
🌹🌹🌹
Bella membuka matanya yang sudah terasa berat saat mendengar suara helaan nafas pria yang kini juga berbaring disampingnya yaitu Delan. Bella segera bergerak berbalik dan menyentuh dada Delan dengan telapak tangannya
" Kenapa belum tidur? ini sudah malam." Ucap Bella sambil melirik jam didingding yang sudah menunjukan pukul 3 pagi
Bukan menjawab, Delan malah bergerak menyamping dan memeluk erat Bella. Pria itu menghela nafas lagi seolah beban didadanya itu benar-benar berat. Bella tahu apa yang suaminya pikirkan, ia mengusap-usap dada Delan yang tertutupi piyama abu tua yang dibeli olehnya beberapa waktu lalu
" Pulanglah." Perintah Bella yang mana langsung membuat Delan mengurai pelukannya, ia menunduk menatap Bella yang menengadah padanya
" Pulang, dan temui Mammimu!" Tapi Delan menggelengkan kepalanya
" Aku tidak akan kemana-mana, tanpamu dan Jeslyn. Jadi jika kamu menyuruhku pulang, aku tidak mau, aku-"
" Aku dan Jeslyn akan ikut." Potong Bella membuat Delan tertegun sejenak
" Tidak, aku tahu kamu tidak menyukainya sayang."
" Tapi kamu juga tidak tenangkan?" Delan membungkam nyatanya mendengar ucapan Bryan tentang sang ibu membuat Delan gelisah. Dulu saat menyelesaikan kuliahnya di Harvard dan mendapat gelar seorang dokter. Delan dikejutkan dengan berita sang Mammi yang kritis karena serangan jantung. Bertahun-tahun lalu wanita itu divonis dokter memiliki kelainan jantung. Sejak saat itu semua orang tak pernah mengeluhkan masalah apapun pada Bulan karena mereka tahu itu akan mempengaruhi kesehatannya
Dan karena hal itulah Delan lebih penurut lagi pada ibunya. Termasuk saat sang ibu mengatur kencan butanya bersama Angela. Saat itu Bulan sangat khawatir tentang anaknya, selama 27 tahun hidupnya pria muda itu tak pernah mengenalkan satu wanitapun pada keluarga mereka membuat Bulan khawatir sang anak memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Bulan terlalu takut anaknya salah bergaul mengingat sang putra melakukan studi diluar negri. Apalagi Delan orang yang sangat pendiam dan tertutup. Pria itu jarang sekali bertutur kata jika hal itu tak terlalu penting untuknya
" Delan." Bella menyentuh lagi dada bidang itu membuat Delan tersadar dari lamunannya
" Aku hanya tidak mau kamu merasakan sakit lagi Bella." Sautnya dengan suara lembut sambil membelai dari puncak kepala kebawah
" I'm fine." Saut Bella dengan senyuman hangatnya yang Delan sambut dengan kecupan lembut dikening. Tak menjawab Bella, Delan merengkuh tubuh itu dalam pelukannya, dan menempelkan bibirnya dipuncak kepala Bella
" Ayo kita pulang." Ucap Bella
" Iya, besok kita pulang." Saut Delan lalu tersenyum. Bella memang wanita yang sangat baik, wanita itu tersakiti tapi melihat Delan yang khawatir seperti ini Bella mengenyampingkan rasa sakitnya. Delan pikir tidak ada wanita yang akan seperti Bella dalam hidupnya, selalu mengutamakan Delan, menghargainya dan pastinya sangat setia
Pagi ini kembali riuh dengan suara tangisan Jeslyn. Bayi itu selalu saja menangis jika bangun tidur dan tak menemukan seorangpun didekatnya. Delan yang sudah bersiap-siap dengan jaket hitamnya segera memangku Jeslyn dan memberikan sebotol ASI Bella yang baru saja ditabung
Seketika tangisan itu terkulum didalam mulut Jeslyn membuat Delan tersenyum. Sambil menimang Jeslyn, Delan keluar kamar menuju dapur, tapi saat diruang tengah Delan berhenti dan menatap dua pria yang duduk disofa, sedang berbincang dan minum kopi bersama
Delan menghela nafas dan mendekati keduanya
" Aku akan pulang, jadi kalian pergilah." Ucap Delan, wajah itu dingin pada keduanya
__ADS_1
Mendengar itu Bryan tersenyum senang." Kita pulang bersama." Sautnya
" Aku bersama Bella dan Jeslyn." Bryan hanya mengangguk lalu menyesap lagi kopi dalam cup diatas meja. Delan mengernyitkan dahinya lalu memutar tubuh mencari Bella
" Bella." Panggil Delan setengah berteriak
Seketika Bella keluar dari dapur dengan apron biru ditubuhnya."Delan ada apa?"
