
-
-
Cuuup
Kecupan mesra dibibir itu Bella dapatkan sebelum Delan keluar lebih dulu dari gudang dengan tespack ditangannya. Sambil berjalan ia memasukan testpack itu kesaku celananya. Delan kembali dikeramaian pesta saat itu tubuhnya langsung dipeluk Angela dari belakang
" Sayang kamu kemana saja, ini waktunya meniup lilin." Delan berdecak kesal
" Aku bukan anak kecil Angela, aku tidak mau melakukannya."
" Ada apa denganmu? bukankah selama ini kamu selalu melakukannya, selama 29 tahun usiamu?"
" Delan, lakukan saja. Hargai usaha Angela yang membuat pesta ini untukmu." Delan menghela nafasnya. Mau tak mau ia menuruti Angela dan sang Mammi. Mereka menuju pusat acara pesta yaitu sebuah kue ulang tahun besar dan bertingkat, kenapa Delan pikir Angela selalu berlebihan
Dari arah dapur, Bella tampak tergesa-gesa saat mendengar suara riuh dari arah ruang tamu. Bella tersenyum hangat menatap Delan dari jauh, pria itu tampak sedang memejamkan mata sebelum meniup lilin dengan angka 30
Disaat itu jugalah Bella berdoa dalam hatinya untuk ayah calon bayinya. Kedua mata Bella berkaca, tak disangka kini ia juga akan menjadi ibu dari anak pria yang ia puja bertahun-tahun silam itu. Meskipun pernikahan mereka disembunyikan namun Bella tetap bahagia bersama Delan, sejak awal tujuan Bella hanya ingin bahagia bersama orang yang ia cintai
Saat itu semua bertepuk tangan tak terkecuali Bella, Delan juga tersenyum manis dari jauh padanya membuat Angela kembali menempeli Delan. Ia melingkarkan satu tangannya dipinggang pria itu dan tentu itu membuat Bella sedikit terusik apalagi saat Delan memotong kue pertamanya. Bella membalikan tubuhnya saat itu, ia mulai tak tahan saat semua orang menyuruh Delan memberikan potongan pertama pada Angela
" Dasar wanita bodoh." begitulah umpatan Milan yang sejak tadi memperhatikan Bella disudut ruangan bersama teman-teman Delan yang ia kenali. Dimata Milan kini Bella sangat murahan, tak berbeda dengan seorang pelacu*, wanita itu mau saja dibodohi pria brengsek seperti Delan yang jelas sudah beristri. Delan memang lebih hebat dalam hal apapun dibanding Milan, tapi Milan pikir dengan apa yang ia punya ia mampu membahagiakan Bella. Namun kenyataan pahit yang ia dapat karena Bella lebih memilih menjadi simpanan Delan ketimbang hidup bahagia dengannya. Milan tidak pernah berpikir keduanya bisa saling berhubungan dan yang lebih membuatnya terkejut adalah hubungan mereka yang sudah sangat jauh sampai menghasilkan janin dirahim Bella
" Delan .. kau benar-benar brengsek!" umpat Milan lagi dengan raut wajah kecewa, ia mengenal Delan sejak masa kuliah. Delan tak pernah bermain wanita, pria itu pendiam, dingin dan tak pernah neko-neko namun ternyata kecantikan Bella mampu juga menggoda pria itu
Bella menghela nafas dan memegangi dadanya saat mendengar suara riuh dan siulan semua orang yang hadir disana. Bella bahkan tak berani menengok kebelakang, rasanya sakit yang Bella dapatkan melihat Delan dan Angela yang begitu mesra, terlebih akhir-akhir ini mood Bella sedang hancur karena kehamilannya. Bella segera berjalan menuju meja makan besar dalam rumah itu dan ia duduk sendiri membelakangi semua orang sembari memegangi perutnya. Bella sangat ingin menangis saat ini, jika saja Milan tak memaksanya untuk ikut tentu Bella tak akan mau
" Mam apa paman dan Granpa tidak akan kemari?"
