Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Sweety


__ADS_3

Milan mendudukan Eleanor diatas meja makan berhadapan dengan dirinya. Disampingnya ada Pevita yang berhadapan dengan Mammi Diana, wanita itu berdampingan dengan suaminya yang hanya diam, tak bicara satu katapun


" Daddy, kenapa Daddy memanggilku sayang?" Milan terkekeh lucu, dalam hal bicara putrinya sudah seperti orang dewasa


" Tentu karena Daddy menyayangimu!"


" Daddy juga memanggil Mommy sayang." Milan melirik Pevita yang menggelengkan kepala akan kecerewetan putrinya


"Karena Daddy juga menyayangi Mommy."


" Daddy, Elea not like!" bentak Eleanor dengan bersedekap dada membuat semua orang mentertawakannya


" Sejak bisa bicara dia memang sangat cerewet, Mammi dan Daddy pun selalu dibuat pusing." Ucap Pevita menggerutu


" Baiklah, kalau begitu Daddy akan merubahnya. Bagaimana kalau Daddy memanggilmu honey?" Eleanor menggelengkan kepalanya


" Or sweety?" Eleanor kembali menggelengkan kepalanya hingga pipi bulatnya bergetar. Milan gemas, ia mencium pipi itu


" Ayolah, kamu cocok sekali dipanggil Sweety." Rayu Milan. Akhirnya Eleanor mau menatap ayahnya, balita kecil itu mengangguk dan memberikan cengirannya. Pevita ingin sekali mencubit bibir bocah itu karena begitu manja sampai-sampai panggilan pun dijadikan bahan kecerewetannya


" Sayang, biarkan Daddy makan dulu."


" No sayang Mommy but Sweety!" Protes Eleanor. Semua orang kembali tertawa


" Oke sweety." Eleanor tampak senang dengan panggilan baru dari ayahnya itu


Kali ini balita itu membiarkan ayahnya mengisi perutnya dulu sambil sesekali menyuapinya. Eleanor yang biasanya jarang mau di suapi kini mau disuapi Milan, bahkan lahap Milan sampai menambah makannya


" Sweety, kamu mau ice cream?" tanya Mammi Diana


" Mommy." Eleanor melihat pada Pevita

__ADS_1


" Jangan terlalu banyak hmm?"


" Of course." Sautnya berteriak. Mammi Diana tersenyum lalu memangku Eleanor menuju dapur


Sementara Milan bangkit diikuti Pevita, gadis itu mengekori Milan dibelakang. Saat pintu terbuka, Pevita mendorong pelan pintu dan menguncinya membuat Milan berbalik. Pria itu hanya diam sampai Pevita mendorong tubuhnya duduk disisi ranjang sedangkan dirinya berdiri didepan Milan


" Pev." Tegur Milan ketika gadis itu memegang leher Milan dengan kedua tangannya. Pevita menarik satu tangan Milan dan ia tujukan ke perutnya. Milan tiba-tiba tersenyum dan mengusap perut itu


" Aku keguguran, tidak ada lagi bayi diperutku." Senyum Milan memudar, ia menengadah pada Pevita


" Kenapa baru memberirahuku sekarang?" Tanya Milan namun Pevita tak menjawab, ia malah membelai kedua pipi Milan dengan ibu jarinya


" Karena Kenzi?" Pevita mengangguk pelan. Milan hanya diam, namun dalam hatinya ia merasa sangat marah. Pria itu menyusupkan wajahnya diperut Pevita, diam disana cukup lama


" Lagipula kita bisa membuatnya lagi." Ucap Pevita mencoba menghibur Milan. Pevita menjauhkan wajah Milan lalu naik kepangkuan pria itu, ia melingkarkan kedua tangannya dileher Milan. Spontan pria itu memegangi pinggang Pevita dengan kedua tangannya


" Maaf, aku benar-benar tak bisa menjagamu!"


