
Setelah menidurkan Eleanor dikamarnya. Pevita memindahkan balita itu menuju box bayi yang tak jauh dari kasurnya. Malam ini kesempatan Pevita untuk bicara pada kedua orangtuanya, mengenai liburan perpisahannya bersama Laura dan Lany. Masing-masing dari mereka akan menjalani kehidupan baru dan tak akan sering bertemu seperti biasanya
Pevita menuruni tangga menuju lantai satu. Kebetulan semua orang sedang berkumpul di ruang tamu, saling bercengkrama. Pevita memberanikan diri duduk disamping sang ayah yang senantiasa memperlakukannya layaknya bocah kecil
" Dad." Tatapan Daddy Dean menghangat pada Pevita, gadis itu tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan semakin menawan. Banyak yang menginginkan sang putri dan Daddy Dean berniat menjodohkan putrinya dengan anak dari rekan kerjanya dulu, seorang dokter muda sebuah rumah sakit universitas terkenal
" Daddy, aku ingin bicara serius."
" Kenapa? Kamu menemukan pria yang tepat?" Paman Bryan yang sedang main catur bersama Delan menyaut membuat Delan menoleh pada Pevita
" Tidak bukan itu, Paman sok tahu sekali." Pevita malah menggerutu
" Tidak apa-apa Pev, kamu sudah dewasa. Sudah sepantasnya kamu mengenalkan seseorang yang kamu suka pada kami."
" Bukan, bukan itu Paman."
" Kenapa?" Kini Daddy Dean bertanya sembari mengusap pundak Pevita, dua tahun lalu ia sangat terpukul ketika melihat putrinya bagai orang sekarat saat melahirkan Eleanor, sekarang Pevita lebih baik. Semuanya kembali kesemula, malahan untuk tubuh dan wajah semakin sempurna
" Teman-temanku mengajakku pergi liburan."
" Liburan? Kemana?" Delan menyaut sambil menoleh lagi pada Pevita
" Itu kak, liburan perpisahan. Kami memesan tiket berlibur dikapal Pesiar." Jawab Pevita pelan
" Memangnya kami memberi ijin? Kenapa sembarangan membeli tiket? Bukankah itu sangat mahal?" Tanya Delan membuat Pevita membungkam, ia menundukan pandangannya
" Sudahlah, ijinkan saja. Pevita sudah besar. Sudah saatnya dia mengenali dunia luar. Berhenti Posesif seperti ini, adikmu juga butuh kesenangan. Bukan hanya menurutimu dan Kak Dean." Gerutu Paman Bryan tampak kesal membela Pevita. Pevita hanya menggigit bibir bawahnya
" Iya sayang, biarkan Pevita represing, dia juga butuh hiburan."
" Setiap bulan kita liburan, apa belum cukup?" Timpal Delan membuat Bella menghela nafas. Ia tahu Delan begitu karena sangat menyayangi Pevita, tak mau gadis itu kembali seperti dulu. Pevita memiliki paras yang sangat cantik, tubuh menarik yang bisa membuat para pria akan berlari mengejarnya. Makanya keluarganya sangat ketat pada Pevita
" Bisa menjaga diri?" Pevita mengangkat wajahnya menatapi sang Daddy, ia mengangguk pelan
" Ada Lany dan Laura"
" Pria juga?" Tanya Delan, Pevita menggelengkan kepalanya
" Berapa hari?"
" 7 hari." Saut Pevita pelan
__ADS_1
" Yang benar saja Pev!" Delan mulai kesal
" Aku mohon, ini terakhir kalinya." Wajah Pevita memelas pada semua orang
" Dengan satu syarat."
" Syarat?" Tanya Pevita
" Setelah pulang dari sana, Daddy akan mengenalkanmu pada seseorang. Dia berasal dari keluarga yang baik. Dia seorang dokter-"
" Maksud Daddy?"
" Daddy hanya ingin yang terbaik untukmu sayang." Saut Daddy Dean menyentuh pundak Pevita. Pevita mematung beberapa saat
" Kamu mau kan? Daddy yakin kamu akan menyukainya." Tambah Daddy Dean dengan senyuman hangat
" Daddy mengijinkanku pergi?"
" Of course, selama kamu bisa menjaga diri."