" Granpa sedang sakit jadi semua orang tak akan datang." Bella mendengar suara itu kian mendekat padanya dan ia segera menundukan badan. Saat akan berdiri tangan seseorang menahan Bella membuat Bella menengadah menatapnya
" Kamu belum makan malam sejak tadi." ucap Milan dengan wajah datarnya lalu duduk disamping Bella, menatap wajah dan perut Bella yang ditutupi
" Milan .. kamu Milan?" Bella mengenal suara itu, itu adalah Mammi Bulan yang kian mendekat padanya
" Hay tante." saut Milan beranjak berdiri lalu menyalami Mammi Bulan, wanita itu mengelus pundak Milan dengan lembut
" Kapan mau menikah? bukankah akan secepatnya menyusul Delan?"
__ADS_1
" Ahh belum ada wanita yang mau menerimaku." suat Milan dengan wajah pura-pura sedih
" Yang benar saja, kau setampan ini mana mungkin tak ada yang menyukaimu. Jangan bercanda!" pukul wanita itu pada pundak Milan, ia hanya tertawa
Lalu Bulan melirik wanita yang tadi duduk disamping Milan dengan dagunya." Kenalkan tante, dia Bella temanku." ucap Milan dan detik itu juga Bella memberanikan diri berdiri lalu memutar tubuhnya. Bella mengangkat wajah dan tersenyum pada mammi Bulan
" Hallo tante selamat malam."
" Emmmh wanita secantik ini tidak mungkinkan hanya seorang teman?" tanya Bulan menyipitkan matanya pada Milan membuat pria itu kembali tertawa, tapi semua orang tak tahu bahwa tawa itu palsu nyatanya hati Milan kini sedang kacau karena Bella dan Delan
" Ah sudahlah Mam, berhenti menggoda Milan. Ini sudah malam." Delan tiba-tiba menggerutu dari arah belakang dengan wajah tak sukanya sambil melirik Bella yang menundukan wajah
" Baiklah .. baiklah ayo kita makan malam. Sayang ajaklah semua orang." perintah Bulan pada Pevita yang sedang menatap tajama penuh ketidaksukaan pada Bella
" Pev." tegur mami Bulan menyentuh pundak putri satu-satunya itu
" Iya Mam." sautnya lalu menuruti perintah sang ibu
Meja makan panjang yang bisa menampung 20 orang itu kini benar-benar penuh termasuk Milan dan Bella yang ikut makan malam keluarga Delan, wanita itu hanya menunduk menyembunyikan wajahnya dari tadi dengan satu tangan memegangi perutnya. Bella bahkan tak tahu kini Angela dan Jerome tengah memandangnya, Jerome menyenggol lengan Angela lalu menunjuk leher Bella dengan dagunya
" Emmmh Bella, kau suka perhiasan juga?" tanya Angela memecah keheningan. Bella yang sedang mengunyah makan malam itu langsung mengangkat wajahnya, ia mengangguk pelan menjawab pertanyaan Angela
" Milan, kau Ceo hebat, pasti kau menggaji Bella sangat tinggi bukan."
