
Suara erotis dikamar hotel begitu nyaring saat ini bersautan dengan suara kulit tubuh yang saling beradu dan suara ranjang yang bergoyang kencang
" Lepaskan sakit." Jerit Pevita untuk kedua kalinya ketika Milan tak kunjung berhenti memperdayainya. Sepertinya Milan sedikit punya nurani, pria itu menarik dirinya dari Pevita, mengambil saliva dimulutnya dan mengoleskannya ke kewanitaan Pevita, lalu kembali menyatukan tubuhnya lagi dan Pevita
" Aku belum selesai Pevita, sekali lagi kau cerewet kujahit mulutmu." Ancam Milan mencengkram kedua pipi Pevita lalu mencium bibirnya dengan rakus sambil melanjutkan kembali hujamannya
Bibir Milan tak henti mengeluarkan suara nikmatnya. Hujaman itu kian terasa cepat dan dalam, buah dada Pevita berguncang begitu lincah. Cengkraman Milan pindah ke bahu, mencengkramnya kuat meninggalkan rasa sakit untuk Pevita, satu tangannya lagi mencengkram spreii dengan kuat. Milan memejamkan kedua mata, nafasnya semakin memburu, rasa nikmat membuat Milan lupa
" Aaahh Fuuuccck." Tak sengaja pria itu menyemburkan kecebong-kecebongnya didalam
" Aaahhhk luar biasa." Ucap Milan dengan nafas terengah menjatuhkan wajahnya diceruk leher Pevita, ia merasa terbang saat ini
Ketika tersadar, Milan bergegas melepaskan dirinya, ia mengusap wajahnya kasar ketika melihat caiiran putih kental mengalir keluar dari milik Pevita." Sial." Gumamnya lalu melihat wajah Pevita, kedua mata itu tak henti mengalirkan airmata
Cepat-cepat Milan memakai satu per satu pakaiannya lagi dan bergegas keluar dari kamar hotel meninggalkan Pevita seorang diri. Milan menuju Basement hotel dan masuk kedalam mobilnya. Melajukan mobilnya mengitari kota mencari apotek, Milan tak mau mengambil resiko benihnya tumbuh dirahim Pevita. Dendamnya sedikit terbalas pada Delan melalui adik kesayangannya, Milan sangat tahu seberapa besar pria itu menyayangi Pevita
Milan berhenti disebuah apotek kecil. Ia memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar. Tak kesulitan ia mendapatkan obat penggugur kandungan untuk Pevita, lalu kembali masuk kedalam mobil
Sementara di hotel, Pevita berusaha bangkit. Tubuhnya terasa remuk saat ini, apalagi area sensitifnya. Dengan wajah sembab dan rambut yang berantakan, memunguti lagi satu persatu pakaian dalamnya dilantai
Tangisan Pevita kembali pecah ketika melihat ceceran darah segar di atas sprei putih. Tubuh Pevita kembali bergetar, ketika ingat betapa sakitnya ketika Milan merebut keperawanannya. Pevita takkan pernah melupakan pelecehan ini, ia membenci Milan, pria itu sangat tak punya hati nurani
Dengan langkah sempoyongan, Pevita mendekati kaca dimana dressnya berada kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak dilantai. Pevita memakai dress yang sudah tak utuh itu lagi lalu mendekati lemari pakaian, mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh bagian belakangnya
Isak tangis Pevita masih terdengar memilukan. Ia mengacak-ngacak lemari pria itu mencari jaket dan menemukan sebuah switter hitam. Pevita segera memakainya dan bergegas keluar dari kamar dengan sempoyongan karena seluruh tubuhnya masih terasa sakit
" Aku harus kemana." Gumamnya, tidak mungkin Pevita pulang ke rumah dengan keadaan berantakan seperti ini. Kejadian yang dialaminya sangat memalukan dan Pevita tak mau ada satu orangpun tahu
Pevita jalan tak tentu arah, mengitari gang-gang kecil dibelakang hotel tersebut tanpa rasa takut. Ia sudah kehilangan semuanya untuk apa ia merasa takut. Pikirnya
Bahkan tubuhnya masih gemetar sampai sekarang, perutnya juga masih sakit karena sepertinya asam lambungnya naik. Ditengah jalan, Pevita mengingat satu hal, ia punya seorang teman yang rumahnya tak jauh dari sana. Pevita bergegas dengan jalan lunglai untuk menuju kesana
Tiba disebuah gedung tinggi, Pevita langsung masuk menuju lantai paling atas. Pevita menekan-nekan bell, tak berapa lama pintu terbuka menampilkan gadis seumuran dirinya dan seorang pria yang tubuhnya hanya berbalut handuk dipinggang, keduanya tampak mengenali Pevita dan sedikit terkejut dengan keadaan Pevita
__ADS_1
" Pevita?" Pevita memberanikan diri mengangkat wajahnya
" Lany, bolehkah aku masuk?" Tanyanya dengan suara bergetar. Gadis yang dipanggil Lany itu tak menjawab, malah menarik pelan Pevita dan mengajaknya masuk kedalam Apartementnya
" Apa aku mengganggu?"
