
Demi Tuhan Delan sangat terkejut ketika melihat adiknya sudah tak sadarkan diri dengan bersimbah darah dibagian paha dan kaki. Gadis itu sedang berusaha disadarkan salah satu pengawal mereka, beberapa dari lainnya sedang berusaha melumpuhkan pengawal Kenzi. Delan segera berlari ketika mendengar suara ribut dikamar mandi
Ia membuka pintu kamar mandi dan terkejut ketika melihat Daddy Dean sudah terkulai disudut kamar mandi dan Kenzi sedang berusaha menenggelamkan Eleanor dalam bak mandi
" Matilah kau." Ucapnya, Delan segera menendang tubuh Kenzi dengan sekuat tenaganya hingga tersungkur kesamping. Lalu beringus memangku Eleanor yang juga sudah tak sadarkan diri. Kenzi langsung diringkus dua pengawal Delan
" Ya Tuhan." Gumam Delan panik lalu berlari membawa Eleanor menuju ranjang, membaringkannya diranjang kemudian ia memberi nafas buatan pada balita itu
" Demi Tuhan, Elea, Daddy akan marah bila kamu tidak bangun." Gumam Delan lalu kembali memberi nafas buatan untuk yang kedua kalinya. Kedua mata Delan sudah berkaca-kaca, ia terus menghembuskan nafasnya kemulut Eleanor sambil menunggu Ambulance tiba
" Tidak, tidak, Daddy mohon." Ucap Delan, sekali lagi ia memberi nafas buatan sambil menekan-nekan dada Elea
Uhukkk
Uhuuukk
Balita itu akhirnya terbatuk dan mengeluarkan semua air yang masuk kedalam mulutnya
Delan segera memangku tubuh itu dan terisak." Terima kasih sayang." Ucapnya menciumi pipi Eleanor yang menangis kencang. Delan segera melepaskan satu persatu pakaian basah Eleanor lalu melepaskan mantelnya. Ia menggulung tubuh itu dengan mantelnya agar tak kedinginan
" Mommy." Panggilnya ketika melihat Pevita tergeletak dilantai
" Ambulance akan segera datang." Ucap Dean pada satu pengawalnya yang sedang menjaga Pevita, sambil memangku Eleanor keluar dari kamar menghindari tatapannya pada Pevita yang bersimbah darah
Ia dan tubuh lemah Pevita menyusul Milan yang telah lebih dulu dibawa ambulance. Delan hanya diam didalam mobil mencoba menenangkan Eleanor yang tak henti menangis. Sedangkan Daddy Dean hanya melamun, wajahnya terlihat sedih melihat putrinya yang tak sadarkan diri terbaring diatas brangkar dengan setengah badan bersimbah darah dan wajah ditutupi oksigen
Tiba di rumah sakit, Pevita langsung dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa. Begitu juga Delan membawa Eleanor untuk diperiksa, takut terjadi hal yang tak diinginkan dalam tubuhnya. Daddy Dean ambruk dikursi tunggu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, ia menangis terisak, ia merasa menyesal atas apa yang terjadi
Sejak dulu Daddy Dean mengenal Kenzi tapi ia tak pernah melihat sisi buruk pria itu sekalipun. Baru kali ini ia melihatnya, dan ia sungguh syok ketika masuk kedalam kamar yang ditempati Pevita, pria itu mencoba memaksa putrinya didepan semua orang bahkan membanting tubuh putrinya kelantai didepan matanya sendiri .
__ADS_1
" Pev, jangan membenci Daddy." Isaknya pilu, ia merasa hancur saat ini
Selang satu jam Delan datang dengan Eleanor dipangkuannya. Kini balita mungil itu sudah tak berhenti menangis karena diimingi susu coklat oleh dokter wanita didalam ruangan khusus balita. Delan duduk disamping sang Daddy yang hanya diam menunduk
" Bagaimana keadaan Milan?" Tanya Daddy Dean menoleh pada Delan yang tatapannya sendu pada balita dipangkuannya
Delan menggelengkan kepala." Dia sekarat." Saut Delan membuat Daddy Dean menghembuskan nafasnya
" Pevita pasti akan sangat membenci Daddy."
" Tidak, dia tahu Daddy hanya ingin yang terbaik."
