Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
One night with you


__ADS_3

Mendapat sentuhan, hawa panas ditubuh Pevita semakin menjadi, gadis itu mulai nakal, jemarinya menyentuh dada Milan, merremas-remasnya dengan begitu lembut." Aahh panas." gumamnya. Milan mencekal jemari nakal itu, ia tak mau tergoda, karena imannya mulai menipis


" Uhmmm." Kini bibir Pevita yang mulai nakal, menciumi lengan atas Milan


" Sadarlah." Gerutu Milan. Dengan kekuatannya yang masih tersisa, Pevita mendorong Milan kedingding, kedua mata sayu itu memelas membuat gairah Milan tiba-tiba meningkat, ingin sekali ia mengarungi malam ini menikmati tubuh seksi Pevita


" Aahh tidak." Milan menoyor pelan jidat Pevita agar gadis itu menjauh lalu menggeret Pevita


" Kumohon, aku tidak tahan." Pevita terus meracau membuat Milan memejamkan kedua mata dan terus menarik nafasnya


Milan membawa Pevita menuju kamar VIP room, sialnya ruang VIP room ternyata melebihi satu." Dimana kamarmu?" Pevita malah mengecup lagi lengan atas Milan


" Pevita!!" Bentak Milan pelan


" Sadarlah." Bukan sadar, Pevita malah tiba-tiba menyentuh pangkal paha Milan


" Sial, David, Axel, kalian." Gumam Milan lalu mencekal jemari Pevita, Milan sangat bingung. Sementara tak ada yang menjaga Pevita, semua orang juga mabuk. Bila dibiarkan sendiri Milan takut Pevita keluar dan bertemu pria brengsek seperti dirinya


Akhirnya Milan memberanikan diri membawa Pevita kedalam kamarnya yang juga berada disekitaran lorong tersebut. Milan menggelengkan kepala ketika jemari lentik Pevita memainkan bibirnya, mencoba memasukan jemarinya kedalam mulut Milan. Tatapan pria itu terlihat kesal, Milan bahkan melempar tubuh Pevita keatas ranjang hingga mengampul


" Kemari." Pevita kini seperti seorang ****** yang haus belaian


" Kak, kemari." Panggilnya lagi dengan suara mendayu. Milan memijat pelipisnya, ia kebingungan sendiri dan ini semua karena ulah kedua sepupunya yang licik. Jika Milan masih seperti dulu, mungkin ia akan menghajar Pevita, ujian kali ini lebih berat daripada ia dikeroyok dalam penjara, pikir Milan menghempaskan tubuhnya disofa


" Astaga." Milan memejamkan kedua mata ketika Pevita bangkit dan menurunkan tali spagheti gaun coklat susunya kebawah sampai perut hingga bra hitam berendanya terlihat. Nafas Milan mulai naik turun


" Tidak, aku bisa gila." Gumamnya lalu mendekati Pevita, sebisa mungkin ia menahan diri. Ia memanggul Pevita menuju kamar mandi. Milan menurunkan Pevita lalu menyalakan shower air dingin untuk menghilangkan reaksi obat perangsang dalam tubuh wanita itu


" Tidak bisakah kau menolongku." Ucap Pevita, jakun Milan naik turun melihat tubuh basah Pevita, gaun itu semakin melorok kebawah karena air


" Tetaplah disana, itu akan menghilang dengan sendirinya." Jawab Milan lalu membalikan badan, pria mana yang tidak tergoda saat ini melihat daging segar didepan mata

__ADS_1


" Shitt." Umpat Milan ketika Pevita malah memeluknya dari belakang


" Dingin, aku butuh kehangatan." Bisiknya dengan jemari menjalar, mengelus dada dan perut Milan yang masih tertutupi kemeja putih. Milan menengadah keatas ketika jemari itu menjalar kebawah pada pangkal pahanya


" Jangan seperti ini." Milan menahan jemari itu lalu membalikan badan. Ia mendorong Pevita kedingding kaca kamar mandi, seketika baju Milan basah karena guyuran deras air shower


Kedua jemari Pevita mencoba membuka kancing kemeja Milan, tetapi sekali lagi Milan menahannya." Diam, jangan gunakan tanganmu." Bisik Milan, perlahan ia mendekati leher Pevita, mengecupnya pelan, tubuh Pevita menggeliyat akan sentuhan itu


Milan mencoba membantu Pevita ketika air dingin tak mampu menghilangkan reaksi obat perangsang tersebut. Milan mengangkat satu kaki Pevita menimpa keatas kakinya lalu menyusupkan jemarinya main dipangkal paha, mengelusnya dengan lembut


" Ahh Kak." Milan mencoba menahan diri sekuat-kuatnya mendengar suara itu. Ia mengangkat wajahnya dari leher, menatapi Pevita yang tampak sangat menikmati permainan jemarinya


Ketika Milan memasukan jari tengahnya dalam hanygatnya kewanitaan itu, Pevita menjerit pelan. Milan mengecup bibir menganga itu." Lagi." Perintah Pevita membuka kedua matanya yang sayu lalu menyusupkan wajahnya dileher Milan


