Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Dinner with you


__ADS_3

Lany tersenyum memperhatikan Pevita yang sedang merias wajahnya dicermin. Gadis itu sudah tiga kali ganti gaun dan dua kali mengubah riasannya. Padahal bagi Lany mau di rias bagaimana pun wajah Pevita tetap cantik. Lany tidak pernah melihat Pevita seheboh dan seriweh malam ini, gadis itu kurang percaya diri dengan tubuhnya sendiri


Ehem


Laura yang baru saja datang dengan dua temannya yang lain berdehem pelan melihat Pevita yang sudah anggun malam ini. Pevita mengabaikan Laura, sekali lagi ia mengoleskan lipstik nude dibibirnya


" Kau mau kemana Pev?" Tanya Laura mendudukan dirinya di atas ranjang


" Makan malam."


" Dengan siapa?" Pevita melirik Laura, ia bingung harus menjawab apa


" Axel, Pevita kan sekarang dekat dengannya." saut Lany. Laura tersenyum lucu lalu bersiul pelan


" Nah begitu Pev, kalau kau dingin terus pada pria. Bisa-bisa kau jadi perawan tua." Ledek Laura, Pevita memaksakan senyumnya. Ia merasa salah tak bisa jujur bahwa sebenarnya ia akan bertemu Milan malam ini, seperti janjinya mereka akan makan malam bersama. Entah kenapa Pevita bahkan tak bisa menolak ajakan Milan


Dengan gaun merah yang cukup seksi, Pevita meninggalkan ledekan teman-temannya dan keluar kamar. Tampilan Pevita cukup glamor malam ini dan sedikit berlebihan, tapi tak mengurangi kecantikannya malah terkesan lebih dewasa


Pevita masuk disalah satu restaurant yang menyajikan steak malam ini. Ia duduk menunggu Milan di area luar kapal yang cukup sepi, menghadap lautan luas dimalam gelap gulita. Pevita melirik kekiri dan kanan lalu ia melihat lagi dirinya dicermin kecil yang berada dalam tas kecilnya. Pevita merapihkan lipstik nudenya yang keluar dari area bibir, lalu kedua matanya. Pevita merasa heran, ia seperti akan pergi kencan saja dengan pacarnya


" Mana dia." Gumam Pevita dengan pandangan mengedar, padahal jika dipikir-pikir Pevita tak memberitahu Milan dimana mereka akan makan malam, Pevita sengaja agar Milan mencarinya


Pevita melirik lagi jam ditangan kirinya, ia mendengus kesal karena sudah 30 menit menunggu Milan, pria itu tak kunjung datang, padahal untuk waktu makan malam mereka sudah telah." Sibrengsek ini, kemana dia." Gerutu Pevita


Yang ditunggu Pevita malah masih berada dikamarnya. Milan sedang menyisir rambutnya dicermin sambil bibirnya bersiul santai. Milan melirik kedua sepupunya yang asyik adu game di sofa. Ia mendekat dengan tampilan yang sudah rapi, kemeja hitam dan celana pendek dengan warna senada


" Mana?"


" Mana apanya?"


" Hadiah kemenanganku?" Milan menagih janji kedua sepupunya. Spontan keduanya tertawa kencang


" Memangnya dia sudah menjadi kekasihmu?" Milan menyipitkan dahinya


" Kalian hanya making love saja kan? Memangnya Pevita sudah mau menjadi kekasihmu?" Ledek Axel


" Aku sudah mendapatkannya, jadi mana hadiahku. Dan jangan lagi mengganggu Pevita." David dan Axel tertawa lagi

__ADS_1


" Aku dan David masih punya kesempatan selama dia belum jadi milik siapapun. Lagipula kau tidur dengan Pevita karena kami." Tutur David santai, Milan mendengus kesal


