Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Berpisah


__ADS_3

Semakin waktu bertambah semakin membuat hati Pevita semakin gelisah. Ia dan Milan akan benar-benar berpisah jarak dan waktu, entah kapan mereka bertemu, entah kapan Milan menemuinya lagi. Atau mereka hanya sekedar bersenang-senang disini saja


Pevita memeluk erat tubuh Milan. Kini keduanya sedang menonton acara televisi kartun yang Pevita pikir sangat membosankan, itu biasa dilihat putrinya jadi bagaimana bisa Milan juga menyukai kartun tersebut


" Apa sebenarnya yang menarik." Gerutu Pevita


" Kau tahu Pev, kartun ini sudah ada sejak aku masih kecil." Pevita tersenyum manis


" Kau mirip seseorang." Ujarnya. Milan mengalihkan pandangannya


" Siapa?" Tanya Milan


" Rahasia!"


" Dia pacarmu!" Pevita menepuk kencang dada Milan


" Kau pacarku, kau pikir ada pria lain." Milan mengulum senyumnya


" Lagipula kenapa main rahasia-rahasiaan?" Gerutu Milan


" Suatu saat kau akan tahu." Milan hanya menggelengkan kepala lalu melihat lagi kartun ditelevisi. Melihat Milan yang tertawa-tawa, Pevita segera mengecup pipi itu lalu Milan membalas dengan kecupan pada bibirnya


Setelah kartun itu selesai. Keduanya memutuskan keluar dari kamar setelah seharian menggulung diri dikamar tersebut. Keduanya keluar dengan Milan yang menggandeng pinggang Pevita, keduanya tampak mesra bahkan sesekali jemari Milan nakal mengelus bokong Pevita yang seksinya luar biasa, bergetar hebat ketika Milan menggoyang tubuhnya


Keduanya melewati begitu saja David, Axel dan ketiga gadis disana. Membuat Axel dan David saling melirik, wajah mereka mulai khawatir. Milan mmebawa Pevita kesisi ke pagar kapal, menikmati hembusan angin yang menerbangkan rambut panjangnya. Tampilan Pevita sangat seksi, gadis itu bahkan hanya memakai boxer hitam Milan yang tertutupi kemeja putihnya. Milan berdiri dibelakang tubuh itu mendekapnya dari belakang


" Mataharinya sangat indah." Puji Pevita


" Kau juga sangat indah, apalagi diatas ranjang." Ledek Milan membuat Pevita menoleh dan mencium gemas bibirnya hingga bersuara


Keduanya membuat Axel dan David merasa kalah dalam permainan ini


" Pev, kau tahu apa yang paling aku sukai darimu?"


" Apa wajahku?" Milan tersenyum menggelengkan kepalanya


" Lalu apa?" Rengek Pevita manja


" Saat kau orgas*e, kau suka mengompol." Pevita mencubit pinggang itu sekuat tenaga


" Itu bukan!" Pevita benar-benar geram dengan ucapan vulgar itu


" Aku tahu, aku hanya bercanda." Saut Milan, Pevita memalingkan wajahnya lagi tapi bibirnya tersenyum


" Kau sangat menikmatinya?" Pevita malu harus menjawab apa


" Pev, kau suka bercinta denganku?"


" Aku tidak pernah bercinta, jadi aku tidak tahu rasanya bercinta dengan pria lain." Milan termenung dengan jawaban itu, apa ia rela gadis sebaik dan secantik ini jadi milik orang lain?


Tak ada suara dari Milan, Pevita menoleh kebelakang." Bagaimana denganmu?" Tanya Pevita


" Aku suka, karena sangat sempit." Pevita mendengus kecil membuat Milan tertawa. Pevita tak menyangka pria sopan dan pendiam yang dulu sering main kerumahnya bersama sang kakak itu ternyata sangat mesum dalam ucapannya


Milan mendekapkan pelukannya. Ketika itu Lany memanggil membuat keduanya menoleh kebelakang. Gadis itu langsung menghampiri Pevita." Pev, sejak semalam ponselmu terus berbunyi." Pevita melihat panggiln tak terjawab pada ponselnya begitu banyak


Pevita tampak panik, ia langsung mengambil ponselnya. " Tunggu sebentar." Ucapnya pada Milan lalu pergi mencari tempat sepi


Pevita langsung menghubungi sang Mammi dengan wajah khawatir. Seketika panggilan video itu terjawab." Sayang kamu kemana saja, Mammi sangat khawatir."

__ADS_1


" I'm sorry aku sibuk sendiri."


" Eleanor demam, dia terus menanyakanmu!" Pevita semakin khawatir


" Mana dia Mam?" tanya Pevita. Mammi Bulan langsung memberikan ponselnya pada si bocil Eleanor


" Mommy, mommy!" Rengeknya membuat kedua mata Pevita berkaca-kaca


" I'm sorry baby." jawab Pevita. Lucunya balita itu menyentuh keningnya sendiri


" Sayang kepalanya pusing?" Tanya Pevita


" I'm sick." Sautnya lucu, Pevita tersenyum, airmatanya tak terasa menetes begitu saja


" Oke, Mommy secepatnya pulang hmm?"


