Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Milan bangun


__ADS_3

" Pevita, Milan sudah sadar." Spontan kedua mata Pevita mengerjap dan terbuka, ia menoleh kebelakang pada ranjang dimana Milan sudah duduk tegap, wajahnya masih memucat pasi. Ada satu hal yang membuat Pevita merasa lucu, yaitu melihat tingah putrinya dan Milan yang tampak malu-malu. Eleanor berdiri di ujung ranjang Milan menatapi sang ayah yang juga hanya terdiam menatapnya


Perlahan Pevita mulai bangun, mendekat dan duduk disisi ranjang Milan." Elea, kemari." Perintah Pevita mencoba meraih jemari mungil yang sedang berpegangan pada sisi kasur. Pevita menarik pelan tubuh itu mengelilingi ranjang lalu memangku Pevita duduk dipangkuannya. Ia tersenyum pada Milan


" Kak, aku merasa berdosa, selama ini aku tidak pernah jujur mengenai Elea, kak, dia putrimu!" Aku Pevita. Milan hanya diam, pandangannya tak terlepas sedikitpun dari Eleanor


" Sayang, sapa Daddymu." Namun balita mungil itu malah memalingkan wajahnya dari sang ayah pada Delan, ia menunjuk Delan


" No, Daddymu ini." Tunjuk Pevita pada Milan


" He is your Daddy."


" Ayo sapa Daddymu." Milan hanya tersenyum, jemarinya yang masih kaku mencoba menggapai jemari kecil Eleanor, saat berhasil Milan mengecup kepalan jemari kecil itu membuat Eleanor menoleh padanya


Milan tersenyum manis." Hai." Sapanya. Eleanor tersenyum pada Pevita


" Ya, he is your Daddy."


" Daddy." Panggilnya membuat kedua mata Milan berkaca-kaca. Milan mencoba memberanikan diri menarik Eleanor ke pangkuannya, saat berhasil ia langsung memeluknya dengan erat. Tangisnya pecah saat ini. Pevita segera mendekat dan berhambur memeluk Milan dan Eleanor


" Aahhhk sakit." Ucap Milan ditengah tangisnya, Pevita segera melepaskan Milan. Sebenarnya bukan karena sakit, itu hanya alasan Milan. Ia hanya merasa malu karena ada Delan dan Daddy Dean memperhatikan mereka


" Mana yang sakit?" Tanya Pevita mengelus dada Milan, Milan melirik Delan dan Daddy Dean, wajah itu tampak datar. Milan menepis pelan jemari lentik Pevita dan tersenyum


Pevita membalas senyuman itu lalu menggenggam jemari Milan yang sedang mengelus rambut Eleanor." Mommy No!" Bentak Eleanor menarik lengan Milan dan ia tujukan lagi ke rambutnya. Semua orang tertawa begitupun Milan, ia menatapi balita yang nyaman dipangkuannya itu penuh haru. Milan mengecup keningnya dengan begitu lembut


" Aku sudah tahu kalau dia putriku." Aku Milan


" Kamu sudah tahu? Sejak kapan?" Tanya Pevita. Milan melihat pada Pevita

__ADS_1


" Hatiku mengatakan hal yang berbeda ketika melihatnya dikamarmu. Malam itu aku sadar kalau Eleanor bukan putri kakakmu melainkan putriku." Kedua mata Pevita berkaca-kaca


" Terima kasih, kamu mengenalinya dengan baik." Ucap Pevita, Milan ingin sekali memeluk Pevita karena rasa rindunya, tapi sekali lagi Delan dan Daddy Dean membuat Milan menahan diri, ia tak akan seberani dulu menyentuh Pevita sebelum ada lampu hijau dari keduanya. Milan akan meminta gadis itu secara baik-baik mulai sekarang


Rupanya Eleanor langsung menempel pada ayahnya sampai balita itu tidur dipangkuan Milan. Kedua tanganya tak melepaskan tubuh sang ayah yang tampak masih merasa kesakitan. Pevita merasa senang, setelah menghabiskan makan siangnya, Pevita kembali beranjak duduk disisi ranjang didepan Milan. Pevita menangkup wajah itu dan mengecup bibir Milan yang dingin


" Terima kasih sudah mau bangun dan melihat Elea." Bisik Pevita, Milan tampak terkejut, untung saja saat itu tidak ada siapapun disana. Milan menyentuh pipi Pevita, membelainya dengan begitu lembut


" Aku tidak mungkin mengabaikan putriku, aku berusaha untuk bangun, aku ingin melihatnya, aku akan menyayanginya Pev." Pevita memaksa memeluk Milan juga Elanor, Milan tersenyum, ia mengecup kening Pevita, ini pertama kalinya Pevita mendapatkan itu, ia mengurai pelukan dan tersenyum pada Milan, kedua matanya menggenang airmata


Ehem


Milan langsung melepaskan kedua tangan Pevita yang melingkar manja dilehernya


" Milan sudah sadar, sebaiknya kamu pulang dulu Pev." Perintah Delan


" Aku akan menemani Kak Milan sampai dia sembuh total dan diijinkan pulang."


