
Lany mencoba menghibur Pevita yang sedang galau sore ini dengan keluar dari kamar. Untuk pertama kalinya keduanya berjalan bergandengan mengelilingi kapal yang luasnya tak bisa dihitung jari tangan. Pevita sedikit terhibur ketika melihat senja diufuk barat tanda matahari akan segera tenggelam, ia dan Lany menikmati itu untuk beberapa saat
" Demi Tuhan, ini indah sekali." Ucap Lany
" Pev, ayo kita berfoto." Pevita mengambil ponselnya untuk ia dan Lany. Keduanya tertawa melihat pose konyol mereka dalam kamera Pevita. Lany tersenyum melihat Pevita, ia menggandeng Pevita lagi
" Ayo kita lihat tempat lain." Pevita mengangguk menggelayuti lengan Lany, gadis itu menjadi sandarannya disaat gundah gulana seperti sekarang. Cukup membuat Pevita merasa tak kesepian
Tapi bukannya menghibur, kini Lany malah membawa Pevita bertemu sang pembuat gundah gulana yaitu Milan. Pria itu sedang bersiap-siap bersama David dan Axel memakai pelampung untuk bermain jetsky, terlihat ketiganya diapit tiga wanita yang kemarin-kemarin Pevita lihat didekat Milan
Pevita cepat-cepat mengajak Lany pergi namun teriakan Axel menghentikan mereka
" Pevita." Teriakan itu begitu histeris
" Pevita." Sekali lagi Axel berteriak memanggil namanya. Pevita dan Lany berbalik badan lagi, ketika itu Axel berlari mendekati keduanya
" Susah sekali untuk bertemu denganmu!" Ucap Axel dengan senyuman dan nafas terengah. Pevita dan Lany hanya saling melirik
" Pevita, kau tidak mau memberiku kesempatan untuk mengenalmu?" Tanya Axel, Pevita melirik Milan yang dari jauh hanya menatapinya dengan wajah tenang
" Kau bisa bermain jetsky, maukah kau ikut denganku?" Tanya Axel lalu mencoba meraih jemari Pevita, Pevita menarik lagi tangan itu membuat Milan tersenyum disana, yakin sudah bahwa Pevita memang menyukainya. Milan hanya perlu meyakinkan Pevita agar tak terlalu memperdulikan Laura, gadis itu hanya cemburu Milan lebih menyukai temannya
Melihat Milan yang tersenyum, Pevita merasa Milan begitu percaya diri
" Baiklah." Saut Pevita membuat Axel tersenyum senang
" Tapi aku mau bersama Lany."
" Tentu, Lany bersama David." Lany hanya menuruti Pevita, Lany tidak tahu apa yang direncanakan gadis itu
Lucunya wajah Milan tampak sedikit terganggu dengan ikutnya Pevita, apalagi ketika Axel memakaikan pelampung ditubuh Pevita, pria itu sombong merasa diatas awan. Axel menoleh pada Milan dengan seringai licik dibibirnya membuat Milan berdecak kesal
Ketiga pria itu menaiki jetsky disusul dengan ketiga gadis. Pevita bersama Axel sementara Milan bersama Sabina yang merengek ingin bersama Milan. Lany bersama David yang juga super genit meminta Lany untuk memeluk tubuhnya
Milan melirik dengan tatapan sinisnya pada kedua tangan Pevita yang memeluk perut Axel, seharusnya ia yang mendapatkan itu bukan sepupunya. Milan menancap jetsky itu sehingga meluncur cepat, pandanganya menajam kedepan. Ia juga jadi tak menikmati sore harinya karena Pevita, lebih baik gadis itu dikamarnya dibanding memeluk Axel seperti sekarang
Mereka memutuskan masuk kepulau kecil yang tak jauh dari kapal. Berniat bermalam disana dengan melakukan barbeque daging dan jagung. Pevita pikir mereka hanya main jetsky saja, membuat Pevita menyesal ikut dengan mereka
