
Ting
Tong
Ting
Tong
Ting
Tong
Rentetan suara bell yang sudah berjalan selama 10 menit itu membuat Milan menoleh pada Pevita yang masih terengah, memejamkan mata karena ulahnya. Gadis yang baru saja menginjak usia 24 tahun itu baru saja mengalami puncak kenikmatan yang sungguh luar biasa, seperti percintaan-percintaan mereka sebelumnya, Pevita selalu membuat spreii basah dan kotor
" Puas?" Tanya Milan mengulurkan satu jemarinya untuk mengusap puncak kepala Pevita, hati Pevita terasa menghangat dengan belaian tangan itu. Ia membuka kedua mata, menoleh memberikan senyumannya pada Milan, bohong jika Pevita merasa tak puas dengan permainan hebat pria itu
" Aku lapar, tenagaku benar-benar habis." Rengeknya manja bergerak menghadap Milan, kedua mata Milan jelalatan pada buah dada Pevita yang sungguh sangat seksi. Milan bergerak mendekat mengecup bibir itu dengan lembut lalu beringus turun dari ranjang sembari menyambar satu persatu pakaiannya
" Pakailah baju!" Perintahnya pada Pevita setelah memakai baju kemudian berjalan menjauhi ranjang dan melewati sekat antara kamar dan ruang tamu. Milan membuka pintu dan membukanya
" Kalian sedang apa? Lama sekali." Gerutu David didepan pintu
" Kau yang mengganggu!" Balas Milan menggerutu membuka pintu selebar mungkin lalu melengos begitu saja masuk kedalam
David tertawa pelan bersama Lany, keduanya tentu tahu apa yang telah dilakukan Milan dan Pevita mengingat rambut pria itu begitu berantakan. David dan Lany masuk begitu saja dengan dua Papperbag berisi makanan untuk mereka, Milan dan Pevita
Sreeeeetttttttt
Milan membantu Pevita menaikan resleting gaunnya lagi hingga keatas lalu mengecup lembut tengkuk Pevita. Gadis itu tersenyum dengan perlakuan manis Milan lalu membalikan badan
" Siapa yang datang?" Tanya Pevita melingkarkan kedua tangannya dipinggang Milan. Milan menunjuk kearah belakang dengan dagu, bertepatan dengan kedatangan David dan Lany
" Lany." Panggil Pevita membulatkan kedua matanya
" Bagaimana bisa?"
" David kekasihku sekarang." Aku Lany sembari merangkul pinggang David
" Tadinya aku mengincarmu, tapi Milan terus saja memohon sambil menangis agar aku melepaskanmu!" Milan berdecih karena itu menbuat Pevita dan Lany tertawa
" Sungguh kamu menangis?" Tanya Pevita
" Jangan mempercayainya!" Saut Milan ketus
" Itu artinya kamu tidak menyukaiku!" Pevita melipat kedua tangannya didada dengan delikan sebalnya membuat Milan tersenyum
" Aku sangat menyukaimu sayang. Sudah, tidak usah hiraukan David, dia kan gila!!" Saut Milan lalu menarik Pevita melewati David dan Lany, gadis itu tersenyum menatapi keduanya yang tampak mesra, tapi karena itu pertemanan ia, Pevita dan Laura sedikit merenggang. Meski Lany akui, Lany lebih memihak pada Pevita
Setelah puas melihat kasur dan kamar yang berantakan, Lany dan David mengikuti Pevita dan Milan menuju ruang tamu. Dua orang itu sudah duduk dan membuka Papperbag yang dibawa Lany dan David. Pevita sangat lahap memakan sarapan pagi menuju siang harinya
" Milan, bisa-bisanya kau meniduri wanita tanpa memberinya makan dulu." Ledek David seraya mendudukan dirinya diikuti Lany duduk disampingnya. Milan menoleh karena ledekan itu
" Pevita yang sudah tidak tahan."
" Kenapa kamu berbohong, jelas-jelas kamu yang menyosor!" Gerutu Pevita membuat Lany dan David tertawa, Milan tersenyum lucu sambil mengusap lelehan keju disudut bibir Pevita
" Tapi kau juga menginginkannya." Saut Milan santai menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa. Pevita menepuk dada itu membuat Milan tertawa. Ia usap lagi puncak kepala itu dengan sayang
" Kalian stay berapa lama?" Tanya Lany yang digandeng David, pasangan yang juga baru merajut kasih itu tampak mesra
__ADS_1
" Mungkin lusa kita kembali." Pevita yang sedang lahap itu berhenti, menoleh pada Milan lagi
" Ayolah, hubungan jarak jauh tidak semenyiksa itu Pev." Pevita hanya diam, wajahnya terlihat sedih
" Aku akan lebih sering menghubungimu!" Namun gadis itu masih diam
" Lihat, Lany saja tidak protes." Gerutu Milan lalu bergerak duduk tegap, ia menggandeng bahu Pevita lalu mengambil satu porsi makanan untuk dirinya
" Tidak bisakah seminggu lagi atau dua minggu lagi." Gerutu Pevita
" Sayang, David harus bekerja!"
