
" Apa yang sebenarnya kucari dalam hidup ini." Gumam Milan dengan tatapan nanar ke sembarang arah
Brug
Brug
Brug
Darah segar kembali mengucur dari mulut dan hidungnya. Milan seolah sudah kebal, pria itu tampak tak merasakan sakit lagi. Meringispun tidak membuat para tahanan yang senang sekali mengeroyoknya merasa heran
Tiga tahun sudah, pria itu hidup dibalik jeruji besi. Selama tiga tahun pula Milan sering bolak-balik ke rumah sakit akibat pengeroyokan yang dilakukan teman satu selnya. Milan tak pernah mau menurut, pria itu selalu menantang kematian hingga tak merasa takut bila dihajar habis-habisan, patah tulang, gegar otak, cedera tulang belakang sudah ia alami akibat penindasan dalam sel tahanan tersebut
Sejak hakim memutuskan ia bersalah. Milan sudah menyerah menjalani hidupnya. Ia merasa tak sayang jika mati dalam sel tahanan. Penindasan kali ini mungkin menjadi penindasan terakhir untuk Milan, karena sore nanti ia akan dibebaskan tanpa syarat. Selain kurangnya bukti karena tak ada saksi, denda yang banyak membuat masa tahanan Milan dikurangi
" Aku selalu merasa heran, kenapa dia tidak pernah mau berusaha melawan."
" Itu karena dia hanya seorang pembual. Keberaniannya hanya dimulut saja."
" Dasar pemerkosa!!" Milan menulikan telinga dari hinaan-hinaan itu, ia sudah biasa mendapatkannya. Milan hanya diam, menatap nanar jemarinya yang bergetar dan sedang mengusap-ngusap darahnya diatas lantai
" Waktunya makan siang." Teriak seorang polisi sembari membuka kunci sel. Sejenak pria itu melirik Milan, menggelengkan kepala, sering sekali ia melihat pria itu babak belur. Tapi tak ada seorangpun yang mau menolong, polisi disana hanya bisa menegur, ketika Milan sudah benar-benar tak berdaya barulah mereka turun tangan
" Milan Cruise, kau tidak makan siang?" Milan tak menjawab, hanya membiarkan angin menjawab polisi tersebut. Bagi Milan semuanya sama saja
Polisi itu mengunci lagi sel tahanan yang ditempati Milan setelah teman-teman satu sel Milan keluar. Sementara dirinya hanya diam, entah apa yang ia pikirkan, mungkin sebuah penyesalan
__ADS_1
Sore yang dinanti Mammi Diana akhirnya tiba. Ditemani sang suami, wanita itu menunggu Milan didepan lapas dimana Milan ditahan. Wanita itu mencoba tersenyum ditengah antara senang dan sedih bercampur aduk saat ini
Dari gerbang ia melihat sang putra keluar dengan hanya memakai switter hitamnya. Pria itu memakai topi hitam untuk menutupi kepalanya. Sejenak Milan menghirup udara segar lalu mendekati sang ibu, ia langsung memeluk tubuh yang tampak lemah itu dengan erat, sang ibu menangis histeris melihat wajah babak belur putranya, setiap kali ia mendapat kabar Milan masuk rumah sakit, jantungnya selalu merasa copot takut sesuatu terjadi pada putra semata wayangnya tersebut
" Kita pulang hmm?" Bisiknya ditelinga Milan
" Kanada?"