" cekarang, Elea mau Mommy cekarang."


" Mommy akan pulang dengan banyak coklat hmm?" Eleanor mengangguk pelan dalam layar ponsel itu


" Ya Tuhan, gadis pintar." Ucap Pevita dengan senyum manisnya


" Kiss Mommy." Eleanor mengerucutkan bibirnya yang Pevita balas dengan kerucutan bibir. Pevita ingin sekali menangis bila melihat kelucuan Eleanor


" Bye Bye Mommy."


" Bye sayang. Jangan menangis hmm?"


Panggilan video itu berakhir. Tubuh Pevita terkejut luar biasa ketika kedua tangan memeluknya dari belakang." Siapa? Daddymu?" Tanya Milan ditelinga Pevita


" Mammi." Saut Pevita sambil menatapi ponselnya ia hendak mematikan ponsel itu


" Apa dia putri Delan." Pevita tak menjawab tak juga mengiyakan. Milan mencium pipi itu


" Cantik sekali." Pujinya pada Eleanor. Pevita hanya bisa menggigit bibir bawahnya, ketika Milan mengambil alih ponselnya. Pria itu menatapi walpapper ponsel Pevita yang bergambar Eleanor yang sedang memeluk lehernya, balita itu menyengir hingga kedua matanya menyipit


" Pev." Pevita menoleh pada Milan yang serius menatap foto Eleanor. Milan tersenyum lalu memberikan lagi ponsel itu ketangan Pevita, Milan merasakan debaran dijantungnya ketika melihat foto balita tersebut


" Dia bernama Eleanor."


" Siapa yang memberinya nama?"


" Daddy." Saut Pevita yang saat itu bahkan tak mau melihat Eleanor


" Jika sudah besar, Delan akan kesusahan. Dia pasti banyak dikejar pria." Saut Milan, Pevita ingin sekali menangis mendengarnya, ia ingin sekali berteriak bahwa Eleanor adalah putrinya bukan putri Delan. Namun selama ini balita itu diakui semua orang sebagai putri Delan


" Bagaimana denganmu? Kau ingin memiliki seorang anak?" Raut wajah Milan mendadak berubah dingin, dalam benaknya keinginan untuk menikah sudah tak ada, hidup Milan sudah hancur sejak lama


" Mungkin suatu saat nanti." Pevita menoleh lagi, bibirnya langsung disambut Milan. Milan tak ingin membahas hal itu, ia mencoba mengecoh Pevita


Ciuman itu rupanya bukan ciuman biasa. Ciuman penuh naffsu dan tuntutan, Pevita sampai kewalahan membalas Milan. Pria itu mendorong Pevita masuk kedalam ruang kendali kapal. Disana sangat sepi sehingga mereka leluansa bermesraan. Bibir keduanya saling bertaut begitu dalam menciptakan suara erotis diruang sepi tersebut


Melepaskan bibir itu, bibir Milan mendarat dileher Pevita." Euuhmm kak."


"Aaahhh Pevita." Balas Milan tampak sangat menikmati leher jenjang Pevita. Milan memangku tubuh itu duduk diatas meja kosong disana. Sementara ia berlutut dibawah, Milan menarik celana boxer itu namun ditahan Pevita, gadis itu menggelengkan kepala


Milan mengabaikan itu, ia sedikit menarik paksa celana itu hingga kebawah. Secepat kilat ia menyusupkan wajahnya di kewanitaan Pevita, Pevita tak bisa menolak lagi, kepalanya mulai menengadah keatas, bibirnya mulai mendessah hebat, Pevita selalu tak tahan mendengar suara lidah dan bibir Milan yang sedang memainkan area sensitifnya


" Oouuhh kak Milan." dessahnya panjang dengan tubuh bergetar hebat. Milan tak menyia-nyiakan waktu, ia menurunkan resleting celananya lalu menarik Pevita turun dari atas meja. Milan membakikan tubuh itu menbelakanginya, menyingkap kemeja itu keatas dan menghentakan adiknya hingga tenggelam menyatu bersama Pevita, gadis itu menjerit panjang

__ADS_1


" Pelankan suaramu sayang." Bisik Milan mendekati meraih satu persatu kancing kemejanya yang dipakai Pevita sambil menggerakan pinggulnya secara cepat hingga Pevita harus menutup mulutnya dengan telapak tangan


Milan melempar pelan kemeja putih itu kebawah, kini Pevita tanpa sehelai benangpun. Buah dadanya yang berguncang ditangkup Milan, ia remas-remmas pelan." Ooohhh uhhhhhm, nikmat sekali." Racau Pevita, ia baru mengerti dirinya sekarang, ternyata ia seliar itu jika berhubungan ****


