Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Memanfaatkan waktu


__ADS_3

Pevita berbalik telungkup disamping memyangga dagunya dengan tangan, ia sudah bangun sejak pagi buta. Pevita menatapi Milan yang masih tertidur pulas, saat tidur wajahnya terlihat semakin mirip Eleanor. Bibir Pevita tersenyum, satu jari telunjuknya terulur menyentuh alis tebal Milan


" Bangun, kau menghabiskan waktu kita dengan tidur." Ucap Pevita. Tubuh Milan menggeliyat pelan, bibirnya tersenyum mendengar suara Pevita. Pikirannya percintaan semalam hanya sekedar mimpi indah tapi ternyata semua itu nyata


Melihat sang pria tersenyum, Pevita jadi ikut tersenyum. Lalu mengusap pipi kanan Milan, seketika kedua mata yang selalu terasa menusuk ke jantung Pevita itu terbuka, juga tangannya secepat menarik leher Pevita untuk mengecup bibir merahnya


" Morning." Ucap Milan, Bibir Pevita tersenyum begitu manis


" Biarkan aku menciummu." Bisik Milan namun Pevita menggelengkan kepalanya


" Aku belum mandi."


" Bukan masalah." saut Milan hendak menarik leher itu lagi namun Pevita menahannya


" Aku belum gosok gigi." Milan tertawa pelan, ia menggelengkan kepala


" Aku tetap menyukainya."


" Tidak mau!" Namun kali ini Milan tak mendengarkan Pevita, ia menarik leher itu dan meraup bibir Pevita, melummatnya habis bahkan memasukan lidahnya kemulut Pevita, mencoba membelit lidah yang masih kaku itu. Pevita hanya diam, ia belum tahu seberapa lihai Milan dalam berciuman


Tangan Milan yang dileher itu mulai turun kepinggang, lebih menekan lagi ketubuhnya. Tanpa melepaskan ciumannya, Milan membalik tubuh itu sehingga Pevita berada dibawahnya. Bermenit-menit berlalu, pria itu masih asyik mencumbbui bibir Pevita, seolah tak pernah merasa puas


Cup


Milan melepaskan ciuman itu hingga bersuara. Ia tersenyum lucu melihat Pevita yang terengah. Milan mengusap bibir itu dengan ibu jarinya lalu tidur didada Pevita, pipi kanan pria itu tepat ditengah belah dada Pevita


" Setelah kapal ini tiba di Moskow lagi, jangan lupa hubungi aku." Milan terdiam sejenak, alasan ia memacari Pevita hanya untuk melindungi gadis itu, ia tidak pernah memikirkan kedepannya nanti. Bukankah ia sangat brengsek? Mengambil hati seorang wanita secepat itu


Jemari Pevita terulur membelai rambut Milan." Sesekali aku akan ke Jakarta." Seketika Milan mengangkat wajah sehingga kedua pasang matanya bersitatap dengan Pevita


" Aku sudah pindah ke Kanada."


" Bukan-"


" Aku menjual semuanya, dan pindah ke kota kelahiranku. Ottawa!" Jawab Milan, Pevita tampak termenung, raut wajahnya berubah membuat Milan merasa kasihan


" Aku yang akan menemuimu!" Milan mencoba menghibur, lihatlah bibir itu kembali tersenyum membuat Milan kembali meletakan pipinya di belahan dada Pevita

__ADS_1


Mulai nakalnya jemari Milan pada puncak dada yang merah mudah membuat tubuh Pevita menggeliyat geli. Milan mentertawakan itu, lalu mencium buah dada Pevita


" Tidak kak!" Ucap Pevita menatap kebawah, Milan menengadah dan malah tersenyum


" Nanti sore kita berpisah, ketika di Paris kau rindu bercinta denganku bagaimana?" Pevita sebenarnya tak bisa menolak, hanya saja ia terlalu takut, bila sering sperrma itu menyembur dirahimnya


" Aku akan mengeluarkannya diluar " Bisik Milan seakan tahu apa yang Pevita pikirkan


" Setidak mau itu kau punya bayi dariku." Bisik Milan lalu meraup buah dada Pevita, menghisap untuk meninggalkan jejaknya, Pevita hanya diam memperhatikam dengan bibir sedikit menganga


" Bukan, bukan seperti itu!" Saut Pevita, Milan mengangkat wajah, bangkit mensejajarkan dengan wajah Pevita. Milan menggigit pelan dagu itu kemudian turun keleher, menciummi setiap incinya dan berakhir ditelinga


Sambil satu tangannya membuka kaki Pevita, Tubuh Milan masuk diantara kedua kaki itu sehingga adiknya yang sudah menegang Pevita rasakan di kulit kewanitaannya." Pevita." Panggilnya. Pevita mengulurkan kedua tangannya membelit leher Milan


" Sempit, aku selalu susah untuk masuk." Bisik Milan membuat Pevita tersenyum


Wajah Pevita menengadah keatas ketika Milan mulai berusaha untuk menyatu pagi ini." Ooohhhh." Dessah Milan ketika sudah masuk setengah


Krukkk


Kruuuukk


Niat akan menenggelamkan sang adik dalam kehangatan pagi ini terhenti ketika mendengar suara cacing diperut sang kekasih. Milan mengangkat wajah menatapi Pevita, Milan mengecup pipi itu." Kau lapar?" Malu-malu Pevita menganggukan kepala membuat Milan beringus bangun. Nafssu Milan hilang mendadak, ia merasa tak tega bila menyetubuhi gadis yang sedang kelaparan