Milan menambah satu jari lagi membuat Pevita menjerit lagi. Desahann manja mulai keluar dari mulutnya menbuat Milan bersemangat memaju mundurkan kedua jarinya di lubang sempit itu. Kedua jemari Pevita mencengkram dada Milan dengan kuat, pinggul wanita itu mulai tak diam. Pevita juga menggigit leher Milan membuat Milan merasa kesakitan


" Aaahhh aku tidak tahan kak." Racaunya, Milan mempercepat gerakan jemarinya, Pevita semakin menjerit-jerit. Akhirnya tubuh itu bergetar hebat, Pevita memeluk tubuh itu erat ketika tubuhnya merasa lemas setelah mendapat klimmaks untuk pertama kalinya


" Maaf." Ucap Milan


" Lakukan." Perintahnya. Milan hanya diam mematung menarik jemarinya


" Lakukan, kumohon aku tidak tahan." Milan menyentuh pipi Pevita


" No!" Saut Milan, Pevita menangkap jemari itu memaksa memasukan kedalam mulutnya, ia hisap satu persatu, sungguh menggoda iman Milan


" Lakukan." Pintanya lalu menuntun jemari itu kebalik selimut, kedadanya. Milan tak bisa berkutik, ia terlalu takut apa yang ia lakukan akan menyakiti gadis itu lagi


" Sialan, apa David memberinya dosis yang tinggi." Gumam Milan meneguk ludahnya kasar ketika jemarinya dituntun Pevita merremas satu buah dadany yang benar-benar terasa kenyal


Milan yang masih diam membuat Pevita menarik tubuhnya mendekat sehingga setengah tubuh Milan kini berada diatasnya. Pevita merasakan hembusan nafas memburu Milan diwajahnya. Pria itu hanya diam ketika kedua jemari Pevita membuka satu persatu kancing kemejanya. Melihat dada bidang itu Pevita seperti kehausan, ia mengangkat kepalanya, dan langsung meraup puncak dada Milan memainkan dengan lidahnya, sedikit membuat pria itu mendesis dan memejamkan kedua mata

__ADS_1


" Pevita." Milan mendorong pelan wajah itu


" Kau terus menolakku." Ucapnya memelaskan wajah


" Aku benar-benar tak tahan Kak." Milan membelai pelipis itu


" Kau tidak akan menyesal?" Tanya Milan. Pevita menggelengkan kepalanya


" Lakukan, masuki aku."


" Kau tidak akan menangis?" Tanya Milan


" No, aku akan menikmatinya." Milan mengecup rahang Pevita lalu menyingkirkan selimut yang menghalangi tubuh Pevita. Milan meraup bibir itu dan disambut baik oleh Pevita, Milan tergoda juga ia membuka kemeja dan celana pendeknya tanpa melepaskan tautan bibirnya dari Pevita


Tubuh Pevita tak bisa diam, ketika bibir itu mulai turun kelehernya lalu kebuah dadanya yang menyembul dari balik bra." Aku tidak tahan." Pevita menarik kepala Milan keatas agar bersejajar dengannya, menatapnya penuh permohonan


" Secepatnya lakukan." Milan menuruti gadis itu, dengan tubuh mengurung Pevita ia mencoba menggapai laci meja nakas. Mencari pengaman disana yang malam kemarin tak sempat ia pakai, Milan sedikit terkejut ketika Pevita menyentuh sang adik yang sudah menegang sempurna, mengelusnya pelan dengan bibir menganga, tampak tergoda ingin ia masukan kedalam mulutnya


Tapi Milan tak membiarkan itu, ia harus secepatnya menuntaskan keinginan Pevita malam ini, sambil menatapi wajah cantik Pevita. Milan membuka bungkus pengaman itu lalu memakaikan pada sang adik. Milan menyingkap kain segitiga itu kesamping mengelus pelan kewanitaan Pevita yang kembali basah hanya karena sentuhan kecilny


" Kau yakin tidak akan menangis?" Tanya Milan lagi. Pevita menggelengkan kepalanya, lalu menunduk kebawah menyentuh junior Milan


" Besar sekali, aku tidak tahan." Bisiknya menggoda Milan membuat hasrat Milan semakin melonjak, tanpa menjauhkan wajahnya, ia menurunkan cd merah muda itu sampai lutut lalu membuka kedua paha Pevita dan memposisikan dirinya dibawah sana


Pevita menggigit bibir bawahnya, dengan tatapan kebawah. Milan menyusupkan wajahnya dileher Pevita, disambut kedua tangan Pevita melingkar dilehernya. Dalam sekali dorongan kuat, Pevita menjerit kencang, wajahnya menengadak keatas, kedua matanya hanya menyisakan putihnya saja dan kuku-kuku jarinya menusuk kulit punggung Milan menahan rasa sakit dan nikmat secara bersamaan. Tubuhnya bergetar hebat lagi, cairran hangat itu Milan rasakan didalam sana


Pelan-pelan Milan bergerak membuat ranjang itu berderit. Milan menaikan bra itu keatas lalu membenamkan wajahnya pada buah dada Pevita yang tumpah. Dalam ketidaksadaran Pevita tak henti mengeluarkan desaahanya memenuhi kamar itu dengan suara- suara manjanya


-


-

__ADS_1


__ADS_2