" Bagaimana rasanya? Pasti luar biasa kan? Dia terus mendessah?" tanya Axel yang saat itu mendemgar dessahan Pevita. Milan mengabaikan Axel, meninggalkan keduanya untuk menemui Pevita. Wajahnya tampak kesal, ia pikir sudah memenangkan permainan bodoh kedua sepupunya, dan berharap keduanya tak mengganggu Pevita lagi, Milan sangat tahu sebrengsek apa kedua sepupunya


Bibir Milan tersenyum ketika menemukan Pevita direstaurant terakhir yang ia jajaki. Pelan-pelan ia mendekati Pevita yang saat itu juga menoleh karena mendengar suara langkah Milan


" Kau terlambat 39 menit!" Gerutunya menunjuk jam ditangan kiri, pandangan itu sangat sinis pada Milan


" Sorry, aku ketiduran." Pevita mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya kedepan. Milan tersenyum lucu lalu menarik kursi dan duduk menghadap Pevita, keadaan yang sangat dekat membuat Pevita merasa gugup, apalagi kedua mata itu memperhatikannya begitu intens


" Kau sangat cantik." Puji Milan


" Semua pria bilang begitu, mereka bilang aku sangat cantik." Milan tertawa pelan akan kesombongan itu membuat Pevita merasa kesal. Gadis itu mengambil menu dan membukanya


" Aku tidak punya banyak waktu, kita pesan, makan dan kembali kekamar." Ucapnya ketus


" Kekamarku?" Goda Milan, Pevita menoleh dengan wajah garangnya, kedua matanya melotot membuat Milan mengusap wajahnya dari dahi kedagu dengan lima jari, Pevita menepis jemari itu, Milan tidak tahu serepot apa dia merias wajahnya. Pevita kembali pada menu, memilah-milah apa yang akan ia makan. Milan mengikuti Pevita, ia menggeser kursinya hingga mereka berdekatan dan Milan bisa melihat menu yang berada ditangan Pevita


Dada Pevita mulai dag dig dug dengan keadaan yang terlalu dekat ini. Bahkan nafas mint pria itu begitu tercium di hidungnya." Mau yang mana?"


" Baiklah nona terserah kau saja." Pevita tersenyum dengan panggilan itu, ia menatapi wajah Milan dari samping. Hidung mancung, bibir dan dagu belah menjadi perhatian Pevita. Dan Pevita memalingkan wajah ketika Milan balas menatapnya


Tiba-tiba satu tangan Milan melingkar dipinggang ramping Pevita membuat gadis itu terkejut dan spontan memegang jemari Milan. Bukan melepaskan Milan malah menautkan jemari itu dengan jemari Pevita, memegangnya begitu kuat dan meletakan diperut Pevita. Pevita semakin tak karuan dengan keadaan yang cukup intim ini


" Lepaskan." Gerutu Pevita namun diabaikan Milan. Pevita mendengus kesal membuat Milan menoleh menatapnya


" Memangnya kau tidak kedinginan, pakaianmu terlalu terbuka." Ucap Milan seraya melihat punggung Pevita yang memang terekspos sempurna


" Bukankah pria sangat menyukainya?"


" Kau memakai pakaian begini untuk menarik perhatian pria? Pria mana? Aku?" tanya Milan. Pevita membungkam, ia memalingkan wajahnya. Milan menatapi wajah cantik itu, rambut yang tergerainya berterbangan terbawa angin laut. Milan juga melihat bulu tubuh Pevita meremang, tanda gadis itu kedinginan


" Percaya diri sekali, kau pikir kau sekeren itu!" Gerutu Pevita


" Lalu pria mana? Disini hanya ada aku." Saut Milan sembari mengedarkan pandangannya, memang disana hanya ada mereka berdua. Malam terlalu larut untuk makan malam, makanya resturant itu mulai sepi tanpa pengunjung


Pevita kesal dan merasa malu, ia selalu kalah dalam bicara. Mungkin karena Milan lebih tua dan lebih banyak pengalaman. Pikir Pevita dengan bibir mengerucut