" Sepertinya itu satu set dengan cincinmu, Bella kau benar-benar pintar memilih perhiasan. Benar-benar tampak indah saat dipakai. Iyakan sayang?" tanya Angela menoleh pada Delan seraya menggenggam jemari diatas meja milik Delan
Delan tak menjawab, ia hanya datar menikmati makan malamnya, benar-benar pandai bersandiwara. Pikir Angela menatap wajah tenang tanpa rasa khawatir Delan
" Terima kasih." saut Bella lalu menyembunyikan tangan kirinya kebawah meja menghindar dari tatapan Angela dan Jerome yang terus memperhatikan cincin yang diberikan Delan padanya
" Emmmh Bella, kudengar red beryl seperti itu sangat langka .. iyakan Jer?" tanya Angela sembari menyenggol lengan Jerome. Pria itu memperhatikan kalung dengan liontin bentuk hati dileher Bella
" Emmmh ya hanya ada satu didunia .. " Jerome tak melanjutkan ucapannya membuat Bella kembali mengangkat wajah menatap keduanya bergantian dengan wajah memucat takut sangat berbeda dengan Delan yang tampak tenang tak terusik sedikitpun. Pria itu hanya melirik Jerome dengan tatapan tajam mengisyaratkan pada wanita setengah pria itu untuk diam
" Emmm ini hanya tiruan." saut Bella menyentuh liontin itu mencoba menutupinya dari Jerome
" Tapi itu benar-benar terlihat asli, aku tertarik dengan kalungmu dimana kau membelinya?" tanya Angela mendesak
" Angel sejak kapan kau menyukai barang kw?" tanya Jesy sang adik dengan tawa kecil
__ADS_1
" Lihatlah dengan teliti, kalung Bella benar-benar bagus." saut Angela pada Jesy, wanita itu berdecak kesal sejak kedatangan Bella Jesy sudah tak menyukai wanita itu, ia iri dengan kecantikan yang dimiliki Bella, tadi wanita itu menjadi pusat perhatian para pria disana termasuk sang kakak ipar
" Bella dimana kau membelinya?" desak Angela membuat Bella gugup sampai merema* jemarinya dibawah sana
" Aku- " Bella terbata
" Bella kalau kau membutuhkan uang, bilang padaku aku akan menampungya untuk koleksiku." Bella semakin tak nyaman dengan keadaan ini, tubuhnya sampai basah oleh keringat dingin
" Angel hentikan, kita sedang makan!" tegur Delan dengan suara tegasnya dan sejak kapan pria itu berani menegur Angela membuat Angela kian kesal karena Delan
" Kalau begitu carikan aku perhiasan yang seperti Bella punya!" saut Angela menggelayuti lengan Delan begitu manjanya. Delan tak menjawab, ia mengabaikan Angela lalu melanjutkan makan malamnya
" Bella, bagaimana kalau kutawar setengah T kalungmu itu?" Bella tersedak dengan ucapan Angela hingga Delan mengulurkan jemarinya mengambil air putih untuk Bella dan meletakan didepan wanita itu
" Hentikan, bukankah kamu sangat tidak sopan terhadap tamuku" Delan benar-benar marah kali ini, pria itu sampai memukul meja makan membuat semua orang heran
" Milan dan Bella bukan tamumu, aku yang mengundang mereka." Delan tak menjawab, tatapan itu mulai menajam pada Angela
" Kenapa kalian jadi mempermasalahkan hal yang tidak penting seperti ini." gerutu Jesy sambil melirik Bella yang menunduk takut dengan tatapan sinisnya
" Iya Angel, berhenti membicarakan perhiasan. Perhiasanmu sudah sangat banyak. Bagaimana kalau kamu membicarakan rencana kalian kedepan nanti." saut ibu Angela
" Rencana kedepan?" tanya Angela
" Ya rencana kalian untuk memiliki keturunan lagi, bagaimana kalau mengikuti program bayi tabung." saut ibu Angela yang bernama Rose membuat Angela tersenyum begitu lebar
Bella semakin tak tahan berada dimeja makan ini, tubuhnya terasa memanas, hatinya terbakar mendengar rencana itu sementara dirinya pun akan memiliki bayi bersama Delan. Baginya semua ini terasa menyiksa Bella, lihatlah tatapan-tatapan itu tampak merendahkan Bella. Bella merasa ketakutan, ia takut hubungannya dan Delan diketahui semua orang. Nafas Bella mulai naik turun, keringat dingin semakin membasahi pelipis dan lehernya. Bella meneguk ludahnya susah payah, ia merasa perutnya bergejolak dan kepalanya terasa berputar
Oek
Bella tak dapat menahan rasa mual itu
" Kau sangat tidak sopan. Menjijikan!" umpat Jesy sembari melempar sendok kepiring dengan kesal, tatapan itu tampak merendahkan Bella
" Maaf!" saut Bella, kedua matanya mulai berair. Dengan segera ia beranjak berdiri dan tiba- tiba ..
Bruk
Bella terjatuh kelantai tak sadarkan diri
__ADS_1
-
-