
" Delan, kamu yang melakukannya?" Tanya Paman Bryan menunjukan gadgetnya pada Delan, kini keduanya berada di balkon rumah orangtua Delan. Bryan langsung mencari Delan yanh sedang minum susu dibalkon, menikmati pagi hari dengan melamunkan sang adii
" Aku tidak bisa hanya berdiam diri, Pevita adikku. Siapapun yang menyakitinya tentu aku akan membalasnya!" Jawab Delan menoleh
" Jangan memberi tahu Pepev." Paman Bryan terdiam menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi santai
" Bukankah kamu berteman baik dengan Milan, hanya masalah kalian berdua kenapa Milan malah melampiaskannya pada Pevita."
" Dia tahu aku sangat menyayangi Pevita."
" Lalu bagaimana dengan bayi itu? apa kamu tega membiarkannya tak punya ayah."
" Aku yang akan menjadi ayahnya, Pevita ataupun bayi itu tidak butuh sosok pria seperti Milan." Paman Bryan menghela nafasnya
" Kamu tahu kan Delan, awal Paman dan Aunty bisa bersama?"
" Itu berbeda dengan cerita Pevita, Paman melakukannya tanpa sadar, tapi Milan?" Paman Bryan merasa kalah, Delan masih tersulut emosi. Paman Bryan hanya ingin yang terbaik diantara masalah yang dihadapi keponakannya
" Kenapa ada Paman Ethnes?." Paman Bryan menoleh pada Delan yang pandangannya tertuju pada sebuah mobil hitam yang baru saja datang, mereka mengenali orang yang keluar dari dalam mobil tersebut
" Iya, kenapa Ethnes ada disini?" Delan dan Bryan saling menoleh. Kemudian keduanya buru-buru masuk dan turun kelantai dua
Tatapan Delan kembali menajam melihat wanita seumuran sang ibu yang sangat ia kenali. wanita itu Mammi Diana, ibu Milan." Tuan Ethes?" Sapa Delan dan Paman Bryan
" Delan, Tuan Bryan." Sautnya dengan senyuman lebar. Keduanya tak menyangka bisa bertemu rekan bisnis mereka, memiliki saham dimasing-masing cabang perusahaan Delan dan Bryan. Keduanya tak mengenali Ethnes tapi pria itu sangat mengenali keduanya dengan baik. Makanya ketika tahu gadis yang diperkosa anak tirinya adalah adik Delan, Ethnes yang biasanya tak perduli dengan apa yang dilakukan Milan, kini mau turun tangan
" Tuan Bryan, kedatangan saya kemari atas nama putra saya. Milan Cruise." Delan dan Bryan tampak terkejut membuat Ethnes segera menggandeng Mammi Diana yang wajahnya sembab dan sendu
" Ayo kita bicara didalam." Tiba-tiba Daddy Dean bersuara, membuat Delan menoleh kebelakang
" Dad?" Delan tampak tak setuju. Tapi Daddy Dean tak bisa dibantah malah menyuruh dua pelayannya untuk menjamu Tuan Ethnes dan Mammi Diana
__ADS_1
Semuanya berkumpul di ruang tamu. Kecuali Pevita, gadis itu sedang sakit karena morning sicknesnya. Setiap pagi Pevita selalu mengeluarkan isi perutnya, ia menangis karena semua terasa menyiksa dirinya
" Atas nama Milan, kami benar-benar meminta maaf. Kesalahan Milan memang besar dan pasti tak bisa dimaafkan."
" Jadi tujuan kalian kemari hanya untuk meminta maaf?" Tanya Delan sinis, biasanya pria itu akan sangat sopan pada Tuan Ethnes, pria itu masuk dalam jejeran pemilik saham besar diperusahaannya
" Kami ingin berdamai." Delan berdecih kesal
" Sudah kuduga."
