Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Dalam sel tahanan


__ADS_3

" Lepaskan aku, apa polisi sekarang sudah gila." Milan berteriak mengamuk didalam sel tahanan


" Mana buktinya mana?" Teriak Milan


" Masih saja bertanya bukti, jelas-jelas semua bukti ada diponselmu sendiri." saut salah satu polisi itu


" Brengsek, kalian tidak tahu berurusan dengan siapa!" Teriak MilanTeriak Milan namun tidak didengarkan dua polisi yang menangkapnya tadi, kedua pria itu melengos keluar dari sel tahanan meninggalkan Milan bersama para tahanan


" Berisik!" Suara bass dibelakang tubuh itu membuat Milan semakin marah, pria itu berbalik berkaca pinggang


" Diam, aku tidak ada urusan denganmu." Pria dengan janggut itu tertawa bersama para tahanan lainnya


" Jika kau sudah masuk kesini, itu menjadi urusanku!"." Gumamnya lalu bangkit


Cuihh


Milan meludah dihadapan pria yang diyakini ketua geng didalam sel tahanan itu, seolah menantang para tahanan yang telah lebih lama darinya dan sudah memakai baju tahanan


" Kenapa? mau mengeroyokku? Kalian tidak tahu siapa aku hah?" Teriak Milan dengan wajah angkuhnya


" Kau tahanan baru yang sangat sombong." Milan tertawa kencang


" Tahanan baru? tutup mulutmu bedebah. Aku bukan kriminal seperti kalian!!!"


Plakkkk


Satu tamparan Milan dapatkan dipipinya, demi apapun Milan tak pernah direndahkan. Emosi pria itu terpancing, dengan sok berani Milan melawan ketua sel yang bahkan bukan tandingan Milan, pria itu seorang gangster sebelum menjadi seorang tahanan


Milan akhirnya dikeroyok oleh lima orang didalam sana


Brug


Brug


Brug


Brug


Pria itu sudah terkapar dengan wajah babak belur dan bersimbah darah. Tidak ada yang menolongnya saat ini, Milan dihajar dari depan dan belakang hingga lemas tak berdaya. Pria itu terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar, jemari-jemarinya bahkan tak bisa ia gerakan lagi


" Berhenti." Ucap ketua sel tahanan itu ketika melihat Milan sudah tak berdaya, spontan para anak buah pria itu berhenti, membiarkan Milan merasakan rasa sakitnya

__ADS_1


" Jangan sekali-kali berani melawanku, sekali lagi mati kau!" Bentak ketua sel tahanan dengan suara menggelegar sambil menendang perut Milan, hingga darah mengucur dari mulutnya


" Brengsek, kau Delan." Gumamnya dengan tatapan tajam, wajah tampan itu tak berbentuk, beberapa bagian pelupuk mata Milan robek dan mengeluarkan darah. Rasa sakit membuat Milan tak sadarkan diri begitu saja


Dalam ketidak sadarannya, Milan bermimpi. Saat ini ia berada disebuah taman dengan bunga-bunga yang sangat indah, Milan tak pernah melihat suasana seindah sekarang. Angin berhembus menerbangkan kemeja biru panelnya, Milan merasa tenang, tidak ada rasa gelisah, rasa sedih dan kecewa. Bibirnya tersenyum begitu tulus, kedua matanya ia pejamkan menikmati semilir aroma bunga yang sesekali mencuat masuk kehidungnya


Dan aroma yang cukup tak asing mencuat terasa menyentuh relung hatinya. Milan membuka mata nya, ia sedikit terpaku melihat wajah imut nan cantik didepan matanya. Wajah polos itu membuat hati Milan merasa teduh, membuatnya ingin menyentuh. Milan memberanikan diri menyentuh kulitnya yang halus dan putih bersih


" Kak Milan." Panggilnya. Entah mengapa sekarang Milan betah memandang wajah itu lebih lama. Milan tersenyum tiba-tiba, ketika jemarinya bisa menggapai pipi merona itu, Milan ingin melakukan lebih. Ia mendekatkan wajahnya, ingin meraih bibir ranum itu


" Pevita." Bisiknya lembut


Sreetttttttttttttt


Kedua mata Milan membulat ketika jemari lentik itu malah melukai perutnya dengan pisau ditangannya." Pevita." Nafas Milan tersendat, memegangi perutnya yang ditusuk Pevita, darah segar mengucur dari perutnya


" Aku sangat membencimu." Ucap Pevita dengan kedua mata memerah dan menggenang airmata


Byurrrrrrrrrrrrrrr


Mimpi itu melebur hancur. Spontan Milan membuka kedua mata. Seluruh tubuhnya basah semua oleh air, ketua sel tahanan itu mengguyur tubuh Milan yang masih terlelap dengan seember air kencing semua penghuni tahanan tersebut


" Brengsek." Milan berteriak kencang. Semua orang tertawa lalu satu persatu dari mereka menendang tubuh Milan, tubuh yang masih sakit itu semakin kesakitan. Milan hanya bisa mengaduh tak mampu melawan, ini benar-benar penghinaan untuknya. Milan dihajar habis-habisan lagi seolah mereka tak merasa kasihan


" Milan Cruise, ada pengunjung." Milan bahkan tak bisa bersuara, tubuhnya benar-benar kesakitan. Sehingga dua polisi itu membantu Milan berdiri dan memboyong menuju ruang pengunjung


