Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Gaji seorang sekertaris


__ADS_3

🌹🌹🌹


-


-


" Ada apa dengan kakak, kenapa bodoh sekali. Bella memang punya tubuh yang bagus, wajahnya juga tak kalah cantik dari kak Angel. Tapi bagaimana bisa kakak mau dengan pelacu* seperti Bella. Bagaimana jika wanita itu hamil." gerutu Pevita memukul-mukul kasur empuk itu, ia benar-benar tak bisa tidur karena suara keduanya


Menjelang pukul 04:00 pagi barulah Pevita bisa memejamkan mata saat suara keduanya tak lagi terdengar. Pevita menyingkirkan bantal yang menutupi kepalanya lalu menarik selimut, rasanya sudah nyaman tinggal ia tidur. Namun baru juga matanya terpejam beberapa menit kini suara pintu dan tawa cekikikan keduanya mengganggu lagi Pevita


" Emmmh Delan .. " suara manja itu membuat Pevita muak


" Kenapa mau lagi?" tanya Delan nakal dan Pevita bisa mendengar cekikikan keduanya. Pevita pikir keduanya benar-benar tak punya hati tampak tak merasa bersalah dengan apa yang mereka lakukan dibelakang Angela


Ranjang empuk itu bergoyang saat Delan naik keranjang dan membaringkan Bella yang dalam pangkuannya disisi yang lain sementara dirinya ditengah. Tangan Delan masih saja nakal dipangkal paha Bella membuat Bella harus menepuknya dengan kencang


"Aku lelah." rengeknya


" Sebenarnya aku masih mau." Pevita sungguh jijik mendengar suara manja keduanya


" Besok aku harus bekerja sayang." saut Bella membelai bibir bawah Delan


" Berhentilah bekerja hmm, memangnya uang bulanan yang kuberi tidak cukup?" benar saja apa yang dipikirkan Pevita, Bella memang tipe matrealistis, selain wajah tampan memangnya Pevita pikir Bella mau dengan pria yang sudah beristri karena apa bukan karena uang


" Aku tidak mau aku akan mati kebosanan menunggumu." saut Bella. Delan tersenyum lalu menarik tangannya dari kewanitaan Bella. Ia bergerak memeluk tubuh itu dengan erat hingga jarak wajahnya dan Bella berdekatan


" Kamu bisa melakukan apapun, aku akan menambah uang bulananmu jika kurang."


" Tidak itu lebih dari cukup, jangan menghabiskan uangmu untukku atau Angela akan mencurigai kita." Pevita pikir Bella benar-benar tak punya hati, wanita itu sudah tahu Delan beristri namun masih saja mau menjalin hubungan dengan kakaknya, dunia sungguh kacau jika semua wanita seperti Bella. Gerutu Pevita dalam hati


" Aku tidak apa-apa. Angela bahkan mendapatkan yang lebih besar darimu dia tidak akan curiga selama aku memberi semua yang dia inginkan." saut Delan


Pevita terus mendengarkan keduanya bahkan sampai detik ini ia mendengar suara kecipak mesum bibir yang kembali saling bertaut. Pevita mengepalkan kedua tangannya geram, tidak tidak Pevita tidak bisa membiarkan keduanya melakukannya lagi didepan Pevita

__ADS_1


Alhasil Pevita membalikan badannya, dengan mata terpejam ia menimpa pinggang kakaknya dengan sebelah kakinya sementara kepala itu ia timpa dengan tangannya." Astaga bocah ini." gerutu Delan menepis kasar lengan Pevita dikepalanya membuat Bella tertawa


" Dia benar-benar pengganggu." gerutu Delan menyingkirkan kaki Pevita kebelakang


" Gantilah pakaianmu." perintah Bella


" Bantu aku."


" Kenapa manja sekali." gerutu Bella tapi wanita itu tertawa lagi


" Ayolah .. " Bella beringus duduk bersama Delan. Ia membuka satu persatu kancing kemeja Navi Delan hingga semuanya terlepas


Dan suara kecipak mesum bibir itu kembali Pevita dengar. Ia membuka sedikit matanya, keduanya kembali berciuman seakan tak bosan lalu Pevita dengan sengaja menendang bokong sang kakak yang hanya memakai underware hitam


Bruk


Delan melepaskan bibir Bella lalu ia menoleh kebelakang pada adiknya yang tertidur pulas. Merasa kesal Delan mencubit hidung itu sampai memerah." Delan .. " tegur Bella menepuk pundak Delan


" Sedang tidur saja dia tak mau diam." gerutu Delan menuruni ranjang dengan hanya memakai underware hitamnya. Sementara Bella membaringkan lagi tubuhnya meringkuk menghadap Pevita, Bella tersenyum keadaaan ini membuatnya senang. Ia sangat senang Pevita menginap dirumahnya