Tak lama satu Jetsky datang menyusul, yaitu kedua wanita yang tadi diantar mereka. Pevita melirik Lany yang mengedikan bahunya acuh. Kemudian mereka mencoba melihat-lihat kesekitaran pulau
" Jangan jauh-jauh." Suara teguran Milan membuat Lany menoleh tapi tidak dengan Pevita
" Takutnya ada binatang buas." Tambah Milan lalu menjauh dari keduanya. Pria itu membantu Axel dan David membuat tiga tenda dan membantu membuat api unggun untuk barbeque, mereka sengaja memakai bahan alami agar terkesan seperti camping sungguhan
__ADS_1
Setelah puas melihat-lihat, Pevita dan Lany mendekati Milan dan kawan-kawan yang sedang sibuk melakukan barbeque." Aku ingin pulang." Axel tertawa
" Nanti saja, kita nikmati malam ini Pev. Jarang-jarangkan kita berada dialam bebas seperti ini." Ucap Axel dengan mata jelalatan pada paha Pevita karena hanya mengenakan hotpant jeans saja
" Kemarilah, duduk disini." Perintah Axel. Pevita melirik Lany lalu menuntun sahabatnya untuk duduk disisi Axel. Ketiga wanita yang ikut dengan mereka tampak tak menyukai Pevita dan Lany
David menyalakan musik hip hop membuat suasana sedikit menyenangkan. Mereka juga mengambil beberapa gelas dan botol yang ternyata minuman memabukan. Pevita menyenggol lengan Lany, kedua gadis itu tampak mulai tak nyaman
Tiba-tiba Milan mendekat duduk disamping Lany. Pria itu meniupi jagung yang baru saja ia bakar dan memberikannya pada Pevita, Lany melirik Pevita yang hanya diam menatapi jagung ditangan Milan." Makanlah." Perintah Milan namun Pevita tak menerimanya, gadis itu malah memalingkan wajah membuat Axel dan David mentertawakan Milan, merasa kesal Milan melempar jauh jagung bakar itu kelaut, tawa Axel dan David pecah saat itu. Lany juga ikut tertawa tiba-tiba
Membuat Pevita kesal dan menyenggol pinggangnya
Kini giliran Axel, pria itu memberikan sosis bakar yang telah ditusuk garpu pada Pevita. Lucunya Pevita menerima itu dan memakannya membuat Axel semakin senang berbeda dengan Milan yang tampak kesal. Pria itu menatap tajam Pevita yang sedang membuka mulut untuk melahap sosis bakar itu. Milan jadi teringat sesuatu melihat itu, ia jadi ingat ketika miliknya dalam mulut Pevita
Milan jadi merasa panas lalu meminum sebotol air putih dalam botol sampai tandas. Pria itu melemparnya lagi kearah laut." Berhenti membuang sampah, kau mengotori alam liar." Tegur Lany sang pecinta alam. Bukan melihat Lany, Milan malah melihat kearah Pevita yang sedang menikmati sosis bakar
" Kau selapar itu?" Ledek Milan, Pevita tak menjawab, ia hanya mendelik sebal padanya
Milan menggelengkan kepala, ia tak mengerti wanita. Milan mengambil daging bakar yang cukup banyak, meletakannya ke piring kecil dan memberikannya pada Lany." Bagi untuk Pevita, dia sepertinya sangat kelaparan." Bisik Milan lalu bangkit berdiri
Lany tersentuh akan perhatian Milan pada Pevita yang sangat cuek padanya. Bahkan pria itu tak memaksa Pevita seperti Axel. Milan memutuskan masuk kedalam tenda untuk merebahkan dirinya, tidur terlentang dan memejamkan mata, sambil memikirkan cara agar Pevita menolak Axel dan mau menerimanya. Milan sudah larut dalam permainan Axel, ia jadi cemburu ketika Pevita menolak jagung bakarnya dan malah menerima sosis bakar Axel
Milan tanpa sadar ketiduran. Sampai sebuah tangan mengguncang bahunya. Milan perlahan membuka kedua matanya." Lany?"
" Bagaimana bisa? Axel membuatnya mabuk?"
