
🌹🌹🌹
" Aunthy Chesy .. " gumam Delan pelan
" Delan, dimana ayah dan ibumu? mereka juga disini kan?" tanya Chesy yang datang bersama sang suami dan anaknya, saat itu Chesy tak sengaja melihat keponakannya sedang duduk berdua bersama seorang wanita berperut buncit
" Tidak, aku sendiri!" saut Delan
" Oh kamu ada urusan pekerjaan pastinya." Chesy melirik wanita disamping Delan yang sedang menutupi perut buncitnya dengan kedua tangan
Bella memberanikan diri mengangkat wajah, ia tersenyum dan mengulurkan satu tangannya." Kenalkan saya-"
" Dia istriku!" potong Delan membuat Bella terkejut dan langsung menoleh padanya
" Delan .. " sang tante dan sang Paman tampak tidak mengerti dengan pengakuan Delan
" Jangan bercanda!" Chesy sedikit membentak Delan
" Dia istriku." kali ini wajah Delan tampak serius sembari menggandeng bahu Bella yang menundukan pandangannya kebawah, wajah Bella ketakutan dan memucat
" Delan .. what happened?" Raut wajah Chesy dipenuhi rasa tidak percaya dengan pria baik yang telah ia kenal sejak kecil itu. Bahkan sebelum menikah Delan tak pernah bermain wanita, pria itu pendiam dan hanya Angela lah wanita yang Chesy kenal dalam hidup Delan
" Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tidak disini. Biarkan aku mengantar Bella pulang lebih dulu." saut Delan
Chesy hanya mengangguk membiarkan Delan membawa wanita yang ia akui sebagai istri itu keluar dari Restaurant
Sampai dirumah pun Bella maupun Delan tak ada yang membuka suara, keduanya larut dalam pikiran masing-masing
Delan membawa Bella kekamar mereka." Tidurlah lebih dulu, aku akan pulang malam."
" Delan .."
" It's oke, I am fine honey .."
" Aku takut!"
" No .. tidak ada yang perlu ditakutkan. Kita hadapi bersama hmm?" Bella mengangguk lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat
" Kunci pintunya. " bisik Delan lalu pergi meninggalkan Bella
Satu jam ia mengitari jalan menuju rumah sang grandma. Saat sampai ia segera masuk kedalam, tampak semua orang telah menunggu Delan diruang tamu rumah besar itu. Semua orang sepertinya telah diberi tahu Chesy, lihatlah wajah-wajah bingung itu
Delan menghela nafas lalu mendudukan dirinya disamping sang paman." Katakan, apa yang dikatakan Chesy itu benar?" tanya sang grandma padanya dengan wajah khawatir
Delan mengangguk." Ya, dia istriku!"
" Delan .." semua orang memanggil Delan dan menghela nafas
" Orangtuamu tahu?"
Delan menggelengkan kepalanya membuat semua orang kembali menghela nafas
" Kenapa? kamu bosan jadi pria baik?" kini sang Paman membuka suara sembari bergerak menghadap Delan
" Delan itu kesalahan? kamu dijebak hmm?" Chesy masih tak percaya dengan keponakannya itu
" Tidak aku melakukannya secara sadar Aunthy. Aku menikahi Bella atas keinginanku." saut Delan jujur
" Siapa wanita itu? darimana kamu mengenalnya? ditempat hiburan? dia seorang artis or model?"
Delan menggelengkan kepalanya pelan
" Dia .. dia cinta pertamaku .." aku Delan
" Maksudmu?" Jiana membuka mulutnya
" Jangan bilang dia Isyabella, pengasuh sikembar?" tebak Jiana
Delan mengangguk pelan
" Delan .." semua orang kembali memanggil Delan dengan nada membentak
" Bella gadis yang baik, kenapa dia mau-" Jiana tak bisa berkata-kata lagi, pantas saja waktu itu ia seperti mengenal wanita yang sedang bercumb* dengan keponakannya disisi pantai malam itu
" Bella tahu kau sudah beristri?"
" Ya dia mengetahuinya."
" Ada apa dengan kalian? kalian akan menyakiti Angela, Delan kamu sadar itu?" Delan membungkam dengan pertanyaan Jiana, ia menundukan pandangannya. Semua orang taakkan percaya bahwa Angela lah yang menyebabkan Delan berani selingkuh dan membawa Bella dalam hidupnya yang rumit
" Aku akan menyelesaikan semuanya?"