__ADS_1


Milan melepaskan Pevita, membuka kemeja hitamnya dan hanya menyisakan kaos hitam. Ia pakaikan pada Pevita membuat gadis itu terkejut tapi juga sedikit tersentuh. Pevita tak berani menatap Milan yang sangat dekat dengannya, bahkan bibirnya hanya beberapa centi dekat pelipis Milan, tubuhnya tak bisa berkutik hanya membiarkan Milan merapihkan kemeja yang dipakainya, mengancingkan hingga dua kancing sehingga dada Pevita kini tertutupi kemeja hitamnya


" Pakailah pakaian yang benar, jangan kurang bahan seperti ini. Atau kau akan mengundang orang untuk melecehkanmu." tutur Milan, Pevita memberanikan diri menatap kedua mata Milan yang terasa menusuk jantungnya, hingga berdebar tanpa ampun


" Memangnya siapa kau berani mengaturku!!" Timpal Pevita


" Kalau kau ingin menarik perhatian pria, gunakan otakmu jangan tubuhmu. Kecuali kau berniat tidur dengan mereka." Pevita kesal dengan penuturan itu, ia menepis pelan kedua tangan Milan yang masih memegang kemejanya. Membuat Pria itu sedikit menjauh, tatapannya tertuju kembali pada menu, mengamati setiap lembarnya. Sejujurnya hati Pevita mulai melunak dengan perhatian kecil Milan


Pevita tidak tahan dengan keheningan yang melanda mereka. Ia menoleh lagi pada Milan." Aku mau yang ini, ini, ini, ini dan ini." Milan tersenyum lucu dan langsung memesankan apa yang diinginkan gadis itu, ia dan Pevita memesan banyak makanan dan minuman untuk menemani malam mereka


Milan kembali bergerak menghadap Pevita yang pandangannya kearah laut. Milan mengulurkan jemarinya, merapihkan rambut Pevita yang terbawa angin kebelakang telinganya membuat gadis itu menoleh padanya." Tiga tahun ini apa yang kau lakukan?" Tanya Milan dengan tatapan serius, sejak kemarin Milan ingin sekali tahu apa yang terjadi pada Pevita setelah ia merebut kehormatannya, makanya ia mencari waktu untuk bicara dengannya


" Belajar!" Saut Pevita. Milan merapihkan lagi rambut itu untuk yang kedua kalinya, anehnya Pevita hanya diam. Pevita merasa perlakuan Milan padanya begitu manis, ia terbawa suasana yang menurutnya romantis, maklum Pevita terlalu dijaga, ia jarang menghabiskan waktu untuk mengenal pria


" Kau pasti tidak pernah pergi kencan." ledek Milan, Pevita menoleh


" Aku terlalu sibuk dan tidak ada pria yang ingin ku kencani."


" Pantas saja!"


" Apanya yang pantas." Milan tersenyum lucu lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Pevita


" Vagin*mu sangat sempit." Bisiknya membuat kedua mata Pevita membulat. Pevita memukul dada Milan dengan begitu kencang membuat Milan sedikit mengaduh sakit. Tapi pria itu tertawa dan mencekal tangan Pevita memegangnya kuat. Tatapannya mulai serius lagi terasa menusuk ke jantung Pevita


" Malam itu-" Milan tampak ragu, padahal Pevita menunggunya. Hingga pembicaraan mereka diganggu dengan kehadiran dua pelayan yang mengantar makanan ke meja mereka. Milan mengurungkan niatnya dan bergerak menghadap meja


" Makanlah." Perintah Milan


" Kenapa jadi kau yang mengatur. Disini aku yang membayarmu!" Milan tertawa pelan


" Baik Nyonya." Saut Milan menoleh lagi. Pevita malah tersenyum lalu mengambil pisau dan garpu


" Makanlah sebanyak yang kau mau." Milan menggelengkan kepala dan tersenyum, ia menuruti Pevita mengambil pisau dan garpu untuk memakan hidangan utama mereka yaitu steak


-


-

__ADS_1


__ADS_2