Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Falling in love


__ADS_3

Malam ini Milan cukup banyak tertawa bersama Pevita. Tingkah jutek gadis itu sangat lucu dimata Milan. Apalagi bila Milan mengatakan hal yang berbau mesum, kedua mata Pevita selalu membulat seperti ingin melahapnya. Setelah makanan diatas meja habis tak bersisa, Milan memberanikan diri menggandeng Pevita


" Bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanya Milan. Pevita hanya diam, bahkan tak menolak dengan gandengan Milan. Ia cukup merasa nyaman dengan pria yang pernah menjadi teman kakaknya itu. Siapa sangka kini ia bisa berduaan bersama Milan, bahkan malam kemarin saling merasakan tubuh masing-masing. Dulu keduanya tak pernah saling melirik sama sekali meskipun Milan akui Delan memiliki adik yang sangat cantik, Milan tidak tertarik, ia hanya akan menyapa begitupun Pevita yang bersikap sopan terhadap teman sang kakak


" Katakan sesuatu yang benar, sejak tadi bicaramu aneh!" Gerutu Pevita


" Aku menyukaimu!" Ucapan itu cukup membuat debaran jantung Pevita kembali meningkat


" Gila!" saut Pevita salah tingkah


" Apanya yang gila? Aku bicara benar dan kau malah mengataiku gila!" Gerutu Milan, Pevita mengulum senyum lalu memberanikan diri menoleh sehingga tatapan mereka beradu


" Aku menyukaimu, kau maukan berkencan denganku?" Tanya Milan


" Aku tidak tahu." Saut Pevita memalingkan wajahnya. Milan menarik nafasnya pelan,waktu yang singkat pasti membuat gadis itu ragu padanya. Tapi apa yang harus dilakukan Milan, selain melindungi Pevita ia juga mendapat keuntungan dari semua ini


" Kau tidak mau?" Milan melepaskan gandengannya lalu bergerak menghadap Pevita


" Pevita." Panggil Milan dengan suara lembut. Pevita tiba-tiba menyentuh kening Milan dengan punggung tangannya. Milan berdecak kesal memegang jemari Pevita lalu menggenggamnya


" Aku tidak sakit Pev, aku hanya sedang menyukaimu!" Sejak dulu Milan bukanlah tipe pria yang mudah merayu, tapi bagi Pevita perkataan Milan sangat romantis, sedikit meluluh lantahkan hatinya. Pevita mulai lupa akan rasa bencinya pada Milan


" Aku akan memikirkannya." Milan tak bisa memaksa Pevita. Ia mengangguk


" Baiklah aku akan menunggumu!" Saut Milan, ia menunduk mengangkat jemari Pevita dan menciumnya. Kedua pipi Pevita merona saat ini, darahnya berdesir dengan sentuhan hangat kenyalnya bibir Milan


" Kenapa kau menyukaiku?"


" Karena kau lumayan cantik.." Saut Milan, Pevita kesal dengan jawaban itu


" Kau sangat tidak konsisten, tadi kau bilang aku sangat cantik." Milan malah tertawa dan itu membuat Pevita makin kesal, gadis itu berjingkat bangun dan meninggalkan Milan


" Pevita." Teriak Milan mencoba mengejar Pevita


" Tuan, anda belum membayar." Milan berdecak kesal, akhirnya dia juga yang harus membayar makan malam. Tapi Milan cukup senang, ia jadi punya alasan untuk menemui Pevita lagi


Setelah membayar, ia langsung mengejar Pevita yang akan menuju kamarnya. Milan meraih jemari itu hingga langkah Pevita berhenti. Wajah merengut itu lucu dimata Milan.


" Kau masih berhutang padaku." Milan pura-pura menggerutu


" Jangan mengada-ada." Pevita mencoba menarik jemarinya namun Milan menggenggamnya kuat


" Makan malam tadi, bukankah seharusnya kau yang membayar." Pevita menepuk jidatnya sendiri membuat Milan tertawa pelan


" Itu artinya kau masih memiliki hutang makan malam denganku!"


" Ini trikmu kan, agar bisa terus berduaan denganku!"


" Ya, itu salah satu alasanku, aku ingin dekat denganmu." Aku Milan, Pevita mengulum senyumnya


" Kapan, kapan kau akan menjawabku?"