" Bagaimana kamu akan menyelesaikannya?" Bryan mencengkram pelan kerah kemeja Delan
__ADS_1
" Kamu akan meninggalkan Bella setelah bersenang-senang dengannya begitu? atau kamu akan menceraikan Angela? bukankah kamu akan menyakiti keduanya? Delan sejak kapan kamu jadi seorang pengecut huh?." Bryan tampak mulai emosi, cengkramannya kian menguat. Meskipun dulu ia nakal, tapi setelah menikah Bryan tak pernah berani menyakiti Jiana tapi keponakannya ini malah berbalik, saat muda Delan pria pendiam, baik, anak penurut namun apa yang terjadi, benar-benar tak bisa ditebak
" Aku tidak mungkin meninggalkan Bella, dia sedang hamil anakku dan aku sangat mencintai Bella."
" Astaga!" semua orang benar-benar jengah terutama Bryan, pria itu mengusap wajahnya kasar sambil menatap Delan
" Delan, apa kamu tidak memikirkan mamimu? atau Daddymu yang akan menanggung malu bila keluarga Angela tahu kamu menghianati putri mereka?"
" Aku akan menyelesaikan semuanya tanpa melukai siapapun!" Delan menatap semua orang bergantian dengan wajah serius
" Tidak mungkin kamu tidak akan melukai siapapun, diantara Angela dan Bella pasti akan ada yang kamu sakiti."
" Aku akan menceraikan Angela!"
" Apa alasanmu menceraikan dia?" tanya Bryan
" Karena dia mengkhianatiku!" akunya membuat semua orang kembali terkejut
" Apa maksudmu?" Desak Bryan. Delan menatap semua orang bergantian lalu menceritakan semuanya, tentang Angela yang berselingkuh bersama Alvin. Semuanya tentu sangat terkejut dan tampak tak percaya, selama ini semua orang sangat tahu hubungan keduanya sangat harmonis dan terlihat saling mencintai
" Apa benar yang kamu katakan ini? apa ini hanya alibimu agar kamu tidak disalahkan. Lalu mana buktinya?"
" Paman .. aku tidak seberengsek itu! Kalian sungguh tidak mempercayaiku" bentak Delan dengan kedua mata menyalang tajam
" Kami bukan tidak mempercayaimu, tapi untuk urusan perceraianmu, semua harus ada bukti yang kuat kenapa kamu memutuskan untuk menceraikan Angela." Delan membungkam, sialnya sampai saat ini ia dan para pengawalnya belum mendapati Angela dan Alvin tengah berselingkuh lagi. Keduanya tampak menjaga jarak dan seperti orang asing sejak lama, kemanapun Angela pergi, wanita itu tak pernah diantar Alvin lagi dan lebih memilih mengendarai mobilnya sendiri
" Apa ketidakharmonisan dan ketidakcocokan dalam rumah tangga saja tidak cukup untuk menceraikan Angela."
" Lalu apa yang akan kamu katakan pada keluarga Angela? Delan kamu seorang pria, dulu kamu mengambil Angela dari keluarganya. Mereka akan menganggapmu sampah jika mengembalikan Angela tanpa alasan yang jelas terlebih disini posisinya kamu yang salah."
" Sudah kubilang Angela yang menghianatiku duluan."
" Ya .. anggaplah Angela mengkhianatimu, lalu apa kamu punya bukti? tunjukan pada kami?"
Delan menggelengkan kepalanya lemah dengan wajah jengah." Kalian sungguh tak mempercayaiku?"
" Kami mempercayaimu, tapi bagaimana dengan orangtuamu dan orangtua Angela?" Delan kembali membungkam lalu mengusap wajahnya kasar, wajahnya terlihat bingung dimata siapapun
" Bawa Bella kemari, biarkan kami menemuinya?"
" Jangan menyakiti Bella." Delan menggelengkan kepalanya cepat dengan wajah memelas menatap semua orang bergantian
" Dia wanita yang baik, dia tidak pantas mendapatkan kebencian dari siapapun. Disini akulah yang salah." tambah Delan
Delan memutuskan untuk pergi sesuai keinginan semua orang ia akan membawa Bella. Delan melajukan mobilnya menuju Apartement Bella sambil berpikir keras, bagaimana cara ia mengakhiri semuanya dengan Angela, Delan belum mempunyai celah, ia memang belum mempunyai alasan serta bukti yang kuat untuk pengadilan agar langsung menyetujui gugatan cerainya pada Angela
Sementara di Apartement Bella sedang berjalan mondar-mandir memikirkan suaminya yang tak kunjung pulang. Saat mendengar Bell yang kerap Bella segera berlari menuju pintu, ia membuka pintu itu namun yang dipikirkan Bella ternyata salah, itu bukan Delan sang suami melainkan
" Pak Milan .. " gumamnya
" Bella .. ternyata aku benar, ini rumahmu ya .." Bella mengerutkan dahi melihat kedua mata Milan yang memerah dan nafas yang berbau alkohol dari mulut Milan
" Kamu mabuk?" tanya Bella menyentuh pundak itu
Milan menggelengkan kepalanya
" Aku mencintaimu .." ucapnya membuat Bella tertegun, ia menarik tangannya namun dihentikan Milan. Pria itu menarik lagi satu tangan Bella meletakan didada kirinya
" Kamu merasakannya Bell?"