" Kenapa kamu-"
" Delan, mereka tamu kita. Tidak baik mengabaikan tamu." Delan kalah jika Bella yang bicara, pria itu tampak tak suka dengan Bella yang terlalu baik pada Bryan
Membuat Bella tersenyum melihat wajah merengut Delan." Duduklah disitu sebentar lagi sarapan paginya selesai." Perintah Bella yang mana langsung dituruti Delan, pria itu duduk disofa disamping Erik
" Berapa usianya?" tanya Bryan dengan senyum menatap Jeslyn yang sedang menyusu melalui botol, kedua kaki bayi mungil itu tak diam terus mengacung-ngacung ke udara membuat Delan gemas dan sesekali menepuk pantat Jeslyn
Tapi Delan tak menjawab bahkan terlihat enggan, pria itu hanya menatapi putrinya begitupun Jeslyn. Bryan memaklumi itu, ia tahu kesalahannya. Tentu Delan tak semudah itu memaafkan semua orang, pria itu hanya melirik Erik yang tampak merasa kasihan pada Bryan. Jauh-jauh pria itu dari Paris, merindukan keponakannya namun sikap Delan sangat dingin. Ya Erik juga tak menyalahkan Delan, Delan seperti itu juga ada sebabnya
" Sarapan sudah siap." Suara Bella memecah keheningan diruang tamu membuat semua orang beralih menatapnya dan Delan langsung bangkit beserta Jeslyn yang masih menyusu dipangkuannya
Pria itu mengabaikan Bryan dan Erik. Jika bukan Bella yang menyuruh keduanya sarapan tentu perut kedua pria itu akan kosong sampai nanti mereka tiba di Paris
Semuanya makan dimeja makan kecil itu dengan keadaan hening. Hanya dentingan dan suara lenguhan Jeslyn saja yang memecah ruangan, bayi itu menyusu sambil tak henti berceloteh dengan kedua tangan dan kaki yang tak diam, ia acung-acungkan keatas
Membuat Bryan tersenyum dengan lucunya Jeslyn, bila diperhatikan lebih jauh wajah itu memang sangat mirip dengan keponakannya. Bryan mulai dihantui rasa bersalah, dulu ia sempat meragukan ucapan Bella meskipun istrinya mewanti-wanti bahwa ia sangat mempercayai Bella, bagi Jiana Bella masih gadis lugu dan baik seperti dulu
Selesai qsarapan pagi, semuanya tengah bersiap-siap. Bella membawa koper besar hitam berisi pakaiannya dan Jeslyn serta kebutuhan Jeslyn lainnya. Sebenarnya Bella ragu namun melihat suaminya Bella merasa tak tega, meskipun marah tapi pria itu pasti sangat mengkhawatirkan ibunya
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam lamanya, kini mereka telah sampai di Paris diekori Erik, pria itu setia menemani Delan. Erik takut keduanya bertengkar saat perjalanan menuju Paris dan ia berusaha menjadi penengah
Selama setengah jam juga mereka mengitari sekitaran kota Paris menuju rumah Delan lebih tepatnya rumah keluarga Delan. Rumah Delan masih bersama Angela namun sejak lama pria itu tak pernah menginjakan kakinya lagi disana bahkan semua barang mewah Delan masih disana belum satupun ia ambil, Delan tak memperdulikan hal semacam itu hingga detik ini
Dan disinilah Bella berdiri, didepan sebuah rumah mewah nan luas dengan bangunan tiga lantai. Bella mematung, tangannya mulai berkeringat dingin." Tidak apa-apa, sekarang ada aku." Bisik Delan membuat Bella menengadah menatapnya
Delan tersenyum." Tidak akan ada yang berani merendahkanmu lagi, mereka tidak akan berani. Ada aku, tenang saja hmm."