" Tapi ternyata Daddy salah, bagaimana bisa Kenzi-" Bahkan Daddy Dean tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Delan mengusap tubuh yang renta itu dengan pelan
" Dia akan memaafkan kita." Delan mencoba menghibur sang ayah, nyatanya ia pun tak tahu Pevita akan memaafkannya atau tidak. Jika nyawa Milan tak bisa ditolong mungkin ini akan menjadi peperangan dalam keluarga mereka, Pevita akan sangat membenci dirinya
Ketika seorang dokter yang menangani Pevita keluar, Delan dan sang ayah menyerbu dokter itu dengan beribu pertanyaan
" Janinnya tidak bisa diselamatkan." Delan dan Daddy Dean terkejut dengan pengakuan dokter wanita itu
" J-janin?" Tanya Delan
" Nona Pevita sedang mengandung, dengan usia kandungan 12 minggu. Tapi janininya tidak bisa diselamatkan, apa nona Pevita terjatuh?" Daddy Dean merasa lemas mendadak mendengar kabar itu begitupun Delan, keduanya saling menatap
Dokter wanita itu merasa heran ketika keduanya hanya diam tak menjawabnya." Mari saya akan mengantar kalian melihat janin-janin itu." Ajaknya berjalan lebih dulu. Daddy Dean dan Delan mengikuti dokter tersebut keruangan forensik
Daddy Dean dan Delan cukup terharu melihat dua janin yang belum terbentuk sempurna di sebuah tempat kecil.." Kami akan membawanya pulang segera." Ucap Delan pada dokter tersebut
" Baik pak." Sautnya
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan itu, keduanya tampak linglung, tak banyak bicara dan terus melamun. Entah apa yang mereka pikirkan, Pevita sering sekali membuat masalah. Pikirnya
Sesuai ucapannya, Delan membawa janin-janin itu kerumah orangtuanya, menguburkan dibelakang rumah mereka. Mammi Bulan juga sangat syok begitupun dengan Bella, keduanya tampak linglung memperhatikan Delan dan Daddy Dean sedang mengubur janin-janin tersebut. Ia tidak menyangka sang putri akan senekad itu, hanya karena cinta Pevita menyerahkan apa yang paling berharga untuk seorang wanita
" Apa Pevita tahu?"
" Tidak mungkin jika dia tidak tahu." Saut Delan
" Lalu bagaimana keadaan Milan?" Tanya Bella, Delan menoleh, pria itu masih tampak cemburu bila Bella membahas Milan
" Dia kritis." Tatapan Bella seketika mengiba, pada Milan dan Pevita. Bella juga sangat tercengang saat tahu Kenzi berbuat hal segila itu, kini pria itu sudah diamankan oleh pihak berwajib bersama para pengawalnya. Pria itu tidak mencerminkan penilaian orang-orang yang selalu bilang bahwa ia seorang dokter yang baik dan ramah. Buktinya pria itu lebih mirip seorang gangster karena punya begitu banyak anak buah
Dua jam keduanya berada dirumah, kini Delan dan daddy Dean akan kembali ke rumah sakit bersama Mammi Bulan yang dipangkuannya ada Eleanor, sejak tadi balita itu terus menanyakan ibunya
Setibanya disana, keduanya disambut baik seorang dokter yang memberitahu bahwa Pevita sudah sadar. Mereka langsung menuju ruang rawat dimana Pevita sudah membuka mata dan tampak melamun dengan airmata berderai dari kedua matanya, bibirnya bergetar
" Sayang." Panggil Mammi Bulan, Pevita menoleh padanya, ia melihat Eleanor yang baik-baik saja
" Dimana Kak Milan?" Tanyanya. Daddy Dean dan Delan saling melirik
" Dia baik-baik saja kan?" Tanya Pevita sendu
" Dad?" Panggil Pevita ketika tak ada jawaban sama sekali
" Aku ingin menemuinya kumohon." Isak Pevita mengatupkan kedua tangannya, satu tangannya masih dinfus
" Elea, aku ingin memberitahu keberadaan Elea, kumohon, ijinkan aku. Tolong maafkan kak Milan, tidak demi aku tapi demi Elea!" Pinta Pevita memelaskan wajahnya yang membanjir airmata
-
__ADS_1
-