" Ini bukan salah siapapapun, mungkin Tuhan membutuhkan mereka untuk menjadi malaikat-malaikat kecil di surga." Milan tersenyum hangat, lalu membelai pipi itu dengan satu jemarinya


"I miss you." Bisik Pevita mengusap dagu Milan yang belah. Milan tersenyum memiringkan wajah lalu meraup bibir yang sejak tadi menggodanya itu. Keduanya berciuman mesra


Semakin lama bibir itu saling bertaut, semakin erat juga Milan memeluk pinggang Pevita, begitupun gadis itu memeluk leher Milan begitu erat. Bahkan ciuman keduanya sampai mengeluarkan suara yang cukup memecah keheningan kamar yang ditempati Milan


Kedua jemari Pevita mulai menjalar keatas pada rambut Milan ketika ciuman itu kian memanas dan Milan mulai membelit lidah dimulutnya. Sesekali pria itu menghisap bibir dan lidah Pevita begitu kuat membuat Pevita merasa tak tahan, kedua kakinya menggeliyat-geliyat diatas kasur, juga tubuhnya yang tak bisa diam sehingga membangkitkan burung besar yang telah lama tidur, sedikit demi sedikit menegang membuat Milan segera bangkit mengubah posisi, mengurung Pevita berada dibawah tanpa melepaskan bibir gadis itu


" Shiitt!" Gumam Milan tersadar dan melepaskan bibirnya. Ia menatap Pevita yang terengah dan memejamkan mata lalu beringus bangkit, duduk membelakangi Pevita. Milan mengusap wajahnya kasar, hampir ia tak bisa menahan diri dan melakukan kesalahan lagi


Tak merasakan pergerakan Milan lagi, Pevita membuka mata. Ia merasa heran melihat Milan lalu ikut duduk dan lamgsung memeluk tubuh itu dari belakang." What's wrong?" Tanyanya tapi Milan tak menjawab, pria itu malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan


" Daddy, Daddy, Daddy, Daddy." Perlahan Milan melepaskan pelukan Pevita lalu turun dari kasur, ia membuka pintu yang dikunci Pevita

__ADS_1


" Kalian bukan pasangan menikah, kenapa mengunci pintu segala?" Tanya Mammi Diana dengan wajah tak bersahabat. Milan tak menjawab ia hanya menunduk menatapi buah hatinya. Lalu berjongkok


" Sudah kenyang makan ice cream?"


" Aku ingin bersama Daddy." Milan tersenyum


" Baiklah, kita makan bersama." Milan memangku Eleanor dan berlalu begitu saja meninggalkan Mammi Diana, wanita itu mendelik sebal pada putranya lalu masuk kedalam kamar dimana Pevita masih duduk dan tampak malu karena kehadiran Mammi Diana


" Pev, Mammi ingin bicara." Pevita hanya mengangguk pelan membuat Mammi Diana duduk disampingnya


" Jangan pernah biarkan Milan menyentuhmu, ingat kalian belum menikah." Pevita meremmas jemarinya. Ia sendiri selalu tak bisa menahan firi bila bersama pria itu


" Mammi bicara seperti ini bukan karena Mammi merasa diri Mammi suci. Tapi Pev, Mammi hanya ingin menjaga anak Mammi, sudah cukup Milan di pukuli Daddy dan Kakakmu. Dan Mammi tidak mau itu terjadi lagi, selain itu Milan juga punya Eleanor."


" Kamu mengerti kan?" Pevita mengangguk pelan


" Ini salahku, aku yang mengunci pintunya." Mammi Diana tersenyum


" Milan akan menikahimu, Mammi pastikan itu. Jika sudah menikah Mammi tak akan membatasi kalian. Kalian boleh melakukan apappun!" Pevita menggenggam kedua tangan Mammi Diana


" Terima kasih Mam." Sautnya dengan senyum manis


" Mommmmmmmyyyy." Mammi Diana dan Pevita tertawa mendengar teriakan nyaring itu. Pevita segera berlari mendekati sumber suara


Ternyata keduanya sedang duduk disofa dekat tv. Disana juga ada Tuan Ethnes yang sedang ikut menonton tv, duduk di sofa yang lain. Sejenak Pevita melirik Tuan Ethnes, ia kembali tak nyaman melihat tatapan Tuan Ethnes padanya. Tapi Pevita tak berani banyak bertanya, ia hanya melewati pria itu begitu saja dan duduk disamping Milan yang memangku Eleanor, keduanya menonton tv sambil memakan ice cream vanila ditangan Milan


" Mommy, mau ice cream?" Tawarnya lucu


" Tentu saja, beri satu suapan untuk Mom." Eleanor melihat pada sang ayah dan menyengir kuda. Ia merampas sendok kecil ditangan sang ayah dan menyendok full ice cream itu. Pevita sudah senang akan disuapi. Namun ketika sendok itu mendekat, bukan masuk kedalam mulut Pevita, Milan malah menyosor dan melahapnya membuat Eleanor dan Milan cekikikan, keduanya seperti sengaja mempermainkan Pevita


Pemandangan indah untuk Mammi Diana, ia berharap putranya selalu bahagia seperti itu selamanya

__ADS_1


-


-


__ADS_2