" Kamu masih tidak baik-baik saja, kulitmu masih pucat." Ucap Pevita. Delan berdecak kesal dengan kebucinan adiknya. Delan sungguh tak percaya sang adik bisa jatuh ketangan Milan. Sampai saat ini rasa kesal masih mengganjal dihati Delan


Mau tak mau Delan meninggalkan Pevita dan Eleanor meski ia tak rela adiknya berduaan bersama Milan. Tapi dalam posisi belum bisa bergerak lebih mana mungkin Milan bisa macam-macam pada Pevita, pikir Delan. Tanpa berpamitan pria itu melengos begitu saja meninggalkan ruang rawat Milan, membuat Milan menghela nafas


" Sepertinya Delan masih belum memaafkanku." Ucap Milan


" Dia hanya gengsi, saat kamu koma. Dia bahkan menangis." Saut Pevita. Milan tersenyum lucu menatapi Pevita, jantungnya berdebar kencang bila berada didekat gadis itu


" Aku sangat merindukanmu." Pevita kembali mendekat, ia melingkarkan kedua tangannya dileher Milan, menyusupkan pula wajahnya disana. Milan membelai mesra punggung Pevita dengan tangannya yang masih diifus tak perduli itu membuatnya sakit


" Jangan tidur lagi seperti itu, itu membuatku takut." Bisik Pevita

__ADS_1


" Tapi aku sudah bangun, aku ingin mendengar ceritamu." Pevita tersenyum meletakan sebelah pipinya dengan manja di pundak Milan


" Maaf, aku sempat membenci Elea, ketika dia masih diperutku." Milan tersenyum


" Itu hal yang wajar." Pevita tertawa pelan


" Tapi setelah dia lahir, aku sangat menyayanginya. Dia sangat lucu, dia alasanku tidak pernah mau berkencan, aku takut, Papa tiri akan seperti dalam dongeng yang hanya menyukai istrinya saja."


" Itu sebabnya kamu mendekatiku, menjeratku dengan pesonamu agar Elea tidak punya Papa tiri hmm?" Canda Milan, Pevita tertawa lagi


" Itu salah satu alasannya!"


" Lalu, alasan yang lain?"


" Aku menyukai permainanmu, aku seperti menemukan oasis digurun pasir malam itu. Itu sesuatu yang luar biasa Kak. Aku merasa lengkap ketika itu." Pipi Milan memerah dan ia merasa panas tiba-tiba, Pevita terlalu jujur padanya. Pevita menengadah menatapi Milan, ia mengulurkan tangannya membelai bibir Milan dengan sensual


Milan meneguk ludahnya kasar." Tubuhku masih kaku semua, aku tidak bisa menuruti keinginanmu." ledek Milan dengan senyum lucunya. Pevita menepuk dada itu membuat Milan mengaduh


" I'm sorry." Ucap Pevita


" Jadi karena permainan? Bukan karena kamu menyukaiku hmm?" Milan mencubit pelan pipi Pevita


" Itu alasan terakhir. Rasa sukaku padamu menjadi alasan terakhir aku ingin bersamamu. Berjanjilah kamu tidak akan pergi."


" Aku akan pergi kemana, bahkan sekarang aku belum bisa berjalan." Saut Milan, Pevita tertawa lagi lalu mengecup pipi Milan dengan begitu lembut. Ia melepaskan pelukannya sehingga Milan langsung melihat Eleanor


" Kenapa dia selucu ini." Ucap Milan membelai pipi gemul Eleanor


" Masih banyak hal lucu yang dia miliki Kak, kamu akan sangat merasa beruntung memiliki Elea." Milan tersenyum menatapi putrinya, ia mengecup kening itu bertubi-tubi. Milan merasa akan ada secercah harapan untuk ia bisa bahagia, ia hanya harus berjuang mendapatkan restu dari Delan dan keluarga Pevita

__ADS_1


-


-


__ADS_2