
Oek
Oekk
Oek
Samar-samar Bella mendengar suara Pevita dari dalam kamarnya ketika Bella melewati kamar itu. Bella yang sudah sebulan ini mengamati Pevita dan suaminya itu mendorong pelan pintu kamar gadis itu hingga terbuka sebagian
" Pevita." Panggil Bella berjalan masuk kedalam kamar Pevita. Bella tahu, meskipun suaminya setiap malam masih terus menemani Pevita, Delan akan menemaninya tidur, setelah Bella tidut Delan akan kekamar Pevita dan kembali pada subuh hari, seolah-olah Delan tak kemana-mana dan tetap tidur disamping Bella. Bella sebenarnya sudah kesal dengan tingkah suaminya? bahkan saat ini Bella mendiamkan Delan. Satu bulan lebih mereka merayakan rumah baru namun Delan tak kunjung mengajaknya dan Jeslyn pindah rumah. Bella hanya bisa diam, sebenarnya pikirannya selalu buruk karena suaminya yang tak jujur dan mau terbuka mengenai keanehannya yang selalu menemani Pevita tidur
" Pev." Panggil Bella lagi, kali ini kamar mandi yang menjadi tujuannya. Suara Pevita terdengar dari sana, semakin dekat Bella semakin mendengar suara isak tangis dari kamar mandi itu. Pelan-pelan Bella mendorong pintu dan masuk kedalam kamar mandi
Oek
Oek
Bella melihat Pevita sedang duduk dilantai kamar mandi didepan closet, gadis itu muntah-muntah, tampilannya sangat buruk, wajahnya memucat, keringat dan airmata membasahi wajah cantiknya
" Pevita, kamu sakit?" Tanya Bella membuat Pevita terkejut, tubuhnya berjingkat kaget hingga muntahannya mengenai piyama tidurnya yang berwarna putih dengan corak buah strawberry
" Kak Bella." Panggilnya dengan suara bergetar. Bella termenung, ia menatapi wajah sembab dan pucat Pevita. Lalu tatapannya beralih pada kumpulan tespack yang bergeletakan dibelakang tubuh Pevita
Bella bergegas mengambilnya, ia cukup terkejut ketika melihat garis merah dua. Tatapan Bella menajam, ia mencengkram lengan Pevita." Ini punyamu?" Pevita hanya menunduk dan menangis
" Pevita!" Bentak Bella pelan mengguncang tubuh Pevita
" Siapa? siapa yang melakukannya?" Kedua mata Bella sudah membulat dan menggenang airmata, bibir wanita itu bergetar. Pikiran buruk yang selama ini terlintas dipikiran Bella takut menjadi kenyataan
Pevita menggelengkan kepalanya." Siapa? katakan siapa?" desak Bella
" Aku-"
" Siapa?" Bella kian mencengkram lengan itu
" Sakit." Desis Pevita, Bella melunak merasa tak tega, ia melonggarkan cekalan tangannya. Menatapi Pevita
" Kenapa Delan selalu menemanimu hmm?"
" Aku tidak tahu." Jawab Pevita dengan bibir bergetar
__ADS_1
" Kau hamil, siapa ayahnya?" Tanya Bella lagi mendesak Pevita membuat wanita itu menangis kencang
" Jawab!" Bella membentak Pevita, tapi gadis itu membungkam. Bella menghempas tubuh itu lalu meninggalkan Pevita. Ia keluar kamar mandi, airmatanya berlinang
" Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumam Bella mengusap airmatanya dengan begitu kasar. Lalu keluar dari kamar Pevita
Ia menuju kamarnya dan menangis. Ia merasa buruk karena selalu berpikiran negatif, tapi tingkah keduanya sangat aneh akhir-akhir ini. Bella duduk dilantai menangis tersedu memeluk kedua kakinya, untung saja Jeslyn sedang tidur saat ini
Ceklek
Pintu terbuka dimana disitu ada Delan yang baru pulang bekerja. Pria itu tersenyum melihat Bella yang sedang duduk didepan cermin. Sedikit demi sedikit Delan merasa tenang karena perlahan Pevita mulai kembali seperti dulu dan mendengar ucapannya. Delan hanya harus memantau Pevita