" Hmm, kita pulang kekota kelahiranmu." Sang ibu mengurai pelukan, ia menangkup wajah Milan
" Kita mulai semuanya dari awal." Tambahnya dan Milan hanya mengangguk menuruti sang ibu, tidak ada yang tersisa untuk Milan. Tiga tahun ia meninggalkan perusahaan, ia menjual semua aset-aset, semua saham. Keluar dari penjara ia menjadi seorang pengangguran, meskipun uang direkeningnya tak akan pernah habis untuk biaya seumur hidupnya
Milan akan meninggalkan Jakarta, mungkin ia takkan kembali lagi. Ia akan melupakan kenangan manis dan pahitnya, melupakan semua yang terjadi, dan melupakan penyesalannya terhadap seorang gadis yang ia hancurkan hidupnya. Tiga tahun sepertinya cukup untuk Milan menyesali perbuatannya pada Pevita, Milan membayar dengan tubuhnya yang selalu ditindas habis-habisan hingga ia sekarat dan masuk rumah sakit
Ditempat lain, seseorang sedang merayakan kebahagiaan. Hari ini hari wisuda Pevita, ia telah menyelesaikan studinya dan mendapat gelar sarjana. Pevita merasa bangga meskipun ia sempat down karena kehamilannya
" Thank you uncle." Pevita memeluk sang Paman tampannya yaitu Bryan
" Terima kasih sudah meluangkan waktu Uncle yang sibuk." Bryan mengusap puncak kepala itu
" Congratulation Pepev." Teriak Kya, rupanya gadis yang baru tumbuh remaja itu juga ikut datang. Pevita memeluk gadis itu dengan erat
" Terima kasih Kya, panggil aku kakak." Gerutu Pevita, keduanya tertawa senang membuat semuanya merasa bahagia, gadis yang sempat terpuruk itu sudah mulai ceria lagi semenjak kelahiran putri kecilnya
Bayi hasil pemaksaan Milan itu diberi nama Eleanor, bayi mungil yang kini berusia dua tahun itu sedang nyaman dipangkuan sang Aunty yaitu Bella, Bella seperti punya anak kembar. Karena selain membagi kasih sayang pada kedua anaknya yaitu Jeslyn dan Justin, Bella juga membaginya pada Eleanor. Semuanya menyayangi Eleanor meskipun sangat membenci ayahnya
__ADS_1
Pada Eleanor, senyum Pevita kian mengembang. Wanita itu mendekati Bella." Sayang Momy." Melihat ibunya Eleanor langsung mengacungkan kedua tangan, bayi yang sudah bisa berjalan dan bicara meskipun tak jelas itu, mencium pipi sang ibu, membuat semuanya tertawa, Eleanor sedang dalam masa lucu-lucunya. Bayi itu juga kerap berebutan Delan bersama Justin yang usinya hanya terpaut dua bulan
Eleanor menganggap Delan sebagai Daddynya, bayi itu belum mengerti apapun hingga jika sedang berebutan dengan Justin selalu kalah dan menangis membuat Pevita sedikit sedih, tapi selalu menyembunyikan kesedihannya dengan mentertawakan Eleanor
Beruntungnya Eleanor hidup serba berkecukupan, dimanjakan oleh sang grandma dan grandpa. Eleanor sudah seperti adik untuk Pevita karena kebanyakan Mammi Bulan yang lebih banyak mengurus Eleanor dibanding Pevita, Pevita hanya menyusui dan tidur bersama Eleanor, gadis itu terlalu sibuk dengan studynya
Namun dibalik itu Eleanor kini menjadi pusat dunia Pevita. Saat dikandungan Pevita sangat membenci bayi itu namun ketika bayi itu lahir melalui perjuangannya, Pevita mulai melunak apalagi yang dilahirkannya bayi selucu dan secantik Eleanor. Meski wajah lucu itu sesekali mengingatkan Pevita pada Milan
" Congratulation Pevita." Tiga teriakan itu membuat Pevita menoleh dan langsung menyerahkan Eleanor pada sang ibu, tidak ada yang tahu bahwa Pevita yang seorang primadona kampus itu telah memiliki seorang anak
" Congratulation juga untuk kalian." Balas Pevita, ketiganya saling berpelukan erat. Diantara semua teman kedua wanita itu yang paling dekat dengan Pevita
" Kau jadi ikut tidak?" Pevita menunjuk sang ayah dan sang kakak dengan dagunya, sampai detik ini kedua pria itu selalu menjaga ketat Pevita. Keduanya tak mau Pevita mengalami hal pahit untuk kedua kalinya
" Ayolah, ini kesempatan kita. Jangan jadi anak Mammi terus. Sesekali nikmati kebebasan."
" Aku akan bicara pada mereka."
" Dari minggu lalu kau belum bicara juga." Gerutu Laura memukul lengan atas Pevita
" Aku takut mereka tidak mngijinkanku." Saut Pevita sambil melirik Eleanor, sebenarnya alasan Pevita adalah karena balita itu, Pevita merasa tidak tega meninggalkan buah hatinya dirumah sementara dirinya akan bersenang-senang diluar sana
" Please, untuk kali ini saja." Wajah Laura dan Lany memohon pada Pevita, meskipun dekat dan berteman baik, Pevita adalah orang yang paling tak pernah keluar rumah jika bukan pergi kuliah, mereka heran, usia Pevita sudah dewasa tapi orangtua Pevita terlalu posesif padanya
-
__ADS_1
-