Semakin memancing naffsu Milan, pria itu mulai memakai kekuatan penuh. Milan jadi tergesa-gesa, apalagi waktu mereka hanya tinggal sepuluh menit lagi sampai kapal mendarat dipelabuhan Moskow


" Pevita." Panggil Milan lalu melepaskan dirinya, Milan membalikan badan lalu memangku Pevita dan menyatukan kembali tubuh mereka. Pevita pasrah, sepanjang permainan mencoba menahan suaranya. Posisi berdiri ini kian membuat kejantanan Milan menancap sempurna dikewanitaannya. Pevita salut dengan kekuatan Milan, tubuh Pevita seakan ringan dikedua tangan pria itu


Milan meraup buah dada itu bergantian lalu menurunkan Pevita. Pria itu mendorong Pevita menuju dingding, menghimpit tubuhnya, menaikan satu kaki Pevita keatas kakinya dan akhirnya menyatu lagi. Milan menarik tangan Pevita lalu meraup bibirnya, ia bergerak cepat lagi


Ah


Ah


Ah


Ah


Suara Milan mulai mengencang, waktu mereka sudah habis dan keduanya mulai terlambat satu menit." Aahhh kak." Pevita mulai tak bisa menahan jeritannya lagi, kedua tangan itu melingkar erat dipunggung Milan


" Keluarkan Pevitaaahhhhhh." Milan semakin berpacu dalam menghujam kewanitaan itu


Detik berikutnya kedua tubuh itu mencapai puncak kenikmatan bersama. Milan menyusupkan wajahnya dileher Pevita begitupun Pevita. Nafas keduanya saling bersaut untuk beberapa saat


" Kau sudah terlambat." Bisik Milan melepaskan dirinya namun Pevita hanya diam, ia menatapi tetesan spermma pria itu dari kewanitaannya keubin kapal


Milan membantu Pevita memakai pakaiannya lagi sampai kembali kesemula. Lalu menarik Pevita, keduanya berlari menuju kamar yang ditempati Pevita mengambil koper gadis itu. Sejenak Pevita menambah celananya dengan celana hotspant jeans


" Kau merasa nyaman?" Tanya Milan, Pevita hanya mengangguk tak banyak bicara


Milan menarik koper hitam itu, tangannya yang lain juga menuntun Pevita. Keduanya menuju depan kapal dimana teman-teman Pevita sudah berada dengan wajah tampak kusut, cukup lama menunggu Pevita


Pevita melepaskan tautan jemari itu, ia memeluk Milan dengan erat yang langsung disambut Milan juga dengan pelukannya


" Hubungi aku, temui aku." Bisik Pevita


" Aku akan menghubungimu." Saut Milan mengurai pelukannya, ia merasa kasihan melihat wajah sedih Pevita, gadis itu benar-benar masuk dalam permainan Axel, dirinya dan David. Pevita terlalu polos. Pevita mengambil ponsel Milan disaku celana pria itu lalu menyimpan nomernya disana


" I love you Milan." Bisiknya. Milan tertegun lalu menunduk untuk mencium bibir Pevita. Semua orang tampak jengah melihat keduanya


Milan memagut bibir itu begitu lembut lalu melepaskannya." Pergilah." Bisik Milan. Kedua mata Pevita berkaca-kaca, rasanya enggan melepaskan Milan, ia takut pria itu tak menemuinya lagi


Mau tak mau Pevita memutar tubuhnya. Kedua mata itu mulai menitikan airmatan. Dalam satu langkah tubuhnya dan Milan berpisah jarak, Pevita mulai naik kedaratan dan kapal mulai kembali bergerak. Pevita membalikan tubuh, menatapi Milan, berharap ini bukan terakhir kalinya mereka bertemu. Pevita mulai menangis membuat hati Milan bergetar hebat, ia mulai menyadari semuanya, rasa sakit ketika melihat sang wanita menangis


" Pevita, aku akan menghubungimu!" Teriak Milan


" Sayang, aku akan menemuimu!" Teriak Milan lagi, kali ini pria itu mendapat toyoran kedua tangan dikepalanya. Milan kesal lalu balas meninju keduanya bergantian, ketiganya malah saling membalas tinju membuat Pevita tertawa ditengah tangisannya


Milan melambaikan tangannya pada Pevita." I love you." Teriaknya membuat Pevita semakin menangis


" Jangan menangis, i love you Pevita!" Teriak Milan lagi


" Hentikan, kau sangat menjijikan." Ledek David menoyor lagi kepala itu dari belakang


" Brengsek." Gerutu Milan mengejar David dan Axel, ketiganya hilang dari pandangan Pevita, Pevita tersenyum, hatinya sedikit tenang mendengar perkataan Milan


-


-

__ADS_1


__ADS_2