Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
7 Days 7 nights part 1


__ADS_3

Pagi ini kapal sudah benar-benar berada ditengah lautan. Pevita membuka kedua matanya, ia tersenyum melihat laut membentang biru melalu jendela besar dikamarnya. Rupanya Pevita bangun paling akhir, teman-teman lainnya sudah bersiap berlomba-lomba memakai bikini paling seksi


" Pevita wake up!" Cerca Laura


" Memangnya ada acara apa hari ini?"


" Kita berenang dilautan bebas."


" Memangnya tidak apa-apa?"


" Kau ini penakut sekali, tidak ada apapun. Cuaca sedang cerah." Pevita bangun dan turun dari kasur. Ia membuka koper hitam yang belum sempat ia benahi lalu memakai bikini merah cerah seksi yang sengaja ia bawa


" Wow, kau sangat cantik Pevita." Puji Lany. Pevita menatapi tubuhnya


" Apa ini tidak terlalu seksi?" Tanya Pevita


" Ini yang aku tidak suka darimu, cerewet dan kurang percaya diri." Pevita merengut membuat temannya tertawa


Tak menunggu lama kelimanya keluar dari kamar menuju keluar kapal. Cuaca memang sangat cerah membuat kedua mata Pevita terasa silau. Kelimanya menjadi pusat perhatian karena gen mereka sangat berbeda, sedikit membuat Pevita merasa malu dan menutupi bagian dadanya


Lany menarik lengan Pevita, ia berlari dan menceburkan dirinya kedalam kolam renang yang cukup dalam. Pevita yang belum siap itu terbatuk-batuk sendiri dan memukul kepala Lany


" Kau bilanh dilautan?" Lany dan Laura tertawa dengan Pevita yang mau saja dibohongi


" Kau pikir tidak ada paus dan hiu disana?" ledek Laura, Pevita mencipratkan air pada Laura yang masih disisi kolam membuat Laura turun menceburkan dirinya kekolam


Mendengar suara deburan air, pria yang sedang santai dikursi santai disisi kolam dengan kedua mata tertutupi kaca mata hitam itu membuka kedua matanya. Sambil menyesap rokok ditangannya, pandangannya sedikit mengedar


Deg


Tatapannya tertuju pada kelima gadis yang sedang bersenang-senang ria didalam kolam. Satu yang paling menonjol, paling sempurna diantara yang lainnya. Paling menarik perhatian Milan karena kejadian tiga tahun silam. Jakun Milan sedikit turun dan naik ketika Pevita naik keatas kolam, tubuh basah dengan bikini seksi, kulit putih mulus, dada yang lebih besar dan tubuh yang berlekuk sempurna. Ketika membelakangi Milan, bokong padat dan bulat menarik perhatian Milan


Dulu tubuh itu belum sesempurna sekarang, Milan menarik nafasnya pelan lalu menyesap rokonya lagi, kemudian bir kaleng ditangan satunya lagi ia teguk. Tatapannya masih tertuju pada Pevita yang duduk ditepi kolam, rambut panjang basah itu terurai begitu indah


" Apa yang kau lihat?" Kedatangan Axel dan yang lainnya cukup membuat Milan terkejut. Axel melihat apa yang menjadi pandangan Milan, ketika itu pandangan Pevita mengedar kesepanjang arah


" Demi Tuhan, itu bidadari dari mana?" Gumam Axel terpaut pada kecantikan wajah Pevita

__ADS_1


Sabina yang berada disisi Axel tampak kesal ketika Milan tak henti menatapi Pevita. Wnaita itu tiba-tiba duduk disamping Milan


" Pevita lihat kebelakang." Lany yang masih dalam kolam dan diam didepan Pevita itu menepuk kedua paha Pevita


" Lihat, pria tampan itu sedang melihatmu!" Pevita tersenyum


" Lihat dulu." Perintah Lany, Pevita mencoba menoleh kebelakang


Deg


Jantung Pevita serasa copot, pria tampan yang paling bersinar seperti kata Lany itu ternyata adalah Milan. Pevita langsung memalingkan wajahnya lagi, ia meneguk ludahnya susah payah


" Pevita, lihat, bagaimana kau tidak jomblo kalau terus seperti ini." Gerutu Lany namun Pevita malah melamun. Ia memikirkan putrinya yaitu Eleanor, rasanya sakit ketika putrinya harus berebutan ayah bersama Justin. Tapi sang ayah kandung kini malah dihimpit dua wanita cantik disampingnya. Entah kenapa hati Pevita sakit melihatnya