" Tidak, Jason akan pulang." Sautnya menggandeng Pevita menuju sofa, duduk disana. Sementara sang pria kembali kekamar untuk memakai pakaiannya, melihat pria tanpa busana membuat Pevita takut dan mengingat Milan
Sejenak Lany meninggalkan Pevita, ia bahkan tak berani bertanya dengan apa yang terjadi pada temannya itu. Lany menuju dapur membuat teh hangat untuk Pevita, mengingat tubuh gadis itu sedikit menggigil
Lany kembali dengan cangkir putih diatas nampan. Ia kembali duduk." Minumlah." Perintahnya
Dengan jemari bergetar Pevita mengambil secangkir teh hangat itu, meneguknya pelan-pelan, sedikit mengurangi rasa sakit diperutnya
" Kau sudah makan Pev?" Pevita tak menjawab pertanyaan Lany
" Bolehkah aku menginap, hanya untuk malam ini saja."
" Aku tidak mau pulang ke rumah."
" Baiklah, kau boleh menginap." Saut Lany tanpa henti menatap. Pevita tak seperti Lany yang hidup bebas jauh dari orangtua, gadis itu masih manja dan tak pernah diijinkan kedua orangtuanya menginap dirumah siapapun, kedua orantua dan kakak Pevita sangat menjaga dengan baik gadis itu sehingga tak pernah kelayaban seperti anak gadis seusianya
Pevita mengingat sesuatu lalu mengambil ponselnya yang berada ditas kecil. Pevita menghubungi sang Mammi, dalam hitungan detik panggilan itu terjawab
" Sayang, dimana kamu? hujan sangat lebat. Biar supir menjemput."
" Mam, aku masih sibuk, aku harus menyelesaikan tugasku."
" Besok saja jangan terlalu memaksa, katakan dimana kamu sekarang."
" Tidak bisa Mam, aku dan teman-teman harus menyelesaikannya malam ini."
" Sayang, nanti Daddy marah."
__ADS_1
" Mam aku baik-baik saja, aku hanya mengerjakan tugas. Jangan khawatir."
" Bukan seperti itu-"
Tit
Pevita mematikan panggilan itu secara sepihak, kedua matanya menggenang lagi airmata. Ia telah mengecewakan kedua orangtua dan kakaknya meskipun sedikitpun itu bukan kesalahannya
Ponsel itu berkali-kali berdering namun Pevita tak berniat mengangkatnya. Mendengar suara sang Mammi membuat Pevita ingin kembali menangis, bagaimana sedihnya perempuan yang telah melahirkannya itu bila tahu Pevita menjadi korban pemerkosaan
" Kau sepertinya butuh istirahat." Pevita tak menjawab hanya membiarkan Lany menariknya menuju kamar. Kamar itu masih berantakan sisa percintaan Lany dengan kekasihnya. Melihat Jason, Pevita menunduk membuat Jason yang juga temannya merasa heran, pria itu melirik Lany yang mengedikan bahu tak tahu harus bicara apa
" Baby, aku pulang." Pamit Jason, sejenak keduanya saling mengecup bibir
Ketika Jason sudah tidak ada, Pevita memberanikan diri membaringkan tubuhnya diatas kasur Lany
" Lany maaf, aku pasti mengganggumu."
" Bukan masalah Pev, katakan apapun, aku akan membantu." Pevita tak menjawab, malah bergerak membelakangi Lany. Airmatanya kembali berderai ketika bayangan-bayangan Milan yang sedang memperdayainya terlintas lagi, rasanya dada Pevita sesak dan kesulitan bernafas
" Pev, ada apa?" Tanya Lany mendekati Pevita, namun gadis itu malah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan
" Abaikan saja aku, kumohon." Ucapnya membuat Lany khawatir. Tapi tak bisa berbuat banyak, ia memutari kasur dan ikut berbaring disamping Pevita, mengikuti keinginan Pevita untuk mengabaikan tangisan itu
Ditempat lain, Milan baru saja tiba dikamar hotelnya lagi. Ia sedikit terkejut karena Pevita sudah tidak ada. Salah dirinya yang lupa tak mengunci pintu kamar sehingga Pevita pergi begitu saja. Milan memukul tembok dengan kepalan tinjunya
" Sial, kemana dia?" Gumam Milan lalu berlari keluar kamar lagi. Ia kembali ke basement dan menaiki mobilnya. Mencoba mencari Pevita, mungkin saja wanita itu belum jauh
Milan memukul-mukul stir kemudi saat tak menemukan Pevita. " Ahhh kemana gadis itu?" Gumamnya memijat pelipisnya sendiri
-
-
__ADS_1