" Pulanglah kamu mabuk!" Bella memaksa menarik tangannya
" Kenapa? karena Delan?"
" Pulanglah, aku mohon." Milan menyeringai, ia tertawa kencang
" Kenapa? kamu takut hmm? kamu takut Delan melihat kita?" Padahal sejak tadi Delan sudah melihat semuanya sejak Bella membuka pintu tapi Delan hanya berdiri dibalik tembok memperhatikan keduanya, ia ingin tahu seberapa setia Bella padanya. Trauma akan pengkhianatan Angela tentu membuat kepercayaan Delan terhadap siapapun berkurang termasuk Bella
" Kamu tahu Bella, berapa lama aku menahan perasaanku?"
" Kumohon .. pulanglah!" Bella memelaskan wajah memegangi perutnya sambil memundurkan langkahnya kebelakang
" Kau jahat Bella, kau menolakku tapi kau menerima Delan yang sudah beristri. Apa yang kau harapkan? bukankah hanya rasa sakit karena selalu dinomerduakan?" Milan tertawa sekencang mungkin mentertawakan nasib dirinya yang malah mencintai perempuan seperti Bella
" Kau murahan, kau munafik, kau tidak lebih dari seorang-"
Plak
Tamparan keras mendarat dipipi kanan Milan membuat Milan semakin terpancing, amarahnya memuncak. Benci dan cinta ia rasakan pada Bella, Milan bergerak cepat, ia masuk kedalam mendorong Bella ketembok dan memaksakan bibirnya mencium Bella
" Lepaskammmppp." Bella mencoba berteriak namun terbungkam bibir Milan
" Dengar Bella kau akan bisa membedakannya, antara aku dan Delan, kita buktikan!" Milan kembali memaksa Bella sambil menggeret wanita itu masuk kedalam, kedua tangannya mencoba merobek dress yang dipakai Bella
__ADS_1
" Lepaskan aku .."
Bruk
Delan dengan kedua mata menyala menarik Milan hingga pria itu terjatuh kelantai lalu segera memeluk Bella yang ketakutan
Seketika itu juga Milan tertawa kencang sambil beringus bangun
" Hanya itu saja kemampuanmu brengsek?" tanya Milan menantang Delan, sudah sejak lama ia ingin sekali menghabisi pria itu, dan ia pikir ini adalah kesempatannya
Delan sebenarnya sudah berapi-api, darahnya mendidih melihat Milan yang mencoba memperkosa istrinya. Ia ingin mematahkan semua tulang pria itu saat ini juga tapi didepan Bella, Delan tak mungkin menunjukan sisi binatangnya. Ia tak mau membuat Bella takut
Delan menghalangi Bella dengan tubuhnya saat Milan kembali mendekat. Pria itu sudah beberapa langkah lagi didepan Delan namun beruntungnya petugas keamanan datang tepat waktu sehingga atas perintah Delan petugas keamanan disana menyeret Milan keluar dari rumahnya dan Bella
Ketika itu Bella menangis kencang, tubuhnya bergetar. Delan segera membawa Bella masuk kekamar mereka mendudukan dirinya disisi ranjang, sementara Delan berlutut dilantai mengulurkan kedua tangannya menghapus airmata Bella serta mengusap bibir Bella dengan ibu jarinya dengan amarah didadanya
" It's oke ada aku, kamu aman sayang .."
" Aku takut Delan, aku takut Milan menyakitimu!"
" Syuuutttt, aku bisa menjaga diriku!" saut Delan lalu membopong Bella ketengah ranjang, berbaring dan memeluk Bella dengan tangan tak henti mengusap punggung Bella, menenangkan wanita itu dalam pelukannya
Saat tak mendengar suara isakan tangis Bella lagi, Delan mengurai pelukan lalu menatap Bella yang masih terisak." Tidurlah .." bisik Delan mengelus pipi Bella yang basah
" Tidur siang akan membuatmu lebih baik."
