Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Pertunangan?


__ADS_3

Pevita merasakan belaian tangan seorang pria saat ini membuat bibirnya tersenyum. Ia menangkap belaian tangan itu pada pipinya lalu mengecupnya lembut. Perlahan Pevita membuka kedua mata dan terkejut bukan main


" K-Kenzi?" Kenzi tersenyum manis, hampir tiga bulan mengenal Pevita, baru kali ini ia merasakan bibir kenyal Pevita meskipun hanya ditangannya


" Sedang apa disini?"


" Mammimu bilang, kamu sangat suka teh pappermint untuk pagi hari." Pevita bergerak bangun lalu melirik tempat disebelahnya yang ternyata sudah kosong


" Dimana Elea?"


" Dia bersama Mammi." Bahkan Kenzi sudah memanggil Mammi Bulan dengan sapaan Mammi seolah tak canggung


" Bukankah kau sangat sibuk."


" Aku mengambil cuti, besok hari pertunangan kita. Mana mungkin aku terus bekerja." Pevita memejamkan mata mengingat waktu yang begitu cepat, ia bahkan tak bisa menolak kehendak semua orang


" Kenzi, aku benar-benar tak punya perasaan apapun padamu."


" Aku tahu!" Pevita mengerutkan dahinya


" Lalu?"


" Aku akan menunggumu, selama yang kamu mau." Pevita tidak mengerti, kenapa harus Kenzi, kenapa bukan Milan yang punya sikap seperti Kenzi


" Aku mencintai pria lain." Untuk yang satu ini, wajah Kenzi berubah muram


" Siapa? Apa aku mengenalnya."


" Hanya seseorang!"


" Milan?" Pevita tersentak


" Kau?" Kenzi tersenyum


" Paman Ethnes adalah saudara Daddy, kami juga mengundang mereka untuk acara pertunangan kita." Kedua mata Pevita berkaca-kaca membuat Kenzi menggenggam kedua tangannya. Pevita pikir ini terlalu menyakitkan untuknya, apa ia sanggup melihat Milan


" Kalian bertemu dimana?" tanya Kenzi


" Ceritanya sangat panjang, aku tidak mau membahasnya." Kenzi tersenyum manis dengan jawaban itu

__ADS_1


" Milan berada di Kanada, dia baik-baik saja, Paman Ethnes bilang-"


" Berhenti, jangan bicara lagi." Potong Pevita dengan kedua mata berkaca-kaca, rasanya ingin menangis mendengar Milan baik-baik saja, tidak seperti dirinya yang hampir gila. Melihat Pevita yang sangat sedih, Kenzi segera membawanya dalam pelukan


Itu membuat Mammi Bulan dan Daddy Dean tersenyum diambang pintu, keduanya yakin hubungan Pevita dan Kenzi akan terus membaik berkembang dan harmonis seperti mereka dikemudian kelak. Tapi mereka tidak tahu bahwa Pevita rasanya ingin mati saja bila tak mengingat ada Eleanor, ia sedang hamil dan pertunangannya besok malam, Pevita harus bagaimana?


-


Malam harinya acara pertunangan itu benar-benar digelar cukup mewah. Kalangan kerabat, saudara dan pengusaha datang menghadiri acara pertungan Pevita dan Kenzi. Gadis cantik bergaun warna maroon itu menjadi pusat perhatian semua orang. Tapi Pevita tak tertarik diperhatikan, tatapannya mengedar kesetiap sudut ruangan rumahnya


Ya acara pertunangan itu digelar dikediaman Pevita, cukup meriah dan sangat mewah. Pevita seperti orang tak punya semangat hidup, ia hanya diam menatapi Kenzi memasangkan cincin berlian dijari manisnya. Sekarang giliran Pevita memasangkan dijari Kenzi, namun saat akan memasangkan cincin itu ia melihat Paman Etnes yang baru saja datang seorang diri, dan Pevita tak melihat Milan ataupun ibunya, tak seperti apa kata Kenzi yang bilang akan ikut datang, tatapannya kembali pada Kenzi


" Pev." Tegur sang Daddy menyentuh pundak Pevita, terpaksa Pevita memasangkan cincin itu dijari manis Kenzi


" Aku janji akan membahagiakanmu Pevita." Ucapnya membuat semua orang senang. Pevita memaksakan senyum palsunya, ia tidak tahu tujuan hidupnya akan dibawa kemana, ia merasa akan gila, hatinya masih dalam untuk Milan


Pevita tidak tahan dengan hiruk pikuk pesta pertunangannya sendiri. Ia meminta ijin pada Kenzi untuk kekamar mandi, padahal dirinya kembali kekamar untuk melihat Eleanor. Pevita membuka pintu dan terkejut melihat Milan yang sedang duduk ditepi ranjang menatapi Eleanor yang sudah terlelap dikelilingi bantal