" Belum juga 5 menit, kenapa tidak sabaran sekali."


" Kalau bisa cepat, kenapa harus menunggu lama."


" Aku perlu waktu untuk memikirkan semuanya. Aku adalah wanita yang sangat sibuk." Milan tak bisa menahan senyum akan kesombongan itu, senyumnya melebar sempurna membuat Pevita terpana


" Baiklah, aku akan sabar." Jawab Milan lalu menuntun Pevita mendekati pintu kamarnya


" Good night." Bisik Milan lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Pevita


" Sayang." Tambahnya, pipi Pevita merona karena itu, jantungnya da dig dug


" Hmm, selamat malam." Jawab Pevita pelan kemudian membuka pintu dengan kunci card miliknya hingga pintu terbuka

__ADS_1


" Pevita." Panggil Milan membuat Pevita yang akan masuk memutar tubuhnya lagi. Milan mendekati Pevita, ia menangkup wajah itu dengan satu tangannya


" May I kiss you?" Tanya Milan berbisik sembari mengelus pipi Pevita dengan ibu jarinya. Pevita tak pernah menolak sentuhannya sama sekali membuat Milan merasa yakin gadis itu akan menerimanya


" Kak Milan." Suara itu membuyarkan keduanya. Spontan Milan menjauhkan tubuhnya dari Pevita


" Oh hai Laura." Sapa Milan dengan senyum tipisnya, Pevita tampak tak senang melihat itu. Ia tahu Laura menyukai Milan


" Sedang apa disini?"


" Aku mengantar Pevita." Laura menoleh pada Pevita yang berdiri didepan pintu lalu kembali pada Milan dan tersenyum


" Kak, bisakah kita bicara." Milan mengangguk, pria itu tampak tak ada canggungnya sama sekali pada Laura


" Hanya kita!" Saut Laura sambil menoleh pada Pevita. Milan juga menoleh pada Pevita


" Aku ingin bicara berdua." Tambah Laura. Milan hanya diam


" Pev, kamu duluan saja masuk." Perintah Laura, Pevita tak bicara lagi, ia benar-benar masuk meninggalkan keduanya


Laura langsung menarik lengan Milan. Mereka menuju keluar ruangan. Seketika Laura memeluk tubuh Milan dengan begitu erat


" Jahat sekali, aku benar-benar merindukanmu." Ucapnya membenamkan wajah didada Milan, Laura sedikit bingung ketika mencium parfum Pevita pada kaos Milan


" Laura, jangan seperti ini." Milan mendorong tubuh itu dengan cara memegang bahu Laura. Lalu mundur selangkah


" Kamu kemana saja kak, aku menunggumu, aku mencarimu." Milan hanya membungkam, sejak dulu sedikitpun Milan tak ada rasa pada Laura, saat itu Milan hanya butuh pelampiasan dan kebetulan ada Laura yang memohon padanya


" Aku sibuk, bagaimana kabarmu?"


" Aku tidak baik-baik saja, aku masih mengingatmu."


" Laura jangan seperti ini."


" Kenapa? Kakak sudah menemukan wanita lain? Wanita dewasa seperti keinginan kakak? Kakak tidak lihat sekarang aku bukan gadis kecil lagi, aku sudah dewasa." Laura mencoba meraih jemari Milan


" Aku menyukai Pevita, jangan menggangguku lagi." Pinta Milan tegas, seketika pelukan itu terlepas. Milan langsung pergi tanpa melihat raut wajah Laura, belum melakukan apapun hati Laura sudah dipatahkan


Didalam kamar, Pevita masih berdiri sambil melihat jam ditangan kirinya. Sudah tiga puluh menit ia menunggu Laura kembali namun gadis itu tak kunjung datang ke kamar. Hati Pevita serasa memanas memikirkan hal yang aneh antara Laura dan Milan, Pevita merasa tidak suka melihat keduanya yang tampak akrab


Pevita menghela nafasnya lalu mendekati ranjang dimana Lany sedang tidut. Pevita naik mengguncang bahu Lany dengan kencang." Lany, Lan." Panggilnya


" Hmm." Saut Lany


" Bangun dulu."


