
🌹🌹🌹
" Sayang, emmhh bisakah kamu mengambil cuti?" tanya Bella sembari memasangkan dasi hitam sang suami dilehernya, ini hal kesukaan Delan tapi pagi ini wajah itu tampak sumraut karena gagal menyalurkan hasratnya
" Aku seorang bos, kenapa harus cuti?" Bella tersenyum melihat wajah kesal itu
" Aku ingin menemui Paman dan Bibi. Mereka pasti mengkhawatirkan aku, sudah hampir dua tahun aku tak menemui mereka." Delan tediam, ia memikirkan ucapan Bella. Sejujurnya ia sangat marah pada keluarga Bella karena berbohong dan menyembunyikan fakta tentang istrinya
" Kamu sedang hamil, apa tidak apa-apa?" tanya Delan, melunak sudah pria itu
" I'm fine. Dokter tidak mengatakan apapun bukan?."
" Kamu mau pergi kapan?"
" Lusa mungkin." Delan mengangguk lalu mencium kening itu dan menggandeng Bella
" Kita pergi lusa." Bella tampak senang, ia melingkarkan satu tangannya dipinggang Delan. Keduanya keluar kamar menuju lantai satu untuk sarapan pagi
Dimeja makan semua orang sudah berkumpul, ada Jeslyn juga yang sedang duduk dipangkuan sang Daddy, lucunya kedua tangan Jeslyn tak diam berusaha meraih apa yang ada didepan matanya sehingga semua dijauhkan Daddy Dean
" Dad, biar Jeslyn bersamaku." Delan mencoba mengambil Jeslyn
" Tidak apa-apa, makanlah." Perintah sang Daddy
Delan menurut, ia menarik kursi untuk Bella kemudian dirinya disamping Bella. Sambil makan mereka membicarakan rencana mereka untuk ke Jakarta. Tapi meskipun tampak tak marah, Bella tahu dalam hatinya Delan merasa gondok, lihat saja pria itu tampak tak bernafsu memakan sarapan paginya
" Aku pergi, jaga dirimu." Delan mencium kening itu. Sambil bangkit ia meraih tas kerjanya dan berjongkok sejenak didekat Bella. Ia menatapi putrinya yang air liurnya melebar kemana-mana, Delan meraih jemari mungil itu lalu menciuminya dengan lembut
" Jeslyn, Papa pergi bekerja oke!" Tapi bayi itu sibuk mengacak-ngacak tiga sendok didepan matanya
" Kenapa mengajari Jeslyn memanggil Papa, kenapa bukan Daddy." Tanya Pevita ditengah kunyahannya
" Hanya ingin saja, memangnya masalah untukmu!" Pevita jengah dengan jawaban ketus itu ia ingin sekali melempar sendok pada mulut sang kakak. Semua orang hanya tersenyum melihat keduanya, tak terkecuali Bella
Diantar sopir baru Delan menuju kantor. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan, membayangkan fantasi liarnya bersama Bella. Ia sangat rindu belaian wanita
" Bella." Gumam Delan memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya pada belakang kursi
" Bahkan dulu aku tiga bulan tak menyentuh Angela, aku sering meninggalkan Angela dan aku kuat. Tapi Bella, hanya dua minggu saja tubuhku terasa tak tahan." Gumam Delan dalam hati
" Aku seperti orang mesum yang haus ****." umpat Delan dalam hati
Setibanya dikantor, Delan masuk kedalam. Seperti biasa ia disambut semua bawahan yang berpapasan dengannya. Delan meniki lift menuju lantai paling atas dimana ruangannya berada. Keluar dari lift ia disambut Jesy yang membungkukan badan dan tersenyum padanya
" Jesy, apa jadwal hari ini?"tanya Delan sambil masuk keruangannya. Sebenarnya Delan merasa enggan karena Jesy adalah adik Angela, namun disatu sisi ia juga merasa kasihan bila memindahkan Jesy tiba-tiba tanpa memberitahunya lebih dulu, bukan apa-apa Jesy ini orang yang perpect dalam bekerja sehingga tak mungkin memecatnya begitu saja
__ADS_1
" Pak Amar akan berkunjung untuk tanda tangan kontrak dengan perusahaan kita." sautnya menatap mantan kakak iparnya tersebut
" Kau boleh pergi!"
" Bisakah saya bicara hal pribadi sebentar?" tanya Jesy membuat Delan yang akan duduk dikursi kebesarannya itu menoleh
" Katakan!"
" Mungkin saya adik Angela, tapi boss .. saya akan berusaha tetap propesional dalam pekerjaan saya "
" Tapi saya merasa tidak nyaman Jesy, bagaimana kalau saya memindahkanmu kekantor cabang."
" Boss memecat saya?"
" Tidak, aku hanya memindahkanmu, posisimu disana pun tak kalah penting." Jesy tampak terdiam, sejujurnya ia memang takut akan terkena imbas karena masalah keduanya
" Belgia, aku memindahkanmu kesana."