" Kami benar-benar ingin berdamai, sungguh Milan akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya." Mammi Diana angkat suara dan memelaskan wajahnya, ia sungguh tak tega melihat putranya babak belur dalam sel tahanan. Sudah meminta memisahkan putranya kedalam sel lain, namun sepertinya uang yang diberikan Delan cukup besar pada polisi-polisi tersebut
" Bertanggung jawab? bertanggung jawab dengan cara apa? Putra kalian membuat kesalahan fatal, selain tubuh jiwa putri kami juga terguncang, Pevita jadi ketakutan dan selalu mengurung diri dikamarnya. Lalu tanggung jawab apa yang akan diberikan putra anda?" Daddy Dean mulai berapi-api membuat Mammi Diana mulai menangis. Wanita itu luruh kelantai, berlutut pada semua orang. Cukup membuat beberapa orang merasa iba, anaknya yang salah dan kini seorang ibu yang harus merendahkan harga dirinya
" Maafkan putraku, kumohon maafkan putraku." Pintanya dengan mengatupkan kedua tangan. Ethnes mengusap pundak itu
" Tuan Dean, beri Milan kesempatan. Kita bisa berdamai, saya bisa menjamin Milan akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, tapi tidak dengan menghukumnya seperti ini. Dia bisa gila."
Ruangan itu hanya dipenuhi isak tangis Mammi Diana, memohon maaf untuk putranya
" Sepertinya tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Silahkan keluar." Perintah Delan menunjuk pintu, pria yang selalu sopan pada Mammi Diana itu kini berubah sangat dingin
" Delan, tante mohon. Maafkan Milan. Bukankah kamu yang paling mengenal Milan. Tante mohon, maafkan putra tante."
" Tidak semudah itu Tante. Jika hanya meminta maaf, semua orang bisa melakukannya. Dan itu akan merubah semua yang sudah terjadi?" Tanya Delan sinis
" Milan cukup tersiksa sekarang." Saut Mammi Diana dengan airmata tak henti mengalir deras. Delan tak terusik dengan airmata itu, ia memalingkan wajahnya menghindari rasa iba
Dengan tubuh lunglai digandeng sang suami. Mammi Diana pulang dengan tangan kosong. Jangankan membuat anaknya bertanggung jawab, memohon kata maaf pun sepertinya sangat sulit
Keluarga Delan hanya menatapi punggung kedua orang yang mulai menjauh itu
__ADS_1
" Kenapa tidak membiarkan Milan bertanggung jawab? Tante Diana benar, Milan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
" Paman, jangan mengada-ngada. Milan bertanggung jawab dengan cara dipenjara."
" Itu bukan solusi, jalan satu-satunya agar permasalahan ini selesai adalah menikahkan mereka."
" Itu adalah ide yang konyol, apa Paman berniat membuat Pevita semakin depresi?"
" Coba pikirkan dari sisi lain. Itu anak Milan-"
" Tidak akan ada pernikahan." Saut Daddy Dean lalu bangkit dan meninggalkan semua orang. Wajah itu sangat marah, bahkan ingin sekali menghajar Milan dengan kedua tangannya jika ia bisa, sayangnya tenaga Daddy Dean sudah tak bisa diajak serius
" Kenapa semua orang sangat egois." Gerutu Bryan membuat Jiana segera memegang jemarinya
" Sudah jangan ikut campur."
" Aku hanya tidak mau bayi itu seperti Kya." Gerutu Bryan tampak kesal
" Dulu juga kita tidak saling cinta." Tambah Bryan
" Paman, sudah kubilang Pevita dan Milan itu berbeda."
" Ada anak diantara mereka, kamu ingat itu Delan. Ingat darah lebih kental dari pada air."
Diluar Mammi Diana semakin tersedu-sedu sambil menoleh kebelakang berharap keluarga Pevita berubah pikiran. Kalau tidak, mungkin sang anak akan terus tersiksa didalam penjara. Semua orang sudah tahu siapa Delan, kekuasaan keluarga itu tentu bukan tandingan untuk mereka, meskipun kini perusahaan Milan sedang maju pesat
" Aku harus bagaimana?" gumamnya
" Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Mereka benar-benar marah." saut Ethnes kian membuat Mammi Diana tersedu-sedu
-
__ADS_1
-