" Ada apa?" Malas-malas Lany membuka kedua matanya


" Lany, apa kau pikir aku sedang jatuh cinta?" Lany mendengus kecil


" Kau membangunkanku hanya untuk itu?" Gerutunya


" Sebentar saja, aku butuh teman bicara." Lany akhirnya mau bangun duduk, dengan muka bantalnya ia menatapi Pevita


" Lany, aku sangat membenci pria itu."


" Membenci, membenci siapa?" Tanya Lany


" Aku sangat membenci Milan.".


" Lalu?"


" Iya aku sangat membenci Milan."


" Lalu masalahnya apa?" gerutu Lany

__ADS_1


" Tapi aku tidak suka dia bicara dengan wanita lain, mereka hanya berdua." Lany mentertawakan kepolosan itu


" Itu artinya bukan benci, tapi kau mencintainya."


" Tidak Lany, aku sangat membencinya. Tapi apa kau pikir aku mulai jatuh cinta padanya?" Lany tertawa lagi


" Makanya jangan terlalu membenci, kau jadi berbalik mencintainya kan?"


" Yang aku tidak mengerti kenapa secepat itu."


" Pev, kau pikir rasa cinta bisa kita prediksi kapan datangnya?" Pevita membungkam


" Sebentar!" Lany tampak memikirkan sesuatu


" Kau jatuh cinta pada kak Milan?" Pevita menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdebar lagi bila mendengar nama Milan


" Hatiku sepertinya mengatakan Ya." Saut Pevita pelan membuat Lany menghela nafas


" Bagaimana bisa? Bukankah kau dekatnya dengan Axel?" Pevita membungkam lagi


" Pev, Laura." Pevita merremmas kedua jemarinya


" Aku tidak tahu, sejak malam itu jantungku terasa aneh." Saut Pevita memegang dadanya


" Malam, malam apa?"


" Sebenarnya malam itu bukan Axel tapi Kak Milan." Lany membulatkan kedua matanya, tentu ia tahu ini akan menjadi masalah dalam pertemanan mereka antara Laura dan Pevita


" Kau, sungguh t-tidur dengannya?" Pevita mengangguk pelan


" Itu terjadi begitu saja." Saut Pevita


" Lalu bagaimana dengan kak Milan? Apa yang dia katakan."


" Dia bilang dia menyukaiku, dia bahkan mengajakku berkencan. Aku harus bagaimana?" Tanya Pevita


Brug


Perbincangan itu berhenti karena ada Laura masuk dengan membanting pintu. Wajah itu tampak kesal, Pevita juga melihat kedua mata Laura sembab." Kenapa kau bisa bersama Kak Milan? Bukankah kau bilang makan malam bersama Axel?" Tanya Laura langsung tanpa basa-basi. Pevita menggigit bibir bawahnya dan menunduk. Lany hanya diam menatapi keduanya


" Apa kau tuli?"


" Itu, aku, kebetulan bertemu?"


" Bukan karena kau makan malam dengannya." Pevita mengangkat wajahnya


" Maaf Laura, aku tidak bermaksud membohongimu!" Saut Pevita dengan wajah menyesal


" Sejak kapan? Sejak kapan hubunganmu dan Kak Milan special?" Serga Laura sambil melempar tas kecilnya kesofa. Pevita membungkam


" Kau menyukainya?" Tanya Laura melipat kedua tangannya didada


" Laura, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti itu pada Pevita" Tanya Lany mencoba mencairkan suasana


" Aku tidak bicara denganmu, jangan ikut campur." Jawab Laura tanpa melihat Lany


" Aku bertanya padamu Pevita, kau menyukai kak Milan?" tanya Laura dengan nada tinggi membuat kedua temannya yang lain bangun dari tidurnya


" Aku tidak tahu!"


" Orang macam apa yang bahkan tidak tahu perasaannya sendiri." Laura benar-benar marah kali ini


" Kau membohongiku, bukankah itu termasuk penghianatan sesama teman?" Kedua mata Pevita berkaca-kaca, memperhatikan jemarinya yang saling meremmas


" Munafik!" Umpat Laura lalu berlalu kekamar mandi

__ADS_1


-


-


__ADS_2