
Sudah seminggu ini Delan tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia selalu memikirkan adiknya. Delan juga sering meninggalkan Bella yang sudah tertidur dan berlalu kekamar Pevita, menemani dan menjaga adiknya ketika tidur. Delan tak bisa melakukan apapun karena Pevita tak mau bersaksi. Membuat Delan tak bisa menyalurkan amarahnya, rasanya dadanya selalu sesak bila ingat Pevita yang menangis dalam rekaman video itu
Kedua kantung mata Delan menghitam, ia selalu begadang dan jarang tidur. Ia sering melamun memperhatikan Pevita yang sedang tertidur. Sambil meyakinkan dirinya bahwa masa depan Pevita akan tetap cerah, Pevita punya dirinya yang akan selalu mendukung keinginannya
Delan sedikit terkejut ketika kasur itu bergoyang karena kehadiran Bella. Wanita itu merasa heran dengan gelagat aneh suaminya akhir-akhir ini, pria itu jadi pendiam, banyak melamun. Jarang menyentuh Bella dan jarang main bersama Jeslyn
" Apa yang kamu lamunkan?" Tanya Bella bergerak mendekat, duduk disamping Delan yang berbaring terlentang dengan kedua tangan jadi bantal kepalanya
Delan memaksakan senyum dan menggelengkan kepalanya. Sejujurnya Bella sedikit kesal dengan kebungkaman suaminya, entah mengapa Delan sekarang tak terbuka padanya, Bella tak mengerti. Ia hanya mengusap-usap dahi Delan ke atas dengan begitu lembut
" Kamu tahu tidak, seharian ini Jeslyn sangat rewel." Bella mencoba mencari perhatian suaminya
" Kenapa? dia sakit?" Bella menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dan tak menjawab pertanyaan suaminya. Membuat Delan turun dari kasur dan mendekati baby box Jeslyn. Delan menyentuh kening Jeslyn, sambil menatapi wajah Jeslyn. Bayi mungil itu terlelap hingga mendengkur keras
Merasa Jeslyn baik-baik saja, Delan mendekati Bella. Ia membaringkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh Bella, menyusupkan wajahnya diperut Bella. Spontan Bella membelai rambut Delan, ia merasakan kegundahan hati suaminya
" Ada apa hmm?" Bella mendengar tarikan nafas berat suaminya. Delan ingin sekali bercerita, namun jika terlalu banyak orang tahu Delan takut Pevita semakin sedih, ia takut adiknya semakin merasa malu dan depresi
" Bella, kamu tahu aku sangat mencintaimu." Bella tersenyum
" Aku tahu, kamu sering sekali mengatakannya."
" Aku mencintaimu Bella dan itu takkan berubah sampai nafasku berhenti."
__ADS_1
" Aku juga sangat mencintaimu." Saut Bella tanpa henti membelai rambut Delan
" Tapi Bella, bisakah kamu memahamiku saat ini?" Bella mendorong kepala itu untuk melihat wajah Delan, wajah itu dipenuhi kegelisahan, sendu, airmata tampak menggenang
" Ada apa dengan Pevita? kenapa setiap malam kamu tidur disana?" Tanya Bella serius
" Tidak ada apa-apa, Pevita hanya sedang manja."