Melihat Pevita, Milan beringus bangkit, ia berjalan tergesa-gesa dan langsung memeluk Pevita." Kamu cantik malam ini." Bisik Milan malah membuat Pevita menangis dalam pelukannya, ia juga memukul-mukul punggung Milan dengan kedua kepalan tangannya


" Jahat, kemana saja!" Isak tangis Pevita membuat hati Milan bergetar


" Tolong, bawa aku pergi!" Milan mengurai pelukan itu, ia menggelengkan kepala


" Aku tidak mau membuat semua orang semakin marah padaku Pev." Milan sudah merasakan pahitnya hidup dipenjara, ia tak mau terjadi untuk yang kedua kalinya. Tapi melihat Pevita, hati Milan meluluh


" Aku tidak perduli, kumohon bawa aku pergi. Kita pergi ketempat dimana tak ada siapapun." Dengan kedua jemarinya Milan mengusap pipi Pevita yang basah


" I can't."


" Lalu kenapa kamu datang?" Pevita menjauh melepaskan pelukan itu


" Aku sangat merindukanmu, aku sungguh tidak bisa menahannya." Saut Milan kembali mendekat mencoba memeluk lagi


" Kalau begitu bawa aku pergi, aku tidak mau menikahi Kenzi." Milan terdiam sejenak


" Kamu yakin padaku?"


" Hmm, aku sangat yakin."

__ADS_1


" Kamu mempercayaiku?"


" Sudah sejauh ini, aku sudah menyerahkan semuanya padamu." Milan menangkup wajah itu, menundukan kepala lalu mengecup bibirnya


" Aku akan berusaha memintamu secara baik-baik pada kedua-"


" Aku hamil." Tubuh Milan membeku, kedua matanya membulat


" Aku mengandung darah dagingmu, kamu pun tahu itu!"


" Jangan berbohong."


" Kalau kamu tidak percaya bunuh saja aku, belah saja didalam perutku ada janinmu." Milan mengusap wajahnya dan menarik nafasnya berkali-kali


" Berapa usianya?"


" Tiga bulan." Saut Pevita, Milan hanya diam menatapi Pevita dengan wajah bingung


" Kumohon, bawa aku pergi. Aku hampa tanpamu, aku bisa gila. Aku tidak bisa membuat Kenzi sakit hati. Aku sedang hamil anakmu!!" Tidak ada yang menyangka seorang Pevita yang sangat popoler akan kecantikannya itu bisa sememuja itu pada Milan


Milan memejamkan kedua mata membuat Pevita menangkup wajah dan mengecup bibirnya dengan pelan." Apa aku tidak berarti untukmu?"


" Aku akan menunggu ditempat biasa." Saut Milan menaikan resleting sweathernya keatas sampai hidung lalu melengos begitu saja keluar melalui pintu kamar Pevita. Pria itu seperti seorang pencuri propesional hingga tak ada yang mengenalinya samasekali diluar sana


Pevita merasa ada secercah harapan, ia bahkan tak perduli lagi bila semua keluarga sangat membencinya. Karena ia sangat yakin, waktu akan meluluhkan hati semua orang. Pevita bergegas berganti pakaian ke pakaian yang lebih tertutup lalu memakaikan Eleanor pakaian dua lapis dan memakai jaket tebal


Sesaat Pevita menulis pesan untuk kedua orangtuanya. Kemudian bangkit memangku Eleanor, membawanya secara sembunyi-sembunyi melalui pintu belakang rumahnya. Sambil memangku Eleanor, Pevita berjalan tergesa-gesa menuju gerbang yang kebetulan tidak tertutup karena acara pesta itu sendiri


" Non, non Pevita?" Satpam itu masih mengenali Pevita, berteriak memanggil namanya. Pevita mulai berlari dan masuk kedalam mobil hitam milik Milan yang lumayan jauh terparkir dari gerbang rumahnya


Milan tertegun ketika melihat Pevita membawa seorang balita yang tadi dikamar ia tatapi wajahnya." Ayo cepat, sebelum semua orang tahu." Perintah Pevita. Milan mengangguk lalu memasangkan sabuk pengaman pada keduanya


Tanpa tahu satpam tadi langsung melapor pada Daddy Dean, pria itu terkejut begitupun semua orang yang masih asyik bersenang-senang.." Brengsek kau Milan. Sepertinya pelajaran yang kuberikan tak cukup untukmu." Gumam Delan mengepalkan kedua tangannya, tentu ia sangat marah


Acara pertunangan meriah itu langsung terhenti karena semua orang akan langsung mencari Pevita. Kenzi dan Tuan Malik pun tampak sangat kecewa dengan keputusan Pevita, Kenzi ikut mencari Pevita beserta para pengawal-pengawalnya, pria yang awalnya memiliki wajah tenang itu kini tampak sangat garang, sebagai seorang pria tentu ia merasa dipermalukan


-


-

__ADS_1


__ADS_2