Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Dua garis merah


__ADS_3

Airmata Pevita tak kunjung berhenti setiap malam. Ia menangisi Milan, ia tak tahu keadaan pria itu, semua fasilitas termasuk ponsel di ambil sang ayah. Tak ada yang mengerti perasaan Pevita selama dua bulan ini, ia merasa tersiksa tanpa kabar Milan. Sejak malam itu, keduanya benar-benar terpisah, yang membuat Pevita sedih adalah kondisi Milan malam itu, pria itu dihajar habis-habisan oleh kakaknya


" Aku merindukanmu Kak." Gumamnya seraya menatapi Eleanor yang terlelap disampingnya. Melihat wajah itu, kerinduan Pevita sedikit terobati, lalu Pevita memeluk tubuh kecil itu seerat mungkin membuat sang pemilik tubuh tampak meronta


" Mommy no!" Rengeknya membuat Pevita tersenyum, dikecupnya pipi bulat itu lalu ikut memejamkan mata


" Elea, apa yang harus Mommy lakukan." Gumam Pevita


Paginya suasana tampak sedikit riuh membuat Pevita membuka kedua mata. Ia terkejut ketika melihat beberapa orang masuk kedalam kamarnya termasuk Mammi Bulan." Mam ada apa?"


" Sayang, mereka akan membantu merias wajahmu. Cepatlah mandi."


" Memangnya ada apa Mam?" Mammi Bulan hanya tersenyum duduk disisi Pevita


" Pev, Mammi sangat berharap kamu bahagia."


" Mam tahu aku menyukai Milan."


" Itu tidak mungkin sayang, kesalahan Milan padamu tak bisa dimaafkan."


" Aku sudah memaafkannya."


" Memangnya apa yang dia lakukan? Apa dia berusaha datang kemari meminta maaf pada kami? Tidak sayang, Daddy sangat membencinya, Delan juga." Pevita menggelengkan kepala


" Tak bisakah kalian memaafkannya saja, setidaknya demi Elea, dia juga pasti ingin bertemu ayahnya." Kedua mata Pevita mulai berkaca-kaca


" Mammi ingin bertanya? Seberapa serius dia denganmu?" Pevita membungkam, hanya airmatanya saja yang berlinang dipipi


" Hmm?" tanya Mammi Bulan


" Kalau dia serius, sekeras apapun kami melarang, dia akan tetap datang. Datang memintamu pada kami." Pevita tak bisa menjawab, memang benar apa yang dikatakan sang Mammi, airmatanya mulai membanjir membuat Mammi Bulan segera memeluknya

__ADS_1


" Bergegaslah mandi, dibawah Kenzi dan keluarganya sudah menantimu!"


" Aku tidak bisa!"


" Dengarkan baik-baik, dulu Mammi dan Daddy sama-sama tidak saling menyukai, Grandpa menjodohkan kami. Dan sekarang Mammi sangat yakin pada kamu dan Kenzi." Tapi Pevita masih menggelengkan kepalanya


" Sayang, Kenzi pria yang baik, dia bahkan mau menerima Eleanor."


" Tapi aku tidak mencintainya!" saut Pevita sesegukan


" Cinta akan datang seiring berjalannya waktu kalian bersama, percayalah." Mammi Bulan mengusap kedua sudut mata Pevita


" Ayo bergegas, bahkan Elea sudah sangat cantik dibawah." Perlahan Pevita bangkit, meninggalkan Mammi Bulan menuju kamar mandi. Sambil memikirkan semuanya, memikirkan Milan yang memang tak ada kabarnya sampai detik ini


" Haruskah begini, sampai pasangan pun harus mereka yang memilih. Apa aku sebodoh itu dalam mengenali pria." Gumam Pevita menangis dibawah guyuran air shower


Dengan kebaya hijau daun yang sangat cantik, Pevita menuruni tangga ditatapi semua orang yang terpana. Mau tak mau Delan setuju dengan perjodohan adiknya bersama Kenzi, daripada bersama Milan yang sangat brengsek lebih baik bersama Kenzi, nama baik pria itu bersih tanpa cela. Pikir Delan sembari menatapi adiknya, tubuh itu tampak mengurus


" Putriku sangat cantik." puji Daddy Dean dengan senyum sumringah, ia melirik Mammy Bulan yang pandai sekali merayu putrinya hingga mau turun kebawah


" Jadi kapan acara pertunangannya." Serga Tuan Malik begitu Pevita duduk ditengah antara kedua orangtuanya. Daddy Dean menoleh pada Pevita yang hanya diam melamun


" Untuk pernikahan kita bicarakan nanti."