Delan meletakan tas kerjanya diatas meja rias. Lalu ia bergerak kebelakang Bella memeluk tubuh itu dengan erat, meluapkan rasa rindunya yang ia tahan sejak lama." I love you." Bisik Delan mencium leher Bella yang harum. Wanita itu hanya diam menatapi Delan dari balik cermin
Delan mencium lagi leher itu dan kali ini Bella meronta." Aku merindukanmu." Bisik Delan tepat didepan telinga Bella sambil menatapi Bella yang menatapinya dari cermin
" Bukankah kamu lebih merindukan Pevita." Delan mengerutkan dahi akan pertanyaan itu
" Sayang-"
" Kamu lebih memilih tidur dengannya dibanding denganku." Delan terdiam akan kesalahannya, ia meletakan dagunya dipundak Bella
" Zaman sekarang, nafs-"
" Kamu sadar dengan ucapanmu?" Delan tampak terpancing, ia melepaskan Bella menegapkan tubuhnya, wajahnya tampak kecewa dengan penghakiman Bella padanya. Bella tidak tahu bahwa selama ini Delan hanya membantu adiknya untuk sembuh dari rasa sakit dan traumanya
" Tidak, karena kau tidak pernah jujur padaku?" Kedua mata Bella berkaca-kaca membuat Delan melunak, pria itu menghembuskan nafasnya. Delan berlutut memeluk Bella dari belakang, ia menyusupkan wajahnya dipunggung Bella dan menangis. Bella terkejut
" Bella, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan?" Ucap Delan. Bella merremas jemarinya
" Kamu hanya harus bicara jujur padaku agar aku tak berpikiran buruk. Kamu selalu menemani Pevita tidur, apa itu cukup wajar? Pevita sudah besar."
" Maaf." Hanya itu yang keluar dari bibir Delan. Bella bergerak menghadap Delan, menangkup wajah pria itu, Bella luluh ketika melihat airmata suaminya berjatuhan
" Kamu sudah tahu sejak awal?" Tanya Bella, Delan tak mengerti
" Bella."
" Alasan kamu selalu menemani Pevita, apa karena itu? karena Pevita sedang hamil?"
__ADS_1
" Apa maksudmu?" kedua mata Delan membulat, airmatanya kian berjatuhan, suara Delan terasa tercekat, nafasnya sesak dan jantungnya dag dig dug
Delan bergegas bangkit, ia berlari keluar diikuti Bella. Untung saja keadaan rumah sedang sepi, kedua orangtua Delan sedang ke Jakarta mengikuti acara reuni keluarga yang sebulan sekali diadakan. Delan membuka pintu kamar Pevita, seperti orang gila ia mencari Pevita. Delan membuka pintu kamar mandi, airmatanya berjatuhan lagi, melihat sang adik tampak lemas duduk dilantai
" Pev." Delan merasa hancur melihat Pevita, tadi pagi wajah itu sudah kembali ceria dan kini terlihat pucat dan sembab lagi, sangat menyedihkan, hati Delan kembali hancur
Delan meninju-ninju tembok dan berteriak kencang. Amarahnya memuncak lagi, sepertinya ia memang harus membunuh Milan, membuat pria itu kehilangan uang saja tidak cukup
Melihat kakaknya yang marah, Pevita kembali menangis. Delan tersadar, ia segera bergegas memeluk Pevita
" Ya Tuhan, Pevitaaa." Delan mengusap-usap punggung itu
Bella hanya terdiam, airmatanya terjatuh. Ia tak berani bicara, melihat Delan yang sedang marah seperti itu
" Kakak akan membalasnya untukmu hmm?"
" Kakak, hidupku sudah hancur."
" Tidak, masa depanmu masih panjang."
" Sayang, kakak harus bagaimana?" Gumam Delan menangis tersedu
Sementara Bella bergerak meninggalkan keduanya ketiaka mendengar Jeslyn menangis
" Aku tidak mau bayi ini." Delan menggelengkan kepalanya
" Aku tidak mau."
" Tidak, tidak Pev. Dia tidak salah."
" Bantu aku, lenyapkan bayi ini." Delan mengurai pelukannya dan menggelengkan kepala
" Bagaimana dengan Mammi dan Daddy?"
" Kakak akan bicara pelan-pelan pada mereka." Pevita berhambur memeluk tubuh kakaknya lagi. Keduanya sama-sama menangis. Pevita tidak tahu hidupnya akan seperti apa jika tak ada Delan, selama ini pria itu selalu menemani Pevita hingga Pevita bisa melupakan semuanya
-
-
__ADS_1