" Dad?" Delan tampak tak setuju, Daddy Dean mengabaikan Delan
" Terima kasih Dad." Saut Pevita lalu memeluk Daddy Dean, gadis itu tampak senang membuat Delan tak banyak bicara lagi. Pria keras kepala itu akhirnya mengalah, perkataan sang Daddy yang tegas tak bisa ia bantah
" Dad, siapa yang akan Daddy kenalkan pada Pevita."
" Anak Tuan Malik."
" Dokter Kenzi?" Daddy Dean tersenyum dan mengangguk
" Tuan Malik bilang, Kenzi terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak ada waktu untuk kencan. Daddy sudah membuat rencana makan malam bersama mereka nanti."
" Tidak semudah itu Dad, memangnya Daddy sangat mengenal Kenzi?"
" Dia pria yang baik, selain itu dia sudah dewasa. Dia tidak akan mau main-main, dia mencari wanita untuk dia nikahi."
" Memangnya dia sudah tahu dengan keadaan Pevita, keberadaan Eleanor?"
" Tentu saja, Daddy sudah menceritakan semuanya. Kita hanya tinggal menunggu Pevita."
" Aku tetap tidak setuju."
__ADS_1
" Mau sampai kapan kau sekeras ini pada Pevita?" Paman Bryan mulai geram dengan keras kepala keponakannya
" Kita harus mengenalnya dulu, menyelidiki semuanya."
" Delan, Pevita butuh sosok pendamping, Eleanor juga butuh ayah. Jangan egois karena rasa takutmu itu." Gerutu Paman Bryan
" Aku hanya tidak mau adikku disia-siakan, adikku sangat berharga." Saut Delan, semuanya hanya menghela nafas karena Delan
-
Milan baru saja tiba di Kanada. Pria itu disambut beberapa sanak saudara dan keluarga besarnya. Tidak ada yang tahu apa yang dialami Milan, yang mereka tahu Milan menetap di Indonesia untuk waktu yang lama, sampai kepulangannya disambut cukup meriah
Milan sebenarnya memiliki keluarga yang cukup berada dan berkuasa di Kanada. Semua propesi keluarga cukup tinggi, mulai dari seorang dokter, dosen hingga seorang politikus. Hanya Milan dan ibunya saja yang mengembangkan kemampuan mereka dalam bidang bisnis
" Kukira kau benar-benar melupakan Kanada." Cerca seorang pria yang seumuran dengannya. Milan hanya tersenyum, semenjak sang ayah meninggal Milan merasa enggan untuk pulang. Ia selalu mengingat kenangan manisnya bersama sang ayah
" Brother." Seorang yang sebaya lainnya juga menyapa Milan, sambil memeluk tubuhnya
" Bagaimana kabarmu Axel?" Tanya Milan
" I'm Fine." sautnya mengurai pelukan, ia terkekeh lucu melihat wajah babak belur Milan
" Apa yang sebenarnya kau lakukan di Jakarta?"
" Hey, aku seorang pria, tidak mungkin punya wajah mulus seperti seorang gadis." Balas Milan membuat Axel dan David tertawa
" Kau pasti berebutan gadis disana kan? Kudengar gadis-gadis disana sangat cantik." Ledek Axel
" Nothing." Saut Milan
" Tapi kenapa kau betah sekali di Jakarta." Gerutu Axel, kali ini Milan membungkam. Ia menggandeng sang sepupu masuk kedalam menyapa keluarganya yang lain
Mammi Diana tersenyum menatapi putranya yang sedang bercengkrama bersama para sepupu yang memiliki usia yang sama dengannya. Ini awal yang baik untuk putranya, setelah tujuh tahun pria itu menetap diJakarta dan tak pernah pulang kekota kelahirannya
" Bukankah ini awal yang baik?" Tanya Mammi Diana pada Ethnes, sang suami yang hanya acuh
" Ya, mungkin. Semoga saja putramu tidak membuat masalah lagi.." Sautnya, Mammi Diana memaksakan senyumnya. Hati Mammi Diana cukup sakit dengan penuturan sang suami, sejak dulu pria itu dan putranya tidak akur. Mungkin itu salah satu alasan Milan tak pernah mau pulang. Pria itu lebih memilih hidup sendiri ketimbang hidup bersamanya dan Ethnes
" Milan, maafkan Mammi, Mammi salah." Gumamnya menatapi sang putra
-
__ADS_1
-