" Mandilah, setelah itu kita sarapan." Pevita ikut bangun mendengar perkataan itu, ia melilit tubuhnya dengan selimut yang ketika itu juga ditarik Milan


" Bagian mana lagi yang mau ditutupi?" Gerutunya


" Ayo cepat, sebelum aku berubah pikiran." Meskipun malu namun Pevita memberanikan diri turun dari ranjang tanpa sehelai benangpun


Membuat Milan langsung memejamkan kedua mata, menghempaskan tubuhnya kekasur. Milan melirik adiknya yang masih tegang, Milan merasa heran, kenapa saat bersama Sabina burung itu tak bangun meskipun telah digoda berbagai cara. Namun dengan Pevita ia tak perlu digoda, hanya berduaan saja adiknya sudah menegang sempurna


Kemudian Milan meraih ponselnya yang berada diatas meja. Ia memesan makanan dua porsi untuknya dan Pevita. Lalu Milan turun dari kasur meraih handuk yang tergeletak didekat sofa dan berjalan menuju lemari pakaian, mengambil satu stel pakaiannya. Milan keluar dari kamar menuju kamar Axel dengan hanya memakai handuk, ia akan menumpang mandi disana


" Orang gila mana?" Ledek Axel ketika membuka pintu dan mendapati Milan yang hanya memakai handuk, rambut pria itu sangat acak-acakan layaknya apa yang Axel bicarakan


Milan tak menjawab, ia menabrak tubuh Axel untuk masuk kedalam." Pevita resmi menjadi kekasihku, jangan mengganggunya lagi." Tegur Milan sambil berjalan menuju kamar mandi

__ADS_1


Axel tertawa mendengar itu." Kau mengada-ngada, mana buktinya?" Milan menyeringai lalu berbalik, ia menunjuk pundaknya yang terdapat cakaran Pevita


" Semalam aku bercinta dengannya lagi, dalam keadaan sadar!" Saut Milan


" Kau pikir aku akan percaya, bisa saja Sabina." Milan menggelengkan kepala


" Terserah kau saja!" Saut Milan


" Lagipula aku sudah memiliki hati gadis itu, dia tidak akan mau padamu." Gumam Milan dalam hati lalu menuju kamar mandi


Dikamar Milan, Pevita baru saja selesai mandi. Ia memakai kemeja putih Milan yang kebesaran ditubuhnya. Pevita tersenyum melihat dirinya dicermin, sambil menyisir rambutnya yang basah. Jantungnya kembali dag dig dug bila ingat semalam, begitu hebatnya sang pria diatas ranjang


Dan lamunan itu buyar dengan kehadiran Milan, pria itu baru saja masuk dengan pakaian utuh. Kaos putih dan celana pendek, Milan senang sekali memakai celana pendek. Milan langsung mendekati Pevita, memeluk tubuh itu dari belakang, dalam pikirnya mungkin saja ia dan Pevita tak akan bertemu lagi. Milan mencoba memanfaatkan waktu yang singkat ini


" Ayo kita makan." Bisik Milan menarik tubuh itu mendekati sofa dimana ada troli makanan sudah tersedia disana. Pevita duduk disofa tempat ia dan Milan melakukan pemanasan semalam. Milan menyalakan televisi sehingga suasana hening itu sedikit tercemari suara tv


Keduanya makan dalam diam dengan saling menatap, sesekali bibir keduanya saling tersenyum. Pevita memikirkan Eleanor, ia ingin sekali memberitahu Milan bahwa mereka sudah punya seorang putri yang sangat lucu, yang selalu mendambakan kehadiran sang Daddy. Meskipun ada Delan yang selalu memperhatikan Eleanor, tapi sejujurnya putrinya masih belum cukup. Jika malam Eleanor selalu bertanya kenapa mereka tak pernah tidur bersama Daddy, mengingat itu rasanya dada Pevita sesak


Tapi disatu sisi, Pevita tidak tahu seserius apa Milan padanya. Pevita takut pria itu hanya main-main dan hanya memanfaatkan tubuhnya saja. Bodohnya Pevita terjerat begitu saja


" Emmmm Kak!" Milan tersenyum, dengan tangan lain ia membelai pipi Pevita


" Seandainya aku hamil." Milan terbahak kencang


" Pev, kita hanya sekali melakukannya semalam. Jangan terlalu khawatir."


" Maksudku, jika aku hamil, bagaimana denganmu?" Milan meletakan sendok makan dipiringnya ia bergerak menghadap Pevita


" Bagaimana dengan orantuamu? Apa mereka akan mengijinkanku?"


" Bukankah kau harusnya berjuang keras." Milan tertawa lagi


" Kau pikir ini peperangan?" Pevita nampak kecewa membuat Milan langsung menangkup wajahnya


" Kau tidak akan hamil, aku pastikan itu. Aku tidak sehebat itu!" Bisik Milan lalu mengecup bibir Pevita, gadis itu hanya diam mematung. Tidak tahu saja pria itu, dulu sekali sembur Eleanor jadi diperut Pevita


-

__ADS_1


-


__ADS_2