
🌹🌹🌹
"Sayang kamu mau kemana?"tanya Angela saat masuk kekamarnya dan Delan, ia melihat sang suami telah rapi dengan kemeja hitam dan celana hitamnya
Delan tak menjawab, ia mengabaikan Angela seperti setiap harinya. Namun meskipun begitu Angela tak pernah menyerah, wanita yang punya harga diri tinggi itu kini merendahkan dirinya
" Delan." Angela menahan lengan Delan yang akan melenggang keluar melewatinya
" Sudah kubilang jangan menyentuhku, apa kau tuli?"
" Mau sampai kapan kamu sedingin ini padaku? Delan .. kalau kita seperti ini terus bagaimana kita mau-"
" Dalam mimpimu, aku sudah punya anak dari Bella." Delan menepis kedua tangan Angela dengan kasar
" Delan. " teriak Angela dengan kesal dan wajah memerah, entah sampai kapan Angela bisa sabar menghadapi Delan, pria itu benar-benar tak punya hati dan nurani. Gerutu Angela
Angela berlari kencang menyusul Delan
" Delan sadarlah kau berhalusinasi." teriak Angela dan kini didengar semua orang seisi rumah
" Kau pikir aku gila!" bentak Delan menggelegar
" Iya, kau gila dengan wanita bernama Bella itu, padahal wanita itu sama sekali tak ada hanya didunia halusinasimu saja!"
" Stop!" bentak Delan menggelegar seakan tak bisa lagi menutupi pernikahannya dan Angela yang sudah tak baik-baik saja
Sejak semua orang mengatakan Delan mimpi, Delan berhalusinasi. Delan merasa seperti akan benar-benar gila. Pria pendiam dengan pembawaan tenang itu kini jadi pria yang mudah sekali marah, arogan pada siapapun. Selain itu Delan juga merasa frustasi karena selama dua bulan ini ia tak bertemu Bella, tak mendapatkan kabar wanita itu. Semua orang seolah menghilangkan Bella dari hidup Delan
Setiap hari hari hidupnya dan Angela tak pernah jauh dari pertengkaran membuat kedua orangtua Delan merasa kasihan dengan Angela, wanita itu selalu menangis bila dibentak Delan
" Hentikan airmata buayamu itu!" Delan mencengkram kedua pipi itu dengan kuat
" Kenapa pikiranmu selalu buruk padaku!" saut Angela dengan isak tangisnya
" Buruk? kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan dibelakangku bersama Alvin-"
Plakkkk
Tamparan keras Angela mendarat di pipi Delan
" Sampai kapan kamu berhalusinasi seperti ini?kamu mau membuat semua orang gila karenamu? kamu tidak kasihan pada semua penghuni rumah ini karena halusinasi sialanmu itu!" teriak Angela histeris hingga sang mertua yaitu Bulan mendekati keduanya mencoba melerai pertengkaran hebat itu
" Delan berhenti, jangan seperti ini mammi mohon." Bulan menyentuh pundak Delan, seketika itu juga pria itu melunak
" Biarkan aku pergi ke Jakarta, kumohon .. biarkan aku mencari Bella .."
" Baiklah, cari apa yang kamu inginkan."
" Mam." Angela tampak tidak setuju dengan ucapan sang mertua, tapi mammi Bulan menahan lengan Angela dan menggelengkan kepala
" Temani Delan, biarkan dia mencari tahu apa yang ingin ia ketahui."
" Tidak aku akan pergi sendiri!"
" Tidak, kamu akan membuat Mammi khawatir. Mammi mohon pergilah bersama Angela."
" Mam aku akan menemani kakak!" Pevita yang mendengar suara keributan itu menyahut
" Baiklah, temani kakak bersama kak Angela."
Delan menghela nafasnya, ia memijat pelipisnya. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi, setiap malam Delan selalu ketakutan, ia kalut, gelisah tak menentu memikirkan Bella dan bayinya
Akhirnya pagi ini setelah sarapan ketiganya langsung terbang menuju Jakarta. 16 jam lamanya mereka didalam pesawat dan tiba pada malah hari
Delan seolah tak lelah, pria itu langsung meluncur ke Apartement yang berada dikawasan Jakarta selatan. Tiba didepan pintu Delan menghela nafasnya, ia menekan pascode hari pernikahannya dan Bella namun pintu itu tak kunjung terbuka
Lalu Delan menekan bell dengan tak sabar
Ceklek
Pintu terbuka
" Siapa kau?" tanya Delan pada seorang pria didalam
" Anda siapa?" Delan tak menggubris, pria itu menerobos masuk kedalam
" Hey bung, kau sangat tidak sopan ternyata!" Pria itu mencoba menahan Delan dengan menarik lengannya
__ADS_1
" Bella .. "
" Isyabella .."
