dan ..
" Delan sakit .. " suara Bella tertahan oleh telapak tangan Delan
" Pelankan suaramu." bisik Delan menegur Bella
" Aahh sakit!" bisik Bella menepis telapak tangan Delan
" Sakitnya tidak akan lama. " bisik Delan menenangkan Bella, ia memang salah memasuki Bella tanpa pemanasan lebih dulu tentu membuat wanita itu merasa sakit
Keduanya membuat Dave menggelengkan kepala. Pria itu terkikik dalam hati. Jika ia memberitahu Milan bukan tidak mungkin pria itu akan menghabisi Delan. Tapi Dave tak akan melakukan itu, ia bukan pengecut dan jika Milan tahu bukan tidak mungkin kan proyek yang sedang mereka jalani akan gagal total. Dave tak akan menghancurkan itu, mendengar suara erotis keduanya ia jadi semakin tertarik pada Bella dan ingin mencoba menikmati tubuh gitar spanyol itu
" Jalan* juga kau Bella .. kau bahkan mau bersama Delan yang sudah beristri lalu kenapa waktu itu kau jual mahal padaku." batin Dave dengan bibir menyeringai nakal
-
__ADS_1
-