" Love you . " bisik Delan dan seketika itu juga Pevita membuka kedua matanya. Kakaknya benar-benar terjerat wanita mata duitan seperti Bella. Pevita bingung, apa yang harus ia lakukan agar sang kakak sadar dan kembali ke jalan yang benar


Pevita baru tidur selama 3 jam dan kini harus dibangunkan sang kakak." Pev bangun." begitulah suara Delan. Pevita membuka matanya ia melihat Delan sudah rapi dengan kemeja biru langitnya namun setitik tanda merah yang baru Pevita sadari itu tak mampu tertutupi sangat terlihat jelas


" Ada apa?" tanya Pevita ketus mengucek kedua matanya


" Buat sarapan untuk kita."


" Kakak, ini kan rumah Bella." gerutu Pevita beringus bangun


" Memangnya kenapa?"


" Kita tamu disini, seharusnya Bella yang melayani kita."

__ADS_1


" Kamu benar-benar tak tahu malu Pev, disini kamu kan yang memaksa menginap. Kakak tidak mau tahu, buatkan sarapan pagi ini. Kasihan Bella terlihat lelah." ucap Delan berbisik seraya menoleh pada Bella yang masih tertidur pulas bergelung selimut. Pevita sungguh jengah pada Delan, bagaimana tidak lelah semalam wanita itu dihajar habis-habisan olehnya


Pevita mendengus kesal tapi ia menuruti sang kakak. Ia berjingkat meninggalkan kamar dan menuju dapur. Delan terkekeh melihat adiknya lalu ia beringus duduk disisi Bella, ia belai pipi itu dan beri kecupan lembut


Kemudian Delan menuju dapur, ia akan membantu Pevita. Lihatlah bibir gadis itu terus mengerucut karena Delan. Ia segera membantu Pevita memotong wortel diatas meja pantry. Mereka berencana membuat susie untuk pagi ini


Selang satu jam Bella terlihat sudah rapi dengan setelan kerjanya yaitu kemeja putih dan rok span beige selutut. Wanita itu berjalan tergesa mendekati keduanya." Maaf aku merepotkan ya. " ucap Bella dengan wajah merasa bersalah


" Tidak Bell duduklah, kami sebentar lagi selesai."


" Aku akan membantu."


" Tidak, tidak jangan .. duduk saja tunggu aku. Meskipun masih kecil Pevita ini sangat pandai memasak." ucap Delan sembari mengusap puncai kepala Pevita


" Baiklah." saut Bella menuju meja makan yang tak jauh dari sana. Bella menatap keduanya dengan senyum manis yang sesekali dibalas Delan. Pria itu terlihat tampan dengan apron ditubuhnya


Delan beserta Pevita membawa masakan hasil kerja keras mereka menuju meja makan. Delan langsung mendudukan dirinya disamping Bella, wanita itu beringus berdiri mengambilkan makanan kepiring untuk Delan, itulah yang membuat Delan menyukai Bella, Bella selalu memperhatikan Delan dari hal yang paling kecil


" Kamu pintar Pev, ini benar-benar enak." puji Bella tersenyum pada Pevita yang sedang makan dalam diam, gadis itu mengangkat wajah, dan pandangan itu terasa sinis untuk Bella membuat senyum Bella memudar


" Emmh Bella berapa gajimu bekerja sebagai sekertaris?" tanya Pevita


" Pev, kamu sangat tidak sopan." tegur Delan


" Tidak apa-apa. " saut Bella menyentuh jemari Delan yang berada diatas meja, itu menjadi perhatian Pevita hingga Bella kembali menarik tangannya, ia menyembunyikan dibawah meja


" Aku hanya penasaran berapa gaji Bella." Pevita mengedarkan pandangannya keseluruh Apartement luas itu


" Aku heran seorang sekertaris bisa membeli Apartement semewah ini."


" Mungkin saja Bella membeli Apartement ini dengan uang tabungannya." Pevita tampak mengangguk-ngangguk dengan sautan sang kakak lalu ia menatap lekat wajah Bella yang entah kenapa memucat mendengar perkataan Pevita, gadis itu merasa puas dalam hatinya


" Atau mungkin Bella menyicilnya, iyakan Bell?" tanya Delan menoleh pada Bella, wanita mengangguk lalu memaksakan senyumnya dan menunduk dari pandangan Pevita. Hatinya mulai kalut, Bella berpikir Pevita mencurigainya atau semalam suara Bella dan Delan terlalu keras dan membangunkan Pevita?

__ADS_1


-


-


__ADS_2