" Baik." saut Jesy, tanpa banyak bertanya lagi wanita itu pergi meninggalkan ruangan Delan, kecewa? tentu saja. Sudah lama ia bekerja dengan pria itu, ia sudah tahu banyak kepintaran dan sikap sopan pria itu. Sebenarnya Jesy mengagumi kakak iparnya tersebut
Sambil memperhatikan Jesy keluar dari ruangannya, Delan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dalam benaknya ia terus memikirkan istrinya, Delan tak mau bertengkar karena kehadiran Jesy dikantornya. Sebisa mungkin ia menghindari pertengkaran dalam pernikahannya dan Bella
Saat sedang memikirkan Bella, tiba-tiba saja pintu diketuk lagi oleh Jesy. Tampak disana seorang pria berasal dari India yang memliki usia sebaya dengannya datang dengan tampilan yang hampir sama seperti Delan, bedanya pria ini memiliki fostur tubuh dibawah rata-rata dibandingkan suami Bella
" Silahkan duduk." ucapnya seraya berjalan menuju sofa panjang dan single diruangannya
" Jesy." Penggil Delan pada sang sekertaris yang berada dibelakang Amar. Wanita itu bergegas menghampiri Delan dan memberikan beberapa berkas ditangannya. Kemudian menyuruh Jesy keluar dari ruangan
Keduanya duduk dan berbincang sejenak sebelum obrolan mereka mengacu pada hal yang sangat penting. Nampak Amar dengan teliti mendengarkan apa yang Delan jelaskan, mulai dari inti kerjasama mereka, kontrak dan keuntungan yang akan pria itu dapat bila berkerja sama dengannya
Hingga tanpa sadar keduanya telah menghabiskan waktu berjam-jam. Delan dan Amar pun tampak lelah, keduanya memutuskan istirahat untuk sejenak
" Ini sudah masuk jam makan siang, bagaimana kalau kita makan siang sebentar." Ajak Amar sembari melihat jam yang melingkar ditangan kirinya. Delan tampak menimbang, sebenarnya bila dalam hal pribadi ia jarang sekali banyak bicara. Terbukti saat pria itu hanya mengangguk untuk menyetujui ajakan Amar
Keduanya memutuskan makan siang diluar kantor
" Jesy, saya makan siang diluar." ucap Delan pada Jesy
" Baik boss." saut Jesy
Delan mempersilahkan pria dengan wajah dan kulit khas asli India itu berjalan lebih dulu sementara dirinya dibelakang sembari mengotak-atik ponselnya
" Tolong nyonya, kami tidak akan menerima tamu. Anda harus membuat janji dulu."
" Ini sangat penting saya harus bertemu Delan."
__ADS_1
" Mohon maaf tidak bisa."
" Apa yang kalian lakukan!!" Dahi Delan mengernyit aneh ketika mendengar suara yang tak asing dikedua telinganya
" Tolong jangan membuat keributan."
" Siapa yang membuat keributan, saya hanya ingin bertemu dengan boss kalian."
" Bella." Gumam Delan lalu berjalan terges bahkan mendahului Amar yang didepannya
Ia terkejut sekaligus merasa marah melihat kedua petugas keamanan kantornya sedang berusaha menggeret sang istri keluar dari lobi kantor. Dapat Delan lihat Bella meronta akan perlakuan itu
" Apa kalian mau kupecat?" suara bariton tegas, menggelegar sekaligus menakutkan itu membuat semua yang berada disana terkejut bukan main. Sepanjang sejarah Delan memegang jabatan sebagai presdir disana, baru kali ini semuanya mendengar suara keras Delan. Biasanya jika bicara, pria itu selalu tampak berbisik dengan wajah yang tenang. Selain itu mereka sangat tahu istri Delan adalah Angela, dua tahun menikah bersama pria itu, tentu Angela sering bolak-balik ke perusahaan Delan
" Lepaskan dia!" Spontan kedua petugas keamanan itu melepaskan Bella, yang mana Bella segera berlari mendekati Delan
" Untung saja kamu datang." Delan mengusap dahi Bella yang berkeringat sejenak, tentu itu membuat semua orang bertanya-tanya
" Kalian berdua, menghadap HRD. Terima gaji kalian hari ini dan pulang. Jangan kembali ke perusahaanku. Beraninya kalian mengusir istriku!"
Delan membuat wajah-wajah itu memucat dengan pengakuannya terutama kedua satpam dengan kedua resepsionis yang ikut andil dalam mengusir Bella
" Maafkan kami bos, kami sungguh tidak tahu." Saut salah satunya dengan wajah menunduk takut
" Sudahlah Delan mereka seperti itu karena mereka tidak tahu." Delan tampak tak setuju dengan pembelaan Bella pada mereka, pria itu menoleh dan menatap Bella
" Lagipula kenapa datang tiba-tiba? kenapa tidak memberitakuku lebih dulu." Delan menggerutu sedangkan Bella hanya mengulum senyumnya
" Kejutan" teriak Bella dengan senyum manisnya
Delan menghela nafas lalu kembali pada bawahannya yang kini sedang menunduk takut
" Bubar, apa yang kalian tunggu." Bentak Delan masih tampak emosi namun namanya Delan pasti akan selalu menuruti Bella, ia mana berani membantah istrinya meskipun kini Delan sangat ingin menendang mereka satu persatu dari perusahannya
" Apa kami dipecat?" tanya satu orang diantaranya dengan terbata
" Jadi kalian sungguh mau dipecat!" bentak Delan lagi membuat semuanya langsung membubarkan diri dan berlari menjauh
" Uhhmm sejak kapan kamu jadi galak seperti ini." goda Bella sembari menggelayuti lengan Delan yang mana langsung disambut Delan, ia menggenggam jemari Bella yang melingkari tangannya
" Sejak bersamamu!" Sautnya dengan suara lembut
-
-
__ADS_1