" Kalau begitu kamu saja sendiri!" Milan hanya diam sehingga keduanya saling menatap sambil mulut mereka mengunyak makanan. Padahal Pevita ingin sekali mengenalkan Eleanor secara pelan-pelan pada Milan, ia ingin tahu apa pria itu mengenali putrinya sendiri atau tidak
" Nanti saja kita bicarakan." Pevita menghela nafas lalu memalingkan wajahnya ke depan. Milan melirik David, sialnya pasangan itu malah bermesraan didepannya
" Pergilah ketempat lain." Gerutu Milan melempar bakwan jagung ke wajah David
" Apa aku boleh pinjam kamarmu?" Tanya David tanpa melihat yang diajak bicara, ia sibuk memeluk Lany
" Kupikir kau tidak semelarat itu untuk menyewa kamar hotel." Gerutu Milan membuat David menghela nafas
" Pelit sekali." Gerutu David menghempaskan tubuhnya pada kepala sofa beserta Lany dalam pelukannya
Milan mengalihkan pandangannya pada Pevita yang hanya diam menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa." Kau sudah kenyang?" tanya Milan. Pevita mendelik sebal membuat dahi Milan berkerut, ia tidak tahu apa kesalahannya
Milan mencoba menggandeng pundak itu tapi Pevita malah meronta." Pev."
" Bisakah panggilan kita sedikit lembut."
" Baik, akan kulakukan." Sautnya cepat. Pevita menoleh disambut rangkulan tangan Milan pada pundaknya. Milan mengecup pipi itu dengan begitu lembut membuat Pevita meluluh dan perlahan memeluknya. Mengikuti David dan Lany yang tak henti bermesraan
" Aku sudah mandi." Saut Pevita menengadah
" Memangnya nyaman? Tubuhmu penuh keringat." Balas Milan sembari mengusap pelipis Pevita yang berkeringat. Pevita tampak berpikir menatap Milan yang memberikan senyum nakalnya
Keduanya bangkit dari sofa meninggalkan Lany dan David. Tak ada Milan dan Pevita, keduanya malah semakin menjadi saja. Didekat ranjang, Milan menarik Pevita menuju kamar mandi, sejenak gadis itu berhenti melangkah membuat Milan heran." Ada apa?"
" Kita-"
" Mandi bersama." Potong Milan menggandeng Pevita, menggeret tubuh itu menuju kamar mandi. Pevita tidak tahu mandi yang dimaksud Milan mandi seperti apa
" Memangnya.-"
" Sssyyyyyyyttttt!"Milan menempelkan jari telunjuknya dibibir Pevita. Perlahan, kedua tangannya hinggap dibelakang pada resleting dress Pevita, menurunkannya kebawah hingga dress itu menjuntai kelantai kamar mandi
Spontan Pevita menyilangkan kedua tangannya didada membuat Milan tergelak kencang." Pev, kamu tidak sadar? Aku sudah melihat setiap seluk beluknya." Ucap Milan, Pevita tak mampu menjawab, kedua pipinya merona merah
" Ayolah sayang, buka!" Perintahnya sembari menarik paksa kedua tangan Pevita. Milan menatapi buah dada yang menggantung indah itu, mengulurkan kedua tangan untuk merremasnya
" Kenyal." Bisik Milan lalu meninggalkan Pevita keluar dari kamar mandi. Pria itu berjalan menuju lemari pendingin mengambil sebotol red wine lalu dua gelas. Sambil berjalan tatapan Milan tertuju pada David yang sedang mengurung Lany dibawah tubuhnya, keduanya bercumbu mesra disofa. Kali ini Milan akan membiarkan David bersenang-senang dengan dunianya
Milan kembali kekamar mandi dimana Pevita sedang mengisi bak mandi dan menuangkan sabun cair serta aroma therapi. Milan mereemas bokong bulat dan padat itu tiba-tiba membuat Pevita terkejut bukan main
Melihat itu Milan tertawa. Lalu membuka semua pakaiannya hingga polos membuat kedua pipi Pevita merona. Tubuh tegap dengan otot kekar begitu sempurna dimatanya. Milan membuka sebotol red wine dan menuangkan dimasing-masing gelas sampai terisi setengah
Kemudian menarik Pevita masuk kedalam bathup dan duduk berhadapan. Milan memberikan satu gelas pada Pevita." Aku tidak biasa minum."