" Tidak, dia minum seperti orang kehausan." Milan segera bangkit, Pevita bisa dalam bahaya bila mabuk, singa-singa lapar pasti akan memanfaatkan kesempatan emas saat ini
Tapi rupanya ketakutan Milan tak terjadi, buktinya semua orang mabuk dan sudah tak sadarkan diri. Milan mengambil botol yang masih dalam genggaman tangan Axel, ia menggelengkan kepala ketika melihat kadar dosis alkohol pada minuman itu begitu tinggi
" Sibrengsek ini, bisa-bisanya." Gerutu Milan lalu mendekati Pevita, meskipun mabuk, Pevita masih membuka kedua matanya
" Kak Milan." Panggilnya
" Ayo kita pulang." ajak Milan menarik lengan Pevita. Lany membantu Milan agar Pevita naik kepunggungnya. Lalu mendekati salah satu jetsky ditepi laut
Milan mengendarai Jetsky itu dengan pelan, karena membawa Pevita dan Lany yang dibelakang Pevita. Gadis itu memeluk tubuh Milan begitu erat dan meletakan dagunya dipundak Milan
Tak sampai 5 menit, mereka tiba dikapal. Milan hendak memangku Pevita namun gadis itu meronta, ia mendorong Milan
" Kenapa kau harus bersama Laura." Pukul Pevita pada dada Milan
" Pev, kau mabuk." Tegur Lany mencoba menarik Pevita. Milan mengangguk pada Lany membiarkan Pevita leluansa memukul dadanya
__ADS_1
" Aku akan mengantarnya." Setelah Milan mengatakan itu, Lany meninggalkan keduanya. Milan mencoba menggandeng bahu Pevita namun gadis itu mendorong tubuhnya lagi
" Aku bisa pergi sendiri." Ucapnya menaikan jari telujiknya didepan wajah Milan. Milan hanya menghela nafas, ia membiarkan Pevita berjalan sempoyongan. Ia hanya mengikuti dibelakang sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. Rasa perduli Milan terhadap Pevita begitu tinggi, ia benar-benar membuang waktunya hanya untuk mengikuti Pevita sampai pintu kamarnya
Tiba didepan pintu kamar, Pevita tiba-tiba menunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Milan terkejut mendengar isak tangis Pevita. Milan menyentuh pundak itu dan membalikan badan Pevita
" Ada apa?" tanya Milan mencoba menarik kedua tangan Pevita
" Aku ingin memelukmu!" Sautnya pelan, Milan tercengang tapi ia langsung memeluk tubuh itu. Melingkarkan kedua tangannya dipinggang Pevita
" Ini terakhir kalinya kita bertemu."
" Bagaimana mungkin, kita masih ditempat yang sama selama beberapa hari kedepan. Bagaimana mungkin aku tidak melihatmu!" Saut Milan tenang
" Aku tidak akan keluar, aku tidak akan kemana-mana!" Saut Pevita menggelengkan kepala dan semakin memeluk erat Milan
"Jauh-jauh menyebrangi udara dan lautan hanya untuk tidur seharian?" Ledek Milan mengulum senyumnya, Pevita benar-benar tipekal gadis yang manja. Dari dulu Milan tak suka gadis manja tapi kenapa Pevita rasanya berbeda, ia merasa lucu
" Itu karena dirimu!"
" Karena Laura? Kau menjaga perasaan Laura?" Tanya Milan mengurai pelukannya
" Aku akan bicara pada Laura hmm?" Bisik Milan menarik dagu Pevita agar menatapnya. Pevita menggelengkan kepala
" Katakan kau menyukaiku!" Bisik Milan. Pevita menggelengkan kepala lagi
" Kau bohong."
" Aku tidak menyukaimu!"
" Kalau begitu-" Milan memiringkan kepala dan menunduk lalu meraup bibir Pevita, gadis itu mematung beberapa saat sebelum memejamkan matanya ketika Milan mulai memagut bibirnya dengan begitu lembut
Keduanya saling memeluk erat dan berciuman mesra dan dalam. Pevita sampai menjinjitkan kedua kakinya agar bersejajar dengan Milan.Tak memikirkan persaan Laura yang baru saja datang dan tak sengaja melihat keduanya didepan pintu kamar
" Katakan kau tidak menyukaiku." Bisik Milan dengan nafas terengah. Masih dengan mata terpejam, Pevita menggelengkan kepalanya membuat Milan melepaskan pelukan dan menjauhkan diri
" Kau bohong, kau bahkan tak bisa menolak sentuhanku!" Ucap Milan lalu memutar tubuh, ia melengos begitu saja bahkan tak menghiraukan Laura yang menatapinya
Laura dan Pevita saling memandang dengan pikiran masing-masing diotak mereka
-
-
__ADS_1