Delan tak menghiraukan pria dibelakangnya, ia berjalan tergesa masuk kedalam kamar
" Aaaaahhhh .." suara teriakan wanita menggelegar disana
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuh Delan, ia mengusap wajahnya kasar lalu memutar tubuh. Ia bergerak cepat mencengkram leher kaos pemuda yang diyakini pemilik Apartement itu dengan kedua mata menyalang tajam." Dimana Bella?" bentak Delan
" Delan jangan gila!" Angela menarik tubuh Delan dengan sekuat tenaganya
" Dimana Bella?" teriak Delan lagi mengguncang tubuh pria didepannya yang kini ketakutan
" Aku tidak tahu!" sautnya dengan bibir bergetar. Delan menghempas tubuh itu jatuh kelantai yang mana sang wanita berlari dari kamar dengan tubuh yang kini berbusana. Wanita itu tampak ketakutan sama halnya dengan sang pria
" Sejak kapan kalian tinggal disini?"
" Kami sudah dua tahun tinggal disini." sautnya dengan bibir bergetar. Delan menjambak rambutnya kasar, ia mulai menitikan airmatanya
" Bella .. dimana kamu sayang .." gumamnya lalu berlari keluar, seperti kesetanan Delan naik kelantai berikutnya, Delan akan mencari Moncelli
" 97 ya 97 aku masih ingat." gumam Delan lalu berhenti didepan pintu, cepat-cepat ia menekan Bell pintu tersebut
Dengan nafas terengah, Delan menunggu pintu itu terbuka
Ceklek
Seorang wanita paruh baya membuka pintu
Delan hanya terdiam." Apa ini rumah mr Moncelli?"
" Bukan, ini rumah saya. Mr Moncelli sudah kembali keluar negri dua minggu yang lalu, dia bilang urusannya sudah selesai di Jakarta." Delan menghembuskan nafasnya kasar, tanpa bicara lagi. Dengan tak sopannya Delan pergi meninggalkan wanita paruh baya itu. Ia berlari lagi menuju lift yang mana saat itu Angela dan Pevita baru keluar dari sana
" Delan kita istitahat sebentar!" tahan Angela pada lengan Delan
" Kalian saja, aku tetap akan mencari Bella." Delan masuk lagi dan dengan terpaksa kedua wanita itu mengikutinya lagi
Delan memijat pelipisnya, sambil melajukan mobilnya ia berjalan menuju rumah Milan. Rumah yang berada dekat dengan kantor Milan. Tak sampai 30 menit, Delan sampai dirumah minimalis berlantai dua. Ia segera meminggirkan mobilnya dan keluar
Didepan gerbang Delan dijegat oleh dua satpam penjaga rumah tersebut." Tuan ada keperluan apa?"
" Ah maaf Tuan, tuan Milan sedang berlibur ke Eropa."
" Berlibur?"
" Ya, tiga hari lalu dia baru berangkat." Meski begitu Delan tak mempercayai ucapan satpam itu
" Saya ingin masuk kedalam."
" Maaf Tuan itu tidak diijinkan."
" Biarkan saya masuk." Delan mengambil dompetnya yang berada disaku celana, ia mencoba menyuap keduanya dengan uang
" Ah maaf Tuan, kami tidak menerima hal seperti itu." Delan mendengus, ia memasukan lagi dompetnya kesaku celana belakangnya. Delan melirik keduanya dan tiba-tiba berniat menerobos keduanya hingga akhirnya ia terjengkang ke aspal didorong keduanya
" Tuan, kalau anda nekad seperti ini, kami terpaksa akan melaporkan tuan pada polisi setempat."
" Laporkan saja aku tidak takut!" Pevita merasa geram dengan kegilaan kakaknya, gadis itu berjongkok mencoba membantu sang kakak untuk berdiri sementara Angela hanya terdiam menatapi kebingungan sang suami sejak tadi dengan pandangan tak bisa diartikan
" Kakak ayo kita pergi."