Bryan mengulum senyum mendengar bisikan itu. Sejak kapan keponakannya itu jadi pria yang banyak bicara, ya mungkin cinta memang bisa membuat semua orang berubah, termasuk si gunung es Delan
Pelan-pelan Delan mengajak Bella masuk. Bella semakin berdebar, ia sangat takut lebih takut lagi bertemu Angela, wanita itu pasti kini akan sangat membenci Bella. Dan ketakutan Bella ternyata benar adanya, wanita yang ditakuti Bella kini ada didepan pintu. Tersenyum menatap suaminya, bukan hanya suaminya, tapi Delan juga memang masih suami Angela, keduanya belum resmi bercerai
__ADS_1
" Delan kamu pasti lelahkan?" Lihatlah Angela benar-benar tak tahu malu, wanita itu juga seperti tak punya rasa sakit padahal Delan datang bersama Bella dan Jeslyn dalam pangkuannya, bayi itu terlelap sejak dalam pesawat
Angela melirik Bella sekilas dengan senyum sinis dan pandangan merendahkan. " Mau bagaimana lagi, aku terpaksa menerimamu menjadi maduku!" Ucap Angela membuat Delan benar-benar muak dan ingin sekali mencekiknya
" Dalam mimpimu!" Delan menyaut dengan nada membentak, itu membuat kedua mata Angela berkaca
" Seharusnya kamu merasa bersalah Delan, sudah berulang kali kamu menyakitiku." Lirih Angela tapi diabaikan Delan, pria itu menarik pergelangan tangan Bella menuju tangga mengabaikan semua orang diruang tamu yang terkejut dengan kedatangan Delan
Bella hanya menunduk menyembunyikan pandangan semua orang terhadapnya. Sampai tiba disebuah pintu dilorong paling ujung Delan berhenti. Ia menatap sejenak Bella yang masih menunduk." Masuklah dulu." Ucap Delan membuat Bella mengangkat wajahnya
" Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Bella
" Aku akan menemui Mammi, masuklah dan kuncilah pintunya." Delan menyerahkan bayi yang sedang terlelap kepangkuan ibunya
" Atau kamu mau makan? bibi akan mengantarnya kesini?" Bella menggelengkan kepalanya
" Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja."
" Apa mereka akan memarahimu? apa Daddymu akan menamparmu?" Delan tersenyum, jemarinya menyentuh pipi Bella
" Sayang, kenapa kamu berlebihan?"
" Emmmh itu." Delan tersenyum lagi lalu mencium kening Bella
" Masuklah." Perintah Delan. Bella mengangguk lalu menuruti perintah suaminya, ia masuk kedalam kamar yang cukup luas dan sangat rapi. Namun kamar itu tampak belum terjamah oleh siapapun membuat Bella menoleh lagi kebelakang
" Ini kamar khusus tamu, belum pernah ada yang tinggal disini." Ucap Delan seakan memahami pikiran Bella
" Nanti bibi akan membawa makanan dan kopermu kemari." Bella mengangguk dan tersenyum lalu mengibaskan jemarinya mengusir Delan
Bukan pergi, pria itu malah masuk kedalam. Langsung menangkup wajah Bella dan mencium bibirnya." Uuuhhhmm." Bella meronta akan lummatan lembut itu
" Kenapa huh? sombong sekali tidak mau aku sentuh." Gerutu Delan mencubit bibir Bella
" Jeslyn sangat berat aku harus menidurkannya dulu." Saut Bella
" Aku lupa!" Delan mengusap puncak kepala itu seperti berniat mengacak-ngacak rambut Bella lalu mencium lagi kening Bella
" Aku tidak akan lama." Ucapnya lalu benar-benar meninggalkan Bella dan Jeslyn
__ADS_1
-
-