" Kadar alkoholnya sangat rendah, ini tidak akan membuatmu mabuk." Saut Milan menatapi Pevita, dimatanya kecantikan itu begitu luar biasa, apalagi jika rambut Pevita diikat seperti sekarang, leher jenjangnya tampak menggeoda. Pevita memberanikan diri mengambil dari tangan Milan dan meneguknya hingga habis membuat Milan tertawa
__ADS_1
" Apanya yang lucu?" Gerutu Pevita
" Bukan begitu cara meminumnya!"
" Lalu?" Milan menyeringai nakal lalu memberi gelasnya pada Pevita dan mengambil gelas kosong, meletakannya disisi bathup
" Minum perlahan."
" Kamu tidak meminumnya?"
" Aku punya cara lain untuk meminumnya." Milan menatapi Pevita yang menurut saja perkataannya, gadis itu meminum perlahan hingga habis dalam gelas. Spontan Milan menarik tengkuk itu dan menyatukan bibirnya dan Pevita, Milan menyesap sisa cairan merah yang masih dalam mulut Pevita itu begitu kuat. Membuat Pevita terkejut, gelas ditangannya lepas begitu saja dan menggelinding pecah kelantai
Milan tak memperdulikan itu, ia lebih menikmati bibir Pevita yang manis bertambah manis karena wine. Cukup lama bibir itu saling berpagut, Milan melepaskan bibirnya dan tersenyum
" Lebih manis dengan caraku kan?" Godanya, Pevita menepuk pelan dada itu. Keduanya salimg tersenyum manis
" Kemarilah." Milan menarik tubuh itu duduk dipangkuannya. Spontan jemari Pevita menyentuh tato didada Milan
" Ini artinya apa?" Milan tersenyum
" Ini hanya sebuah lelucon."
" Meskipun begitu aku ingin tahu." Milan tersenyum nakal
" Bercinta denganku?"
" Mesum sekali." Milan terkekeh lucu sambil kedua jemarinya hinggap di buah dada Pevita yang tertutupi sabun
" Kamu merawatnya dengan baik." Bisik Milan menatapi gunung kembar
" Dulu, tak sebesar ini."
" Kak, aku serius." Milan mengangkat wajah dari buah dada Pevita
" Aku juga serius ingin bercinta lagi." Bisik Milan membelai pipi Pevita hingga sabun ditangannya mengenai pipi itu. Pevita hanya diam, ia seperti benda padat yang dipanaskan bila berhadapan dengan Milan. Tak bisa menolak setiap sentuhan nakal, bibir dan kedua tangannya
Kedua jemari Pevita menjambak rambut yang bahkan belum dirapihkan itu ketika Milan menyentak kejantanannya masuk kedalam miliknya." Bergeraklah sayang, kamu yang memimpin permainan ini." Bisik Milan nakal lalu mengecupi daun telinga itu
Seolah terhipnotis, Pevita mulai bergerak amatiran. Menggoyang tubuhnya diatas tubuh Milan. Bibir pria itu menganga cukup lebar dengan apa yang dilakukan Pevita." Uuuhhhmmm kak Milan." Dessahnya panjang
" Milikmu aaahhhhk." Milan tersenyum seraya meremmas bokong Pevita dengan kedua tangannta
" Kenapa?" Pevita menggigit bibir bawahnya
" Kamu puas Pev?" Pevita mengangguk malu lalu memeluk erat leher Milan. Gerakannya mulai berpacu dibantu kedua tangan Milan yang memegang bokongnya, membantu menaik turunkan tubuh itu
" Uuuuhh Pevita!"
" Kak, aku tidak tahan." Mendengar itu, Milan mengambil alih permainan, ia memangku Pevita keluar dari bathup menuju bawah guyuran air shower. Milan menekan tubuh Pevita pada dingding kaca dan langsung mempercepat gerakannya
Pevita mulai menjerit-jerit akan permainan hebat itu. Kedua jemarinya mulai tak diam mencari pelampiasan rasa nikmatnya, kedua tangan kekar Milan jadi sasaran kuku-kuku lentiknya, Pevita mencengkram kuat lengan-lengan itu ketika hujaman itu kian kuat dan dalam
Hingga tibalah mereka dipuncak kenikmatan. Kewanitaan itu kembali basah dengan kecebong-kecebong Milan. Keduanya langsung lemas dan saling memeluk
" Aku ingin kamu menikahi kak." Ucap Pevita membuat tubuh Milan membeku
-
-
__ADS_1