Melihat anaknya, Mammi Diana histeris. Wanita itu menangis disamping suaminya yang juga tampak khawatir melihat keadaan anaknya, ya meskipun pria muda itu bukan anak kandungnya." Apa yang kamu lakukan sebenarnya?" Tanya sang ibu pada Milan yang duduk lemah dibangku dibantu dua polisi tadi. Keduanya berlalu meninggalkan Milan dan kedua orangtuanya


" Mana pengacaraku?" Tanya Milan dengan suara habis, bahkan tak mau melihat ayah dan ibunya


" Apa yang kau lakukan?" Kini sang ayah tiri angkat bicara


" Aku tidak melakukan apapun, itu hanya fitnah." Sautnya


" Berhentilah membuat masalah, kenapa senang sekali membuat ibumu menangis." Milan mengepalkan kedua jemarinya yang terasa lemah tak bertenaga, bahkan tubuhnya tampak gemetar menahan rasa sakit


" Mana pengacaraku, aku hanya ingin bicara dengannya."


" Tidak ada pengacara, urus saja masalahmu sendiri." Milan mengangkat wajah menatapi pria paruh baya yang memiliki paras lebih muda dari ibunya. Enam tahun lalu pria yang hanya 10 tahun lebih muda darinya itu menikahi ibunya setelah satu tahun sang ibu menjanda karena ditinggal sang ayah


" Sudah kubilang, aku tidak melakukan apapun." Sebisa Milan menggebrak meja dengan kepalan lemahnya, kedua matanya menajam pada sang ayah. Sedangkan sang ibu hanya bisa menangis, dan mencoba menggenggam jemari anaknya, kerasnya hati Milan sedikit melunak melihat airmata ibunya yang meluncur deras

__ADS_1


Milan menarik nafasnya pelan." Mana Tomi, aku ingin bicara dengannya. Mam tidak usah khawatir semuanya akan baik-baik saja." Milan mencoba menenangkan sang ibu


" Tomi bilang, kamu memperkosa seorang gadis. Apa itu benar?" Tanya sang ibu sesegukan


" Benar atau tidaknya, aku akan tetap keluar dari sini."


" Keluarga mereka tidak menerimanya."


" Aku tidak perduli, yang penting Tomi bisa membebaskan aku dan nama baikku bersih lagi, kalau perlu aku akan menuntut mereka balik atas pencemaran nama baik." Saut Milan


" Dimana hatimu? kamu seperti bukan anakku?." Sang ibu tampak kecewa, karena bukannya menyesal Milan malah akan berniat membalas dendam. Milan membungkam, kedua matanya berkaca-kaca


Mammi Diana dan suaminya memutuskan meninggalkan Milan yang mematung. Entah menyesali perbuatannya atau tidak, pria itu hanya diam menundukan wajahnya


Keluar dari lapas tempat anaknya ditahan. Mammi Diana memutuskan langsung pergi ke Paris bersama suaminya. Wanita itu mendapat kabar tak mengenakan hatinya ketika mendapat berita dari sang suami yang juga seorang pengusaha. Mammi Diana langsung mencari tahu kebenarannya melalui dua polisi yang menangkap Milan. Mammi Diana langsung menghubungi Delan sang pelapor dan memohon meminta untuk berdamai. Tapi sepertinya kesalahan sang anak terlalu besar hingga pria yang bernama Delan itu tak mau mencabut tuntutannya


Di Paris, Pevita sudah mulai sehat dan kembali ke rumah. Gadis itu digandeng sang ibu yang tak memudarkan senyumnya. Pevita sebenarnya tahu senyuman itu sangat palsu, nyatanya dalam hatinya Mammi Bulan merasa hancur, ia mencoba menyembunyikan kehancurannya dengan terus memberi semangat pada Pevita, agar gadis itu tidak merasa down


Mereka hanya dikamar berdua, mammi Bulan terus mengusap-usap lengan atas Pevita yang ia gandeng. Pevita bermanja pada ibunya dengan meletakan kepalanya dipundak sang ibu


" Mam, aku ingin melenyapkannya."


" Bicara apa kamu Pev."


" Aku belum siap menjadi seorang ibu."


" Jangan, nanti kamu menyesal." Pevita menggelengkan kepalanya


" Aku masih ingin seperti teman-temanku."


" Bersabarlah, setelah melahirkan kamu akan kembali seperti layaknya anak muda seusiamu." Pevita mengangkat kepalanya, menegakan tubuhnya dan menoleh pada sang ibu


" Mammi yang akan merawat dan mengurusnya, kamu tidak akan terbebani sedikitpun." Kedua mata Pevita berkaca-kaca lalu ia menggenggam jemari sang ibu


" Apa aku bisa menerima bayi ini? sementara aku sangat membenci ayahnya." Saut Pevita, sebenarnya Mammi Bulan ingin sekali menangis dengan keadaan menyakitkan ini, tapi wanita itu terus menahannya


" Meskipun manja, kamu adalah gadis yang baik. Mammi yakin lambat laun kamu akan bisa menerimanya. Sayang dia tidak salah, yang salah adalah-"


" Jangan menyebutnya, aku tidak mau mendengarnya." Mammi Bulan tersenyum lalu menarik kepala Pevita untuk bersandar dipundaknya lagi


-

__ADS_1


-


__ADS_2