Lany semakin histeris ketika Axel mendekati mereka. Yang dimaksud Lany sebenarnya bukan Axel melainkan Milan, ia pikir pria yang paling bersinar diantara yang lainnya itu menyuruh Axel untuk mendekati Pevita karena sejak tadi Lany melihat pandangan Milan terus tertuju pada Pevita


Membuat Pevita gugup, wanita itu langsung menceburkan dirinya lagi kedalam kolam. Pevita berpikir Milan yang mendekat. Axel tersenyum melihat Pevita, ia pikir wanita itu jual mahal padanya. Axel mengurungkan niatnya dan kembali pada Milan yang ditempeli Sabina dan Soraya


" Ini diluar dugaanku." Ucap Axel duduk disamping Soraya yang semalam menemainya dalam mengarungi surga dunia. Kemudia Axel bertanya pada salah satu pelayannya mengenai Pevita dan kawan-kawannya


" Siapa?" tanya David, Axel menunjuk kelima gadis-gadis itu dengan dagunya


" Mereka orang luar?"


" Menarik." Saut Axel


" Itu yang paling menarik, aku harus mendapatkannya." Tunjuk Axel pada Pevita, sementara kelima gadis itu tertawa-tawa diperhatikan pria tampan, berbeda dengan Pevita yang malah terus melamun


Sama halnya seperti Milan, ia juga hanya melamun dan menyimak Axel


" Bagaimana kalau kita main?" Tanya David yang sepertinya juga sangat tertarik pada Pevita


" Oke, apa yang kau taruhkan?"


" Kapal pesiar ini?"


" You?" Tanya Axel pada David

__ADS_1


" Restauranku!" Saut David


" Kalian membuang-buang uang hanya untuk seorang gadis?" Milan angkat bicara, ia benar-benar tak bisa melihat Pevita jadi permainan kedua sepupunya. Dulu ia menyakiti gadis itu dan itu cukup untuk Milan, Pevita gadis yang baik dari keluarga terpandang tidak pantas hanya menjadi sebuah taruhan


" Ayolah, kau tidak tahu itu sangat menyenangkan." Saut Axel


" Iya, kami sering melakukannya." Milan membungkam, ia menatapi Pevita lagi


" Deal?" Tanya Axel pada David


" Jika aku menang Restaurant itu jadi milikku?"


" Cool, jika aku menang kapal pesiar ini jadi milikku?"


" Of course." Saut Axel


" Milan, kau yakin tidak mau ikut?" Milan tampak memikirkan ucapan Axel


" Milan, milikku." Saut Sabina menggelayuti lengan Milan. Milan menatapi lengan itu, sama sekali tak membuatnya tertarik. Semalam saja mereka hanya berciuman selebihnya Milan tidur sampai pagi


" Come on Sabina, kita hanya main-main." Gerutu Axel


" Aku ikut." Saut Milan membuat keduanya tertawa


" Apa yang kau taruhkan." Milan terdiam sejenak


" 50 jt dollar?"


" Waw, kau memang pengangguran yang kaya." Ledek Axel ketika tahu Milan tidak punya pekerjaan sekarang, selama seminggu ini pria itu mengganggunya dan David dengan datang ketempat mereka bekerja, Axel seorang dokter dirumah sakit besar sementara David adalah seorang anggota parlemen seperti ayahnya


Ketiganya lalu menatapi Pevita sang tujuan dengan pikiran masing-masing,. Milan tampak bingung, dengan cara apa ia mendekati Pevita, sementara Milan tahu gadis itu pasti sangat membencinya. Milan sebenarnya tak terlalu tertarik mengikuti permainan Axel, ia hanya mencoba melindungi Pevita dari sepupu-sepupunya yang gila. Ia tak mau gadis yang dulu ia perdayai itu merasa sakit hati, setidaknya ini balasan Milan untuk Pevita, melindungi Pevita adalah caranya untuk mencoba meminta maaf atas kesalahannya dulu


" Pevita." Gumam Milan, pria itu tidak tahu bahwa Pevita ingin sekali menamparnya, melampiaskan amarahnya yang terpendam. Ia memikirkan Eleanor sementara ayahnya malah bersenang-senang tanpa rasa bersalah


-


-

__ADS_1


__ADS_2