" Tidak Pev, kakak yakin Milan tahu dimana Bella." Pevita semakin sedih melihat sang kakak, gadis itu tiba-tiba memeluk Delan dan menangis
" Jangan seperti ini kumohon, kakak, pepev sangat menyayangi kakak!" isaknya pilu
" Baiklah, ayo kita pergi." ajak Delan mengalah, menggandeng sang adik masuk kedalam mobil
Delan pantang menyerah dan satu-satunya harapan Delan adalah rumah Paman Bella. Delan melajukan mobilnya ke daerah bogor, pria itu terus memikirkan Bella tanpa memikirkan kesehatannya yang baru membaik
Dan Delan menghemat waktunya menjadi tiga jam mengarungi lika liku jalan menuju bogor menuju rumah yang ia yakini rumah Paman Bella dengan kecepatan maksimal
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Delan tak sabar terus mengetuk pintu rumah bercat orange tersebut
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Pintu terbuka lebar membuat bibir Delan tersenyum
" Siapa?" tanya pria paruh baya membuat senyum Delan memudar
" Paman ini saya Delan .. "
" Delan? Delan siapa?" sang Paman mengerutkan dahi akan ucapan Delan
" Saya suami Bella." saut Delan dengan terbata
" Bella?" raut wajah paman Aldi berubah murung mendengar nama Bella membuat Delan ketakutan
" Paman, dimana Bella?" paman Aldi hanya diam menatap ketiganya bergantian lalu menatap Delan
" Paman .."
" Sebenarnya nak Delan ini siapa?"
" Saya suami Bella, paman yang menikahkan saya dan Bella .." suara Delan mulai serak, ia mulai ketakutan, Delan sangat takut apa yang semua orang bilang itu benar adanya, jika benar berarti Delan memang sudah gila
" Hah menikah?"
" Iiiya .."
" Sepertinya nak Delan salah alamat!"
" Tidak, tidak ini benar rumah paman Aldi dan Tante Merry. Paman saya mohon, saya mencari Bella. Bella sedang mengandung anak saya."
Paman Aldi menghela nafasnya lalu melangkah keluar
" Ikuti saya." perintahnya. Delan bernafas lega, ia bersemangat mengikuti Paman Aldi dibelakang. Mereka melewati kegelapan menuju sebuah tempat yang membuat Delan berhenti melangkah
" Ayo." Paman Aldi menengok kebelakang
" Kenapa kita kesini?" tanya Delan, airmata pria itu mulai tak tertahan meluncur deras
Tapi karena rasa penasarannya Delan berusaha mengikuti Paman Aldi. Pria itu berhenti disebuah makam yang sudah terlihat tua dan tak terurus
Seketika itu juga Delan merasa tenggorokannya tercekat, airmatanya menderai saat melihat makam itu bertuliskan nama Isyabella
" Tidak, ini bohong bagaimana mungkin?" Delan merasa kedua lututnya melemas, ia berjongkok didepan makam itu
" Bella sudah meninggal 10 tahun yang lalu."
Jedarrr
Delan merasa tersambar petir, tubuhnya melemas, ia duduk diatas tanah. Airmatanya jangan ditanya lagi membanjir deras
" Kakak." Pevita segera memeluk tubuh sang kakak, ia ikut menitikan airmata melihat kerapuhan itu
" Dia meninggal kecelakaan, dia tertabrak-" Paman Aldi tampak tak mampu meneruskan kata-katanya lagi, punggungnya bergetar tanda ia menangis
" Bella .. " Delan menangis kencang dihadapan makam itu
Ia terus menggelengkan kepala, ini seperti mimpi untuk Delan. bagaimana semua itu terasa nyata untuknya, pertemuan kembali ia dan Bella, pernikahan mereka, kenangan manis mereka di Jeju, saat Bella bilang kalau ia mengandung bayinya. Delan merasa itu bukan halusinasi, ia merasa itu nyata tapi melihat makam didepannya ini
Isyabella binti Syahiq ..
Delan merasa seluruh bumi berputar, ia memegangi kepalanya. Delan memejamkan matanya yang terus mengeluarkan cairan bening." Bella .. " teriak Delan histeris membuat Pevita menangis kencang memeluk erat kakaknya yang benar-benar rapuh saat ini, ini pertama kalinya Delan menangis
Pria itu tak kuat lagi dan tak sadarkan diri dipelukan Pevita
-
__ADS_1
-