" Ini sudah sore." gerutu Bella membuat Delan tersenyum
" Uhhm sore ya." sautnya lalu memberi kecupan lembut dikening Bella, wanita itu tersenyum hangat menatap Delan dengan sisa-sisa airmata dipelupuk matanya yang mana langsung diusap Delan dengan ibu jarinya
" Kamu selalu cantik Bella." pujinya hingga senyuman itu merekah sempurna
" Jangan pergi!" Bella memegang pinggang Delan dengan erat
" No, iam stay here!" saut Delan lalu memejamkan mata dan kembali memeluk erat Bella
Selang beberapa jam Delan membuka matanya lagi saat mendengar suara dengkuran kecil Bella. perlahan Delan melepaskan dirinya, ia beringus duduk." Tunggulah sebentar saja Bella, bersabarlah sedikit lagi sayang, aku akan selesaikan semuanya sehingga kita akan selalu berdua, setiap hari menunggu Jeslyn lahir kedunia ini, jadi sayang tunggu aku hmm." bisiknya lalu membungkuk mencium kening Bella lagi
Raut wajah Delan kembali berubah, kedua matanya kembali menyala. Dengan langkah tegapnya ia keluar dari kamar dan Apartement, ia menuju lobi menuju tempat petugas keamanan disana
Sayangnya petugas keamanan itu telah membebaskan Milan menyangka kegaduhan yang dibuat Milan semata-mata karena pria itu sedang mabuk
" Brengsek!" umpat Delan pada para petugas disana membuat mereka merasa heran, tidak biaasanya pria sopan yang selalu sopan itu sangat kasar, lalu Delan menuju mobilnya yang terparkir dibasement
Delan melajukan mobilnya menuju tempat Milan, ia tentu takkan diam dengan pelecehan pria itu terhadap istrinya, setidaknya ia harus mematahkan salah satu tulang Milan, bibir Delan menyeringai saat tak sengaja mobilnya berpapasan dengan Milan yang sepertinya akan melaju menuju pusat kota
Delan menginjak gasnya sekencang mungkin, ia memakai sabuk pengamannya, ia membanting stir memutar mobil mengikuti Milan. Delan melaju dengan kecepatan maksimal, seolah tak merasa sayang
Bruuuuuuuuukkkkkkk
Delan menabrakan mobilnya pada mobil Milan yang berada tepat didepannya. Delan bahkan tampak tak merasakan sakit saat kepalanya terbentur kaca, saking kencangnya tabrakan itu pelipis Delan terluka dan mengucurkan darah segar
Dengan kedua mata menyala Delan keluar dari mobil, saat itu keadaan benar-benar sepi. Delan membuka pintu mobil lalu menggeret Milan keluar, pria itu juga sama seperti Delan terluka dibagian kepala
" Beraninya kau menyentuh istriku!" Delan memberikan tiga kali tinjunya diperut Milan hingga pria itu mengaduh kesakitan. Delan mencekik leher Milan dengan kedua tangannya
" Sekali lagi aku melihatmu menyentuh Bella, aku takkan diam, aku tidak takut meskipun harus mendekam dijeruji besi!" Delan menghempas tubuh yang lemah itu keaspal
Merasa belum puas Delan kembali menendang perut Milan dengan sekuat tenaga, hingga pria itu mengaduh kesakitan lagi. Tubuhnya terkapar lemah dihadapan Delan
Delan memutar tubuhnya berniat meninggalkan Milan setelah merasa puas memberi pelajaran pada Milan agar tak mengganggu istrinya lagi, Delan sangat marah karena Milan berusaha melecehkan Bella. Padahal Delan berniat meminta maaf pada Milan karena telah mengecewakan pria itu namun ternyata Milan tak sebaik yang ia pikirkan
Bruk
Sebuah batu besar mendarat kencang dikepala Delan membuatnya tersungkur keaspal
" Kau yang lebih brengsek!" umpat Milan lalu membuang batu besar itu kesembarang arah. Kini pria itu yang memukuli Delan tanpa ampun, menendang perut juga wajah tampannya. Milan sangat membenci wajah itu, mungkin wajah Delan salah satu yang membuat Bella tertarik padanya. Rasa kecewa membuat Milan melupakan pertemanannya dan Delan yang sudah terajut sejak keduanya mengais ilmu di Harvard
" Kau penghianat, kau munafik dan kau pantas mati!" Milan membabi buta memukuli Delan, ia menaiki tubuh Delan, Delan yang belum siap tentu kalah, pria itu terkapar, wajahnya babak belur, mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya
" Mana? sampai inikah kekuatanmu hah?" Delan berusaha menaikan tinjunya, dengan kepalan lemah. Tapi tiba-tiba ia mengingat Bella, Delan tidak bisa mati konyol seperti ini. Bagaimana Bella? bagaimana bayi mereka?
Kedua mata Delan berkaca." Jangan .." suara itu lemah mencoba menahan tinju Milan yang akan kembali mendarat di wajahnya
" Jangan .. kumohon, jangan membunuhku Milan .. aku sangat mencintai Bella dan bayiku." ucapnya dengan suara bergetar
Brukk
Tinju kencang pada wajahnya untuk terakhir kali membuat Delan tak berdaya dan tak sadarkan diri terkapar dihadapan Milan
-
-
__ADS_1
"