" Kamu tidak sedang berbohong bukan?" Delan terdiam lalu ia melepaskan pelukannya. Ia terlentang menjadikan kedua tangan kembali menjadi bantalnya, airmata pria itu menitik membuat Bella merasa heran, anehnya Delan tak mau bicara padanya
Bella bergerak ikut berbaring, ia menyamping dengan sikut sebagai tumpuan menahan beban tubuhnya. Membuat Delan bergerak memeluknya, menyusupkan wajahnya didada Bella, Delan tak ingin Bella melihat airmatanya, ia tak ingin Bella banyak bertanya
Lagi, Bella membelai rambut Delan. Tiga hari ini ketika Delan selalu meminta ijin tidur dikamar Pevita, Bella selalu mengikuti Delan. Ia merasa tak ada yang aneh, ia hanya melihat Delan duduk disisi ranjang memperhatikan Pevita yang sudah tertidur dengan tangan gadis itu menggenggam jemari Delan
Delan menarik tengkuk itu, ia mencium bibir Bella. Sudah lama ia tidak merasakan manisnya bibir itu. Keduanya berciuman mesra dan dalam. Jemari Bella merambat dikancing piyama Delan, hendak membuka kancing ketiga Delan namun ditahan pria itu
Seketika Delan melepaskan ciumannya. Ia menatap Bella. Delan tak bisa melakukannya malam ini, jika semuanya dimulai, Delan takkan bisa berhenti dan bisa berlanjut sampai pagi. Pevita belum sembuh dari rasa sakit dan traumanya, Delan tak mau adiknya merasa kesepian dan kian depresi, mengingat setiap malam wanita itu selalu mengugau dan menangis dalam tidunya
Bella tampak kecewa, ia menatapi suaminya." Ini sudah malam, kamu butuh istirahat yang banyak." Bella mencoba mengerti dengan memaksakan senyumnya. Delan mengusap perut yang masih rata itu lalu bergerak bangun dan mencium perut Bella yang masih rata
" Tidurlah." Bisik Delan lalu kembali keatas dan memeluk tubuh Bella, kini giliran dirinya yang membelai rambut panjang Bella
Setiap malam, Delan menunggu Bella tidur lebih dulu sebelum dirinya kekamar Pevita. Entah sampai kapan Delan menyembunyikan semuanya, Delan sendiri bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa, yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah mencoba menghancurkan bisnis-bisnis Milan, itu dimulai dengan membujuk Paman Bryan agar memutuskan kerja sama perusahaan mereka yaitu hotel di NTB, jika bisa Milan akan kehilangan ratusan Milyar karena hal itu
__ADS_1
Pelan-pelan Delan melepaskan Bella dan berlalu kekamar Pevita. Seperti biasa Pevita sudah terlelap. Delan duduk disisi Pevita dan meraih jemari lentik iti untuk ia genggam. Apa kesalahan Delan sangat besar hingga Tuhan membalasnya melalui Pevita? Delan selalu menyalahkan dirinya dengan kemalangan yang dialami Pevita
Pevita mulai menangis dan mengigau, membuat Delan cepat-cepat membangunkan dengan cara menepuk-nepuk pipinya." Pev." Panggilnya, seketika kedua mata itu terbuka, menggenang airmata. Delan merasa pilu melihatnya, cepat-cepat ia bergerak memeluk Pevita, mengusap-usap punggungnya menenangkan Pevita
" Kakak, apa akan ada lelaki yang mau menerimaku?" Delan merasa dadanya semakin sesak, ia terdiam sejenak menarik nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan Pevita
" Tentu saja, adikku mempunyai semua yang diinginkan pria. Ini zaman modern Pev, pria tidak akan terlalu memperdulikan hal itu." Pevita mulai menangis
" Kalau perlu kakak akan mencarikan pria yang sangat sempurna untukmu, tidak akan ada yang berani menolakmu." Tambah Delan membuat tangisan itu mereda
" Kamu harus bangkit, pria tidak suka wanita lemah dan terus berdiam diri seperti ini. Wanita energik dan ceria punya pesona yang luar biasa, kembalilah seperti sebelum semuanya terjadi. Lupakan, anggap saja kamu sedang sial." Pevitata mengangguk-ngangguk didada Delan dengan isak tangis kecil
" Baj*ngan itu akan mendapat hukuman yang setimpal, Tuhan akan membalasnya." Bisik Delan
Keduanua tidak tahu bahwa Bella sedang mengintip dari celah pintu yang tak Delan tutup rapat. Bella tak mendengar dengan jelas, ia hanya menatapi perlakuan lembut Delan pada adiknya, bukan cemburu, tapi Bella merasa heran. Ia tidak punya adik atau seorang kakak, jadi ia tidak tahu apakah harus seperti itu dalam memperlakukan seorang adik? terlebih adik itu seorang gadis, Pevita juga sudah cukup dewasa, Bella merasa perlakuan Delan pada adiknya cukup tidak wajar
Bella menutup pintu itu rapat ketika melihat Delan memejamkan mata. Bella tak mau memikirkan hal yang negatif, tapi entah kenapa semakin dipikirkan Bella merasa kesal sendiri
" Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Bella menggelengkan kepala, mengusir pikiran-pikiran negatif terhadap keduanya
-
-
__ADS_1