" Aah tidak usah dinanti-nanti bila keduanya sudah sama-sama saling suka." Saut Tuan Malik melirik Kenzi dan Pevita bergantian. Pevita hendak membuka mulutnya namun ditahan Daddy Dean, pria itu mencekal jemari Pevita


" Mungkin dalam satu minggu kedepan." Pevita sangat terkejut hingga perutnya terasa bergejolak dan mual, tapi ia menahan diri dengan memejamkan kedua mata


Semua orang tampak senang, apalagi Pevita hanya diam tak menolak. Itu artinya gadis itu menerima pinangan Kenzi. Tapi semua orang tidak tahu bahwa Pevita sedang menahan diri untuk tak pergi kekamar mandi, meski keringat dingin didahi dan pelipisnya bercucuran


" Pevita, kamu mau pesta yang bagaimana?" Tanya Tuan Malik, semua menoleh pada Pevita yang hanya diam menunduk dan memejamkan kedua mata

__ADS_1


" Pevita, putriku satu-satunya. Meskipun ada Elea, aku ingin pernikahan ini benar-benar mewah." Ucap Daddy Dean dengan senyumannya


" Baiklah kita persiapkan dari sekarang." Saut Tuan Malik, sementara Kenzi hanya tersenyum sembari menatapi Pevita yang luar biasa cantik malam ini


" Aku permisi sebentar." Pevita seolah tak bisa menahan lagi gejolak dalam perutnya, gadis itu berlari menuju kamar mandi, mengunci pintu dan memuntahkan semua makan malamnya


Tubuh Pevita mendadak lemas menempel kedingding. Tiba-tiba ia menutup wajahnya dan menangis, sampai punggungnya bergetar hebat." Kak Milan." Gumamnya tersedu-sedu


Setelah merasa nyaman, Pevita keluar dari kamar mandi. Ia sedikit terkejut karena ternyata ada Kenzi didepan kamar mandi sedang menunggunya


" Kau mau memakai kamar mandi?' Tanya Pevita


" Kamu sakit Pev? Wajahmu pucat sekali." Ucap Kenzi sembari menyentuh kening Pevita


" Aku hanya kurang tidur." Saut Pevita


" Kalau begitu istirahatlah." Perintah Kenzi dengan suara lembut, Pevita hanya mengangguk lalu melengos begitu saja menjauhi Kenzi


Pevita menaiki lantai dua dimana kamarnya berada. Ia segera mendekati meja nakas disamping tempat tidurnya." Dimana, dimana?" Gumam Pevita mencari kesemua laci meja nakas


Tak menemukannya disana, Pevita mencari kedalam lemari, ia buka semua pintu semua laci dalam lemari tersebut. Ketika menemukannya, Pevita menggenggam kuat benda itu lalu masuk kedalam kamar mandi


Dengan tangan bergetar dan kedua mata berkaca-kaca, Pevita menatapi benda panjang yang ternyata adalah testpack ditangannya. Tubuh Pevita kembali melemas ambruk diatas lantai, ini yang paling ia takutkan selama ini, hampir dua bulan ia tak mendapatkan mentruasi


Dua garis merah cukup membuat airmata Pevita berderai." Ya Tuhan." Gumam Pevita, ingin sekali ia menjerit histeris namun tak bisa, kamarnya tak dilengkapi pengedap suara untuk saat ini


Pevita meremmas perutnya sendiri, bukan benci tapi ini bukan waktu yang tepat. Sementara Milan tak ada kabar sama sekali, Pevita bingung ia harus bicara pada siapa. Jika semua orang tahu, mungkin mereka akan sangat kecewa padanya terutama sang Daddy, bahkan satu bulan kebelakang pria paruh baya itu mendiamkan Pevita, tak mengajaknya bicara sama sekali meskipun Pevita berasa didekatnya. Dan hari ini pertama kalinya lagi sang ayah tersenyum pada Pevita." Aku harus bagaimana." Gumam Pevita meluruh kelantai kamar mandi


-


-

__ADS_1


__ADS_2